…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pendidikan yang Mendewasakan

Posted in Renungan by daengrusle on May 2, 2007

Tulisan ini dimuat di Harian Tribun Kaltim Edisi Senin, 7 Mei 2007
================================================

Fire Fighter!Pada tanggal 2 Mei ini, kembali bangsa Indonesia memperingati hari lahir tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantoro, yang kemudian ditahbiskan oleh pemerintah menjadi Hari Pendidikan Nasional. Karya monumental beliau, lembaga pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta, masih berlanjut hingga kini. Namun ajaran dan konsep pendidikan ing ngarso sing tulodo (di depan menjadi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat), tut wuri handayani (di belakang menjadi pendorong) masih menjadi urat nadi pengembangan pendidikan kita, tak sekedar menjadi sebaris kata di emblem seragam sekolah?

Pendidikan sebagai investasi hidup
Semua sepakat bahwa ‘education is the best investment that offers the best gain in future’, pendidikan adalah investasi terbaik yang menawarkan masa depan terbaik. Strata sosial dan ekonomi sebuah keluarga bisa terangkat secara drastis manakala anggota keluarganya mampu menyelesaikan pendidikan universitas. Bahkan status kelas seseorang akan diakui sebagai kelas menengah ketika mulai duduk di bangku kuliah. Manusia paling sempurna, Nabi Muhammad SAWW, senantiasa mengingatkan hal ini, ’tuntutlah ilmu dari sejak rahim hingga liang lahat’, bahkan dalam banyak nash, agama hanyalah diperuntukkan bagi orang-orang yang berakal/berpendidikan. Bapak Bangsa kita, Dr. Ir. Soekarno, bahkan merasa perlu untuk meminta anak-anak Indonesia untuk menggantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit, tentunya alat yang dimaksud untuk menggantung cita-cita setinggi itu tak lain dari pendidikan. Pendidikan yang dimaksud tak harus melewati jalur formal, atau jalur sekolah yang umum kita kenali, namun pendidikan yang sesungguhnya adalah segala bentuk pelajaran hidup yang kita peroleh dalam kehidupan; ajaran agama, pelatihan, contoh perilaku, sejarah, pengalaman, nasehat, adat istiadat, budaya, sosial dan lainnya.

Seabad lebih sejak kelahiran Ki Hajar Dewantoro, banyak hasil yang bisa dibanggakan dari pendidikan nasional yang beliau rintis, beberapa pelajar mampu mengharumkan nama Indonesia dalam Olimpiade Sains Internasional. Anak-anak cerdas didikan Prof Yohannes Surya ini menjadi ikon baru yang menjadi stimulus kebangkitan semangat pelajar kita. Tak terhitung juga produk didik Indonesia yang menjadi tenaga ahli handal di berbagai instansi dan perusahaan Multi National Company, di dalam maupun luar negeri. Namun tak sedikit pula contoh buruk yang menjadi raport merah lembaga pendidikan kita; kasus kekerasan bahkan pembunuhan di IPDN dan STTD, demonstrasi mahasiswa yang brutal dan anarkis, termasuk baru-baru ini peringatan peristiwa “Amarah/April Makassar Berdarah” oleh oknum mahasiswa UMI Makassar yang ber-ekses pengeroyokan terhadap seorang Professor, kecurangan berjamaah dalam Ujian Nasional (UN/UAS) SMP dan SMU di beberapa lokasi; belum lagi kasus narkoba, video porno, aborsi dan kasus kriminal lainnya yang seakan menjadi kegiatan ekstra kurikuler pelajar dan mahasiswa kita. Tingkat pengangguran, tenaga terdidik yang tak terserap di dunia kerja juga tak pernah surut angka statistiknya. Pendidikan yang makin mahal dan irasional makin tak mampu diraih di tengah terpuruknya ekonomi rakyat, lembaga pendidikan tak ubahnya pasar komersial yang lebih mengutamakan keuntungan industrial daripada substansi pendidikan yang seharusnya terjangkau untuk semua. Ada produk positif, tapi tak sedikit pula produk negatif.

Pendidikan yang memotivasi
Dalam substansi yang paling mendasar, sistem pendidikan terbaik adalah yang mampu memotivasi manusia untuk bertahan hidup dengan bersendikan pada moralitas/budi pekerti. Agama telah memberikan petunjuk praktis bagaimana melakukan aktifitas luhur itu; berbuat baik dan mencegah keburukan. Tujuannya, apabila manusia konsisten dengan aktifitas luhur itu; semua substansi rasa kebahagiaan yang menjadi energi positif dalam hidup; percaya diri, senang, tenggang rasa, konsisten, bersemangat, bahagia, jujur. Sistem Pendidikan yang gagal adalah yang tak mampu menanamkan motivasi bagi peserta didiknya. Ketika kekerasan, kecurangan, korupsi, dan semua jenis energi negatif menjadi ouput dari sebuah pendidikan, maka kita bisa menganggap bahwa proses pendidikan yang ditempuhnya mengalami ketidaksempurnaan, atau secara sarkasme dikatakan sebagai failure of education atau kegagalan. Motivasi pelajar team Olimpiade Sains Indonesia (TOFI) untuk mencapai prestasi tertinggi tak hanya berharap medali, tapi juga kebanggan pribadi sebagai hasil kerja keras dan sumbangsih buat negara bisa menjadi contoh yang baik. Juga keteguhan hati hingga menjadi korban penembakan dari Partahi Mamora Halomoan Lomban Toruan yang mengejar tingkat doktoral di Virginia Technology university agar mampu mengangkat strata sosial nya di masyarakat.

Pendidikan berwawasan Kemandirian
Sejatinya, pendidikan tak boleh menghasilkan manusia bermental benalu dalam masyarakat, yakni lulusan pendidikan formal yang hanya menggantungkan hidup pada pekerjaan formal semata. Pendidikan selayaknya menanamkan kemandirian, kerja keras dan kreatifitas yang dapat membekali manusianya agar bisa survive dan berguna dalam masyarakat. Justru dari kemandirianlah manusia mampu mencapai level self esteem dan aktualisasi dirinya sebagaimana diungkapkan dalam teori Kebutuhan Maslow. Betapa banyak produk benalu dalam masyarakat, deretan manusia yang menjadi pengangguran sejati, menjadi beban dalam keluarganya, dan buruknya, mengarah ke rawan kriminalitas.

Mengingat kita saat ini berada pada dunia dengan iklim yang sangat kompetitif, kompetensi kuantitatif bisa saja menjadi satu-satunya parameter yang diakui namun absurd. Apalah artinya keunggulan kompetitif itu jika tak disertai dengan kompetensi kualitatif, berupa kepekaan moralitas dan budi pekerti, kemandirian yang humanis. Sistem pendidikan yang menyeimbangkan kedua kompetensi itu serta merta mampu menghasilkan sistem negara madani, adil dan makmur.

Melawan neo-liberalsme global saat ini, dalam kerangka dialektika, pendidikan dapat mengatasi kapitalisme dengan menggerakkan penduduk dari segala kelas secara keseluruhan untuk memiliki modal dan faktor-faktor produksi yang disesuaikan dengan keahliannya. Kapitalisme juga bisa dikontrol dengan menanamkan kepribadian dan semangat kerja keras menghasilkan karya yang bersendikan pada keadilan sosial dan pengakuan akan hak-hak pribadi dan berkemanusiaan.

Kegagalan pendidikan
Pendidikan tak boleh menghasilkan masyarakat penghayal, hanya memimpikan kehidupan mewah bak sinetron, menghasilkan pseudo community, masyarakat pura-yang menjadikan kehidupan pribadi bak panggung sandiwara, memarginalkan peran lembaga pernikahan dengan gemar kawin cerai, atau hanya berharap datangnya superhero yang kemunculannya mampu mengatasi segala kesulitan hidup, tanpa perlu mengandalkan kekuatan diri pribadi.

Kegagalan pendidikan yang paling fatal adalah ketika produk didik tak lagi memiliki kepekaan nurani yang berlandaskan moralitas, sense of humanity. Padahal substansi pendidikan adalah memanusiakan manusia, menempatkan kemanusiaan pada derajat tertinggi dengan memaksimalkan karya dan karsa. Ketika tak lagi peduli, bahkan secara tragis, berusaha menafikkan eksistensi kemanusiaan orang lain, maka produk pendidikan berada pada tingkatan terburuknya. Kasus pembunuhan 35 praja di IPDN sejak tahun 1995 memberi satu contoh baik mengenai kegagalan pendidikan. Sistem pendidikan yang diterapkan, bukannya mengeliminir kekerasan, bahkan membakukan secara sistematik praktek-praktek dehumanisasi di lembaga pendidikan yang dibiayai rakyat itu. Padahal, menurut Mohandes K Gandhi, kekerasan hanyalah senjata bagi yang jiwanya lemah.

Kepedulian kehilangan tempatnya ketika seorang bapak di Jakarta, membopong jenazah anaknya yang tewas karena tak punya biaya berobat, dan mengangkutnya dengan gerobak sampah miliknya, sementara manusia lainnya hanya bisa tertegun menyaksikan kisah tragis itu. Pada tingkatan yang lebih tinggi, kita juga terpaksa mengelus dada tatkala dana korban bencana tsunami Aceh-Nias 2004, dan gempa bumi Yogyakarta dan Pangandaran, alih-alih disalurkan ke korban yang membutuhkan, bahkan dikorupsi secara berjamaah oleh oknum pejabat lokal. Kehilangan moralitas menjadi sumbu hilangnya sendi-sendi masyarakat dewasa, mereka hanya membentuk peradaban yang sekarat, yang entah sampai kapan menemui ajal peradabannya.

Terlepas dari itu semua, ada cuplikan menarik mengenai kegagalan dalam filem Batman Begins, ketika terjadi diskusi antara ayah-anak Wayne, “Why do we fall? It teach us how to wake up”. Kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda, juga merupakan cara terbaik untuk belajar bangkit dari keterpurukan.

Pendidikan yang mendewasakan
Mari berkaca pada kisah Suster Rabiah, sang Suster Apung, berbekal pendidikan kesehatan dari bangku sekolah, bertugas sebagai perawat selama 28 tahun hingga sekarang di kepulauan Liukang Tangaya di selatan Pulau Sulawesi, dekat perairan laut Flores. Ia harus menembus ganasnya gelombang laut dan melawan batas kewenangannya sebagai perawat, serta tidak menyerah oleh keterbatasan fasilitas yang ada di tempat-tempat terpencil tersebut. Contoh yang lain, adalah Saur Marlina “Butet” Manurung, cendekia yang menanggalkan pekerjaan formal untuk mengajar baca tulis bagi suku Anak Dalam di di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tiga Puluh Jambi. Juga ada dr Diana Bancin, dokter muda berusia 24 tahun yang mengabdi sebagai tenaga PTT di Pulau Maya Karimata di sebelah barat pulau Kalimantan. Daerah tersebut sudah 9 tahun tidak memiliki dokter dengan tingkat pemahaman masyarakat yang rendah tentang kesehatan, mereka menghadapi ancaman epidemi malaria. Dokter Diana mencoba melakukan apa yang dia bisa untuk kesehatan masyarakat, dalam kondisi daerah yang terisolasi, sulit air bersih, dan minim fasilitas kesehatan. Juga ada kisah seorang warga desa ilir – Indramayu yang bernama Solikin (64 tahun) mencoba menyelamatkan Pantai Utara Jawa di tengah abrasi dengan cara meraklamasi pantai walau mendapatkan berbagai pertentangan dari warga sekitar. Faktor ekonomi menjadi faktor kesekian dalam motivasinya, bahkan nihil. Inilah contoh pendidikan yang memotivasi dan menggerakkan, membentuk kepribadian pengabdian kepada kemanusiaan tanpa tergeser oleh faktor ekonomi.

Sesungguhnya kita tak perlu berharap banyak bagi munculnya banyak ragam pendidikan hybrid yang lebih mengutamakan keunggulan kuantitatif daripada kualitatif secara short time/instant. Mungkin kita akan merasa kehilangan romantisme sistem pengajaran masa lalu yang lebih menekankan pada implementasi budi pekerti yang sudah tak tercantum lagi dalam slot kurikulum kita. Kita teramat berharap pada sistem pendidikan yang tak hanya optimal, tapi juga mampu menumbuhkan kearifan-kearifan lokal yang menyentuh nurani, membesarkan hati, mendewasakan sikap dan perilaku, namun juga mampu menghidupkan secara ekonomi. Satu hal yang mungkin teramat sulit bagi pemerintah kita saat ini.

Advertisements

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Goio said, on April 30, 2007 at 10:38 pm

    Bused, panjang bener .. belum sempet diresapi .. besok deh mbaca lagi… sekarang absen doang 😀 …

  2. Luthfi said, on May 1, 2007 at 8:34 am

    Wah … ini kan baru tanggal 1 = hari buruh …

    tll cepat keknya Mas 🙂

  3. nawir said, on May 1, 2007 at 9:36 am

    wah bukan pertamax nih…

    *bensin kalee pertamax*

    hmm daeng… ini mestinya diposting besok aja… kan besokpi harinya daeng ki hajar dewantara… 😀

    btw macca metto eddi daengku beropini.. keknya sa perlu maega ma’guru sama daeng rusle’

  4. imcw said, on May 1, 2007 at 12:40 pm

    selamat merayakan hari pendidikan nasional

  5. paccarita said, on May 1, 2007 at 3:59 pm

    Dalam rangka Hardiknas 2 mei, angingmammiri.org mengadakan lomba entry blog. info lengkap silakan kunjungi http://www.angingmammiri.org

  6. on behalf of Ratih Ganda Setiawan said, on May 3, 2007 at 11:08 am

    Membaca tulisan rekan Muh.R. Noertika, saya jadi
    merasa terpanggil untuk mengungkapkan sesuatu yang
    sedang kami (Yayasan Centra Klub Rumah Anak) bina.

    Kami sedang menjalankan suatu bentuk pendidikan
    alternatif, yang mana Sense of human nya kami
    tempatkan menjadi yang paling utama. Oleh karena itu
    kami namakan sekolah tersebut dengan nama “SENSO
    SCHULE” yang berarti kita mengarahkan (Menyekolahkan)
    sense dari murid2 kami sehingga mereka bisa memahami
    apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pelajari
    terutama memahami perasaan orang lain.

    Karena bagi kami:
    Kepandaian manusia itu diperlukan untuk kelak bisa
    meniti masa depannya dengan optimal; untuk itu
    anak-anak harus mempunyai:

    – Kemampuan untuk berkonsentrasi
    – kemampuan untuk berkomunikasi dua arah
    – kemampuan memahami apa yang dilihatnya dan apa yang
    didengarnya
    – kemampuan untuk bisa berpikir abstrak
    – kemampuan untuk bisa menguasai dan membahas suatu
    materi
    – kemampuan untuk punya percaya diri
    – kemampuan untuk memahami orang lain
    – kemampuan untuk bisa membina hubungan dengan sesama
    – kemampuan untuk bisa mengatasi semua permasalahan
    yang datang pada dirinya.

    Tentunya untuk bisa mencapai target yang begitu banyak
    dan rumit, kami membuat suatu tempat pendidikan agar
    interaksi belajar mengajar terasa nyaman dan terpadu
    satu sama lainnya.

    Di tempat kami, guru mengarahkan dan mengembangkan
    anak-anak agar dirinya menjadi mandiri dan mempunyai
    rasa tanggung jawab.

    Sedang metoda yang kami gunakan, adalah metoda SENSORI
    MOTOR untuk mengatasi perilaku anak, mengembangan
    bahasa dan cara berbicara pada anak, juga
    mengembangkan akademisnya.

    Disamping itu kita juga mengajak orang tua untuk
    berpartisipasi pada program ini, memberikan konseling
    bila anak bermasalah, kami juga memberikan
    pelatihan-pelatihan pada guru -pendidik dan orang2
    yang care terhadap anak.

    Metoda ini juga sangat dianjurkan bagi anak-anak yang
    berkebutuhan khusus.

    Saya sangat membuka diri untuk berdiskusi mengenai
    tema ini.Mudah2an bisa menjawab apa yang anda
    inginkan.

    Salam dari Ratih.

  7. on behalf of Kukuh Kumara said, on May 3, 2007 at 11:09 am

    Salut atas upaya yg telah dilakukan lewat Yayasan Cetra Klub Anak, bersamaan dengan itu berkaitan dgn subjek yg dibahas “Dicari, Model Pendidikan yang Mendewasakan.” mengapa tidak memahami apa yg telah diperjuangkan dan diteladani oleh Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya? Saya kira disana ada soal Cipta, Rasa, dan Karsa…bandingkan dgn “Senso Schule”???

    Kemudian ada juga soal Jer Basuki Mawa Bea…..bandingkan dengan tuntutan pendidikan gratis???? Dari dulu Ki Hajar sudah menyadari bahwa pendidikan yg baik itu tidak murah alias ada ongkosnya…dan banyak lagi pemikiran2 Ki Hajar yg layak dijadikan acuan…kenapa harus menunggu ada orang asing yg memberitahu…

    Mudah2an penafsiran saya tidak keliru……ditengah hiruk pikuknya Pendidikan yg cenderung diberi label Tarap International atau kelas Internasional atau Kelas Eksekutif, lalu apa bedanya Pendidikan dengan Bus Malam atau kereta api????

    Salam
    Kukuh

  8. deen said, on May 7, 2007 at 1:26 pm

    Pendidikan Indonesia?..tak ada kata lain dari se’.. KEMBALIKAN 20% APBN untuk PENDIDIKAN..!, itu sudah harga matimi..

  9. rusle said, on May 7, 2007 at 1:47 pm

    berita di Koran menyebutkan bahwa Jusuf Kalla menyatakan tidak mungkin untuk memenuhi amanat konstitusi menyediakan 20% anggaran APBN untuk pendidikan, saat ini hanya bisa 11.8%. Mungkin baru bisa dipenuhi 5-6 tahun mendatang, karena saat ini hampir 25% beban APBN digunakan untuk membayar utang dan beban bunganya…kalo mau dipaksakan 20% maka pos infrastruktur yang akan dikeroposin, nah, kalo infrastruktur publik dikurangi…tahu sendiri akibatnya…hehehhe

  10. boyke walfredo said, on October 7, 2007 at 2:49 pm

    sebuah perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai semua itu, ka’ butet kamu menjadi inspirasi bagi banyak orang, kami bangga akan kegigihanmu dalam memperjuangkan pendidikan bagi mereka yang tidak tersentuh oleh pendidikan, kami bangga kenal dirimu, setidaknya setitik ilmu yang engkau bagikan semoga menjadi pemicu kepada semua orang yang peduli akan pendidikan…. sukses ya ka’ butet….

    boyke walfredo

  11. […] spammer itu. Dan jebollah satu postingan itu. Saya akhirnya menghapus postingan berjudul – Pendidikan Kita! yang pernah saya pasang di blog dulu ku. Untuk menghindari para komentator jenaka nan menjengkelkan […]

  12. hasan al-bany said, on January 19, 2008 at 11:00 am

    lumayan maju!!! meski timpangnya ketara banget.
    juga waktu kita terlalu banyak terbuang untuk “berfikir” hal-hal bodoh mengawang yang tak masuk akal. ayo bergerak!!!

  13. Pak Abu said, on February 21, 2008 at 3:14 pm

    Ikut Numpang Nimbrung Nebeng yang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: