…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Daeng Hamzah, Melawan Arus, Memilih Hidup Malempu

Posted in Renungan by daengrusle on July 15, 2007

dimuat juga di Panyingkul!

bex1

Nasib adalah rahasia milik Tuhan. Kita, manusia kecil ini, tak bakal tahu akan menjadi apa di kemudian hari. Pun walau rencana telah terurai. (Daeng Hamzah)

Minggu Subuh depan pasar Pannampu, saya menunggu taxi atau pete-pete. Ada janji dengan teman blogger di Losari untuk jualan kuisi – kue dengan selembar puisi, dan mengejar sunrise. Sepuluh menit berlalu, yang lewat hanya becak dan sepeda bermuat sayur. Pasar umumnya, memang memulai geliat nya di subuh hari. Saat kota masih lelap, saat kokok ayam masih satu-dua, saat ufuk di timur masih sipit, para pedagang berdatangan, menghantar kesegaran. Iqomat Subuh sayup-sayup memanggil yang masih lelap untuk kali terakhir. Sembahyang lebih utama dari lelap.

Tak sabar menunggu, saya kemudian menyetop becak berjok putih. Bentuknya khas becak makassar, kecil persegi – hanya muat dua orang dewasa, tidak aerodinamis. Becak makassar lebih simpel, bagian depan tempat penumpang duduk berbentuk segi empat. Dua roda sepeda diikat oleh besi pipa dibawah dudukan dari papan kayu setebal jempol orang dewasa. Jok penumpang biasanya dibuat dari jejeran karet ban yang dipotong memanjang dan diatur bersilangan, kemudian dilapisi sabuk kelapa atau spons dan dibungkus plastik tebal. Lantai pijakan penumpang dibuat rata dengan jalan. Atapnya dari terpal dengan rangka besi pipih selebar belebas anak SD. Disisi depan atas, biasanya ditempatkan gulungan plastik transparan sebagai pelindung di saat hujan. Dua buah papan kecil berukuran 20×20 cm ditempatkan di muka becak, diatas bemper dari sebatang pipa besi besar berdiameter 5cm. Daeng Becak duduk di bagian belakang yang berbentuk seperti sepeda ontel dicomot belakangnya. Dua batang besi bulat sejajar menghubungkan belakang becak dengan kursi penumpang, dengan as di bawah jok, yang berfungsi untuk bermanuver. Mengayuh pedal tak perlu bersusah-susah, karena jaraknya rendah dari sadel. Sadelnya rendah sejajar jok. Rem tangan berbentuk leher angsa ditaruh tepat dibawah selangkangan, dihubungkan dengan roda belakang. Kaki yang jenjang tidak menjadi syarat untuk menjadi daeng Becak. Yang penting kaki harus kuat dan keras, walau kemudian rentan kena varises. Bentuk sederhana becak makassar tentu menyesuaikan dengan topografi kota yang datar saja. Beda dengan di Jawa, yang becaknya besar dan bulat dengan sadel pengemudi yang tinggi dibelakang. Kalau penumpang hendak naik, bagian belakang becak harus diangkat menungging. Saat mengayuh, kaki menjinjit dan pantat naik turun, seperti bebek kalo berjalan.

Tidak seperti taxi atau pete-pete, tidak ada standard tarif untuk becak. Apalagi untuk rute dan tujuan yang tidak jelas. Biasanya, daeng Becak akan memulai dengan bertanya, “berapa biasanya kita bayar? Kalau kita tidak tahu tarif ‘biasa’ itu, mereka akan coba menyebut angka sebesar dua atau tiga kali tarif pete-pete yang sekali jalan dibanderol Rp 2000, tapi tidak akan semahal ongkos taxi, yang kalau di Makassar tarif buka pintunya sudah Rp 4700. Setelah melewati negosiasi yang mudah, saya bergegas naik di dudukan penumpang. Untuk memastikan harganya sudah pas, dia menanyakan lagi tujuan saya, “itu tempat yang kita bilang dekat jalan masuk ke Tanjung Bunga toh pak? Saya mengiyakan.

========

Untuk mengusir sepi dan dingin, saya mencoba berakrab dengan tukang becaknya. Dia mengaku bernama (Daeng) Hamzah. Kalau tukang becak di makassar, selalu dipanggil daeng. Bahkan panggilan daeng sekarang identik dengan tukang becak, atau daeng becak. Sebutan Daeng adalah kata yang kemudian bermakna gradual menyempit jatuh ke tingkat lebih rendah secara kultural. Dulunya merupakan panggilan hormat kepada orang makassar yang lebih tua, laki-laki atau perempuan. Nama Daeng atau paddaengang biasa ditaruh di belakang nama asli. Misalnya Ranggong Daeng Romo, Malombassi Daeng Mattawang, Hasymi Daeng Nyonri atau Luna Daeng Sugi. Paddaengang adalah nama harapan, yakni kata-kata sifat atau kondisi yang diharapkan akan mewujud pada diri sang pemilik nama. Juga bisa berfungsi sebagai kendali dan penyadaran diri, seandainya suatu saat perilaku melenceng dari arti paddaengang-nya.

bec21

Daeng Hamzah berumur 47 tahun. Badannya tirus tapi kuat. Mengenakan kaos oblong putih, celana kain selutut dan bersendal jepit. Kepalanya ditutupi topi biru yang dikenakan terbalik, lehernya dikalungi handuk kecil berwarna biru lusuh. Lusuh oleh keringat. Seperti biasa, dia keluar rumah setelah sembahyang subuh di rumah, katanya, dan menuju tempat stamplasnya di depan kios penjual pisang di Pasar Pannampu, samping jalan besar.

Daeng Hamzah bukan orang Makassar, tapi bersuku asli bugis asal Pare-Pare. Perbincangan kami serta merta beralih ke bahasa bugis, begitu saya mengaku bersuku Bugis juga. Pertama kali menginjak Makassar ketika lulus dari STM Pare-pare jurusan Mesin. Cita-citanya adalah menjadi tentara, seperti bapaknya, yang ketika pensiun berpangkat Peltu. Bapaknya yang Peltu itu memiliki 11 anak, dan Daeng Hamzah adalah anak sulung. Keinginan Bapaknya dan cita-cita daeng Hamzah sebenarnya mirip saja. Bapak maunya Hamzah jadi polisi, karena bisa dapat banyak uang dan tak susah seperti dirinya, tapi Hamzah ngotot mau menjadi tentara, yang gagah seperti Bapaknya. Setelah diam-diam mengurus segala keperluan administrasi untuk mendaftar jadi Bintara, bersama seorang temannya, daeng Hamzah ‘naik’ ke Makassar untuk menemui Kapten Ismail yang tinggal di jalan Pongtiku. Kapten Ismail menurut kabar yang didengarnya bisa menguruskan dia menjadi Tentara. Tapi malang buat Hamzah, pamannya yang di Makassar melaporkan kejadian ini ke Bapaknya. Bapaknya marah, dan menyusul Hamzah ke Makassar, dan membawanya pulang ke Pare-pare. Gagal lah usahanya menjadi tentara. Temannya lulus, dan sekarang sudah jadi ‘orang’. Dia dengar temannya itu pernah dikirim ke Timor-timur, dua kali.

Tahun 1986, daeng Hamzah kembali lagi ke Makassar. Kali ini untuk bekerja di PT Sulu yang berlokasi di daerah Tallo sebagai teknisi maintenance, sesuai keahliannya yang didapat di bangku STM. Setelah tiga tahun bekerja, Hamzah kemudian menikahi gadis asal Pangkajene yang tinggal di Kalukubodoa. Dari istrinya itu, dia dikaruniai enam anak. Yang tertua baru lulus SMA, sedang yang bungsu akan masuk SD tahun ini. Ketika masih kerja di perusahaan itu, daeng Hamzah merasa hidup berkecukupan. Perabot dan media elektronik sanggup dibelinya, sedang bila sakit ada asuransi yang menanggung. Dia juga memiliki tabungan di BRI, untuk persiapan membiayai anaknya bersekolah atau keperluan lain yang tiba-tiba.

Di tahun 2000, krisis moneter meluluhlantakkan perekonomian Indonesia. Banyak perusahaan mengalami kepayahan finansial, biaya operasional perusahaan, bunga utang di bank naik berlipat-lipat, sementara pendapatan perusahaan tidak mengalami kenaikan berarti. PT Sulu kena imbas, bangkrut. Hidup yang semula berkecukupan kemudian tak cukup lagi. Daeng Hamzah menjadi pengangguran, kerja serabutan. Tekadnya untuk menyekolahkan anaknya dan tuntutan kehidupan, disamping tak adanya pekerjaan yang lain, memaksanya untuk mengandalkan satu-satunya faktor produksi yang dimilikinya, tenaga kasar. Bosan dengan kerja serabutan yang tak menentu, Daeng Hamzah kemudian mengambil sedikit tabungannya di Bank, dan membeli becak. Sejak itu jadilah dia pengayuh becak. Sebuah profesi yang sebenarnya tidak diinginkannya. Nasib adalah rahasia milik Tuhan. Kita, manusia kecil ini, tak bakal tahu akan menjadi apa di kemudian hari katanya. Yang penting hidup harus tetap malempu’, lurus sesuai petunjuk agama dan tidak menyusahkan yang lain.

Di tahun 2004, peruntungannya agak membaik. Seorang tetangganya mengajaknya bekerja di sebuah perusahaan kecil di dekat rumahnya di Kalukubodoa, milik seorang warga keturunan, yang memproduksi pintu besi harmonika. Dia bekerja sebagai tenaga produksi dan pengelasan. Seminggu dia dibayar tetap Rp 160,000, ada atau tidak ada produksi. Kalau produksinya lagi banyak, ia bisa dibayar sampai Rp 200,000 seminggu. Daeng Hamzah bekerja di situ dari hari senin sampai sabtu. Pagi hingga sore. Tapi profesi sebagai daeng becak tidak serta merta ditinggalkannya. Karena merasa perlu untuk menambah penghasilan, selain sudah terlanjur memiliki becak, daeng Hamzah mengisi hari Minggunya dengan mengayuh becak. Sehari dari mengayuh becak, bisa menambah isi dompetnya paling banyak Rp 40,000 an. Dulu waktu masih normal, dia bisa dapat Rp 60,000-an dalam sehari. Dengan uang itu dia menghidupi ke-enam anaknya, dan masih tetap melanjutkan menabung di BRI. Harapannya, semua anaknya bisa bersekolah sampai sarjana supaya hidupnya bisa lebih baik dari dirinya. Saat ini dia berencana menyekolahkan anaknya yang baru lulus dari SMA Datuk RiBandangke sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi Swasta.

=======

Sesungguhnya, saya tak begitu nyaman menjadi penumpang becak. Menurut saya, becak adalah moda transportasi yang paling tidak aman diantara angkutan umum lain. Tanpa peralatan keamanan, ditambah perilaku mengemudi daeng Becak yang cenderung tidak taat aturan berlalu lintas, dan tidak adanya sanksi menjerakan buat mereka apabila melanggar, membuat becak sebenarnya tidak layak menjadi angkutan umum. Semua orang percaya bahwa daeng Becak tidak berpendidikan, karenanya mereka lebih sering dimaklumi kalau melanggar lalu lintas, atau perilakunya membahayakan orang lain. Mereka sering melintas di jalur yang tidak semestinya, bahkan jalur searah dilaluinya dengan melawan arus. Mengerikan sebenarnya, walaupun untuk alasan kepraktisan dan penghematan waktu, cukup membantu. Daeng becak juga kadang bermanuver tiba-tiba tanpa aba-aba, sehingga membahayakan angkutan dibelakang dan di depannya. Ada pemeo di masyarakat Makassar bahwa hanya Tuhan dan daeng Becak yang tahu, kapan mereka akan membelok. Saya dan kakak saya pernah terjatuh ketika mengendarai motor di persimpangan jalan Andalas – Seram, karena menghindari becak yang tiba-tiba melintas di depan motor saya.

Pagi itu, daeng Hamzah membawa becaknya melawan arus, menyusuri jalan penghibur dari arah berlawanan. Dia mengayuh becaknya di sisi paling kiri jalan agar kendaraan dari arah depan tidak menabraknya. Untungnya lalu lintas di jalan Penghibur cukup ramai sehingga mobil dan motor dari arah depan melaju tidak terlalu kencang. Saya yang bekerja di perusahaan yang sangat memprioritaskan budaya aman menjadi sangat ketakutan. Keselamatan jiwa saya berada di tangan daeng Hamzah, yang justru kelihatan tenang-tenang dan biasa saja dengan perilaku tidak amannya. Kalau becak saya tertabrak, tidak akan ada sanksi hukum berarti buat si daeng Becak karena masyarakat dan polisi tentunya akan memakluminya, “aih, tukang becakji. Ndak adaji uangnya, lepaskan saja”. Begitu mungkin pikiran mereka. Tapi nyawa saya, dan ribuan penumpang lain tentu terancam karenanya.

Teringat tetangga saya di Pannampu dulu tahun 1980-an, yang tewas karena kepalanya terlindas truk kayu saat menumpang becak. Daeng becak mengayuh becaknya ugal-ugalan, mencoba mendahului truk kayu di depannya di jalan Tinumbu dekat kanal Pannampu, tapi kemudian dia tak mampu mengendalikan laju becaknya. Becak itu terbalik dan tetangga saya terlempar keluar, kepalanya tepat berada di bawah truk kayu itu, dan tamatlah riwayatnya. Daeng becak nya selamat, tapi kemudian melarikan diri sesaat setelah kejadian, dan saya tidak pernah mendengar lanjutan pengusutan kecelakaan ini, kecuali bahwa pengemudi truk kemudian dipenjara karena dianggap lalai. Tapi si daeng becak tidak tersentuh, mungkin karena semua orang memakluminya.

======

Ditengah-tengah ketakutan saya melawan arus, saya coba cairkan dengan menanyakan pilihannya nanti di Pilkada Gubernur Sulsel. Dia mengatakan masih belum memutuskan, tapi nanti akan tetap mencoblos. Daeng Hamzah tahu dan kenal dengan pasangan Cagub-Cawagub yang sedang menjual diri di setiap sudut Makassar. Dia menyebutkan bahwa dua pasangan diantaranya adalah incumbent saat ini, sedang yang satunya lagi adalah anak bekas pemberontak dan pejuang Sulsel masa lalu. Harapannya tentang pilkada sederhana saja, dan seperti umumnya warga Makassar, berharap agak ‘keadaan’ ekonomi menjadi lebih baik dalam pelaksanaannya, bukan sekedar janji-janji.

Dia berharap biaya pendidikan bisa lebih murah, karena saat ini lagi kewalahan melawan mahalnya biaya-biaya itu. Anaknya yang nomor dua dan nomor enam sedang mendaftar sekolah baru, dan katanya biayanya sangat mahal, bisa sampai ratusan ribu, mungkin penghasilannya sebulan bisa ludes karena membayar uang sekolah, katanya. Nyaris tak terjangkau. Dia harus mengambil lagi tabungannya di BRI untuk menutupi biaya mahal itu. Dia sadar bahwa pemerintah sulit dipercaya kalau berjanji, tapi sebagai warga kecil dia masih teramat berharap. Daeng Hamzah bilang sudah bosan dengan pejabat yang hanya bisa berpidato saja, dan mengemis-ngemis minta dicoblos saat pilkada, tapi mangkir saat sudah menjabat.

Sesaat sebelum turun dari becaknya, daeng Hamzah sepertinya sudah hampir menetapkan calonnya dalam Pilkada nanti, yakni pasangan Cagub/Cawagub yang anak mantan pejuang katanya, karena dia dengar hidupnya malempu (bahasa bugis=lurus), “mudah-mudahan kalau menjabat, anak pejuang itu bisa menurunkan biaya pendidikan” katanya sambil menerima ongkos becaknya.

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. aRuL said, on July 20, 2007 at 2:52 pm

    sudah hampir 4 tahun tidak naik becak…. ….:(


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: