…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pak Harto – Dimaafkan? Tidak Dimaafkan?

Posted in Kenangan by daengrusle on January 29, 2008

makam-pak-harto.jpg
[foto diambil dari detik.com]

Apakah perlu memaafkan Soeharto? Banyak yang memaafkan, dengan alasan kemanusiaan, tapi banyak juga yang menolak memberi maaf, karena terkenang rentetan kesalahan masa lalu yang pernah diperbuat Soeharto. Persoalan kemanusiaan dan hukum memang lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Dari diskusi di mailing list yang saya ikuti, cukup meriah persoalan maaf-memaafkan Pak Harto ini. Sebahagian masih ada yang merasa bahwa kesalahan Pak Harto sudah sedemikian bobroknya sampai mengucapkan bela sungkawa atau mengiringi kepergian beliau dengan doa pun tidak mau, apapun alasannya – bahkan alasan kemanusiaan. Beberapa tokoh nasional, seperti Amien Rais, juga Guntur Soekarnoputra dan yang lainnya sudah menyatakan memaafkan dosa-dosa beliau, atas nama kemanusiaan. Namun mereka tentunya tidak berkeinginan agar kasus hukum yang menyertainya juga dibekukan. Persoalan kemanusiaan dan hukum lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Berbicara tentang maaf atas pak Harto ini saya tiba2 teringat dengan kisah Rasulullah Muhammad SAWW yang saat Fatuh Makkah (penaklukkan Makkah) teramat mudah mengampuni Abu Sofyan dan kroni2nya yang sebelumnya sangat bejat luarbiasa bin buas kepada sang Rasul dan pengikut2nya. Bahkan rumah Abu Sofyan yang penghulu para pembenci Rasulullah SAWW, oleh sang Nabi dianggap sebagai rumah yang dijamin keamanannya. Begitu cepatkah sang Rasul melupakan kebejatan musuh-musuhnya? begitu lemahkah ingatan Nabi atas masa lalu yang begitu mencekam?

Sejarah membuktikan kemudian, setelah Rasulullah SAWW memberikan maaf yang tanpa tedeng aling-aling, tanpa pengecualian dan tanpa pengadilan, semua musuh diampuni tanpa merasa terbebani oleh dosa sejarah, masyarakat Makkah – Madinah yang dibangun beliau serta merta berkembang pesat menjadi lebih baik. Islam yang didakwahkan menjadi pemersatu diantara mereka, bahkan menjadi landasan ideologis membangun masyarakat yang damai, tanpa memaksakan dan memobilisasi dianutnya agama tersebut – masih banyak masyarakat Makkah Madinah yang menganut agama lain selain Islam saat itu. Apa yang hendak dicontohkan Rasulullah SAWW dari kisah ini?

Saya yang awam hanya bisa memberikan persepsi dangkal, bahwa mungkin yang diinginkan beliau adalah hanyalah menata masa depan semata, tidak perlu menggenangkan masa lalu sampai menutupi semua ruang kreatifitas. Masa lalu hanya poerlu dijadikan sebagai referensi untuk tidak mengulangi lagi.

Beralih kembali ke soal Pak Soeharto. Pengadilan atas yang bersalah memang wajib dan diperlukan, tapi sayang sekali bahwa kronik sejarah modern kita hingga saat ini hanya membuktikan bahwa tidak ada satu pemerintahan pun yang berani menggelar pengadilan atas Soeharto, bahkan Megawati yang dulu katanya di dzalimi pun melempem. Puncaknya saat Jaksa Agung Abdurrahman Saleh mengeluarkan SP3 atas kasus Soeharto. Blass!! Habis sudah! Dan sampai saat ini kita semua belum tahu pasti – dalam kerangka hukum – apa saja kesalahan Soeharto? Semua umpatan hanya didasarkan pada penyaksian beberapa orang di media apa saja, tapi tidak pernah di ruang pengadilan..

Kalau kita menganggap bahwa pemerintahan sekarang bobrok dan tidak bisa dipercayai, demikian jg pengadilannya, lantas apa yang harus kita lakukan untuk membuktikan kesalahan pak Soeharto? meneruskan mengumpat di jalanan? energi pasti habis banyak untuk itu.

Untuk kroni2 dan keluarga nya yang saat ini masih memegang ‘harta’ yang dianggap haram, saat ini lah momentum terbaik untuk membuktikannya di depan hukum, tanpa dibayang2i oleh kebesaran dan jasa-jasa almarhum. Tempo hari pemerintah kita yang baik hati itu gagal menyeret almarhum, mungkin karena persoalan bayang2 sahaja yang selalu menutup2…mudah2an saat ini pemerintah kita sudah tega-an untuk mendera para kroni bejat ini.

[tapi saya dengar Pemerintah SBY dan Golkar berniat menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional utk beliau, Masya Allah!!]

…sekarang, biarkan jiwa almarhum tenang menghadapi Pengadilan Yang Maha Adil di alam sana, akan hal hukuman yang berlaku buatnya, itu sudah urusan Yang Maha Kuasa dengan jiwa almarhum…walau gagal di adili oleh pemerintah kita yang teramat baik hati [atau lemah], dipastikan saat ini Pak Harto sedang mengikuti Pengadilan Yang Maha Adil. Jadi, tenang saja, sekotor apapun tangan nya, pasti akan dibalas setimpal.

Saya pribadi, juga memberikan maaf sekiranya beliau memang pernah melakukan kesalahan manusiawi yang kemudian memberi efek buruk buat saya dan keluarga. Semoga dengan maaf ini, siksa atas beliau menjadi lebih ringan. So, atas nama kemanusiaan, mari memaafkan beliau! Lupakan yang lalu, dan jadikan pelajaran penting bagi tapak sejarah yang hendak kita jalani di masa depan. [Akan halnya, kasus korupsi, mari serahkan ke mekanisme hukum utk menyeret para kroni yang turut bersalah menghancurkan sendi ekonomi-politik-sosial bangsa ini].

Ada baiknya juga kita menghargai perspektif yang beda dengan yang lain tanpa perlu berprasangka yang bukan-bukan, apalagi menuduh sebahagian kurang ‘keren’ dibanding sebahagian yang lain.

Bukankah kita sedang membangun masyarakat yang menghargai sepenuhnya multi-perspektif, sehingga dengan demikian menghadirkan ragam persepsi yang perlu juga dihormati…?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: