…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Cerita dari Pannampu (Draft)

Posted in Kenangan by daengrusle on August 10, 2007

9-sampah.jpg

(Tulisan ini baru draft awal, akan disempurnakan kemudian, Amin!)

Geliat pasar pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul dan pedagang tempatan yang menyewa salah satu rumah di kompleks itu. Menjelang waktu lohor tiba, satu per satu pedagang beranjak dari kompleks. Pulang. Ketika siang hingga malam, kompleks menjadi milik warga lagi.

Uniknya, seperti menunjukkan kecenderungan untuk sulit diatur, mereka justru tidak tertarik untuk berjualan di dalam pasar inpres Pannampu yang disediakan pemerintah, tapi berjualan di selasar kompleks di dua sisi pasar Pannampu, dimana saya dan keluarga menempati salah satu dari 200an rumah dempet berlantai dua sejak awal dibukanya. Kompleks pasar, begitu kami menyebutnya, merupakan blok perumahan dua lantai berjejer dengan bentuk yang seragam. Mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Blok I atau Blok A terletak di sebelah barat pasar terdiri dari kurang lebih 40 rumah, Blok II atau Blok B yang terletak di sebelah timur pasar dijejeri oleh sekitar 80 rumah, 20 rumah di Blok CC di sebelah selatan pasar dan Blok C yang terakhir, berhadap-hadapan dengan Blok B dan terletak searah tegak lurus blok CC berderet-deret 20 rumah ke selatan.

10-gerbang.jpg

Pasar Inpresnya sendiri saat ini seperti pasar tua yang menunggu diruntuhkan atau direnovasi. Sebahagian besar lods-lods (kios kecil) di pasar Inpresnya yang berjumlah 400-500 dibiarkan kosong, reot dan tak terurus. Di beberapa sisi pasar, genangan bisa setinggi lutut, seperti membentuk kubangan rawa dan ditumbuhi banyak tanaman liar. Yang dibuka oleh para pedagang hanya lods-lods di selasar utama. Itupun juga sepi dari pengunjung, sementara di luar, di jalan depan kompleks, riuh ramai oleh pembeli dan penjual. Sudah sering terdengar kabar bahwa pasar ini akan dipermak sebagaimana pasar-pasar lain di Makassar. Pasar Terong, pasar Sentral, pasar Baru Pattimura, semuanya sudah disulap menjadi apik dan sedap dipandang. Belum lagi pasar-pasar dan mall-mall baru berdiri dimana-mana. Tapi Pasar Pannampu seperti hanya tersentuh issue belaka, tidak ada realisasi. Padahal dari segi lokasi, pasar Pannampu ini terletak di koordinat strategis untuk investasi di utara Makassar. Letaknya yang berada di sisi jalan besar yang menghubungkan Makassar dan Maros, juga kelengkapan infrastrukturnya; terminal, pom bensin, sekolah, pekuburan, dll ada di area ini, dan posisinya sebagai ibukota kecamatan Tallo, seharusnya sudah cukup meyakinkan investor. Dari data statistik Bappeda Kota Makassar diketahui bahwa jumlah jumlah penduduk kecamatan Tallo 128 141, menempati wilayah sebesar 5,83 Km2, dari jumlah itu 13.622 jiwa mendiami kelurahan Pannampu yang luasnya sekitar 30 hektar. Pasar Pannampu sendiri memiliki wilayah bentang sebesar lebih kurang lima hektar.

Ada rumor yang mengatakan bahwa pasar Pannampu inilah yang dianggap sebagai salah satu area yang menyumbang nilai minus untuk kebersihan dan ketertiban Makassar. Makassar berada di urutan ke-10 dari 14 kota kota metropolitan yang dinilai. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) merilis, Makassar masuk kategori kota terkotor bersama Bekasi, Depok, dan Bandung. Menurut beberapa kabar yang tidak jelas kebenarannya, penghargaan Adipura gagal diraih Makassar karena salah satunya adalah ‘kebersihan’ dan ketertiban pasar Pannampu ini gagal meraih simpati tim penilai dari pusat. Kalau ada yang menanyakan dimana daerah kumuhnya Makassar, orang banyak menyebut Pannampu.

Kutukan Tiga Babak
Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib. Para pendatang berdatangan hingga memenuhi 200an rumah di kompleks perumahan itu. Di belakang kompleks, terhampar Danau Pannampu yang luas dan dalam. Saat senggang di sore hari, para penghuni kadang mengisinya dengan memancing di danau itu. Di sisi timur, ada pekuburan Beroanging yang banyak menampung jazad korban Tampomas II. Tahun 2000, pekuburan Beroanging ditutup karena sudah kepenuhan, banyak kubvuran yang tumpang tindih, tak ada diutaranya ada puluhan tambak pacce’lang (penggaraman) yang memasok garam ke seluruh Makassar.

Tahun 1986, kompleks perumahan Pannampu seperti kena kutuk. Pemerintah Kodya Makassar menetapkan Pannampu sebagai area TPA, Tempat Pembuangan Akhir. Seluruh sampah produksi harian warga Makassar dihamburkan di danau Pannampu dan sekitarnya. Dari awalnya adalah danau yang dalam dan tempat pemancingan yang banyak ikannya, kemudian hanya dalam setahun berubah menjadi bukit sampah yang menjijikkan. Segala macam bau busuk menjadi aroma saban hari bagi warga. Segala jenis lalat dan tikus, cacing dan ulat, siput dan lintah tumpah ruah menjadi anggota mayoritas ekosistem baru itu, bersama dengan masuknya ratusan pemulung yang menyerbu ke TPA bak semut ketemu gula.

Di musim hujan, air hujan bercampur sampah dan tikus-tikus menghantar bau tengik ke dalam rumah, banjir comberan hingga selutut. Ketika musim kemarau, giliran lalat dan lintah merengsek masuk ke meja makan dan dinding rumah yang lembab. Jalan di kompleks juga kena tulah. Kubangan raksasa nyaris terbentuk setiap kali truk-truk sampah melewati jalan tanah, yang sesekali membagi remah sampah disisi jalan. Warga kemudian menjadi akrab dengan bau dan penyakit, dan tidak ada kompensasi kesehatan dari pemerintah.

pannampu1

Tahun 1987, sebagai salah satu bentuk protes, warga pasar Pannampu menjadikan Golkar sebagai pecundang saat pemilu. Warga ramai memilih partai bintang sebagai pilihan politik, yang kemudian berdampak hingga beberapa tahun berselang. Pemukiman itu tetap dipertahankan sebagai TPA walau sampah sudah menggunung, plus penyakit dan bau busuk. Jalan makin berlubang, tanpa ada perbaikan. Lalu lalang truk sampah dan bau yang mengiringi lambat laun membuat warga menjadi tidak sabar, kemudian meledak menjadi demonstrasi. Di tahun 1990, ratusan warga tua dan muda menghadang jalan masuk truk sampah dengan parang dan badik di tangan. Truk sampah disuruh balik, jalan masuk di portal dengan balok besar. Aksi ini kemudian mampir dalam liputan wartawan cetak, masuk koran. Pemerintah Kota kemudian terpaksa menutup TPA Pannampu. Tapi sampah masih menggunung.

Hanya berselang dua tahun, pemerintah Kota kembali dengan ketetapan yang baru. Menjadikan pasar Pannampu sebagai tempat penampungan para pedagang Pasar Terong yang direnovasi. Wajah komplek perumahan kembali berubah. Pasar Inpres Pannampu rupanya tak sanggup menampung seluruh pedagang pasar Terong yang jumlahnya ratusan itu.

Saat masa 20 tahun telah lama berlalu, penghuni lama dan penghuni baru masih setia menjaga geliat pasar, tanpa terusik. Yang ada hanya sekali berhembus angin penggusuran yang tak pernah pasti, hilang bersama euforia reformasi. Para penyewa kemudian mentahbiskan diri sebagai pemilik, beramai-ramai menyewa tenaga partikelir untuk menyihir hak sewa menjadi hak milik. Setelah bertahun-tahun, belum satu pun yang jadi. Sementara, sang pemilik asli belum juga muncul, entah sampai kapan.

Advertisements

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. musakazhim said, on August 10, 2007 at 7:31 pm

    Salam kenal juga. Thanks for visiting my humble blog. Ini tulisan bagus, memberi kesegaran di tengah kebisuan menghadapi kezaliman. Ngiler pengen baca kelanjutannya:-)

  2. bangaip said, on August 10, 2007 at 10:09 pm

    Astagfirullah, itu kebakaran atau sampah?

    Saya dulu pernah ke pasar ini. Karena ada yang jual ikan bakar yang lezat nian. Aduh, kok jadi begitu yaa tuh pasar?

  3. Anang said, on August 11, 2007 at 5:56 am

    mampir ah

  4. JengKoLHoLiC said, on August 11, 2007 at 4:44 pm

    Yah .., emang sekarang lagi trend gusur² an .. 🙂

  5. imcw said, on August 12, 2007 at 9:26 pm

    ternyata kembali ke wordpress.com ya mas…:)

  6. mashuri said, on August 13, 2007 at 6:31 am

    pasar tradisional truslah menggeliat…

  7. Ifool said, on August 15, 2007 at 3:59 pm

    wah..saya baru tau kalau sejarah Pannampu pernah begitu “kelam”nya….
    tapi salut untuk warga sana yg tetap bertahan dalam kepungan sampah dan bau yang pasti ndak ada enaknya…

    dan lebih hebat lagi, salah satu survivornya bisa jadi orang sukses..siapakah dia…? tak lain dan tak bukan..sang pemilik blog ini..
    hehehe….tetap semangat daeng..!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: