…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

LUAR BIASA, praja2 IPDN pembunuh Wahyu Hidayat (2003) itu rupanya DIPELIHARA negara!!

Posted in Renungan by daengrusle on April 12, 2007

IPDN atau STPDN sama saja, beda nama, otak tak ada

Entah apa yang ada dipikiran para aparat pemerintah kita, mungkin betul kata Kolumnis Budhiarto Shambazy bahwa kita adalan “Insane Society“, masyarakat tak waras, yang pandai memutarbalikkan kebodohan menjadi kecerdasan, kekerasan menjadi disiplin, dan kebenaran menjadi sampah, sementara kebohongan menjadi barang manis….

Luar biasa, para praja yang menjadi TERPIDANA pembunuhan Praja STPDN Wahyu Hidayat di tahun 2003 itu rupanya belum pernah me’nikmati’ eksekusi dari pengadilan, walau proses hukum mereka sudah selesai sejak 2005 lalu yang menghasilkan keputusan pengadilan Tinggi Bandung; masing2 (HANYA) 10 bulan penjara . Bahkan Mahkamah Agung sudah menolak kasasi yang mereka ajukan. Tapi BERUNTUNGLAH praja-praja pembunuh itu, status sosialnya membuat mereka diBOLEHKAN untuk menyelesaikan study di STPDN, walau dulu secara seremonial dinyatakan DIPECAT dari pendidikan. Bahkan mereka dijadikan PNS di lingkungan Pemerintahan Kota Bandung dan Sumedang. Mereka JAUH lebih BERUNTUNG dari maling ayam, maling motor, koruptor teri, dll yang langsung diBUI ketika mulai diadili, dan hukumannya bisa lebih dari SETAHUN!!.

Empat dari terpidana itu; Bangun Robinson, Bennarekha Fibrianto, Oktaviano Santoso, dan hendi Setiadi menikmati indahnya menjadi PNS di Pemkot Bandung. Terus dua lainnya menjadi pegawai Pemda Sumedang. Enak nian, sudah membunuh praja, dipecat, diadili, divonis, tapi bisa kembali kuliah, diangkat jadi PNS dan melupakan ‘kejahatan’ nya di tahun 2003 ketika dengan arogannya membantai Wahyu Hidayat!

Memang insitusi sombong itu perlu dibubarkan, senasib dengan rektornya yang dinon aktifkan. Beberapa pemerintah daerah seperti beberapa kabupaten di Prop Kaltim juga sudah bertekad untuk MENOLAK lulusan IPDN itu, terkait budaya kekerasan yang dipraktekkan. Daerah lain seperti Papua mengajukan untuk memiliki sistem dan sekolah IPDN sendiri. Jawa tengah sudah keberatan untuk membiayai IPDN

Seperti kata Tosari Wijaya, anggota DPR dari FPPP, IPDN hanya menghasilkan Drakula yang berseragam. Sadis.

Thread detik.com beritanya:
Aneh, 8 penganiaya Wahyu Hidayat belum dieksekusi
4 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemkot Bandung
– 2 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemda Sumedang

Advertisements

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. imcw said, on April 12, 2007 at 9:53 pm

    di dunia mereka selamat di akhirat mereka ditunggu oleh yang Maha Hukum…

  2. Sany Asy'ari said, on April 13, 2007 at 5:23 pm

    Terkadang sempat berfikir kenapa yah negeri ini selalu menggunakan ilmu premanisme untuk pendidikan. IPDN menurut Fahmi IPDN adalah merupakan singkatan dari Institute Preman Dalam Negeri. Memang jika kita telusuri dengan seksama kejadian seperti ini tidak sekali terjadi di Indonesia. Menurut kawan Roni Jika seseorang ingin menjadi camat ya harus sekolah disini. Kalau semua camat Indonesia lulusan IPDN atau nama terdahulunya adalah ISPDN bisa-bisa semua orang penting bisa bermoral premanisme. Tapi hal ini memang sudah terjadi..

    Bagaimana premanisme terjadi di lurah atau camat? Jika kita perhatikan hal ini terimbas langsung kepada masyarakat kecil di Jakarta. Berdasarkan wawancara langsung dengan para pedagang kaki lima di daerah Kebayoran baru mereka setiap minggu harus membayar lapak mereka sebesar Rp. 50.000 dan itupun belum termasuk dari pemerasan para Satpol PP berupa meminta rokok 1 bungkus setiap beberapa jam.

    Para pemalak ini terlihat dengan jelas menggunakan pakaian dinas pemerintah jakarta dan membawa buku serta mengatakan bahwa mereka adalah petugas kelurahan yang ditugaskan untuk meminta uang keamanan pada para pedagang kaki lima di sekitar Kebayoran Baru. Walaupun kondisi ini berjalan secara terselubung mereka terkadang suka malu untuk meminta jika banyaknya pengunjung di pedagang tersebut. Biasanya diawali dengan basa-basi tetapi para pedagang itu pun mengerti maksud dan tujuan bapak berbaju dinas pemerintah jakarta tersebut.

    Berikut ini perhitungan mingguan yang pedagang yang dirugikan oleh petugas tersebut:

    Asumsi Pedagang kaki lima di Mesjid kebayoran baru ini terdapat 50 Pedagang

    50 X Rp.50.000 = Rp 2.500.000.

    Pemalakan Rokok 3 Kali sehari

    Rp. 9000 X 3 kali X 7 Hari X 5 Warung Rokok = Rp 945.000

    Berarti jika dihitung Total para pedagang kaki lima yang harus dikeluarkan dalam seminggu adalah

    Rp. 2.500.000 + Rp. 945.000 = Rp. 3.445.000

    Berarti dalam 1 Bulan pedagang kaki lima di sekitar Mesjid daerah Kebayoran baru harus kehilangan Minimal Rp. 13.780.000.- Nilai yang sangat besar bagi semua golongan masyarakat manapu dimuka Indonesia dan kondisi ini baru terjadi disuatu sebagian kecil zone di Jakarta serta uang tersebut tidak masuk ke Kas daearah maupun negara Indonesia. Sampai kapan Indonesia harus dibawa dengan kondisi Korupsi serta premanisme seperti ini? Semoga saja Reformasi ini dapat menghilangkan tindakan premanisme yang masih mendarah daging di masyarakat Indonesia.

    Regards,

  3. pengen mukul praja said, on April 13, 2007 at 7:41 pm

    dasar otak udang. praja ga tau diri. kalo berani, jangan ama junior donk. cari lawan yang seimbang…!!!! \:/

  4. […] Empat dari terpidana itu; Bangun Robinson, Bennarekha Fibrianto, Oktaviano Santoso, dan hendi Setiad… […]

  5. sachroel said, on April 15, 2007 at 6:32 pm

    perlu di re-install tuh…….udah banyak virusnya, gak bisa diperbaiki satu2 lagi.

  6. guebukanmonyet said, on April 16, 2007 at 6:56 am

    Pantesan camat atau lurah di Indonesia pada galak2. Begitu caranya mereka dididik, pantesan aja. Tapi bener kan ya lulusan IPDN jadi Camat atau Lurah? Sorry rada2 kuper.

  7. emruslee said, on May 6, 2007 at 11:22 pm

    Bang Ruslee…..sebagian pajak yang anda setor ke negara, dialokasikan kesini lho!!!

  8. emme said, on June 11, 2007 at 11:39 am

    ga semua yang lo denger itu benar….

  9. yg punya blog ini said, on June 11, 2007 at 11:45 am

    emme:
    Terima kasih atas komentarnya
    Memang banyak informasi yang berseliweran di mana-mana mengenai kasus ini, Tentunya kita memang harus menyaring mana yang benar mana yang salah Dan memang gak semua yg saya dengar itu salah .
    So, please koreksi kalo ada yg salah dgn memberikan berita yg benarnya….:p

  10. teman Wahyu said, on September 1, 2007 at 3:25 pm

    Saya enggak tahu lagi siapa yang saya harus kagumi selain Wahyu.
    Siapa yang tahu kalau Wahyu itu memendam obsesi selama bertahun-tahun untuk menjadi PNS hingga memutuskan masuk ke IPDN? Siapa yang tahu begitu semangatnya Wahyu untuk belajar lebih giat agar diterima di IPDN?
    Siapa yang peduli kalau Wahyu harus membiayai adik-adiknya yang masih kecil?
    Siapa yang peduli pada Wahyu?
    Kami, kami peduli terhadap Wahyu…
    semoga ia tenang disisi-Nya. Amin.
    Wahyu, saya tidak akan pernah melupakan kamu

  11. www.beriman.com said, on January 13, 2009 at 3:09 am

    membunuh tanpa alasan yg haq, dosa besar bro !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: