…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Indonesia "Komunitas Gak Waras"!

Posted in Good Article by daengrusle on April 10, 2007

Maaf, hanya copy paste dari KOMPAS…..
ini karena isi tulisan mas BZ ini sangat ‘menyentuh’…

======
“The Insane Society”

Budiarto Shambazy

Harian The Washington Post memuat kartun bergambar
seorang serdadu Angkatan Laut Iran di atas sampan. Ada
garis pembatas yang memisahkan perairan Iran yang
ditulisi “insane” (edan) dan perairan internasional
yang “sane” (waras).

Karikatur itu menyindir penyanderaan 15 serdadu
Inggris oleh Iran, 23 Maret lalu. Teheran menuduh
mereka melanggar perairannya, London mengatakan tidak.

Apa pun yang dilakukan Teheran, menangkapi penyusup
atau mengembangkan teknologi nuklir, itu insane. Apa
pun yang dilakukan Presiden Amerika Serikat George W
Bush atau Perdana Menteri Inggris Tony Blair, menyerbu
Irak atau menyiksa tawanan di Guantanamo, pasti sane.

Barat manusia bebas, orang- orang di Timur
Tengah/Teluk Persia golongan subhuman. Makanya, mereka
perlu diajari demokrasi, hak asasi manusia, pemilu,
dan keberagaman.

Pemerintah Australia melarang perburuan kanguru,
rakyat Aborigin harus tunggu keputusan pengadilan agar
tanahnya jangan diobrak-abrik. Pemerintah Inggris tak
mau kembalikan permata curian Koh-i-noor dari Pakistan
yang jadi kebanggaan Ratu Elizabeth.

Namun, Barat tak pernah merasa malu mengakui mereka
sedang sakit. Mereka akan bilang, “We are living in an
insane society.”

Saduran bebas insane ke bahasa Indonesia bisa berarti
mad (pemberang), psychotic (gangguan batin), neurotic
(emosional), atau out of one’s mind (mudah kalap),
maniacal (maniak), silly (pandir), stupid (dungu),
absurd (menggelikan) , nonsense (omong kosong),
senseless (tak masuk akal), dan ridiculous (aneh).

Masyarakat kita bisa jadi kurang jujur untuk mengakui
kondisinya sedang edan. Padahal, setiap simtom the
insane society makin hari makin sering tampak dari
Sabang sampai Merauke.

Pemberang. Banyak pejabat bertelinga tipis, padahal
hidup tanpa kritik ibarat sayur tanpa garam.

Masyarakat suka run amok. Mereka lari kencang dengan
golok terhunus menumpahkan amuk di jalan, gedung
pengadilan, kampung, dan sebagainya.

Gangguan batin. Ada pejabat lelaki yang wajahnya
ditaburi bedak, ada yang merasa mampu memimpin meski
berkali-kali gagal, ada komedian jadi politisi, dan
ada pula politisi yang mirip komedian.

Banyak penderita gangguan batin akibat tekanan
ekonomi. Masya Allah!

Anda ingat Supriono yang membawa jenazah anaknya
dengan gerobak karena tak punya uang untuk
menguburkannya. Anda ingat beberapa murid SD yang
mencoba bunuh diri karena malu tak bisa bayar uang
sekolah.

Emosional. Kalau di Barat berkembang ilmu emotional
intelligence, di sini ada pejabat yang inteligensianya
diragukan dan suka emosional.

Mudah kalap. Pejabat kita mudah kalap jika berurusan
dengan korupsi, antara lain menyembunyikan ribuan
lembaran seratus ribu di ember-ember kamar mandi
sampai basah.

Kita mudah kalap, apalagi kalau lagi berkendara. Lampu
lalu lintas warna kuning tanda harus stop malah
dipakai untuk menyerobot.

Maniak. Pejabat dan politisi kita maniak pergi ke luar
negeri untuk kunjungan resmi, liburan, maupun kabur
membawa hasil korupsi.

Masyarakat menderita “maniak musiman”. Tiba-tiba suka
sop kaki asal mereknya “Pak Kumis”, gemar
menghancurkan kereta api kalau tim sepak bolanya
kalah, dan suka meneruskan kalimat Tukul Arwana
“kembali ke lap… toooppp” dengan serentak.

Pandir. Bagaimana tidak pandir kalau telanjur
mengumumkan, “Kita menemukan bangkai pesawat AdamAir
di sana!”

Pandirlah mereka yang yakin hakulyakin calon presiden
minimal bergelar S-1. Sama pandirnya dengan Dephub
yang mengeluarkan peringkat maskapai
penerbangan—aturan yang diterapkan oleh satu-satunya
negara di dunia ini: itulah Indonesia!

Dungu. Saya seperti orang dungu menyaksikan dua
menteri memainkan 1.001 jurus untuk menghalalkan
pemakaian rekening bank milik departemen untuk
“menampung” uang Tommy Soeharto.

Masyarakat dungu karena tiap hari tak mau antre,
melanggar aturan, lebih taat pada jampi- jampi
ketimbang marka-marka jalan, dan lebih takut setan
ketimbang rampok. “Insanity is doing the same thing
over and over again and expecting different results.”

Menggelikan. Kalau ada pejabat yang mau diperiksa, ia
pura-pura sakit atau—supaya tak jatuh
gengsi—memberikan kuliah di ruang tahanan.

Omong kosong. Wah, kalau dalam soal ini, politisi
Indonesia sejak dulu sudah legendaris. Hebatnya lagi,
masyarakat termakan sampai kenyang dan melepéh
presiden pilihannya sendiri.

Tak masuk akal. Coba, bagaimana bisa kita menjadi
negara terkaya dan tersejahtera di dunia tahun 2030
kalau yang membuat visi adalah mereka yang belum
mengembalikan dana BLBI?

Jika pejabatnya begitu, tak heran kita gemar hal-hal
yang mustahil, seperti menjadi kaya lewat korupsi,
menjadi sarjana berijazah palsu, atau mengusir
Presiden Bush dengan jampi-jampi.

Simtom terakhir, aneh. Waktu Orde Baru, KKN pejabat
dan pengusaha dilakukan secara sembunyi-sembunyi di
bawah meja, di zaman Reformasi mereka mengangkut
mejanya sekalian.

KKN model sekarang si pejabat malah makan di satu meja
bersama sang pengusaha. “Insanity is the only sane
reaction to an insane society.”

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. mamie said, on April 10, 2007 at 1:29 pm

    kira-kira obatnya apa yah daeng?.. orang gak waras kan gak sadar daeng.. toh? bagemana mi?

    *hopefully i am not one of this insane community, i am one of the blogger_makassar community* hihihi

  2. Dhika said, on April 10, 2007 at 9:29 pm

    :), kira2 memang begitulah situasinya, kalo orang jawa nyebutnya sebagai the pekok society

  3. imcw said, on April 10, 2007 at 9:37 pm

    jadilah orang gila bila kau berada di sekitar orang gila agar engkau tidak dikatakan gila…;)

  4. JaF said, on April 10, 2007 at 11:28 pm

    Sebuah tulisan khas seorang BZ yang selalu bikin kita berpikir keras. 🙂 Tabbe daeng.. sekalian membahas silaturahmi 🙂

  5. […] aparat pemerintah kita, mungkin betul kata Kolumnis Budhiarto Shambazy bahwa kita adalan “Insane Society“, masyarakat tak waras, yang pandai memutarbalikkan kebodohan menjadi kecerdasan, kekerasan […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: