…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Henry Dunant dan Sensitifitas Kita

Posted in Renungan by daengrusle on May 8, 2007

1. Tulisan ini dimuat juga di Rubrik Opini, Surat Kabar lokal Tribun Kaltim tanggal 10 dan 11 Mei 2007.
2. Tulisan ini Dijiplak Dengan Semena-mena Tanpa Konfirmasi dan malah mencantumkan Sdr Bambang Eko Nugrahanto sebagai penulisnya di Kabar Indonesia.
==================================================
Henry Dunant memorial in Heiden, Switzerland.Tak seorang pun yang lebih berhak atas penghargaan Nobel Perdamaian pertama ini, selain Henry Dunant, yang selama 40 tahun mempelopori organisasi kemanusiaan dalam meringankan penderitaan para prajurit yang terluka di medan perang. Tanpanya, Palang Merah mungkin tak akan pernah berdiri. (ICRC, atas penghargaan Nobel Perdamaian 1901). Foto disamping: Tugu Henry Dunant di Heiden Switzerland, source; Wikipedia)

Kenangan dari Solferino
Sesungguhnya tak ada manusia yang rela bergelut dengan kepedihan, berkawan dengan rintihan, intim dengan luka perih, akrab dengan keluhan. Namun Jean Henry Dunant (1828-1910), tak hanya berusaha mengakrabkan diri dengan kepedihan ini, namun juga mengabdikan hidupnya demi kemanusiaan dan mempelopori berdirinya organisasi kemanusiaan di tengah bencana perang. Demi menyaksikan akibat perang di Solferino thn 1862, yang mana sekitar 40,000 pemuda menjadi korban keganasan Perang antara Prancis-Italia melawan Austria, pemuda pengusaha kaya ini sensitifitasnya tergerak untuk memberikan pertolongan medis kepada tentara-tentara naas itu. Dengan meneriakkan slogan “Tutti fratelli” (All are brothers/semua bersaudara) ia mengajak penduduk setempat, terutama para wanita untuk turut membantu meringankan penderitaan tentara-tentara itu. Dari pengalaman menyedihkannya di Solferino itu, Dunant kemudian menulis buku mengisahkan bencana kemanusiaan akibat perang itu dalam bukunya “Un Souvenir de Solferino” (A Memory of Solferino) yang kemudian menggemparkan Eropa yang sedang dilanda perang berkepanjangan. Dalam bukunya, Henry Dunant juga mengajukan dua gagasan; Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional, yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk menolong para prajurit yang cedera di medan perang. Kedua, memaklumatkan konvensi internasional bagi perlindungan prajurit yang cedera di medan perang, sukarelawan dan organisasi kemanusiaan yang memberikan pertolongan pada saat perang tanpa memandang keberpihakan pada pihak yang berperang.

Palang Merah Internasional
Henri Dunant, around 1860.Berdasarkan pada keyakinan akan kebenaran gagasannya yang kuat untuk mengubah perang menjadi kedamaian, ia meninggalkan perniagaannya yang sukses untuk menggagas pembentukan organisasi kemanusiaan yang kemudian dikenal sebagai International Commitee of the Red Cross (ICRC) atau Organisasi Palang Merah Internasional pada tahun 1863.

ICRC kemudian dikenal secara sebagai lembaga kemanusiaan yang bersifat mandiri, dan penengah yang netral. ICRC berdasarkan prakarsanya atau konvensi-konvensi Jenewa 1949 berkewajiban memberikan perlindungan dan bantuan kepada korban dalam pertikaian bersenjata internasional maupun kekacauan dalam negeri. Selain memberikan bantuan dan perlindungan untuk korban perang, ICRC juga bertugas untuk menjamin penghormatan terhadap Hukum Perikemanusiaan internasional.

Grave of Henry Dunant.Atas usahanya yang gigih dalam kegiatan kemanusiaan ini, Henry Dunant kemudian mendapatkan anugerah Nobel Perdamaian pertama tahun 1901. Di kemudian hari, tanggal lahirnya 8 Mei juga dijadikan sebagai peringatan Hari Palang Merah Sedunia untuk mengenang jasa dan kepeloporan beliau dalam gerakan kemanusiaan. Henry Dunant, yang juga merupakan penggagas berdirinya negara Zionis Israel di tanah Palestina, kemudian meninggal sebatang kara di Rumah Perawatan Heiden pada tahun 1910. Ia meninggal dalam keadaan trauma terlilit utang perniagaan yang membuatnya bangkrut, namun ironisnya di saat yang sama memiliki kekayaan besar berupa rekening di bank Norwegia sebesar 104,000 Franc Swiss dari Komite Nobel. Hadiah nobel ini kemudian disumbangkan ke Rumah Perawatan Heiden dan beberapa yayasan sosial di Norwegia dan Swiss, dan sisanya digunakan untuk membayar sebahagian utangnya.

Organisasi dunia
Tak ada organisasi kemanusiaan yang cakupan realnya lebih luas daripada Palang Merah/Bulan Sabit Merah ini. Didirikan di 176 negara-negara di dunia, lembaga ini aktif menyebarkan bantuan kemanusiaan tanpa menghilangkan posisi netralnya, walau kadang2 tak mampu menghindari keterlibatannya dalam carut marutnya politik di negara-negara bencana, demi untuk menegakkan perdamaian. Dalam melaksanakan misi kemanusiaannya mereka selalu berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yaitu Kemanusiaan, Kesukarelaan, Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan dan Kesemestaan. Di Indonesia, selain aktif memberikan bantuan kemanusiaan di daerah-daerah bencana seperti bencana tsunami di Aceh – Nias 2004, bencana gempa Yogya Pangandaran (2006), juga aktif dalam menengahi konflik Aceh dan berbagai kampanye sosial seperti pencegahan penyebaran HIV/AIDS, Sanitasi sehat, transfusi darah dan sebagainya. Di Indonesia saat ini, terdaftar sekitar 700,000 anggota aktif PMIdari segala kelompok umur.

Mari Berbagi
Jauh melampaui kepentingan politik manapun, kisah heroik pejuang kemanusiaan ini sejatinya menjadi bumbu menarik di antara kesenjangan interaksi antar masyarakat kita yang makin individualistik. Tak ada motif ekonomi dan politik saat mereka terjun langsung menyentuh sisi keperihan terdalam dari para korban bencana, sebagaimana saat Henry Dunant menghibur seorang prajurit muda yang meregang nyawa dalam ketakutannya akan kematian dini yang menjelang. Tak jarang, nyawa sang pejuang kemanusiaan itu sendiri yang menjadi taruhan demi menyelematkan jiwa yang tak sempat dikenalnya.

Masyarakat kita, di tengah arus yang teramat kapitalistik, beberapa jengkal mulai meminggirkan nurani dan sensitifitas ke rongga terluar, sementara perut dan jantungnya berdegup kencang tatkala keberuntungan ekonomi terbayang di benak. Karena itulah tak ajaib ketika kita mengetahui si pejabat ini korupsi, si LSM ini menggelapkan dana bencana, si polisi ini kena suap, si anggota DPR itu penikmat narkoba, belum lagi masyarakat biasa kita yang sudah karib dengan kriminalitas; kekerasan, narkoba, kejahatan sexual dll. Padahal awam kita yakini, dalam hak yang kita genggam ada sejumput hak orang lain yang kita bisa salurkan melalui sensitifitas nurani, kepekaan untuk berbagi. Mari berbagi, bahkan merujuk kepada da’i penyejuk hati Aa’ Gym; mulailah dari 3M; Mulai dari yang kecil, mulai saat ini dan mulai dari diri sendiri. Sekecil apapun wujud sensitifitas kita, Insya Allah akan menghasilkan energi besar yang menggerakkan orang lain. Sumbangan buat bulan dana PMI, membuka lapangan kerja kecil, memberi makan kaum miskin, pengemis dan anak terlantar, mengangkat anak asuh, mungkin tak akan begitu berat bagi kita, tapi begitu berarti buat yang lain. Asalkan saja, dan semoga tidak, sumbangsih kita tak pernah disalahgunakan bagi kaum dhuafa ini untuk menjadi lebih bermalas-malasan dalam memperjuangkan kesejahteraan.

Selamat memperingati Hari Palang Merah/Bulan Sabit Merah, semoga dunia makin damai dan sejahtera hingga pada saatnya nanti tak perlu lagi kita berbagi, amin!

Advertisements

16 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wargabanten said, on May 10, 2007 at 1:47 am

    saya hadir.. dan membaca kok? tapi gak kasih komentar dulu ya..?

  2. Mus_ said, on May 10, 2007 at 8:43 pm

    waah.. dijiplak.
    sabar, daeng.
    kita dukung kebenaran.
    Semangat semangaaat!!!

    antekamma balikpapan? baji’ji?

  3. Biho said, on May 11, 2007 at 11:21 am

    wah artikel ini ada yang jiplak ya Bro?

  4. noertika said, on May 11, 2007 at 12:10 pm

    iya…artikel ini dijiplak 99% di Kabar Indonesia! menyedihkan!!!

  5. temon said, on May 11, 2007 at 2:46 pm

    bener” nih nggak beres
    sebelom hukum positif, hukum adat dulu aja kali ya?

  6. […] Wajo – my home land Henry Dunant dan Sensitifitas Kita […]

  7. orido said, on May 11, 2007 at 5:39 pm

    bginilah kabar endonesia…
    bener2 menyedihkan..

  8. Redaksi KabarIndonesia said, on May 11, 2007 at 7:38 pm

    Yth Sdr. Daeng Rusle,

    Kami dari Dewan Redaksi http://www.KabarIndonesia.com dengan ini mengucapkan terima kasih atas masukan dan informasi yang diberikan berkenaan penayangan artikel berjudul “Renungan Peringatan Hari Palang Merah / Bulan Sabit Merah Internasional ke-144, 8 Mei 2007” yang dikirimkan oleh Sdr. Bambang Eko.

    KabarIndonesia adalah media yang sangat menghormati Hak Cipta dan menjunjung tinggi Hak Atas Kekayaan Intelektual. Karena itu, saat ini kami tengah menindak-lanjuti informasi yang diterima dan mengadakan investigasi menyeluruh perihal hal ini. Dan sementara proses investigasi berlangsung, penayangan artikel diatas kami hentikan.

    Hormat kami,
    Dewan Redaksi KabarIndonesia

    ps. Karena kami tidak berhasil memperoleh alamat email anda, maka kami kirimkan surat ini melalui fasilitas Comment pada Blog anda.

  9. kunderemp said, on May 11, 2007 at 9:09 pm

    Berarti masalah selesai, kan?

  10. Adink said, on May 14, 2007 at 10:36 am

    enak aja selesai… Bambangnya harus “disesuatuin” tuh!!!

  11. rusle said, on May 14, 2007 at 11:13 am

    dear Redaksi dan rekan-rekan lain
    terima kasih atas perhatiannya thd kasus ini, mudah2an Redaksi bisa melakukan investigasi yang cukup baik sehingga bisa menyimpulkan bahwa kasus ini adalah PLAGIAT.
    untuk saudara Bambang Eko seharusnya mengajukan permohonan maaf, terutama kepada redaksi Kabar Indonesia karena sudah melakukan penipuan hak cipta, juga kepada pembaca2nya…saya sih gak merasa perlu di maaf2in begitu..nyang penting sadar aja lah….lain kali jangan mau enak nya saja copy paste trus nge-Cap atas nama sendiri….itu gak halal euy…hehhe (mungkin saya pernah juga, mudah2an ke depannya kita bisa memperbaiki semuanya…)

  12. Agam said, on May 15, 2007 at 6:31 am

    Semoga masyarakat Indonesia sadar hukum. Seharusnya dia malu karena Menang tapi Plagiat.

  13. Junkerz side B said, on May 15, 2007 at 6:42 pm

    sudah dihapus ya??

  14. rusle said, on May 16, 2007 at 8:09 am

    iya, sudah dihapus oleh redaksi nya…ada comment dari redaksi tuh diatas…mereka saat ini sedang melakukan ‘investigasi’….:p

  15. zhe said, on May 23, 2008 at 12:55 pm

    wah..wah… ancungin jempol deh.. bwat tkoh satu ini,, jasa nya tak terhingga……………..!!!!!

  16. […] maka tulisan saya dijiplak seluruhnya. Tidak ada satupun karakter dalam tulisan saya yang bertajuk Henry Dunant dan Sensitivitas Kita, yang dilewatkan oleh si pembajak yang bernama Bambang Eko Nugrahanto dan dimuat di situs berita […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: