…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

1 Muharram dan Diriku

Posted in Kenangan by daengrusle on January 9, 2008

Saya baru tersadar sore ini, ketika seseorang teman yang saya kasihi mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1429H.

Besok – atau tepatnya malam ini – adalah tahun baru bagi umat Islam. Penanggalan Islam dengan sistem perhitungan rotasi bulan ini atas ide Imam Ali Karamallahu Wajhahu, yang dilandaskan pada momentum hijrah Rasulullah dari Mekkah (saat itu) yang belum tercerahkan, menuju Madinah yang mencerahkan. Kenapa diambil momentum Hijrah ini? Hijrah dilakukan Rasulullah SAW dari kota Mekkah yang saat itu berbahaya bagi ummatnya: tertindas, lemah, dan terutama membahayakan kelangsungan agama Islam yang baru tumbuh. Bukan karena Rasulullah SAWW penakut dan tidak mengandalkan Allah SWT, tapi ini adalah strategi untuk lebih berkembang. Dan keputusan itu tepat, semenjak berpindah ke Madinah atau Yastrib, pemeluk Islam menjadi berlipat-lipat. Dan peristiwa Hijrah nabi itu, menjadi momentum besar bagi awal pertumbuhan Islam yang revolusioner. Ya, itulah sebabnya mengapa saat Hijrah Rasul ditetapkan sebagai hari pertama penanggalan Islam.

aku-dan-aji-ku.JPGBagi saya pribadi, 1 Muharram selalu menjadi hari yang teramat istimewa.
Setiap hari itu datang, maka ibunda saya tercinta pasti akan mengingatkan diriku, “Nak, esso jajimu tu ye siddi Muharrang” (Nak, hari ini adalah hari lahirmu 1 Muharram). Setiap hari itu datang, biasanya beliau akan mengecupku dengan haru dan menyiapkan hidangan istimewa khusus buatku. Kakak-kakakku pun akan berlomba mengucapkan selamat padaku.

Dan saya akan kembali terngiang cerita sang Bunda saat melahirkan diriku, nun jauh saat masih di dusun Sempangnge, desa Nepo, Wajo, Sulawesi Selatan. Ya, saya lahir tepat di tanggal 1 Muharram 1397H itu. (Foto di ayas: Foto bersama Aji Burane dan Aji Makkunraiku, di suatu pagi di Sengkang, Juli 2004 silam).

Saya, adalah anak yang kurang ajar sejak dikandung. Ibunda ku – yang kami panggil dengan sebutan Aji Makkunrai or Aji Perempuan, harus membopong janinku selama 12 bulan. Aji bercerita bahwa beliau pertama kali merasa mengandung diriku saat bulan Muharram, dan kemudian saya dilahirkan dengan susah payah di bulan Muharram juga.

rusle88.JPGPerlu tiga hari tiga malam, Ajiku berkutat dengan maut untuk melahirkan diriku, dengan bantuan Sanro Calapari (Sanro= dukun dalam bahasa Bugis). Sanak keluarga yang menunggui Ajiku melahirkan juga semuanya khawatir dan pasrah, mengingat perjuangan dan sakitnya melahirkan diriku. Ketika saya tumbuh jadi kanak-kanak yang nakal, mereka selalu mengingatkan kenangan tentang susahnya melahirkan diriku. Biasanya saya hanya tersenyum sinis. Kelanjutannya sudah bisa ditebak, saya mesti dinasehati, “Jangan nakal dan kurang ajar sama ibumu. Kamu dilahirkan dengan susah payah dan bahkan nyaris merenggut nyawa ibumi”. Iya, saya akan selalu ingat hal itu, insya Allah. (Ket Foto disamping, foto ketika saya masih berumur 11 tahun, 1988)

Saat aku lahir, orang tuaku tak sempat mengingat hari Masehinya. Mereka hanya tahu penanggalan Islamnya, 1 Muharram. Mereka juga tak sempat, atau tidak tahu, untuk membuatkanku Surat Kenal Lahir, apalagi Akte Kelahiran. Maklum, lahirnya di kampung sih, lewat dukun pula. Saat saya kemudian hendak mencatatkan tanggal lahir saya di ijazah SD (saya tak sempat menikmati bersekolah sambil bermain di Taman Kanak-Kanak, apalagi Play Group) , saya bingung mau menuliskan tanggal lahir saya. Saya hanya menuliskan tahunnya, itupun say jiplak dari teman saya yang saya anggap seumuran, 1976. Akhirnya guru kelas saya lah yang memilihkan tanggal lahir palsu untukku, yang kemudian baru saya sadari bahwa tanggal itu membuat usia saya lebih cepat bertambah enam bulan. Saya sendiri baru kemudian membuat Akte Kelahiran ketika hendak memasuki ITB dengan tanggal lahir palsu itu, itupun karena ITB saat itu nyaris menolak registrasi-ku karena ketiadaan Akte Kelahiran. Akhirnya saya baru mengurus Akte Kelahiran saat itu, saat usiaku sudah nyaris 20 tahun!

Ingat Muharram berarti ingat Aji Makkunraiku.Semoga, Aji Makkunrai ku, yang saat ini sedang bersimpuh di tanah suci Madinah dianugerahi kesehatan yang prima hingga menyelesaikan ritual ibadah haji dengan mabrur. Amin.

Aja tallufai lesu, Ajikku. Lesuki masijja. Moddanika kesi’na, Aji.
(Translate: Jangan lupa pulang Ajiku. Pulanglah segera. Saya rindu teramat sangat).
Kalimat ini saya ucapkan saat bersimpuh di kaki Aji Makkunrai-ku sebelum beliau berangkat ke tanah suci.

Selamat Tahun Baru Islam, Selamat Ultah Diriku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: