…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

KONTROVERSI KARTINI KITA!

Posted in Renungan by daengrusle on April 20, 2007

kartini baruPada setiap tahun menjelang 21 April, kita selalu diingatkan akan hari lahir seorang pahlawan perempuan yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini ( Lahir di Jepara, 21 April 1879 – Wafat di Rembang, 17 September 1904). Pada tanggal tersebut kita selalu disuguhi dengan perayaan dan peringatan yang berkenaan dengan beliau, Seminar Keperempuan, Lomba Peragaan Busana Nasional, Parade Anak-Anak Putri berpakaian Kebaya, dll. Kepahlawanan RA Kartini sungguh terpatri di benak setiap perempuan Indonesia, tak ada yang meragukannya. Pemikirannya yang tertuang dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi bukti bagaimana ‘perjuangan; beliau mengangkat harkat dan martabat kaumnya. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengaburkan makna sejarah dari perjuangan beliau, tulisan ini hanya upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memaknai perjuangan beliau.

foto raraRaden Ajeng Kartini hanya sempat menjalani hidup teramat singkat, 25 tahun. Pada 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya, pahlawan penggerak emansipasi wanita itu meninggal dunia. Namun, hidup yang teramat singkat itu mampu menjadi inspirasi selama 100 tahun bagi perempuan-perempuan Indonesia untuk bangkit memposisikan harkat, martabat dan karya nya. Melalui surat-suratnya kepada para sahabatnya di Eropa yang dikumpulkan dalam bentuk buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Mr. J.H. Abendanon, pikiran dan pandangan Kartini dituturkan demi untuk memajukan nasib perempuan Jawa agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Pikiran dan pandangan Kartini kemudian menjadi sumber inspirasi dan motivasi pergerakan kebangsaan nasional kala itu, tidak saja bagi kaum perempuan.

kartiniHampir seabad setelah Kartini meninggal, kaum perempuan sudah bisa menunjukkan eksistensi dan dominasi nya di segala bidang. Sudah sangat jarang terdengar perempuan yang hidup dalam kungkungan; tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Kalaupun ada, itu hanya karena faktor ekonomi semata yang diusung keluarganya. Terkadang perempuan bisa menjadi kekuatan penyeimbang dan pengontrol akan kebijakan dan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah, karena jelajah kemampuan nya yang bisa memahami semua aspek hidup. Belumlagi secara kuantitas, perempuan menjadi obyek politik yang cukup signifikan untuk meraup suara. Yang mungkin akan menjadi hambatan hanyalah tatkala mereka berhadapan dengan kekuatan ekonomi, sosial dan politik, hal yang sama juga dialami oleh kaum lelaki.

Namun siapa sebenarnya sosok RA Kartini yang sering disebut-sebut itu? Ibarat adagium yang diciptakan oleh para penyanyi Seurieus, Pahlawan juga Manusia. Sosok Kartini tak luput dari sisi kontroversial yang dimunculkan oleh pihak2 yang mempertanyakan keotentikan surat-surat Kartini vis a vis orisinalitas pemikirannya. Apakah betul RA Kartini itu mampu mengucurkan pikiran2 avant garde (melampaui zaman nya) saat feodalisme masih mencengkeram kuat dalam struktur sosial Jawa, sementara pendidikan bagi kaum perempuan saat itu sangat langka dan kalaupun ada, terbatas pada pelajaran keterampilan untuk menopang karir rumahtangga nya. Walaupun pada kenyataannya bahwa RA Kartini yang hidup dalam lingkungan ningrat Jawa, mampu memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan Belanda dan melahap literatur-literatur penting hingga umur 12 tahun. Dengan kemampuan bahasa Belanda yang bagus, Kartini belajar banyak hal dari “Barat”: buku-buku sastra dan majalah dibacanya untuk memberikan diskursus mengenai arti modernisme, feminisme dan kebebasan berpikir. Kesempatan untuk belajar di negeri Belanda diperolehnya ketika itu dengan adanya tawaran beasiswa dari pemerintah Kerajaan Belanda, namun budaya aristokrat Jawa juga yang membuatnya tak kuasa melawan arus. Beliau kemudian menjalani ritual perempuan Jawa, dipingit dan dinikahkan. Beasiswa itu kemudian, atas permintaan Kartini, dialihkan ke seorang pemuda cerdas asal Bukittinggi, kelak dikenal sebagai KH Agus Salim.

Berikut ini adalah beberapa kontroversi yang menjadi pertanyaan banyak kalangan akan sosok RA Kartini;

Kontroversi-1. Keaslian pemikiran RA Kartini dalam surat-suratnya diragukan. Ada dugaan bahwa J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda saat itu, melakukan editing atau merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Kita hanya disuguhi tulisan-tulisan yang bersumber dari buku yang diterbitkan oleh Abendanon semata.

Kontroversi-2. RA Kartini dianggap tidak konsiten dalam memperjuangkan pemikiran akan nasib perempuan Jawa. Dalam banyak tulisannya beliau selalu mempertanyakan tradisi Jawa (dan agama Islam) yang dianggap menghambat kemajuan perempuan seperti tak dibolehkan bersekolah, dipingit ketika mulai baligh, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, menjadi korban poligami. Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu pula. Namun demikian, bertolak belakang dengan pemikirannya, RA Kartini rupanya menerima untuk dinikahkan (bahkan dipoligami) dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903, pada usia 24 tahun. Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu.

Kontroversi-3. RA Kartini dianggap hanya berbicara untuk ruang lingkup Jawa saja, tak pernah menyinggung suku atau bangsa lain di Indonesia/Hindia Belanda. Pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam rangka memperjuangan nasib perempuan Jawa, bukan nasib perempuan secara keseluruhan. Walaupun demikian ide-idenya dianggap menyeluruh secara nasional karena mengandung sesuatu yang universal.

Kontroversi-4. Tidak jelas persinggungan RA Kartini dengan perlawanan melawan penjajahan Belanda seperti umumnya pahlawan yang kita kenal. Tak pernah terlihat dalam tulisan dan pemikirannya adanya keinginan RA Kartini untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda saat itu, apalagi membopong senjata sebagaimana Pahlawan Wanita lainnya seperti; Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Emmy Saelan atau Christina Martha Tiahahu.

Kontroversi-5. Dari sudut pandang sejarah, pemikiran RA Kartini dalam emansipasi wanita lebih bergaung daripada tokoh wanita lainnya asal Sunda, Raden Dewi Sartika, walaupun langkah gerak Dewi Sartika justru lebih progressif. RA Kartini lebih terkenal dengan pemikiran-pemikiran nya, sedang Dewi Sartika tak hanya giat berpikir, tapi juga mengimplementasikan pemikirannya ke gerak nyata dalam masyarakat dengan mendirikan sekolah khusus putri, Sekolah Kaoetamaan Istri pada tahun 1902. So, siapa sebenarnya yang lebih patut untuk dihargai, RA Kartini atau Dewi Sartika? Hanya terbatas pemikiran atau gerak nyata?

Kontroversi-6. Penetapan tanggal kelahiran RA Kartini 21 April sebagai hari besar juga diperdebatkan karena terkesan terlalu melebih-lebihkan sosok beliau, sementara masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Mereka mengusulkan untuk merayakan Hari Perempuan secara umum pada tanggal 22 Desember.

Namun demikian, terlepas dari berbagai kontroversi diatas, kita tetap harus mengakjui bahwasanya RA Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya.

Advertisements

49 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. rara said, on April 20, 2007 at 8:53 am

    pertamaxx!!!

    *manggut2*
    ya ya ya..

    ibu kita kartini.. putri sejati..
    *eh kok malah nyanyi 😀

  2. Sultan Habnoer said, on April 20, 2007 at 9:23 am

    Bagus sekali tulisan ini Daeng Rusle

    Pandangan yang objektif. Barangkali ini terjadi karena bangsa kita senang mengkultuskan individu. Kalau meminjam istilah JK dalam pidatonya tadi malam, kita memang senang membangakan masa lalu. Termasuk masa lalu dan kisah kartini ini. Sekarang masih banyak juga tokoh wanita yang layak dibanggakan, Nafsiah Mboi misalnya. Masa dari tahun ke tahun yang terus dibanggakan kartini doang…. Ini bukan tidak menghargai perjuangan Kartini, tetapi saat ini harusnya kita memberikan penghargaan kepada Kartini Baru yang perjuangannya kontekstual dengan kehidupan bangsa masa kini.

    Kok jadi orasi…

  3. nawir said, on April 20, 2007 at 9:46 am

    kalo dari sulawesi selatan, ada ga pahlawan perempuannya daeng..??

    sa nda tau skali sejarah kodong.. malah pernah waktu kelas 2 SMA, saya dapat nilai 2 di rapor untuk pelajaran sejarah…

    *ini mah bukan buntu lagi… tapi banna’…*

  4. Adhitya said, on April 20, 2007 at 9:51 am

    Kalo dari segi kemandirian dan leadership, msih kalah sama Cut Nyak Dien. Kalo mau bicara kristalisasi pemikiran, masih kalah juga sama dewi sartika.

    Setiap negara butuh mengapresiasi tokoh wanita, tapi masalahnya di indonesia, jaman orba itu jawanya kuat. jadinya pahlawan2 dari jawa lebih diapresiasi. makanya kartini yang diapresiasi lebih dari kedua pahlawan yang gua sebut di atas.

  5. mamie said, on April 20, 2007 at 9:59 am

    kontroversi..
    maap daeng nda bisa ka kasih komen.

    kah yang kutau kodong, alhamdulillah saya diberikan kesempatan menerima peranku sebagai istri, ibu dan bisa juga ji kodong 8 to 5, monday to friday..
    dan yang kutau juga selamanya akan tetap perempuan gak akan jadi laki-laki 😀

  6. dian budhiarti said, on April 20, 2007 at 10:30 am

    Apakah anda membaca buku Tulisan Kartini sampai selesai, dan memahaminya?

    Tulisan Kartini adalah buah pemikiran yang sangat jauh ke depan bagi wanita mana pun pada saat itu. Pada salah satu bagian dari tulisannya disebutkan bahwa Kartini akhirnya menerima pinangan bupati Rembang karena keterbatasannya dan juga karena keinginannya untuk mewujudkan bentuk kerjasama antara pria dan wanita dalam keluarga.
    Dia tidak pernah menuntut kesetaraan, yang dia tuntut adalah sebuah kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya, terlepas dari kodrat apakah terlahir sebagai laki atau perempuan. Saya rasa hal itu sangat manusiawi.

    Kartini tidak pernah minta dikultuskan. Tetapi buah pikirannya yang membuat orang kagum padanya. Mungkin ia tidak seheroik pejuang lain yang angkat senjata melawan Belanda. Tapi saya melihat bahwa ‘pikiran’ adalah senjata yang jauh lebih ampuh daripada pedang atau bedil. Dan Kartini memilikinya.

    Kesalahan interpretasi orang terhadap Kartini adalah dengan menganggapnya sebagai feminis. Anggapan seperti ini, saya rasa mengecilkan seorang Kartini. Ia lebih tepat disebut seorang humanis, seperti Gandhi. Ia menghargai nilai-nilai kemanusiaan secara universal yang transgenderal, multi kultur dan multi agama. Ia mempertanyakan dengan caranya sendiri, mengapa nilai-nilai sosial yang berlaku saat itu, justru mengekang harkat dan hakekat kemanusiaan.

    Membaca tulisan Kartini ibarat, membaca catatan harian, kalau anda benar-benar mau membaca dengan ‘hati yang terbuka’ tanpa prasangka, maka anda dapat melihat originalitas masalah dan situasi yang digambarkannya secara gamblang dalam tulisan-tulisannya. Ada hal-hal yang sangat wanita di situ.

    Kalau anda berasumsi tulisan tersebut adalah hasil rekayasa, berarti anda tidak membacanya dengan pikiran terbuka.

    regards,
    Dian Budhiarti

  7. rusle said, on April 20, 2007 at 10:39 am

    mbak dian…
    ini hanya kumpulan kontra-versi yg disarikan dari berbagai sumber…:p
    bisa benar, bisa nggak….

  8. laksono said, on April 20, 2007 at 10:41 am

    kalo menurut saya bukan masalah kartini atau siapa, bukan masalah 21 april atau tanggal berapa, bukan masalah mau di poligami atau tidak mau.
    menurut saya kartini kita adalah yang sekarang, yang usah mampu menunjukkan eksistensinya.
    saya setuju sama mamie kodrat perempuan dan laki-laki memang beda perempuan tetap juga jadi perempuan, jadi kenapa harus menuntut disamakan? (dalam kerangka berpikir yang positif) jadi saya malah berpikir jangan menuntut disamakan dengan laki-laki karena secara kodrat memang berbeda. paling jelas adalah melahirkan dan mengandung. untuk masalah kesempatan memperoleh pendidikan dan yang lain

    udah dulu dah kebanyakan koment nih

  9. jurig said, on April 20, 2007 at 12:21 pm

    Kartini & Dewi Sartika adalah 2 sosok diantara sekian banyak sosok “legendaris” yg berusaha menyatakan bahwa : “Wanita … Juga Manusia !”

    http://joerig.wordpress.com/2007/04/11/wanita-juga-manusia/

  10. Putry said, on April 20, 2007 at 2:27 pm

    Daeng… sama dengan Mamie saya juga tidak bisa komen..

    terima kasi banyak nah, tulisanta bisa kujadikan referensi….

  11. ardy arsyad said, on April 20, 2007 at 2:43 pm

    tulisan nya sangat impresif, daeng rusle’

    untuk alasan nomor 1, bisa diungkap referensinya? Sangat bagus, jika kita bisa menelusurinya langsung.

    gimana ji’ kabarnya ami AI (teman kita)?

    thanks

    salam hangat
    viva smp lima mks

  12. jgbua said, on April 20, 2007 at 7:53 pm

    Peran RA Kartini terlalu dibesar-besarkan oleh ahli-ahli sejarah Jawa. Sebagai catatan penting: RA Kartini sudah dianggap sebagai pejuang emansipasi wanita hanya melalui surat-suratnya ke Abendanon. Padahal di Sulawesi Utara ada Maria Walanda Maramis yang justru sudah berani mendirikan sekolah untuk mendidik kaum perempuan di sana. Coba lihat, mana yang lebih proggressif?

    Sejak awal pengajaran sejarah Indonesia secara umum sangat sentralistik. Saat SD, SMP, SMU bahkan PT, kita diajarkan bagaimana Kerajaan Majapahit dibangun, bagaimana Candi Borobudur didirikan, tapi begitu “sedikit” bahan pengajaran di kurikulum pendidikan Nasional kita tentang bagaimana Benteng Sombaopu, bagaimana perjuangan orang Kendari, Sulawesi Tenggara melawan penjajahan Belanda dan sebagainya. Kalaupun ada, dia tidak akan dibahas tuntas.

    Jadi memang intinya, perang RA Kartini patut didebat. Masih banyak pejuang perempuan lainnya yang perlu diperingati hari lahirnya.

    Bagaimana mungkin kita memperingati kelahiran RA Kartini yang hanya berjuang dari dalam kamar.

    Maafkan saya jika begitu skeptis. Tapi memang itu adanya.

  13. PS said, on April 21, 2007 at 6:52 pm

    Ruslee… tulisan yang bagus…
    Beberapa hari yang lalu ada liputan rumah Kartini di salah satu TV swasta. Cuma satu yang saya kagum. Di zaman itu, Kartini sudah kenal yang namanya bathtub… 🙂

  14. imcw said, on April 21, 2007 at 10:41 pm

    kartini adalah kartini…biarkanlah kartini apa adanya…;)

  15. wargabanten said, on April 22, 2007 at 10:09 pm

    Masalah sejarah memang membingungkan kok, yang saya pelajari di sekolah sama realita yang ada bedanya jauuuh banget…
    Terus gimana ini..? Ada tidak orang atau lembaga yang bergerak khusus di bidang PELURUSAN SEJARAH.. pasti sudah dan rumit.. di ANRI Arsip nasional saja tidak Komplet datanya… Data2 sejarah asli masih tersimpan di BELANDA

  16. pencinta wanita said, on April 23, 2007 at 4:04 am

    spechless ka, Daeng..
    untuk pemikiranku soal ini, ku kasih saja link-nya nah..?

  17. rara said, on April 23, 2007 at 9:41 am

    waaaaaaaaa
    hapuuuuus
    hapuuuuus!

    *kabur*

    sori daeng, numpang nge-junk hihihi…

  18. ndy said, on April 23, 2007 at 11:21 am

    *tidakkk*

  19. Rony said, on April 23, 2007 at 12:26 pm

    Pahlawan, pada dasarnya adalah upaya pelanggengan dan pembenaran sejarah pemegang kekuasaan. Jadi, apa yang mau kita harap? 🙂

  20. bisot said, on April 23, 2007 at 2:40 pm

    wkkkkk tampangnya mo, bu RT dan Ibu Kost Pakkampongers… kapan duelnya tuh yah??? duel masak jiiii, penonton sekaligus jurinya.. wkkk
    (sorry ketularan rara nge junk)

    😀

  21. Irwin Day said, on April 23, 2007 at 4:02 pm

    sa nda tertarik komentar tulisannya, tapi fotonya itu loh… hehehehehehe….

  22. kunderemp said, on April 24, 2007 at 10:54 am

    Cari buku berjudul Dutch Culture Overseas tulisan Frances Gouda. Ada satu kontroversi lagi yang belum anda sebutkan…

    Yakni, Kartini tidak menyinggung nasib-nasib perempuan dari kelas yang lebih rendah. Karena perempuan dari kelas yang lebih rendah di Jawa, derajatnya setara. Mereka merdeka.. lebih merdeka daripada perempuan-perempuan yang dari kelas priyayi di Jawa.

  23. terbanglah lebih tinggi said, on April 24, 2007 at 12:34 pm

    Menarik.

    1) Merujuk pada disclaimer Anda bahwa tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber, bisakah diberikan sumber asli nya dari mana saja? Thanks

    2) Bagaimana pendapat Anda sendiri akan hal ini? Saya pikir masih belum jelas letak keberpihakan Anda.

    3) Mari berbagi melalui artikel ini, juga ttg Kartini dan persepsi bangsa: http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com/journal/item/128

  24. rusle said, on April 24, 2007 at 1:21 pm

    sumbernya:
    1. wikipedia
    2. blog teman
    3. mikir sendiri

    pendapat saya;
    ada beberapa pendapat bahwa Kartini berjuang dengan pena nya….
    betul bahwa pena lebih tajam dari senjata…walau mungkin perlu
    ditelusuri konteks perjuangan yang prioritas saat itu apa….betul bahwa
    masing2 punya peran yang berbeda2 sesuai dengan kapasitasnya…bahwa
    kepahlawanan intelektual yang diemban oleh Kartini tidak diragukan dan
    menjadi inspirasi jutaan perempuan setelahnya juga tak bisa
    dipungkiri…

    yang mungkin menjadi kegundahan beberapa kalangan (sebagian besar yang
    jagoan pahlawan wanita nya tak disebut2, apalagi dijadikan hari
    besar…hehehe)…adalah bahwa pemerintah terlalu melebih2kan peran
    Kartini jauh diatas pahlawan lainnya, walaupun saya yakin ibunda kita RA
    Kartini tak sebersit pun punya niat untuk disanjung-sanjung….

  25. rusle said, on April 24, 2007 at 3:56 pm

    ini ada komentar menarik dari Pak Manneke Budiman di milis FPK menanggapi kontroversi ini…

    —–
    Ini pandangan saya. Tujuannya sama dengan postingan Anda: untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memaknai perjuangan Kartini:

    Versi 1: Ini berbau teori konspirasi. Cuma bisa curiga tapi tak punya bukti.
    Surat-surat Kartini tak cuma ditujukan pada Rosa Abendanon, tapi juga kepada sahabat penanya di Belanda yang tak pernah ditemuinya, yaitu Stella Zeehandelar. Nada dan isi surat Kartini buat kedua orang ini sama. Stella tak mungkin kongkalikong dengan Rosa dalam merekayasa surat Kartini, karena ia tak menyukai Rosa Abendanon. Ia bahkan rada menyalahkan suami-istri Abendandon atas kematian Kartini yang terjadi hanya setahun setelah ia menikah dan beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya.

    Versi 2: Kartini menikah dengan suaminya yang duda dan berusia jauh lebih tua bukan karena kesukarelaan. Ia terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang sangat dicintainya dan pada waktu itu sakit-sakitan. Ketika hal tak terhindarkan ini akhirnya harus terjadi, Kartini “bernegosiasi” dengan calon suaminya. Ia ingin diperbolehkan melanjutkan cita-citanya membuka sekolah bagi perempuan Jawa, dan Bupati Rembang setuju. Kartini juga bertekad mendidik anak-anak sang Bupati agar tumbuh menjadi orang yang tidak menomorduakan perempuan. Dengan kata lain, ia menggunakan “perkawinan paksa”-nya dengan sang Bupati sebagai jalan untuk terus melanjutkan perjuangannya. Jadi, ia tetap konsisten sampai akhir: menolak untuk toleran terhadap adat Jawa yang feudal maupun kebiasaan poligami yang dipraktikan pria-pria Muslim di Jawa.

    Versi 3: Problema ini tak hanya dihadapi Kartini, tapi juga pahlawan Indonesia lain, seperti Teuku Umar, Sisingamangaraja, Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura, dll. Keindonesiaan sebagai sebuah nasion baru secara resmi mengemuka tahun 1928 saat Sumpah Pemuda. Namun, perjuangan pada skala lokal yang ditempuh para pahlawan itu dinilai menjadi inspirasi bagi lahirnya suatu paham kebangsaan yang lebih universal sifatnya di Hindia Belanda. Di Eropa saja pada awal abad ke-20
    feminisme masih baru jabang bayi. Eh, di Hindia Belanda yang primitif sana kok sudah ada perempuan yang punya kesadara feminis yang tinggi? Di sinilah nilai perjuangan Kartini.

    Versi 4: Inti perjuangan Kartini adalah pembebasan perempuan dari penindasan adat dan laki-laki, bukan pembebasan bangsa dari penjajah asing. Jangan campur-adukkan gender dan nasionalisme. Akibatnya, perjuangan gender harus dinomorduakan setelah perjuangan kemerdekaan. Jangan lupa, tak jarang kemerdekaan justru menjadi awal penjajahan bagi perempuan. Merdeka dari penjajah asing tak serta-merta membawa kemerdekaan bagi perempuan dari penindasan patriarki. Kartini pun sebetulnya juga kritis terhadap sikap diskriminatif bangsa Eropa terhadap pribumi. Ini terlihat baik dalam surat-suratnya untuk Rosa Abendanon maupun Stella Zeehandelaar. maka itu, Kartini disebut sebagai pahlawan emansipasi perempuan, bukan pejuang kemerdekaan.

    Versi 5: Kartini juga mendirikan sekolah putri bersama adiknya, Rukmini. Ia juga menceritakan sekolahannya ini kepada teman-temannya yang orang Belanda. Jadi, mendidik perempuan Jawa bukan cuma sekadar cita-cita, tetapi sudah terwujud bahkan sebelum ia dipaksakawin dengan Bupati Rembang. setelah kematian Kartini dalam usia cukup dini, sekolah itu dilanjutkan oleh Rukmini. Jadi, tak tepat membading-bandingkan jasa Kartini dan Sartika.

    Versi 6: Jawabannya sama dengan Versi 3. Gugatan serupa juga bisa dikenakan kepada banyak pahlawan Indonesia lain. Jadi, kenapa fokusnya ke Kartini saja? Kenapa para pahlawan laki-laki yang skala perjuangannya juga sangat lokal tidak dipertanyakan kadar kepahlawananannya? Atau perjuangan hanya dimaknai tinggi jika memakai bedil dan granat? Ini pengertian “perjuangan” yang sangat maskulin dan menghapus kontribusi perjuangan perempuan. Di balik gugatan terhadap Kartini ini, tersembunyi agenda anti-feminis yang kentara. Bahkan soal tanggal 21 April pun dipermasalahkan. padahal, Kartini tak pernah menuntut agar tanggal lahirnya diabadikan sebagai hari nasional. Ini kan kerjaan para pimpinan nasionalis yang laki-laki juga?

    —–

  26. Fany said, on April 24, 2007 at 8:53 pm

    kumpulan kontroversi yg lumayan lengkap nih, dulu pernah baca tapi sepotong2..
    kalo saya sih gak terlalu mempermasalahkan hari kartini, pahlawan emansipasi, atau apalah. pokoknya masing2 bisa saling menempatkan diri.

  27. on behalf of Mariana (Jurnal Perempuan) said, on April 25, 2007 at 9:46 am

    komen dari mbak Mariana (Jurnal Perempuan)
    ======
    Kontra versi ini sering sekali saya baca dan dengar dimana-mana.
    Tetapi toh masyarakat Indonesia hanya melihat Kartini sebatas
    kebaya dan konde saja. Walaupun kebaya dan konde itu juga buat
    saya busana yang cantik, anggun dan berwibawa, tapi pemahaman
    perjuangan kartini di masyarakat kita sangat dangkal bahkan
    kadang nggak ada hubungannya.

    Bahkan di hari Kartini kemarin seorang presenter SCTV berkebaya
    sambil berjalan di perkebunan, pesan yang dia ucapkan kira-kira begini:
    “Cita-cita Kartini sudah tercapai saat ini, buktinya wanita sudah
    bisa pakai jins dan kaos seperti kaum laki-laki. Tapi ingat meskipun
    emansipasi dilakukan, jangan lupa kodrat wanita haruslah lembut dan
    mengabdi pada suami”. Nah, anehnya yang bereaksi waktu itu ayah
    saya dan suami saya: “kok jins dan kaos sih?” Lalu ibu saya juga
    komentar: “Masa kodrat itu wanita harus lembut dan mengabdi pada
    suami? Bukannya Kartini ngajar sesama manusia harus saling mengabdi
    atau tolong menolong, begitu juga suami-istri”.

    Saya malah diam saja karena seperti ada sesuatu yang ingin saya
    muntahkan dari dalam perut, saya mual melihat tayangan itu.

    Kedua, Kartini memang bukan satu-satunya pahlawan, keberutungan
    dia adalah aktivitas menulisnya dan dibukukan atau didokumentasikan
    oleh pihak yang memiliki keberdayaan saat itu itu.

    Jadi dalam catatan sejarah Indonesia, mungkin hanya kartini yang
    paling mudah tercatat.

    Ketiga, Kartini tidak bisa langsung melawan penjajahan toh, orang
    dia dipingit kayak gitu. Perjuangannya baru individunya sendiri,
    individu perempuan dan dia merefleksikan perempuan jawa saat itu.

    Keempat, Kartini punya cita-cita pendidikan perempuan, dia tidak
    punya apa-apa, maka keputusan menikah itu sebenarnya bukan atas
    keinganannya sendiri, tetapi untuk perempuan-perempuan lain supaya
    bisa sekolah dan sayangnya dia meninggal di usia muda
    saat melahirkan. Dalam surat-suratnya sebelum meninggal, dipoligami
    menurut Kartini jelas penderitaan.

    Kelima, Dewi Sartika berhasil mewujudkan sekolah perempuan disamping dia lebih
    punya keleluasaan dan umur yang panjang.

    Aku pikir Kartini melejit karena surat-suratnya itu seperti sebuah
    karya novel, jadi lebih gampang jadi inspirasi pembacanya.

    Mariana

  28. insanayu said, on April 25, 2007 at 2:35 pm

    kepanjangan. aku simpen dulu yach. bacanya di rumah aja. baru dikasi komen ^_^

  29. kunderemp said, on April 26, 2007 at 4:45 pm

    Yang menuding “orang Jawa” sebagai pihak yang membesar-besarkan peran Kartini berarti tidak tahu sejarah tetapi sok tahu tentang sejarah.

    Pertama, surat-surat Kartini muncul di Belanda dan aktivis-aktivis Belanda lah yang terinspirasi oleh Kartini. Dan kemudian, diterjemahkan oleh Armijn Pane yang orang Sumatera Utara.

    Justru budaya Jawa, terutama kekolotan kaum priyayinya yang jadi sasaran kekesalan Kartini.

  30. emruslee said, on May 6, 2007 at 10:59 pm

    Berbicara tentang Kartini?He..he..he..Kartini yang saya paling kagumi adalah Ibuku sendiri…beliaulah yang paling patut “saya” kagumi dan acungi jempol, maaf aja….mungkin ini agak ego dikit…tp memang faktanya demikian.
    Btw…foto siapakah yang ditampilkan itu?Sudah mendapat ijinkah dari pemilik photo itu?Tks

  31. rusle said, on May 7, 2007 at 7:56 am

    alhamdulillah, sudah dapat izin dari empunya foto untuk dipaJANG…itulah kartini masa kini…cantik, cerdas, punya motivasi dan kemandirian…itu foto temen2 di milis blogger makassar…

  32. Arham said, on May 11, 2007 at 11:20 pm

    Hari ini adalah cerminan dari masa lalu, dan keduanya akan mengonstruk masa yang akan datang. Kartini bukanlah sosok pertama yang memperjuangkan emansipasi perempuan. Tergantung dari tempat domisili masing-masing saja. Kenapa mesti kartini semata? masih banyak pejuang perempuan lain. kalau di tanahku, tanah ugi, Colliq Pujie Arung Pancana Toa yang hidup di tahun 1800-an masih lebih kubanggakan. Karenanyalah sastra La Galigo menjadi salah satu epik terbesar di dunia. Setiap daerah pasti punya sosok perempuan sendiri. jadi, ingat, kenang, dan lanjutkan juga cita-cita mereka. Bukan hanya kartini…

  33. Zorion Annas said, on June 11, 2007 at 10:11 pm

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cuku. Nusantara harus membayar pajak kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: menjalankan rukun Islam.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  34. Selvi said, on June 29, 2007 at 12:36 pm

    hmm…
    Saya tidak mengakui kalo Kartini ini berjasa ke wanita Indonesia.
    Nggak ngasih contoh gitu…
    Misalnya kayak Cut Nyak Dien, Dewi Sartika atau Cut Meutia yang jelas perbuatannya…
    Cuma sayang aja mereka mungkin kurang komersil, kurang menguntungkan atau kurang bikin surat (kalopun ini benar)

  35. Sang Otak said, on July 12, 2007 at 12:49 pm

    He he he ada yang bilang bahwa RA Kartini tidak menuntut persamaan antara laki – laki dan perempuan tapi meminta sedikit kebebasan.
    Tapi sekarang ini banyak sekali para wanita yang keblinger ntah karena terinspirasi oleh Kartini atau yang lain hingga akhirnya menuntut persamaan sedangkan wanita dan laki-laki kan berbeda.
    http://otaklelaki.wordpress.com/2007/04/26/wanita-dan-lelaki-itu-berbeda/

  36. B Ali said, on July 21, 2007 at 9:12 pm

    Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense dan absurde seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  37. hatinurani21 said, on August 11, 2007 at 3:19 am

    Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  38. iRam_24 said, on August 22, 2007 at 3:59 am

    Memang Islam bukan melarang poligami. Poligami dibolehkan tapi sesungguhnya dengan persyaratan yang ketat. Karena itu untuk membuktikan seseorang mampu, maka pengadilanlah yang bisa menilai. Anggapan bahwa seolah-olah Islam itu menganut asas poligami, itu salah. Islam itu sebenarnya monogami bahwa seorang pria hanya boleh punya seorang istri. Dan seorang istri hanya untuk seorang suami. “Poligami itu hanya merupakan pintu darurat, “ Sebagai pintu darurat, tidak semua orang bisa menggunakan, dan tidak bisa dilalui setiap saat. Hanya bila pesawat dalam keadaan bahaya atau mengalami gangguan, pintu darurat itu baru dibuka untuk menghindari hal-hal yang lebih fatal.
    Islam selalu mengarahkan agar seseorang tidak melakukan poligami karena sulit baginya untuk bersikap adil. Hal ini bisa dibaca pada Surat An-Nisa ayat 3 dan An-Nisa ayat 126.

  39. MakelarDomba said, on October 27, 2007 at 9:14 am

    buat hati nurani21 dan Zorion Annas,koq bawa2 arab yah…? emang apa salah mereka….?jangan2 kalian pasukan gembala babi yah (ups salah maksudnya gembala domba),orang2 rasis macam kalian tuh yg bikin negara ini kacau terus menerus

  40. PuRpLe giRL said, on January 15, 2008 at 4:14 pm

    hi ……. kuWAnd ,,…

    KuW cuMA Mo TanYA ….
    da Yang Tao g’ kLo pAhLAwaN Qta Cut Nyak Dien Ntu LahiRnya TangGaL BeRaPa YuGh ….. ?

    tHaNxS yAuW ….

  41. AdDi00s said, on February 20, 2008 at 5:30 pm

    aqu sih stojoe banget. meski aqu orang jawa. tapi kanyaknya ada oknum yang mau ngambil keuntungan dengan ‘gede-gedein’ kartini.
    tapi boleh juga sejarah diangkap biar ga banyak bohongin rakyat kito

  42. ana said, on April 24, 2008 at 9:37 am

    semua pahlawan tidak bisa kita ketahui secara jelas, walaupun ada sumber wicara tapi mana bisa jelas kalau tidak dengan mata kita sendiri, dan satu lagi setiap pahlawan, memiliki jiwa besar, tidak mungkin pahlawan zaman dulu, berpikir “wah aku mau membangun bangsa, biar kelak aku dikenang” mungkinkah pahlawan berpikir sedemikian rupa..apalagi muluk-muluk. DIJULUKI PAHLAWAN, adalah orang yang memandangnya sebagai pahlawan

  43. stefanie said, on April 24, 2008 at 2:24 pm

    Wew………………………… Sejarahnya kompilit banget!! 😀 Makasih bgt, ini bantu aq banget untuk blajar sejarah! 😀

  44. Pendekar Cina said, on July 3, 2008 at 10:40 pm

    Ciaaaatttttt
    Kenalin nih gue…
    Cina Jangkis
    Kristen Mania gitu lho…

    Boleh nggak gue masuk blog muslim
    ntar loe orang nganggep gue haram lagi.

    Hah… Kartini bergaul akrab dengan orang Belanda
    apa gue nggak salah liat nih..
    makanya jangan berpandangan negatif dong dengan
    imperialisme barat yang notebene orang kristen.
    buktinya bisa memajukan pandangan wanita indonesia
    mana nih pendidikan di Indonesia…
    bisanya cuma copy-paste ilmu dari luar…
    bangkit dong…..

    Mau bergaul dengan orang Cina
    nih.. gue ajari jurus mabok..
    Jurus macan…
    Ciiaaattt…

    I Love U Kartini

    Pesen Gue :
    Hati-hati ngirim TKW ke Arab ntar bisa diperkosa lho
    ama majikan..

    Ke negeri Cina aja ntar bisa pinter Dagang he…he…

  45. Erlin said, on November 16, 2008 at 6:05 pm

    untuk Zorion Annas, anda sepertinya perlu lebih banyak belajar…. Berdasarkan bukti apa sehingga anda mengatakan bahwa majapahit (lewat gajah madanya) pernah memakmurkan nusantara? .. Justru semangat Imperialisme dari Majapahitlah yang lebih menonjol…. Anda juga perlu mencari bukti lebih banyak lagi tentang kebesaran majapahit karena saya sekarang justru berpikir bahwa kekuasaan MAJAPAHIT yang katanya meliputi seluruh nusantara sangat meragukan…. Dalam sejarah kerajaan2 di Makassar atau sulawesi contohnya, tidak pernah dicatat bahwa kerajaan2 di Makassar takluk ke Majapahit atau menyetor Upeti ke Majapahit sebagai pajak negara jajahan (yang berarti Makassar bukan bagian majapahit)… Gajah Mada memang bersumpah ingin menyatukan daerah di sekitarnya lewat Sumpah Palapa-nya, tapi mungkin itu cuma mimpinya, tidak pernah seratus persen ia bisa wujudkan,… Anda harus ingat bahwa Nusantara adalah Negeri yang luas yang mayoritas adalah kepulauan yang dikelilingi lautan… Kerajaan2 di Jawa termasuk Majapahit adalah kerajaan2 yang dibangun dari budaya Masyarakat yang AGRARIS, bukan Budaya/ Kerajaan Maritim seperti Sriwijaya, Malaka, Melayu, Makassar atau Ternate di Timur…. Coba Anda berpikir Apakah masuk akal wilayah Nusantara yang demikian luas unsur lautnya dapat dikuasai sepenuhnya oleh sebuah kerajaan yang tidak mempunyai kekuatan/ budaya Maritim yang Kuat? Bukankah memang sejarah terkadang dapat juga diputarbalikkan atau terkadang dipalsukan untuk kepentingan penguasa atau pihak mayoritas untuk kepentingan golongannya?

  46. animusparagnos said, on February 20, 2009 at 11:55 pm

    Hasrat dan semangat Kartini menjadi inspirasi yang memotivasi kaum perempuan bahwa mereka bukan warga kelas dua, dan sebagaimana kaum laki-laki, perempuan berhak mendapatkan kesetaraan atas pemikiran dan tindakannya. Banyak perempuan yang merasakan opresi itu, namun hanya segelintir yang berani bersuara dan menggugatnya, dikarenakan ketidakpahaman maupun rasa takut. Bila kemudian Kartini memilih untuk mengubur impiannya dan menuruti tradisi, maka itu adalah pilihannya. Pilihan yang dianggap sebagian orang ironis, yang memunculkan sinisme, yang dianggap suatu ketidakpantasan baginya menyandang gelar pahlawan emansipasi. Pilihan itu memang bukan konsistensinya, pilihan itu tidak menunjukkan kegarangannya, tetapi pilihan itu mampu ditoleransi dan dimaknai olehnya maka itu adalah eksistensinya. Tujuan dari kesetaraan gender sebenarnya adalah bagaimana perempuan dapat mencapai eksistensinya melalui kebebasan berpikir, membuat keputusan, dan merasa nyaman dengan diri dan pilihannya, bukan menentukan atau mengharuskan perempuan menjadi figur si A, si B.

    Proses yang dijalaninya untuk melepaskan belenggu sistem dan praktik gender telah lebih dari cukup menjadi bukti wacana kesetaraan gender, berikut sistem dan praktik pada masa itu, sehingga mampu menjadi pelajaran pada periode selanjutnya.

    Seseorang tidak perlu harus maju ke medan perang untuk bisa disebut pahlawan. Dan Kartini tidak pernah melakukannya, tidak pernah pula meminta dianugerahi gelar pahlawan, ia bahkan tidak pernah mengira ada momen-momen dalam hidupnya yang menjadikannya kelak sebagai pahlawan.

    Teruntuk mereka yang merasa Kartini tidak dapat menjadi pahlawannya, paling tidak setiap perempuan mampu menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, coz hero lies in you

  47. Anwar N. said, on April 8, 2009 at 3:04 am

    BERAPAKAH TINGGI BADAN NABI MUHAMMAD SAW ?

    Buat teman-teman yang ahli matematika. Saya perlu bantuan dari kalian.

    Saya mau mengetahui tinggi badan Rossul SAW waktu berumur 54 tahun (waktu beliau menikahi Aysiah yang berumur 9 tahun). Rossul SAW lahir sekitar 1500 tahun yang lalu.

    Kita mengetahui bahwa semakin tahun, tubuh manusia semakin tinggi. Seorang anak yang menginjak umur dewasa selalu lebih tinggi tubuhnya dari ayahnya sekitar 5 sampai 10 cm. Sedangkan, perbadaan umur antara anak dan ayah adalah sekitar 25 – 30 tahun.

    Ambillah sebuah patokan yang minimal bahwa seorang anak selalu lebih tinggi dari ayahnya paling tidak 2 cm. Sedangkan perbedaan umur antara anak dan ayah, kita ambil patokan 30 tahun.

    Saat ini: Tinggi badan orang dewasa di daerah Timur Tengah (Arab), kita ambil patokan 180 cm.

    Kalau dilihat dari patokan-patokan di atas, berarti tubuh manusia bertambah tinggi minimal 2 cm setiap 30 tahun.

    Sedangkan kita mengetahui bahwa Rossul SAW lahir 1500 tahun yang lalu.

    Selisih ukuran badan Rossul SAW adalah (1500 dibagi 30 ), kemudian hasilnya dikalikan 2 cm. Hasilnya adalah 100 cm (lebih pendek dari sekarang).

    Kalau rata-rata orang dewasa di Timur Tengah mempunyai tubuh setinggi 180 cm, maka tinggi tubuh Rossul SAW pada saat itu adalah (180 cm dikurangi 100 cm) = 80 cm.

    Jadi Rossul SAW mempunyai tubuh setinggi 80 cm.

    Berarti kita yakin bahwa, pada saat itu (1500 tahun yang lalu), Rossul Nabi Muhammad SAW berukuran badan sangatlah pendek, yaitu sekitar 80 cm.

  48. Juru Syafaat said, on April 21, 2009 at 9:37 am

    ini ngambil (copy-paste) dr buku Pahlawan2 Yang Digugat (Tafsir Kontroversi Sang Pahlawan) dengan penulisnya Eka Nada Shofa Alkhajar. ya kan…..

  49. rizki said, on April 21, 2009 at 11:57 am

    Kontroversi 1: standar, ga ada bukti juga ada editing. seperti ga ada bukti juga, itu asli

    Kontroversi 2: menerima utk dinikahkan? itu kan jaman dulu. mana ada kerelaan dr wanita. ada pilihan bunuh diri.
    Itu kata nenek gue, yg dipaksa nikah poligami ma kakek gue, haha

    Kontroversi 3: Sekarang sih enak, media banyak,internet lah, transportasi canggih, jaman dulu??

    Kontroversi 4: Kan perjuangannya membebaskan wanita, bukan penjajahan kolonial. Pahlawan itu pembebas. Penulis terlalu generalisir semua pahlawan.

    Kontroversi 5;Ini hal kontroversial dimana2 ya. Pahlawan banyak di mana-mana. Tapi, yang terkenal hanya mereka yg mampu mendokumentasikan kejadian dan pemikirannya. Hal yg sama terjadi pd Che Guevara. Soe Hok Gie.

    Kontroversi 6: Ga penting.

    Well, menurut gue sih, penulis terlalu memaksakan “menarik” Kartini ke saat ini, dengan pengabaian kondisi saat itu.

    Tapi, pengungkapan fakta sejarah tetap perlu dilakukan. Soekarno tuh, banyak kontroversinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: