…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menulislah, dan Anda akan Abadi!

Posted in Renungan by daengrusle on June 2, 2007

writingKartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-surat berisi buah pikirannya yang maju melampaui zamannya dikemudian hari mentahbiskan dirinya menjadi pahlawan. Christina Martha Tiahahu, gadis Saparua pemberani itu malah jauh lebih muda, 18 tahun ketika meninggal di atas kapal pembuangan VOC akibat mogok makan. Raden Inten II, raja Lampung tewas di bunuh VOC ketika berusia 22 tahun. Wolter Monginsidi tewas di ujung peluru regu penembak Belanda di usianya yang ke-24. Panglima Besar Sudirman meninggal akibat kanker paru di usia 34 tahun di masa gerilya. Yang termuda yang tercatat walau belum diakui sebagai pahlawan, Ade Irma Suryani Nasution, 5 tahun, tewas tertembus peluru Cakrabirawa sebagai perisai ayahnya. Yang lebih modern, pahlawan Tritura dan Reformasi, umumnya tewas saat berusia 20-an tahun. Mereka semua adalah pahlawan bangsa, yang artinya bahwa jasanya sedemikian besar bagi perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, kemerdekaan, walau kenyataannya usia mereka masih sangat muda dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Jejak hidup mereka terpatri dalam di lembaran sejarah sedalam kecintaan mereka akan bangsa ini. 

Tentunya kepahlawanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk turut unjuk membangun bangsa besar ini, sayangnya tak banyak buah pikiran mereka bisa kita baca dan jadikan narasumber. Bahkan banyak yang justru terasa asing bagi kita. Beberapa diantara kita mungkin malah tidak pernah mendengar nama pahlawan ini; La Maddukelleng, Pongtiku, Andi Jemma, Tjilik Riwut, Tuanku Tambusai, Nani Wartabone, Sultan Nuku, Kiras Bangun (Garamata), bahkan mungkin kita tidak kenal nama-nama pahlawan Reformasi yang tewas di tahun 1998. Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang menghakimi pengetahuan sejarah kita, banyak faktor yang membuat kita terpisah secara historis dengan mereka, diantaranya kurangnya media bacaan yang memberi kita akses untuk mengetahui sejarah mereka. Sekedar informasi, kesemua nama yang disebutkan diatas telah diakui resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden.  

Kembali ke inspirasi perjuangan, beberapa pahlawan tersebut juga menyempatkan diri untuk menorehkan buah pikirannya ke dalam tulisan yang mungkin tanpa sepengetahuan dan sekehendak mereka, kemudian menjadi abadi dan bisa terbaca hingga saat ini. RA Kartini, Muhammad Yamin, Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan Pramoedya Ananta Toer termasuk sedikit diantara sekian tokoh besar kita yang punya hobi menulis dan menuangkan buah pikirannya bagaimana membangun bangsa ini. Sedang yang lainnya, kita baru bisa menikmati sejarah hidup dan ide kebangsaannya  dari serpihan-serpihan lapuk yang disimpan oleh museum dan pewarisnya, atau hanya sekedar tutur lisan dari beberapa tetua-tetua yang hidup sezaman dengan mereka. Padahal dari tulisan sejarah perjuangan merekalah kita bisa menafsrikan dan memaknai perjalanan bangsa besar ini. Boleh dikatakan, pengetahuan kesejarahan kita berbanding lurus dengan kadar patriotisme/nasionalisme kita. Sebahagian sejarah bisa kita jadikan pegangan dan pemompa semangat untuk melangkah lebih optimis, namun sebahagian yang lain memberi petuah untuk lebih berhati-hati agar kisah kelam yang mereka alami tak perlu kita rasakan juga. 

Lantas, apa relevansinya dengan kita, para blogger muda ini? Tentu saja pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak perlu kita bercita-cita menjadi pahlawan yang diakui pemerintah dengan melakukan gerakan patriotik dan menuliskan ide revolusioner kita di blog masing-masing, tapi anggaplah ini sebagai usaha pribadi untuk mengirim pesan kepada generasi mendatang apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita menyikapinya. Masing-masing kita punya sikap politik ketika menghadapi realitas di depan kita, terutama realitas-realitas yang tidak sesuai dengan pengharapan kita sebagai anak bangsa. Dan sikap ini perlu dituliskan, tak peduli seberapa jauh jangkauan pengetahuan kita mengenai hal itu, asalkan kita merasa memiliki kepentingan untuk tetap mempersoalkannya, sesuai standard hidup yang kita miliki. 

Francois Bacon, filosof terkemuka Inggris tahun 1605, memberikan petuah bijak tentang hebatnya pengaruh dan keabadiaan sebuah tulisan dalam the Advancement of Learning,”…..kita lihat, sejauh mana monumen kecerdasan dan pengetahuan lebih lama bertahan daripada monumen kekuasaan dan ciptaan tangan. Bukankah kata-kata Homer dapat bertahan selama 25 abad lebih, tanpa kehilangan satu suku kata atau huruf pun, sementara istana-istana, kuil-kuil, bangungan-bangunan, kota-kota pada waktu tertentu mengalami kehancuran dan keruntuhan”.Pernyataan yang sama pernah diungkapkan oleh penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, “menulis adalah pekerjaan yang berorientasi keabadian, pekerjaan yang menempatkan penulis sebagai bagian dari sejarah. Tanpa menulis, seorang manusia tak akan terkenang oleh sejarah, hilang begitu saja dan dengan demikian ia mengkhianati amanah kemanusiaanya. Karenanya tetaplah menulis! Bayangkan betapa antusias dan bangganya anak cucu anda 100 tahun kemudian, mengamati dan menelaah dengan blog warisan yang anda buat saat ini, dengan catatan bahwa kita berharap server blog kita bisa memaintain blog sampai saat itu. 

Sebagaimana umumnya jenis penulis, seorang blogger sejatinya adalah pengidap paranoid. Jenis manusia yang selalu gelisah oleh semangat dan keinginannya untuk merubah dan menghasilkan sesuatu. Bukan blogger kalau tak gelisah. Blog hanya tercipta ketika gelisah datang menyeruak, mengisi ruang kosong di tengah desiran darah di jantung keyakinan.  Ketika seseorang merasa gamang akan realitas yang dihadapinya,  dan merasa punya perspektif berbeda dengan kenyataan, dia seharusnya merasa berkewajiban untuk menyuarakannya. Kegelisahan lah yang menggerakkan seorang blogger untuk menulis, bahkan saat bahagia tak cukup hanya diungkapkan dengan tawa, atau kekecewaan tak cukup dengan ringisan, maka blog menjadi realitas berbentuk lain. Maka dengan kata lain, bukan blogger kalau tak punya kepekaan dalam menerjemahkan realitas hidupnya! Ingatlah ketika kasus kekerasan membuahkan kematian terjadi di IPDN (bullying), ratusan blogger menyuarakan protes dan kemarahan, bahkan dalam bentuk petisi on-line. Juga ketika kasus demonstrasi mahasiswa yang dibumbui kekerasan pada peringatan Amarah di Makassar. Belasan blogger asal Makassar yang umumnya mahasiswa dan mantan mahasiswa menggelontorkan suara menentang anarkisme mahasiswa. Dalam bentuk kegelisahan yang jenaka, beberapa blogger berusaha mengungkapkan sisi lucu dari kehidupan yang dijalaninya hingga berbuah buku, novel, bahkan filem dan sinetron. Kegelisahan blogger umumnya tidaklah individualistik, bahkan beberapa menghimpun jamaah untuk meraup suara-suara kegelisahan yang lain. Maka terbentuklah kumpulan keluarga blogger, diantaranya Blogfam ini. 

Bagi saya pribadi, respon atau interest para blogger menghadapi realitas menjadi parameter utama untuk membagi jenis blogger menjadi tiga;Pertama, blogger interpreter, yakni blogger yang berusaha menerjemahkan realitas yang dia alami untuk dituangkan ke dalam suatu bentuk tulisan di blog, dan mungkin dibumbui bagaimana perasaannya terhadap realitas tersebut. Dari blogger ini lah kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang mungkin berguna buat kita, atau sekedar menambah pengetahuan dan wawasan kita. Share ilmu ini tentu berguna buat yang lain, terutama teknologi IT atau yang lainnya.Kedua, blogger reaksioner (dan revolusioner?). Terus terang saya sangat fans akan teman-teman yang cukup keras dan bersuara lantang terhadap realitas yang un-expected. Mereka sadar bahwa dibalik suara-suara diam yang banyak, kekecewaan tentu tersembul sedikit demi sedikit saat masyarakat terjepit oleh keadaan, terutama oleh kebijakan pemerintah atau sikap pragmatis pemerintah menghadapi masalah yang membelit masyarakat. Masih ingat kita akan banyaknya blogger menggerutu atas terbengkalainya korban lumpur Lapindo, atau atas kasus bullying di IPDN, dan juga demo anarkis para mahasiswa UMI Makassar. Bahkan untuk kasus-kasus korupsi, pembunuhan jaksa, tapol, dan dagelan politik para tikus-tikus parlemen pun tak luput dari kejaran tulisan mereka. Blogger-blogger ini malah tak takut untuk memaki para pelaku bejat, karena toh keberadaan mereka teramat sulit untuk dijejaki. Yang penting bersuara, entah di dengar entah dibaca oleh khalayak. Ini juga merupakan salah satu tanggung jawab mereka atas amanah pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki. Bukankah ada ada ajaran agama yang menghimbau kita untuk menantang kezaliman, kalau tak mampu dengan tindakan, pakailah ucapan/tulisan.Ketiga, blogger pragmatis, blogger jenis ini adalah blogger yang tak begitu risau dengan perasaan yang dialami blogger reaksioner. Mereka hanya sibuk dengan urusan yang langsung berhubungan dengan kehidupan pribadi masing-masing, misalnya pacaran, filem, sinetron, makanan, kuliah, ujian, dll. Namun sesekali, atas nama kepedulian, mereka juga unjuk bicara. 

Di tataran yang lain, sebenarnya banyak media yang bisa menjadi lahan buat para blogger melampiaskan aspirasi dan ide-idenya sebagai respon akan realitas atau interest yang dialaminya, misalnya beberapa rekan blogger bisa menerbitkan novel, cerpen, bahkan skenario sinteron dan filem, juga yang paling umum adalah blogger yang juga penulis untuk rubrik opini atau surat pembaca di beberapa media massa, lokal dan nasional.   

Namun sayangnya ada beberapa jenis blogger yang bukan saja tak mampu merespon realitas yang dialaminya, tapi juga tak mampu memberi value atas tulisan-tulisan nya, yakni para blogger yang hanya senang menulis, berbicara dengan hati sendiri, tanpa pernah berusaha berinteraksi secara intens dengan pemikiran lain, membaca buku, jurnal atau majalah misalnya. Padahal dengan membaca, ini akan mengup-grade pengetahuan dan wawasannya. Ibarat membuka jendela dunia. Yang perlu disayangkan juga adalah banyaknya kenyataan bahwa para blogger ibarat menetap di menara gading, hanya asyik masyuk dengan visi nya yang ideal, tapi tak punya keterikatan bathin dan fisik dengan masyarakatnya. Kadang mereka hanya reaksioner di blog masing-masing, tapi di kenyataan kehidupannya, mereka tak lebih sebagai orang-orang yang tak peduli, dan cenderung munafik. Memang keabadian yang akan mereka dapatkan, tapi tak ada value yang mereka tambahkan. Semu! 

Tentunya kita semua tak menginginkan hal ini kan? 

Pasir Ridge, 31 Mei 2007.Ruslehttp://noertika.wordpress.com

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Adink said, on June 2, 2007 at 12:46 pm

    Akhirnya Sy tahu kalo Sy termasuk kategori Blogger Pragmatis 🙂

  2. Agam said, on June 3, 2007 at 6:57 am

    kalo aku kayaknya termasuk dalam blogger interpreter. Bener gak ya?

  3. Ifool said, on June 4, 2007 at 1:05 pm

    salah satu alasan saya ber-blog ria adalah untuk membuat diri lebih peka trhadap sekeliling, berusaha lbh sensitif dan syukur-syukur kalo bisa lebih kritis trhadap kejadian2 sekitar. tapi sy belum bisa mengklaim klo sy termasuk Blogger yg mana..

    yg jelas sy merasa kurang sreg dng sebagian blog yg oke dr segi tampilan tp (maaf) kurang berisi..apalagi klo tidak berisi sama sekali, tapi yaaa..bagaimanapun itu adalah hak setiap orang untuk menggunakan media blog ini sesuai keinginan mereka…

    salam…

  4. irmasmansa said, on June 4, 2007 at 8:35 pm

    Assalamu Alaikum, hai, msh ingat sy kan, yg sll sm2 ernimarlina, sy lg nyobain telkom hotspot di pantai Losari, sm husband and daughters. How r u?pa kbr teman2 lama? Wah rusle dah merid ya, salam buat ibunya anak-anak. Oya my husband jg dl anak smansa, tp kita ktmx di identitas unhas. di manaki sekrg?kl sy msh cinta makassar.

  5. yg punya blog ini said, on June 5, 2007 at 9:41 am

    adink..:
    hehe, hebatnya tawwa…pragmatis nich.

    agam:
    bisa saja, anda bebas menentukan orientasi blog…dan interpreter means those share anything to all…great!

    ifool:
    hak semua blogger untuk mengutak atik blognya, tapi sayang kalo mereka tidak memanfaatkan dunia nirbatas ini dengan sebaik mungking

    irmasmansa:
    tentu saja saya masih ingat cess….how can i forgot u?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: