…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!

Posted in Renungan by daengrusle on August 18, 2007

Postingan untuk mengikuti lomba entry 17-an Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/entry ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Entry dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

====================== 

Tak banyak yang bisa kuingat tentang 17an. Kalaupun ada, sebahagian besar adalah ‘hanya’ serunya menyaksikan lomba-lomba yang diadakan di lingkunganku. Dan sayapun, karena keterbatasan fisik dan keterampilan, sangat jarang mengikuti lomba itu. Dalam hati kadang saya merutuk sendiri, siapa yang memulai mengaitkan perayaan merdeka dengan lomba-lomba? Agak sulit jalan pikiran saya menemukan kesamaan antara kemerdekaan dan persaingan, terutama buat saya yang lemah fisik. Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar? Hanya satu yang paling kunikmati dalam setiapkali menonton lomba-lomba itu, kelucuan para peserta saja! Terkadang hanya menertawai kebodohan dan kemalangan acap kali mereka jatuh atau gagal. Itu mungkin yang sedikit banyak menyegarkan perasaanku yang hanya bisa jadi penonton saja.

8-sampah.jpg8-sampah.jpgMencoba mengingat kembali momen 17an yang paling terkenang di kepala seakan seperti mengais remah-remah kenangan masa kecil saya nun jauh disana, di sebuah kampung pinggiran kota Makassar bernama Pannampu. Remah-remah itu teramat sulit untuk saya kumpulkan, untuk kemudian membentuknya menjadi mozaik yang indah sebagaimana kenangan kanak-kanak yang lain. Yang ada hanyalah mozaik yang buruk, serpihan dari kesedihan yang dibingkai dalam figura kekecewaan. Hanya bau busuk comberan dan sampah rumah tangga, kerumunan lalat, biakan cecurut, dan hiruk pikuk dari para pedagang yang tiada hentinya, sepanjang tahun-tahun masa kanak-kanak yang kulewati di Pannampu itu.

8-sampah.jpg

Pada awal pembukaan kampung Pannampu di awal tahun 1980-an, lingkungan kami adalah lingkungan yang asri. Bersih dan sejuk. Deretan rumah seragam rapi dan tertata.  Tanah yang lembab oleh hujan dan embun pagi menyeruak ke setiap bilik di kala pagi, dan segarnya angin sore berhembus saat senja. Hening senyap malam menemani kami dikala gelap. Di belakang kampung kami, terhampar Danau Pannampu yang indah ditumbuhi bebungaan enceng gondok, yang tak banyak. Saat senggang di sore hari, para warga menghabiskannya dengan memancing di danau yang indah itu. Di sisi timur, ada pekuburan Beroanging yang banyak menampung jazad korban Tampomas II. Di utaranya ada puluhan tambak pacce’lang (penggaraman) yang memasok garam ke seluruh Makassar.

Disetiap tahun ketika Agustus tiba, di masa awal itu, kami selalu memperingati hari perayaan kemerdekaan Indonesia dengan sangat senangnya. Seakan kami lah yang memerdekakan Indonesia, ya kami, anak-anak kecil saat itu. Berbagai macam lomba kami mainkan dengan semangat dan penuh suka. Berbagai lomba kanak-kanak juga kami mainkan; makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, hingga panjat pinang. Untuk menghadirkan semangat kewiraan, kami acapkali memainkan fragmen peperangan dengan bermain bundu’ (perang, bhs makasar). Ada yang berperan sebagai pejuang Indonesia bersenjatakan bambu runcing, dan ada juga yang berlaku sebagai tuan kompeni belanda. Yah, seperti di filem-filem yang kami nonton di TVRI, kala itu. Kami adalah anak-anak merdeka yang sehat dan gembira!

Tahun 1986, kampung Pannampu seperti kena kutuk. Pendulum kebahagiaan kami beringsut ke titik nadir. Pemerintah Kota Makassar menetapkannya sebagai area TPA, Tempat Pembuangan Akhir. Seluruh sampah produksi harian warga Makassar dihamburkan di danau Pannampu dan sekitarnya. Danau yang indah itu dalam sekejap menjadi bukit sampah yang menjijikkan. Segala macam bau busuk menjadi aroma saban hari bagi warga. Segala jenis lalat, cecurut dan tikus got, cacing dan ulat, siput dan lintah tumpah ruah menjadi anggota mayoritas ekosistem baru, membentuk masyarakat sampah kota bersama dengan serbuan para pemulung bak semut ketemu gula.

Di musim hujan, air hujan bercampur sampah dan tikus-tikus menghantar bau tengik ke dalam rumah, banjir comberan hingga selutut. Ketika musim kemarau, giliran lalat dan lintah merengsek masuk ke meja makan dan dinding rumah yang lembab. Jalan di kompleks juga kena tulah. Kubangan raksasa nyaris terbentuk setiap kali truk-truk sampah melewati jalan tanah, yang sesekali membagi remah sampah disisi jalan. Warga kemudian menjadi akrab dengan bau dan penyakit, dan tidak ada kompensasi kesehatan dari pemerintah.

Saat Pemilu di tahun 1987, warga Pannampu menjadikan partai pemerintah sebagai pecundang saat pemilu. Bagi kami, sikap itu adalah bentuk protes yang menyelimuti kekecewaan kami. Sikap ini kemudian berdampak hingga beberapa tahun berselang. Pemukiman itu tetap dipertahankan sebagai TPA walau sampah sudah menggunung, ber-bonus penyakit! Kanak-kanak yang tak mengerti itu saban hari bermain dengan bahaya, jarum suntik bekas rumah sakit kami jadikan mainan dokter-dokteran, kondom bekas kami tiup hingga menyerupai balon yang indah. Bahan-bahan kimia meracuni tanah, air dan tanaman kami.

Jalan depan rumah kami makin berlubang, tanpa pernah tersentuh perbaikan. Lalu lalang truk sampah dan bau yang mengiringi lambat laun membuat warga menjadi tidak sabar, kemudian meledak menjadi demonstrasi. Di tahun 1990, ratusan warga tua dan muda menghadang jalan masuk truk sampah dengan parang dan badik di tangan. Truk sampah disuruh balik, jalan masuk di portal dengan balok besar. Aksi ini kemudian mampir dalam liputan wartawan cetak, masuk koran. Pemerintah Kota kemudian terpaksa menutup TPA Pannampu. Tapi sampah tetap menggunung.

Hanya berselang dua tahun, pemerintah Kota kembali dengan ketetapan yang baru. Menjadikan perumahan Pannampu sebagai tempat penampungan para pedagang Pasar Terong yang direnovasi. Wajah komplek perumahan kembali berubah. Bukan berubah membaik, tapi memburuk. Hingga hari ini, ketika Indonesia menjadi bangsa merdeka berusia enam puluh dua tahun.

Sejak saat itu, kami kanak-kanak kecil yang akrab dengan lalat dan tikus, comberan dan bau busuk, dan penyakit kemudian berusaha memaknai kembali arti kemerdekaan dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Tercerabut dari hak untuk menikmati lingkungan yang bersih. Teman-teman kami kemudian banyak yang bergulat dengan penyakit. Sedikit yang sehat total, banyak yang berpenyakitan. Beberapa kawan kami mati. Mungkin karena busuk dan penyakit. Mungkin karena takdir semata. Beberapa warga kemudian tak tahan, pindah ke tempat lain yang lebih sehat.

Tidak ada lagi agustus yang seru, agustus yang ceria. Kami tak lagi merasa kanak-kanak yang merdeka, yang bebas bermain bundu’ dan berlari lepas di dalam kampung yang asri. Tanah air kami dijajah oleh lalat, tikus dan lapak para pedagang. Kami, kanak-kanak yang kemudian beranjak dewasa saat ini kemudian berperang dan berusaha memerdekakan diri. Mencari tempat yang jauh dari lalat, tikus dan lapak. Hingga saat ini, saya sedang berusaha memindahkan keluarga yang masih terjajah disana, ke tempat yang merdeka. Merdeka dari lalat, tikus dan lapak. Sedang adik-adik kami, memulai lagi kemerdekaan dengan nasib yang tak jauh beda. Kami masih terjajah oleh lalat, tikus dan lapak. Masih pantaskah kami berteriak merdeka lagi? Entahlah.

Advertisements

23 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. imcw said, on August 18, 2007 at 8:33 pm

    MERDEKA!!!

  2. Ina :P said, on August 20, 2007 at 3:18 pm

    Ehm…Bisa mi ka’ dibilang Merdeka,Daeng kl begini negeri ta’?

    tapi jangan patag semangat pastinya.

    Ma kasih Daeng Comment ta’ dan doa na di Blog WP ku.
    Selesai ji masalah na dgn baik. He he he
    *bernafas lega.

    entry ta’ ini sdh mi sa vote …
    Semoga menang!!!! Amin.
    ehm…* bisik2 “ditunggu traktiran na”

    Kabuuuurrrr…..

  3. ryu said, on August 21, 2007 at 11:53 am

    postingannya bagus, sayang…ryu nggak bisa vote dua kali 🙂
    mudah2an jadi juara yg di tentukan oleh juri dan bukan oleh hasil voting ya:) (kalo dua2nya menang, lebih oke pastinya 🙂 menang favorit dari voting dan menang oleh nilai para juri ..mantabhhh..)

    bener2 tulisan yang bagus!

  4. Pritha said, on August 21, 2007 at 2:32 pm

    Daeng, kalo menurut saya sih ada lho hubungan antara lomba2 dengan peringatan kemerdekaan.
    Coba aja dilihat para lomba itu, misalnya lomba balap karung. Bukankah lomba itu mengutamakan adu strategi dan kekuatan?
    Menurut saya, itulah yang ingin dijaring oleh lomba2 tujuh belasan.
    Mengenang para pejuang yang dulu sulit mendapatkan kemerdekaan, lantas sekarang ditiru oleh para penerus, kan bagus doong??
    Atau kalau mau ngeliat lebih dekat, coba lah diliat lomba2 yang diadakan Blogfam untuk 17an kali ini. Ada lomba foto, entry dan gombal. Saya yakin ketiga lomba itu dimaksudkan untuk mengasah kreativitas dan daya juang para member blogfam. Iya kaan…Iya doong…
    Salam merdeka ah 🙂

  5. Raida said, on August 22, 2007 at 8:41 pm

    potonya seremmm sekaliiiii..:(

  6. bu juri said, on August 23, 2007 at 3:34 am

    salam merdeka. 🙂

  7. rusle said, on August 23, 2007 at 11:22 am

    @ pritha:
    Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar?

    @ryu:
    thanks yah, kalah gak apa2, sing penting berpartisipasi..he2

    @ina: sejuta thanks yah…

    @raida: yah, serem sekali. untung cuman fotonya doang, bau nya gak ikutan…he2

    @bu juri: thanks dah mampir…

  8. Andin said, on August 24, 2007 at 6:08 pm

    wah.. bagus postingannya…
    salam knal..

  9. daeng rusle' said, on August 24, 2007 at 6:45 pm

    @andin
    thanks ya dik…moga sukses dgn kelas barunya..he2
    yg rajin belajarnya…

  10. yaya said, on August 28, 2007 at 9:59 am

    Selamat ya Daeng 🙂

  11. deen said, on August 28, 2007 at 10:25 am

    Selamat daeng..! 🙂

  12. feRi said, on August 28, 2007 at 10:54 am

    selamat ya dah menang…

    🙂

  13. kian said, on August 28, 2007 at 11:09 am

    Selamat ya daeng…menang banyak neh kayake…keren..keren..

    salutt….merdeka emang ga harus adu kuat, adu cepat, atau adu pintar..tapi itu salah satunya…

    yang pasti Semoga kita merdeka

  14. […] Entry Juara 1 : Daeng Rusle – Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak! Juara 2 : Raida – Sang Jawara Juara 3 : Nunik Utami – Gara-gara Karnaval Juara Favorit : Pritha […]

  15. In-aRt said, on August 28, 2007 at 1:57 pm

    jago mentong ini e daeng rusle
    saluuuuuuutt

  16. ashar Karateng said, on August 28, 2007 at 3:55 pm

    rusle’
    selamat ki cappo…. heba’ mentong sikampokku.. tetaplah produktif dalam karya .. merdekaaa…

  17. Kopitalisme said, on August 28, 2007 at 5:47 pm

    Dg Rusle, selamat di atas terpilihnya tulisanta ini sebagai juara 1 blog entry… Tulisan yg luar biasa!

  18. rusle (yg punya blog) said, on August 29, 2007 at 3:16 pm

    thanks ya buat mba yaya, deen, in-art, feri, kian, pak ashar, dan bung galileo galigo/patanyali…
    semoga kemenangan ini menjadi barokah…:)

  19. […] Entry Juara 1 : Daeng Rusle – Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak! Juara 2 : Raida – Sang Jawara Juara 3 : Nunik Utami – Gara-gara Karnaval Juara Favorit : Pritha […]

  20. satriabatubara said, on September 1, 2007 at 3:49 pm

    SELAMAT BUNG DAENG
    Tulisannya emang yahud

  21. LV dg. Sugi. said, on September 5, 2007 at 5:30 pm

    baru kesini, pantes emang kalau juara!!

    selamat bos..

  22. FAIZAN said, on November 20, 2008 at 6:49 pm

    dukung FAIZAN di ajng pemilihan BLOG pendatang baru terfavorit
    klik link dibawah ini untuk vote
    http://www.angingmammiri.org/portal/content/view/419/1/

    ada nelayan naik sampa
    yang tampan pilih faizan

    he..he….

  23. idische said, on July 1, 2009 at 2:41 am

    marilah kita nyampah,sebagai bangsa sampah kita harus bangga dengan sampah kita.hidup sampah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: