…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Cuci Foto Kilat, yang tergerus Digitalisasi

Posted in Renungan by daengrusle on July 18, 2007

jamal1jamal1

Ditengah arus digital masih ada juga sistem cetak foto analog yang bertahan, Cuci cetak foto Kilat. Teknik cuci cetak foto nya masih menggunakan teknik cetak foto tradisonal, dengan memanfaatkan ruang gelap. Jasa cetak foto kilat ini masih digunakan orang karena alasan kepraktisan, sekali cetak foto hanya butuh waktu 10-15menit saja, juga karena harganya yang sangat terjangkau.

*************

Masa pendaftaran masuk sekolah adalah masa panen baginya, karena banyak calon siswa yang memanfaatkan jasanya. Pak Jamal, yang saya temui pagi itu di lapak cuci foto kilatnya yang berupa gerobak yang dimodifikasi, mengakui bahwa dalam sehari dia bisa dapat penghasilan hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu jutaan. Sehari sebelumnya, saya tidak memiliki kesempatan berbincang dengannya, karena antrian pelanggan yang hendak cuci photo. Barulah pada hari senin, saat pendaftaran anak sekolah sudah berakhir, dia bisa meluangkan waktunya untuk ngobrol. Menurutnya, kalau bukan musim pendaftaran sekolah atau tenaga kerja usahanya menjadi sepi, dia hanya bisa dapat paling banyak Rp 50ribu sehari bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, selain menekuni usaha cuci foto kilat ini, dia juga mencoba bisnis sampingan lainnya.

Jasa cuci cetak foto kilat, yang kalau di pulau Jawa dikenal dengan sebutan afdruk, merupakan profesi yang ditekuninya sejak tahun 1984 sampai sekarang. Bermula ketika berkenalan dan menjadi asisten seorang fotografer asal Belanda, Mr Jacoop, dia belajar teknik cuci cetak foto. Kala itu, di setiap akhir pekan, Mr Jacoop mengajaknya ‘ hunting’ di pulau Kayangan, Kodingareng atau pulau-pulau lainnya sekitar Makassar. Setelah kembali, mereka bersama-sama mencuci foto-foto itu di ruang gelap milik Mr Jacoop. Ketika Mr Jacoop kembali ke Belanda, Jamal telah terampil mencuci photo. Dia menjadikan keterampilan barunya itu sebagai peluang untuk memulai usaha, dan dengan honornya dari Mr Jacoop, dia membeli alat cuci cetak foto yang saat itu berharga Rp 200,000. “Kalau dinilai dengan harga sekarang, sudah Rp 18juta,” katanya dengan bangga.

Lapak cetak fotonya itu sekaligus berfungsi sebagai ruang gelap untuk cuci cetak foto. Disanalah alat cetak foto itu disimpan. Peralatan lainnya yang dia pergunakan sangatlah sederhana; gunting, lampu petromaks, ember air. Ditengah lapak dibuatkan lubang kecil sebesar kelereng, dan persis dihadapan lubang itu ditempatkan sebuah lampu petromaks yang digunakan sebagai sumber pencahayaan di ruang gelap, juga penanda bahwa lapak cuci foto kilat ini buka dan siap menerima pesanan. Lampu petromaks ini juga difungsikan sebagai pengering cetak foto dengan memanfaatkan efek panas dari pijar lampunya. Guntingan-guntingan foto yang sudah dicetak tapi masih basah, setelah dilap secukupnya kemudian ditempatkan di atas penutup petromaks yang panas, sampai mengering. Dibawah lapak, saya lihat ada tiga ember berisi cairan. Salah satunya adalah larutan yang dia namakan Superbroom, cairan keras dan khusus yang digunakan untuk mencuci foto. Di dua ember lain, ditaruhnya larutan air biasa.

Untuk tarif, pak Jamal mematok harga sesuai ukuran foto yang akan dicetak. Untuk cetak foto hitam putih ukuran 2×3 dipatok Rp 1000, 3×4 dihargai Rp 1200, 4×6 dihargai Rp 1500 dan seterusnya hingga ukuran jumbo 18×24 yang dibanderol Rp 15,000. Untuk mencuci cetak satu foto, Jamal hanya perlu waktu 10-15 menit saja.

Di setiap lapak, mereka memajang contoh hasil cetak dengan ukuran-ukuran tertentu dan ditempel di depan atas lapak itu. Kalau bukan fotonya sendiri, kadang-kadang yang dipajang adalah foto anaknya atau anggota keluarga lainnya. Jarang sekali foto selebritis dijadikan contoh yang dipajang, karena untuk mencetaknya mereka butuh negatif filmnya yang tentunya sulit dicari. Di lapaknya yang berlokasi di ujung jalan Pongtiku mengarah ke jalan Urip Soemiharjo, pak Jamal memajang fotonya ketika masih muda dan gagah sebagai sampel dalam berbagai ukuran.

Diusianya yang menjelang 60 tahun, pak Jamal masih terlihat lincah. Bersama seorang temannya, kami berbincang dengan sangat akrab. Dia bercerita bahwa dengan usaha cetak foto kilat ini, dia sudah bisa membeli rumah, tanah dan sawah di kampungnya di Polmas. Kesemuanya adalah tabungan hasil usaha cuci foto kilatnya, terlebih ketika masih jayanya dulu. Anaknya enam orang, semuanya disekolahkan dengan hasil usaha ini. Tiga orang anaknya sudah kuliah; dua di UNM, satu lagi di Universitas 45. Anak ke 3 dan ke-4 saat ini sudah duduk di bangku SMA Negeri 5 dan SMAN 24, sedang yang bungsu masih sekolah di SMPN 12 Makassar. Dia dengan bangganya menceritakan bahwa ke-enam anaknya tergolong jenius, sangat cerdas. Mereka semuanya mendapat nilai bagus di ujiannya, dan mendapat peringkat atas. Anak sulungnya yang kuliah di Sastra Inggris UNM kini sudah bekerja sebagai pengajar honorer di SMAN 17, dan sering menjadi penerjemah juga. Bibirnya tersenyum lebar setelahnya, bangga.

jamal2

Sebelum menjadi tukang cuci foto kilat, pak Jamal pernah punya kesempatan bekerja di kawasan Timur Tengah, sebagai tenaga kerja terampil di kontraktor-kontraktor pembangunan infrastruktur disana. Pada tahun 1980, pak Jamal lulus test program pelatihan industri bagi tenaga kerja yang akan dikirim ke Timur Tengah yang dinamakan ICCI (Indonesian Consortium of Construction Industries), diselenggarakan oleh Tim Koordinasi Kegiatan Ekspor Timur Tengah, dibawah Departement Perindustrian dan Perdagangan, bekerja sama dengan Departement Tenaga Kerja. Menurutnya, dia harus menyisihkan 8000 peserta test saat itu, dan hanya dia beserta 77 orang lainnya yang berhasil lolos. Pelatihan industri ini memakan waktu enam bulan, dilanjutkan dengan Latihan Dasar Militer selama tiga minggu. Sayangnya di akhir masa pelatihan, kondisi psikis pak Jamal drop. Dokter mendiagnosanya mengidap penyakit syaraf, sehingga melayanglah kesempatan ke Timur Tengah itu.

Pak Jamal tidak pernah menyesali kegagalannya itu, bahkan dia selalu tersenyum bangga ketika menceritakan kisahnya. Terutama ketika menggambarkan betapa sulitnya test psikologi yang diikutinya namun berhasil diselesaikan dengan baik. Temannya menimpali, “Pak Jamal ini orang jenius, sama dengan Habibie!”

******

Usaha cuci cetak foto kilat saat ini sudah teramat sulit ditemukan di Makassar, jumlahnya sudah sangat sedikit. Pada sekitar tahun 1980 hingga awal 1990-an, bisnis cetak foto kilat ini masih banyak kita jumpai di setiap sudut Makassar. Biasanya lapak-lapak cuci cetak foto itu ditempatkan di sisi jalan besar; di sekitar sekolahan, pasar atau perkantoran dimana banyak pelajar, mahasiswa atau pegawai dan pencari kerja yang memanfaatkan jasanya. Sepanjang liburan singkat saya di Makassar, hanya lapak pak Jamal saja lah yang saya temui. Dulu ketika masih SD-SMA, saya punya langganan dua cuci foto kilat di depan pasar Pannampu dan di dekat Lembo. Ketika melintas di depan pasar, lapak cuci foto kilat langganan saya itu sudah tidak ada lagi. Juga yang di Lembo.

Menurut pengamatan saya, ada dua hal utama yang membuat usaha cetak foto kilat ini makin tergerus oleh zaman. Yang pertama adalah makin maraknya teknologi cetak foto digital yang cepat dan murah. Sistem digitalisasi dalam dunia fotografi itu sudah menjadi trend dalam masyarakat, baik pengguna profesional, maupun yang sekedar hobby atau untuk keperluan khusus saja. Kalau dulu, orang harus meluangkan waktu untuk berfoto di studio foto dan membayar harga cetak negatif dan positifnya, kini tidak perlu lagi. Kita cukup meminjam kamera digital dan menggunakannya dirumah. Kamera analog yang ribet dengan roll filmnya yang mahal, tidak bisa dihapus dan diedit, juga mulai jarang dipakai orang. Cukup menggunakan kamera digital, kita bisa mendapatkan foto-foto dalam jumlah banyak yang tersimpan di memori kamera, re-usable, bisa dihapus dan diedit dengan program komputer. Untuk cetak fotonya, cukup datang ke studio dan menyerahkan memory cardnya. Harga cetak digital sekarang pun sudah sangat murah. Untuk ukuran 3R cukup seharga Rp 800, dan ukuran 4R seharga Rp 1000 saja.

Hal yang kedua adalah tersentuhnya usaha ini oleh program penataan kota. Lapak cetak foto kilat ini dianggap sejenis dengan Pedagang Kaki Lima (PKL) sehingga sering terkena penertiban dari aparat apabila keberadaannya di sisi jalan besar atau di pusat keramaian dianggap kurang sedap dipandang mata. Apalagi kota Makassar yang sedang menggalakkan diri sebagai Kota dengan Great Expectation, tentunya menjadikan kebersihan dan ketertiban sebagai salah satu indikator keberhasilannya. Mau tidak mau, usaha cetak foto kilat ini juga harus menyesuaikan diri, menjauh dari jalan besar atau pusat keramaian yang berarti menjauhkan mereka dari konsumen. Apalagi kalau usaha foto studio analog dan digital juga makin bertambah dan menawarkan layanan yang express dan murah, semakin pudarlah ‘pesona’ kilat lapak mereka.

Untungnya, sistem administrasi di negeri ini masih sederhana, belum sepenuhnya online, sehingga jasa cetak foto kilat hitam putih masih bisa bertahan di tengah arus digitalisasi fotografi. Beberapa sekolah, kampus dan perkantoran masih mensyaratkan pemasangan pas foto hitam putih di lembar pendaftaran, lamaran pekerjaan, atau buku database administrasi. Karenanya, pak Jamal masih yakin usahanya akan tetap bertahan di tengah menggerusnya sistem digitalisasi fotografi.

Advertisements

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Agam said, on July 18, 2007 at 4:08 pm

    Dimana2 hukum rimba selalu berlaku. Yang modal, en tekhnologinya gede/ lebih bagus, pasti menjadi pemenangnya 🙂

  2. dedi said, on July 19, 2007 at 2:52 am

    Wah, namanya juga era globalisasi pak, segala sesuatu tidak bisa dilihat dengan akal sehat. hehehe.
    Lama tak bersua…

  3. aRuL said, on July 20, 2007 at 2:53 pm

    gimana kalo ada pelatihan buat yg mereka untuk digital foto…. sembari mereka diberi modal?

  4. nadul said, on September 18, 2008 at 1:22 pm

    tanpa di suruh pelatihan pun pak jamal dah sering cuci di gital karena sering oper kerjanyadi studio photo INTI.di jalan urip sumoharjo.

  5. syahroe said, on September 17, 2009 at 11:32 pm

    sebuah resiko yang harus ditanggung. siapa kuat dia yang menang. era digital nyatanya sdh menggeser era analog, harus diterima walau terasa pahit. selalu berjuang pak. Bravo

  6. TABRI said, on July 20, 2010 at 5:45 am

    SALUT BUAT PAK JAMAL.
    Selamat dan teruslah berjuang Bapak-ku.
    Saya turut bangga sebagai orang yang pernah mengalami menjadi tukang afruk, walaupun pada akhirnya saya terpaksa harus mengikuti perkembangan digitalisasi. Tetapi tetaplah hati ini merasa bersyukur bahwa dari afdruk itulah telah banyak mengukir sejarah bagi peradaban dunia photografhi.
    Terimakasih.
    Salam…….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: