…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Perkosaan Massal Mei 98? Tragedi atau sekedar Propaganda?

Posted in Random by daengrusle on April 3, 2007

Kita tidak tahu kebenaran itu seburuk apa ketika diungkap, bahkan kita tidak tahu apakah kebenaran itu berwujud propaganda manis atau propaganda busuk….
dari tulisan berikut ini, mungkin kita bisa mengambil hikmah bahwa kekerasan dan segala manifestasinya tidak perlu lagi kita berikan ruang dalam masyarakat ini…amin…tak peduli apakah kejadian itu betul terjadi atau hanya pembohongan publik….

Hari ini saya mendapat tulisan tentang “Kebohongan Cerita ttg Perkosaan Massal pada kerusuhan Mei 1998” dari milis Froum Pembaca Kompas, dengan bantuan om Google, akhirnya saya bisa dapat original source tulisan itu, yang ternyata dari Blog FPI – Forum Pembela Islam, kelompok Islam yang lebih sering diidentikkan dengan kekerasan dan kebrutalan dalam menegakkan syariah Islam (versi mereka tentunya). Berikut tulisannya….

01 April 2007

Kebohongan perkosaan masal Mei 1998 terungkap

Assalamu’alaikum wr wb,

Isu pemerkosaan massal atas perempuan Cina dalam Kerusuhan Mei 1998 senantiasa dihembus-hembuskan. Tidak lebih dari berita bohong.

Hasil penyidikan FBI akhirnya membongkar kebohongan itu. “Jika sebuah kebohongan terus-menerus diceritakan hingga terdengar luas di masyarakat, maka lama-kelamaan masyarakat akan meyakini kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran.” kata Menteri Propaganda Nazi Jerman, Dr Josef Goebels, enam dasawarsa yang lalu.

Meski sudah kuno, namun prinsip propaganda yang diterapkan Nazi untuk melibas bangsa Yahudi di Eropa menjelang Perang Dunia II itu masih terus dipakai dan dilestarikan hingga kini.

Strategi propaganda ala Goebels ini pun tetap laris di Indonesia dan masih cukup efektif sebagai alat pemukul lawan politik dan ide yang berseberangan. Tengoklah
berbagai propaganda hitam yang dikembangkan dengan cara itu. Misalnya, pembangunan opini bahwa Islam sudah tidak cocok untuk zaman modern ini, pembentukan opini bahwa
poligami identik dengan kekerasan, pengelabuan bahwa pluralisme adalah kebaikan yang harus diterima dan sebagainya.

Tapi, propaganda kebohongan paling dahsyat di Republik ini adalah isu tentang pemerkosaan massal atas para perempuan etnis Cina pada saat kerusuhan Mei 1998. Dengan sistematis mereka meniupkan isu tentang isu perkosaan itu, dengan berbagai cerita di berbagai media, dengan berbagai cara dan sarana, baik di dalam dan luar negeri. Padahal, dengan jelas isu itu sebenarnya dipakai untuk mendeskreditkan Islam dan simbol-simbol Islam.

Kisah Vivian dan Foto-Foto Perkosaan

Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah perkosaan massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh seorang gadis
keturunan Cina bernama ‘Vivian. Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetanggany a.

Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu memperkosa mereka
dengan berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan perbuatan itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti tersulut
amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus perkosaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking,
saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.

Upaya Menelisik Fakta

Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa Mei 1998, peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM mendapat pengakuan dari seorang
anggota Satgas PDI Perjuangan bernama M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi menurut dia,
korban tidak hanya dari kalangan Cina. “Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada Arab,” kata anggota Satgas PDIP itu.

Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi ke luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak ekonom Christianto Wibisono yang terkonfirmasi sebagai korban perkosaan Mei 1998.

Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai berjumlah ratusan.

Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya Amoy yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartemen tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.

Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan semua laporan tentang adanya perkosaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasi dulu. “Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu.” kata anggota TGPF Roosita Noer.

Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil diklarifikasi, yang lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. Sementara, 2 (dua) orang korban yang di datangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang di duga sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.

Dari sisi ilmu statistik, data soal perkosaan massal pun aneh. Misalnya laporan tentang adanya perkosaan jauh lebih besar dari pada laporan tentang pelecehan seksual, di raba-raba dan sebagainya. Padahal, seharusnya menurut statistik, berdasarkan kurva sebaran, pola acak akan selalu membentuk kurva seimbang. Jumlah laporan orang yang diraba-raba saja seharusnya lebih banyak dari pada yang dilaporkan mengalami pelecehan, apalagi yang sampai diperkosa, dengan tingkatan paling berat.

Kebenaran kisah Vivian sempat juga dipertanyakan kalangan keturunan Cina sendiri. Mungkinkah si terperkosa, dalam waktu singkat menceritakan hal ini, sehingga cerita ini muncul di internet pada 13 Juni 1998— dan bisa mengendalikan emosi, sehingga bisa menuliskan kisah kesadisan yang dialaminya secara detail? Bukankah hal ini
bertentangan dengan anggapan bahwa etnis Tionghoa teramat sangat tertutup dalam hal perkosaan?

Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998,
minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak alamat si pengirim cerita tersebut di jaringan internet.

Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentayangan di situsnya, sama sekali tidak otentik. Kepada detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat di pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu adalah hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.

Terbongkar Habis

Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tidak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai dan hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan tidak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari AMERIKA SERIKAT,
tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.

Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai curiga.

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation Jakarta.
Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. “Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999,” kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini.

Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka palsu.

Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo’ong-bo’ongan seperti diperkosa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. “Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan,” kata Jaksa McNulty. Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.

Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa supir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suaka sejak 31 Oktober
2000 hingga 6 Januari 2002. “Mereka mengaku diperkosa karena keturunan Cina,” kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen
Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia.

Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai sebagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah didramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.

Wa lahu khairul maakireenn.. …..

Oleh:
Abu Zahra

Disarikan dari:

TABLOID DUA MINGGUAN SUARA ISLAM, EDISI 17, MINGGU III-IV MARET 2007

Bila tertarik untuk berlangganan hubungi:

Jl. Utan Kayu Raya No. 88, Jakarta Timur
Telp: 021 8563313

Iklan dan pemasaran, hubungi:
021 8563313,
021 68972135,
021 98738038

_________________________________________________

Pemerkosaan Masal Warga Keturunan Tionghoa

Ciri-ciri pelaku pemerkosaan massal : (1) Terlebih dahulu melakukan pembakaran ban, (2) Para pelaku sudah terlatih, (3) Sebagian pelaku berpakaian seragam SMU, (4) Perkosaan dilakukan secara terencana dan sistematis, (5) Dilakukan secara bersamaan diterbagai tempat (kasus terbanyak di Jakarta Barat dan Utara), (6) Setelah memperkosa kemudian membakar dan menjarah korban, (7) Satu pemerkosaan dilakukan 3 hingga 10 orang, (8) Usai memperkosa pelaku meneriakkan yel-yel anti Cina. (9) Pemerkosa tidak kenal dengan korban.

Kasus perkosaan warga keturunan saat kerusuhan, pertengahan Mei lalu, di Jakarta dan Solo, bukan tindak kriminal biasa. Perkosaan ini sangat terencana, sistematis dan sarat dengan muatan politik. Setidaknya inilah kesimpulan sementara beberapa organisasi perempuan, diantaranya: Masyarakat Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Kalyana Mitra, Mitra Perempuan, Koalisi Perempuan, dan Dharma Wanita.

168 kasus perkosaan terhadap warga keturunan Tionghoa terjadi saat kerusuhan Mei lalu – dua puluh diantara korban itu tewas karena terperangkap api dan dibunuh – dilakukan oleh kelompok (yang tidak menginginkan perubahan) tertentu yang terlatih. Mereka sengaja melakukan itu agar muncul tuduhan bahwa aksi massa yang menuntut reformasi telah cacat oleh kasus perkosaan. Bahkan tidak menutup kemungkinan masih satu paket dengan peristiwa penculikan dan penembakan di Universitas Trisakti.

Tim relawan membuktikan, perkosaan itu tidak dilakukan oleh orang awam karena kebencian terhadap warga keturunan. Apalagi karena kesenjangan sosial. Perkosaan itu semata-mata dilakukan untuk merusak citra gerakan yang menginginkan perubahan.

Teror mental seperti ini sangat efektif untuk meredam gerakan-gerakan yang ingin melakukan perubahan, seperti yang terjadi di Timor-Timur, Aceh dan Irian. juga pernah terjadi di Timor-Timur, Aceh dan Irian.

Siapa yang melakukan perbuatan biadab ini ? adalah jawaban yang harus diungkapkan. Karena masalah perkosaan warga keturunan ini tidak akan selesai begitu saja jika pemerintah tidak berhasil menyelesaikannya dan mengupayakannya agar menjadi kejadian yang terakhir dan tidak akan terulang kembali. Ia akan menjadi kenangan buruk dan menjadi dendam kesumat yang berkepanjangan jika para pemerkosa ini dibiarkan bergentayangan.

Sesungguhnya derita yang teramat perih yang ditanggung oleh korban perkosaan massal adalah derita bangsa. Dan betapa kekerasan yang ditimbulkan oleh sara selalu membawa dampak yang menghancurkan.

sumber:
members.tripod.com/~insearching/perkosa.html

satu lagi, source: http://www.geocities.com/CapitolHill/1425/explanation.html

From: merah putih (posting on soc.culture.indonesia)

FOTO DAN DATA TENTANG PERKOSAAN YANG MISTERIUS

Melalui jaringan internet foto-foto kasus perkosaan pertengahan Mei 1998 lalu di
Jakarta dan Solo telah menyebar ke seluruh dunia. Di Singapura foto itu bahkan digelar dalam sebuah pameran resmi. Akibatnya reaksi keras menghujat Indonesia kini bermunculan, baik di Jakarta, Hongkong, Beijing, Taipe, Singapura maupun di berbagai belahan dunia lainnya.

Ditengah reaksi atas foto yang tersebar di tataran internet dan menjadi konsumsi
masyarakat dunia itu, Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ) edisi 20 Agustus
1998 mencurigai foto-foto itu palsu dan tidak berhubungan sama sekali dengan
kerusuhan pertengahan Mei lalu.

Dugaan foto tersebut sebagai palsu dan kebohongan juga muncul dari “Aware”
kelompok dari Singapura. Bersamaan dengan itu juga muncul reaksi kecurigaan serupa dari Dewan Reformasi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya (Derap Masa) yang menganggap foto tersebut sebagai rekayasa dan kepalsuan untuk mendramatisir kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo.

Kecurigaan itu cukup beralasan karena sesuai dengan pemberitaan Harian Asian Wall
Street Journal (AWSJ) antara lain disebutkan bahwa paling tidak 15 foto adalah
palsu dan sumbernya “Asian Pornography Website, East Timoresse Exite Homepage dan US Based Exhebition of gori photos”.

Sebagai contoh foto tentang seseorang dengan Uniform menyiksa seorang wanita
dengan tongkat, puntung rokok dan tali, ternyata berasal dari segepok foto milik
East Timoresse Exite Homepage yang sudah muncul sejak bulan November 1997, jauh sebelum kerusuhan di Jakarta terjadi. Data ini jelas merupakan kebohongan nyata dari para aktivis LSM yang sejak awal telah gencar mempersoalkan masalah ini.

Sementara itu anggota Tim Relawan yang juga Pimpinan Gereja Utusan Pantekosta
Jemaat Pasar Legi di Solo Drs. Ch MD Estefanus, Msi, membantah kebenaran laporan bahwa 24 Wanita WNI keturunan Cina menjadi korban kasus perkosaan massal di Solo. Bahkan beliau menulis surat khusus kepada Kapolwil Surakarta dan menyatakan bahwa laporan itu bohong belaka.

Hal serupa juga dialami oleh berbagai Tim Relawan yang dibentuk di Jakarta,
termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk Pemerintah beberapa waktu lalu masih belum mampu memberikan data konkrit kepada masyarakat Aktivis Perwakilan Ummat Budha Indonesia (Walubi) Ny,Hartati Murdaya hingga kamis 20 agustus 1998 mengaku belum menemukan satupun Korban dugaan kasus perkosaan massal.

Sementara Direktur LBH di Jakarta Nursyahbani Katjasungkawa juga mulai tidak yakin dengan pendiriannya yang semula getol mengutuk kasus perkosaan massal itu. Ia menyatakan tidak tahu persis jumlah korban perkosaan, soalnya Ia tidak
ikut menjadi anggota Tim Relawan.

Bahkan Romo Mangun Cs + Ita Nadia sewaktu di AS ada yang bertanya bahwa foto-foto dan poster-poster yang dibawa adalah palsu, mereka agak gugup karena
poster perkosaan yang diedarkan sudah beredar sejak 2 tahun yang lalu oleh CNRM
Ramos Horta di AS dan Eropa. Selain itu Ita Nadia juga mengeluarkan issu yang
sensitive bahwa diantara kelompok pemerkosa sebelum melakukan aksi perkosaan,
berteriak “Allahu Akbar”. Selesai kesaksian di Kongres AS, Romo Mangun Cs
berangkat juga ke Genewa untuk sidang PDPM dan juga membohongi publik
internasional bahwa 162 orang diperkosa sistematis dan 20 orang tewas.

Jika dicermati berbagai komentar/pendapat banyak pihak termasuk yang sudah sejak
awal menjadi relawan dalam upaya mengungkap kasus perkosaan massal itu sudah mulai ragu atas data dan foto- foto peristiwa tersebut.

Sekarang ini dikalangan LSM sendiri mulai timbul keragu-raguan misalnya dari
Website “Indonesian Hvaren Crisis Centre”, menyatakan bahwa foto-foto palsu dan
minta “Visitors” untuk menandai bila ada foto-foto lain yang juga palsu.

Tetapi ada juga LSM “kepala batu” yang tetap bertahan dan menyatakan bahwa benar atau palsunya foto tidak penting, sebab masalah utamanya agar pemerintah Indonesia sadar bahwa ada masalah terhadap WNI keturunan Cina dan harus mengambil langkah nyata.

Nah lho..apa ini bukan logika yang terbalik-balik ? Lagi pula tindakan
menghalalkan cara atau fitnah, kan lebih kejam dari pembunuhan..?

Di tengah kepanikan dan derita rakyat Indonesia, ternyata LSM dan kalangan media
massa mampu meraup keuntungan yang membebaskan mereka dari situasi Krisis moneter (Krismon), namun martabat bangsa dan negara kita tercinta ini telah dihancurkan.

=========================
tulisan lainnya yang menyatakan bahwa Tragedi Perkosaan Massal benar terjadi..

Dibalik Tragedi Mei ’98
Temu wicara dengan Rm. Sandyawan Sumardi

Oleh: Jonathan Goeij

“Adalah mudah bagi saya untuk membunuh Romo dan memperkosa adik-adik
yang berada disini malam ini juga.” kata lelaki berbadan tegap dan
atletis seperti tentara itu sambil menunjuk keempat gadis keturunan
Tionghoa yang mendampingi Rm. Sandyawan.

Awal gerakan Tim Relawan untuk Kemanusiaan

Gerakan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) diawali ketika kantor DPP
PDI Megawati diserbu oleh PDI Suryadi, dicanangkan untuk menolong
para korban kekerasan tanpa memandang siapapun yang menjadi korban.
Merupakan gerakan independen, non sektarian, tidak berbasis agama,
non partisan (bukan underbow partai manapun), dan mengikuti orde hati
nurani.

Gerakan dengan inisiator Rm. Sandy ini pertama kali mempunyai
anggota-anggota al: KH Abdurachman Wahid (Gus Dur), ibu Karlina, ibu
Ade, Rita Kaliwongso, Marzuki Darusman, Luhut Pangaribuan, Garuda
Nusantara dan Hilman Faried.

Sikap Gus Dur setelah jadi Presiden

Dengan mempunyai anggota dipucuk pemerintahan sekarang ini seperti
Gus Dur sebagai Presiden dan Marzuki Darusman sebagai Jaksa Agung,
tidaklah membuat proses penyidikan dan pengadilan Tragedi Mei
berjalan baik. Fakta mengatakan hal yang sebaliknya, setelah menjadi
Presiden ternyata Gus Dur bersikap menjauh dari TRK, hal ini bisa
dibuktikan karena kelompok keluarga korban yang bernaung dalam
Paguyuban keluarga korban tragedi Mei ’98 hingga detik ini tidak
pernah diterima Gus Dur padahal telah 30 kali melakukan usaha
menemui Gus Dur, sedangkan Habibie ketika jadi presiden bersedia
menerima kedatangan kelompok korban tsb. Gus Dur lemah dalam
memberikan keadilan bagi korban-korban pelanggar HAM.

Wiranto: terjadi kekosongan aparat keamanan

Rm. Sandy mengatakan adalah omong kosong pernyataan Wiranto telah
terjadi kekosongan aparat keamanan diseluruh Jakarta karena ditempat-
tempat strategis dilindungi secara besar-besaran. Berdasarkan
informasi dari aparat keamanan di Solo, pada dinihari tanggal 14 Mei
ada sekian SS Kopasus terbang dari Surakarta menuju Jakarta dan
mendarat di Halim, ratusan Kopasus menyebar diseluruh Jakarta tidak
teridentifikasi (unidentified) karena telah berbaur dengan kelompok-
kelompok preman yang telah terlatih dan dipersiapkan. Mereka inilah
yang memimpin penyerangan-penyerangan.

Dibalik pembunuhan Ita Marthadinata

Pembunuhan Ita Marthadinata merupakan suatu cara teror untuk
menghentikan akumulasi keberanian korban-korban kekerasan seksual
untuk memberikan testimoni didepan publik, ketika itu sudah ada tiga
orang korban yang bersedia memberikan kesaksian dengan didampingi
sembilan ibu-ibu yang terdiri dari psikolog, dokter, pendamping para
korban ketika melarikan diri keluar negeri, dua bidan yang
mendampingi proses aborsi korban yang hamil waktu diperkosa.

Mereka diancam akan diperkosa dan dibunuh setelah Ita dibunuh secara
kejam. Anggota TRK terutama ibu-ibu keturunan Chinese mendapat teror
melalui telpon secara langsung, tidak diketahui bagaimana mereka bisa
mendapatkan telpon-telpon yang strategis tsb., bahkan cukup banyak
keluarga korban yang memutuskan tidak berhubungan dengan TRK karena
takut diteror.

Di Indonesia sampai sekarang ini belum berhasil dibuat UU
perlindungan saksi dan korban. Rekomendasi TGPF tidak dilanjuti oleh
pemerintah karena militer di Indonesia masih sangat kuat.

Percobaan pembunuhan

Sebuah granat dengan pin yang terbuka diletakkan ditempat parkir
dikantor TRK, biasanya Rm Sandy memarkir mobilnya persis pada tempat
granat diletakkan. “Tetapi entah bagaimana saya waktu itu habis misa,
saya turun dijalan dan itu tidak pernah terjadi, setelah itu saya
jalan kaki dan menemukan granat itu ada didepan saya, lalu saya
menelpon polisi yang ketika insiden 27 Juli menangkap dan
menginterogasi kami, sekarang menjadi teman, kolonel posisi itu
berkata Romo kau akan dijebak kalau Romo tidak melaporkan, Romo akan
dituduh merakit bom dan segera akan ditangkap.” tutur Rm. Sandy.

Setelah melapor pada polres terdekat, pasukan gegana datang dan
mengambil granat itu dengan hati-hati, keesokan harinya Kapolri
mengumumkan bahwa granat itu adalah granat-granatan. Rm. Sandy
membalas dengan mengatakan bahwa polisi adalah polisi-polisian.

Operasi militer

Sebagai anggota TGPF didampingi Bambang Wijayanto, ketua YLBHI, Rm.
Sandy menginterogasi Jend. Zaki Anwar Makarim, ketua Badan Inteligen
ABRI (BIA), menanyakan cara kerja BIA. Zaki dengan bangga
menceritakan betapa profesionalnya cara kerja BIA. Romo, “Dengan
begitu profesionalnya mengapa tidak bisa mengantisipasi tragedi Mei
sebesar itu?” Jawab Zaki, “Oh tidak, kami telah tahu sebelumnya, satu
minggu sebelumnya kami telah memberikan warning kepada seluruh
komandan dilapangan dan menurut rencananya ‘bancakan habis’ itu akan
dilakukan dengan martir terlebih dahulu di Jogja.”

Dan memang di Jogja waktu itu akan ada kerusuhan dengan dibunuhnya
Moses, seorang mahasiswa, untuk memancing mahasiswa. tetapi saat itu
tidak terjadi kerusuhan.

Pada saat itu banyak sekali demo mahasiswa dari Sabang sampai
Merauke, di Jakarta di kampus Trisakti mahasiswa dipaksa dipancing
keluar dengan penembakan peluru tajam secara brutal, yang
mengakibatkan tewasnya keempat mahasiswa.

Itulah awal tragedi Mei, karena setelah itu aparat keamanan turun
secara besar-besaran dan memimpin operasi militer. Hanya berita yang
dilansir kepermukaan adalah masyarakat miskin urban yang menyerang
kelompok-kelompok Tionghoa, tindakan diskriminasi rasial memang ada,
tetapi yang menjadi dalang sebenarnya adalah operasi militer.

Masyarakat miskin urban sebagai Kambing Hitam

Pangdam Jaya Sjafrie Syamsudin dan Gubernur Sutiyoso mengatakan
pelaku-pelaku kerusuhan Mei adalah masyarakat miskin urban yang
melakukan tindakan penjarahan dan pemerkosaan terhadap kelompok
masyarakat Tionghoa. Para pelaku itu berjumlah 300 orang dan telah
mati karena terjebak dalam kebakaran yang terjadi, karena para pelaku
kejahatan telah meninggal dunia maka tidak perlu diinvestigasi lagi.

Bayangkan mereka bunuh diri masal seandainya mereka adalah pelakunya,
demikian komentar Rm Sandy.

Sebenarnya hal itu tidak benar, memang mereka adalah kelompok miskin
misalnya kelompok yang tinggal di belakang Jogja Plaza di Klender.
Para provokator atau aparat keamanan itu mengambil terlebih dahulu
barang-barang seperti TV, kulkas dsb.nya lalu meletakkan didepan toko
dan meminta mereka mengambil sambil mengatakan, “Ayo kita ambil, ini
hak kalian.” Sebelum itu mereka dipancing agar muncul dijalanan
dengan membakar mobil-mobil dijalanan. “Sekarang saatnya merebut
kembali hak kalian.”

Tetapi ketika mereka masuk dan naik keatas, rolling door ditutup,
tabung-tabung gas dikumpulkan dan ditembak sehingga menimbulkan
ledakan besar dan kebakaran. Banyak saksi mata, ada ratusan, melihat
waktu mereka naik keatas sudah ada yang menyiram bahan bakar dari
gedung yang paling atas. Aparat keamanan turun kebawah dan menutup
rolling door dan menyiram bahan bakar yang, ada dari bahan kimia
karena tembok Jogja Plaza yang begitu tebal bisa terbakar habis.

Waktu itu di Jakarta banyak wartawan asing karena adanya sidang AFTA
sehingga diekspos juga, seorang wartawan perang yang pernah bertugas
di Kosovo berkomentar “Belum pernah saya menyaksikan tragedi yang
sedemikian mengerikan karena tubuh-tubuh manusia dipanggang
sedemikian rupa.”

Ada 1188 korban yang meninggal pada waktu pembakaran masal tsb., dan
ada yang ditembak dijalanan kemudian mayatnya dilemparkan kedalam
gedung yang terbakar.

Sikap Gereja Katholik pada waktu itu

Pada waktu penguburan masal dilakukan pihak gereja menolak
mengirimkan salah seorang uskup untuk mewakili gereja karena
banyaknya korban yang berjatuhan, padahal pada waktu ibu Tien
meninggal dunia Kardinal sendiri datang.

Pada saat ini sikap gereja sudah berubah karena setelah tragedi Mei
secara de facto toh banyak sekali gereja-gereja yang dibakar.

Rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta

Meskipun rekomendasi TGPF telah dikeluarkan, ternyata hingga detik
ini pemerintah Indonesia belum menggelar pangadilan HAM ad hoc di
Indonesia, Gus Dur belum berhasil melaksanakan deliver Justice yang
tegas. Karenanya tidak mengherankan tindakan-tindakan kekerasan
merebak diseluruh Indonesia, yang terakhir di Sampit Kalimantan
Tengah yang korbannya telah mencapai 110 ribu, yang merupakan fokus
bantuan Tim Relawan saat ini..

Mengakhiri keterangannya Rm. Sandy mengatakan hampir di setiap
tragedi kekerasan politik yang masal selalu ada perkosaan masal, pola
yang sama dilakukan di Aceh, Timor Leste, Maluku dan berbagai tempat
lain.

Pertanyaan dan jawaban

Cukup banyak pertanyaan yang diajukan para peserta diskusi, penulis
tidak bisa menuliskan semuanya karena akan sangat panjang sekali.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul ada beberapa hal yang menarik
untuk disimak:

Perkembangan korban-korban pasca perkosaan?

Pdt. Bob Jokiman menanyakan perkembangan para korban perkosaan pada
saat ini.

Jawab:

Untuk para wanita yang telah berkeluarga, mereka cepat untuk pulih
kembali. Tetapi untuk para gadis yang masih remaja pada waktu
perkosaan itu terjadi, sukar untuk pulih, secara internal mereka
masih trauma sekali dan hal itu mengakibatkan mereka menghargai murah
dirinya secara seksual.

Perbedaan data antara Tim Relawan dan TGPF?

Jawab:

Tim Relawan terjun kelapangan dan melakukan investigasi bahkan sejak
tragedi itu dimulai, sedang TGPF dibentuk dua bulan setelah itu.
Karenanya data Tim Relawan lebih valid.

TRK terdiri dari ratusan anggota yang merupakan relawan dari
masyarakat dan juga dari korban dan keluarga serta teman korban yang
tergerak hatinya untuk membantu, yang melakukan pencarian data bukan
hanya Rm. Sandy dan ibu Karlina saja. Dan TRK sangat yakin dengan
data yang didapatnya.

Apakah tragedi seperti Mei bisa terulang kembali?

Jawab: Ya

Salam Damai,
Ana Dyah Sari

Advertisements

44 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. imcw said, on April 4, 2007 at 4:09 pm

    panjang sekali mas…mudah mudahan peristiwa mengerikan itu tidak terjadi lagi di negeri yang beradab dan berkemanusiaan ini…

  2. rusle said, on April 5, 2007 at 9:45 am

    iya nih panjang sekali…
    sepakat pak dokter…kekerasan tidak perlu kita biarkan hidup di sini, apalagi di lembaga pendidikan…macam STPDN atau IPDN…

  3. fiona hartanto said, on April 9, 2007 at 12:14 pm

    bagi yg otaknya gak didengkul udah jelas seorang Muslim sejati tidak akan menghojat Allahnya sendiri dgn berseru Allahu Akbar sebelum memerkosa perempuan Cina yang tidak berdaya dan tidak berdosa. anda juga gak perlu jadi sarjana NASA atau prof matematik untuk menebak siapa dalangnya. nah Jendral I Made Pastika yg berhasil menangkap Amrozi cs begitu cepat pernah bilang: Setiap reserse dapat pelajaran basic utk menyelidiki setiap tindak kriminal waktu mereka kuliah di PTIK. Pertanyaan pertama: Siapa yang punya motif paling besar? Kedua: Pihak mana yang sanggup melakukan kejahatan yang begitu dahsyat? Ketiga; Siap yang dapat mengorder agar polisi tinggal di barak?
    Keempat: Siapa yang berkuasa utk membebaskan para kriminal kelas berat utk bersenang2 menikmati para amoy?
    Perkosaan massal Mei 98 bukan soal sekedar preman ngamuk gara2 cina pedagang menaikkan harga sembako selangit. Bukan.
    Kalu sebuah kerajaan ampir runtuh kan perlu cari tumbal. Pangeran Bambang misalnya terang khawatir melihat kekuasaan ayahanda terancem…ribuan preman dibawahnya perlu dikerahkan. Punya ipar baret merah kan mesti dimanfaatkan. Hulubalang Feisal Tanjung kan pasti bisa merancang operasi lempar cina kelaut. Lalu om Fuad Bawazier yang kelebihan duit juga pengen ikut andil. Om hendropriyono yang brilyan: apa salahnya kalu para preman yg sudah dicekoki pil anjing gila diajarin utk berteriak: Allahu Akbar? Istilah cerita silat: Lempar batu sembunyi tangan? Kan nanti kelompok Islam yang dipojokkan. Memang para petinggi Orba banyak yang Muslim KTP doang. Baru disuruh puasa aza sudah pada gemeter kelaparan. Maunya idup mewah, maen cewek..tapi diluar sok suci.
    Bottomline: Dalangnya sih gak brilyan. Cuman media dan masa yang IQnya diragukan hehehe

  4. rusle said, on April 9, 2007 at 1:32 pm

    mbak fiona hartanto: saya setuju dgn pendapat mbak, kadang2 akal sehat kita dilumpuhkan demi sekedar membela korban…:(

  5. masli arman said, on April 10, 2007 at 11:12 am

    aku gak setuju ama mbak fiona. jelas mana mungkin sih orang kita yang terkenal ramah bisa memerkosa amoy di tengah hari bolong? juga cina indonesia bisanya ber kkn ria, bikin susah rakyat kecil. jadi sepantasnya, kalu emang betul rumor pemerkosaan massal itu bener, mereka diajar adat sedikit. abis mereka gak mo keluar dari tanah air kita yg kaya raya ini, wlpun rumah dan tokonya dibakar. bener2 mereka tebel muka.

  6. Syamsuddin said, on April 10, 2007 at 4:24 pm

    weleh kakak masti arman kek orang ga beragama aja! Tuh klo begituan caranya sama kek main hakim sendiri. Dah pernah sekolah ga sih??? Dlm pelajaran PPKn kan dilarang main hakim sendiri. Lagipula ga mungkin lah smua orang Tionghoa melakukan KKN. Jadi seumpamanya klo ada 1 orang yg jd korban saat itu yg ga KKN gimana coba??? Kesalahan satu atau beberapa orang ga boleh dilimpahkan ke smuanya. Lagian banyak pejabat kita jg yg asli indonesia melakukan korupsi napa ga perkosa aja smua keluarganya.Sama aja kan klo gitu kek diskriminasi ato SARA! Kita harus menunjukkan ciri khas muslim yg baik jgn kek gitu!!!
    Hendaknya kata-kataku menjadi pelajaran yg bermanfaat buat kakak. Terima kasih!!

  7. Damar said, on April 10, 2007 at 4:42 pm

    iya tuh sih masti arman kok pemikirannya kek gitu sih???
    Klo smua orang Indonesia kek Masti Arman bisa2 tiap hari terjadi kerusuhan. He he he!
    Kita harus malu dong dgn negara2 tetangga kita. Contohnya Malaysia, disana kan jg mayoritas penduduk org Melayu. dan ada jg warga Tionghoa yg menetap disana tp ga pernah terjadi kerusuhan kok. disana org Tionghoa dgn penduduk asli saling hidup rukun.

  8. Sulaiman said, on April 10, 2007 at 5:03 pm

    Aku mau tanya ma sih Masti Arman. Emang menurut anggapan loe Tuhan suka melihat kerusuhan itu apa? Ingat ya Tuhan ga pernah suka melihat ciptaan/umatNya saling menganiaya apalagi merebut kehormatan seseorang secara paksa tuh sama kek berzinah. Pada waktu kerusuhan tersebut byk orang memanfaatkannya utk melampiaskan nafsu setannya dgn memperkosa. Cara menghakimi sebaiknya jgn dgn cara yg dilarang oleh agama seperti bersinah tuh !!!
    Ingat ya kita harus mencoba utk trus berfikir secara positif baru bertindak karena ga mungkin TUHAN mengizinkan umatNya utk berbuat kerusuhan.

  9. thio boe kie said, on April 12, 2007 at 6:05 am

    Sangat kebetulan saya mampir di blog Daeng Ruslee. Menurut saya blog yang fair. Artikel yang dikutip dari dua pendapat yang berbeda. Jadi gak bias. Kepada Bung ‘Abu Zahra’ terimalah ucapan selamat saya. ‘Riset’ anda cukup mendetil. Mungkin anda seorang pengacara dan pengarang ya? Judul artikel anda juga sangat sensasionil. Mungkin anda memang pengagum Herr Goebels untuk tokoh internaional dan Pak Harmoko untuk level nasional gitu. Emang kalu pembaca yang emosinya tinggi, pasti dengan spontan setuju dengan pendapat anda. bagi yang cukup kritis tentu akan bertanya: apa maksud anda? Anda terlalu kejam kalu ‘menuduh’ para perempuan Cina korban pemerkosaan Mei 98 itu orang2 gila yang mengaku-ngaku diperkosa agar dapat meruntuhkan image bangsa Indonesia dimata Internasional. Image sebuah bangsa atau agama tidak akan ‘jatuh’ dengan fitnah atau propaganda busuk. Tingkah pola para pemimpin dan pendukungnyalah yang akan menentukan martabat sebuah bangsa!!! Kalu cuman bisanya mencari kambing hitam kalu ekonomi ambruk, nah dimana mutunya suatu negara? Negara main2an doang. Belum dewasa. Mungkin perlu dijajah Belanda bule 300 tahun lagi? Abis dijajah ‘Belanda sawo mateng’ 32 tahun, yang doyan korupsi dan bagi rezeki sama kroninya doang, yang gak pernah mau mikirin kesejahteraan rakyat banyak dan hanya mengandalkan pengurasan kekayaan alam, terang gak akan di respek oleh negara lain.
    Jangan mentang2 putri2 anda yang tak tersentuh oleh para pemerkosa Mei 98 yang disponsori pihak penguasa, lantas anda dengan bangga berkoar bahwa pemerkosaan perempuan Cina itu hanyalah fiksi semata. Hanya orang gila lah yang bisa berpendapat, karena tidak ada korban pemerkosaan massal yang mengadu kepada Ibu Hajjah Tuty Alawiyah, Menteri Pemberdayaan Wanita saat itu atau Bapak Jendral Wiranto, bahwa pemerkosaan Mei 98 hanyalah ‘fitnah’ minoritas Cina yang gak tahu diri. Saya sedihnya cuman mikirin Cina Indonesia yang miskin, yang mau berintegrasi dan cukup toleran walaupun bukan Muslim tapi diperlakukan dengan semena-mena. Kalu para konglomerat Cina yang berkongkalikong ama pemimpin dan jendral2 pribumi yang merampok kekayaan rakyat, ya mereka pasti selamatlah bila terjadi kerusuhan.
    Mudah2an para pembaca blog Daeng Ruslee cukup arif dan tidak gegabah menghakimi kelompok minoritas dengan segala kekurangannya yang menumpang hidup dinegeri ‘Bak Zamrud di Katulistiwa’ ini (menurut Multatuli aka Douwes Dekker). Semoga!
    Terima kasih.

  10. GAM said, on April 13, 2007 at 1:29 pm

    indoesia bajigan;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

  11. GAM said, on April 13, 2007 at 1:34 pm

    semoga jgn terjadi lg kerusah di indonesia

  12. GAM said, on April 13, 2007 at 1:45 pm

    banyak kasus ham di indonesia baik DOM aceh,MEI 1998, trisakti ,dll yg gak ter selesaikan.sepertinya gak ada keadilan di bumi indonesia.bangsa kita ter lalu kejam sesama kita baik itu membunuh ,memperkosa dll
    tetapi ALLAH swt maha adil.kan membalas mereka siapapun pelakunya dr agama manapun mereka.bencana pun kini silih berganti mungkin indonesia kan jadi atlantis kedua.kuharab segera

  13. AGAM RIMBA said, on April 13, 2007 at 2:56 pm

    ALLAH telah benci dg bangsa indonesia dan bencana terus .karna tidak ada keadilan di bumi indonesia ter lebih pelaku kekerasan sexsual ,pemerkosaan. ALLAH maha adil degan semua org yg teraniyaya ya “ALLAH laknat lah mereka yg melakukan kekerasan mei “amin

  14. dimas said, on April 16, 2007 at 8:07 pm

    panjang banget
    para pemerkosa tadi hanya ingin merusak citra umat islam,dan kita sebagai umat islam jangan terpancing dengan hal2 semacam itu,maka sebagai umat islam kita harus bisa tunjukan bahwa islam adalah agama yang cinta damai…………

  15. Rafly said, on April 17, 2007 at 3:23 pm

    bangsa ini payah kurang menanggapi keadilan ham .semoga tuhan yg memeberi kan keadilan

  16. Rafly said, on April 17, 2007 at 3:28 pm

    saya yakin pelaku kerusuhan adalah anak dari para wanita pelacur jalanan .yang kurang didikan agama dan orang tua makanya mereka hanya tau berbuat onar, rusuh,dll semoga para pelaku dapat hukum karma dari ALLAH SWT .tuhan akan membalaskan nya kpd ank cucu mereka di kemudian hari ,dia maha adil”amin”

  17. muskitawati said, on April 21, 2007 at 5:01 am

    Dik Rafly ngawuuur nih. Allah SWT jangan disamakan dengan manusia dong. Suka bales dendam lha. Mosok kakeknya yang jadi pemerkosa amoy waktu Mei 98, anak cucunya yang akan dihukum? Mereka kan tidak ada sangkut pautnya. Sama dengan orang Jerman, haruskah mereka dihukum karena kakek2nya membantai bangsa Jahudi waktu PD 2? Supremasi hukum harus ditegakkan. Seret dalangnya ke pengadilan, kalau pemerintah ada nyali lho untuk menangkap ‘Beliau.’ Ubahlah cara berpikir anda yang mencari solusi dengan berkhayal:”Tuhan yang akan ‘membalas’ dan menegakkan keadilan!” Para dalang tragedi Mei 98 akan senyum2 meliat angkatan muda yang bisanya cuman ‘berlindung’ dibelakangNya!!

  18. herlina said, on April 23, 2007 at 7:09 pm

    Assalamu ‘alaikum…

    Sedikit comment untuk masli arman & orang2 yang sepaham dengannya (yang saya yakin tidak sedikit jumlahnya)

    Do you think Chines people is not a human being ???
    Saya ingin berbagi sedikit pengalaman :
    Saya keturunan cina ! bagi sebagian orang sangat sulit untuk melakukan pengakuan semacam itu, bahkan beberapa kawan saya yang jelas2 bertampang cina mengatakan mereka bugis, makassar, toraja, sunda,betawi atau suku2 lain yang penting bukan cina.
    Sejak kecil kami diajarkan untuk “mengingkari kecinaan kami”, ayah kami – Tjan Ting Guan- mengajarkan kami untuk menjadi seorang nasionalis.
    Kami dibesarkan di makassar, tempat yang kulture kedaerahannya sangat kuat, sehingga kami hanya bisa mengaku orang “jawa” dan menghilangkan “cina” dari daftar silsilah kami.Bahkan ayah kami menolak untuk mengajarkan bahasa mandarin kepada anak2nya, beliau khawatir kami “keceplosan” diluar sana, dan menurut beliau itu bisa membahayakan kami.
    Syukurlah karena kami muslim dan jauh dari pusat kerusuhan sehingga posisi kami sangat “aman”, tapi saudara2 kami yang non muslim di jogja, surabaya & Jakarta terpaksa mengunci diri didalam rumah atau mengungsi ke t4 yang aman (mereka bukan termasuk golongan yang kaya yg bisa kabur keluar negeri…),
    Bahkan saudara kami yang juga muslim tapi bertampang sangat “cina” juga harus menyembunyikan diri selama kerusuhan berlangsung.
    Kerusuhan Mei jelas mengadu domba antara muslim & etnis cina, dan sayangnya banyak yang terpengaruh, termasuk kalangan yang katanya “terpelajar”, saya ingat seorang teman kuliah saya yang turunan cina-toraja terjebak didalam kampus karena ramainya rasia etnis cina, dia dibantu beberapa teman terpaksa menghafal Al-fatihah & surah2 pendek yang lain agar selamat pulang kerumah tapi hasilnya ya kena “jotos” juga, yang memukul mengatakan “siapa suruh jadi cina”. Seorang teman cina yang lain harus kehilangan rumah/warung kopi & putus kuliah setelah kerusuhan tersebut.

    Hidup sudah cukup berat bagi sebagian orang, cina atau bukan, sangatlah tidak bijak untuk memberi “label” pada mereka yang tidak ‘sama” dengan kita.

    Semoga dikemudian hari semakin banyak orang2 yang tercerahkan seperti dammar,sulaiman, syamsuddin, thio boe kie & my brother-rusle.

    Wassalam

  19. MALIKAT MAUT said, on April 24, 2007 at 1:38 pm

    bagus nya para pelaku dan otak kerusuhan mei 1998. siapa pun mereka bajingan semua. maunya leher mereka di gorok sampai putus seperti “ogrish” hehe,,, serukan liat darah merah kental mengalir deras tangkap. para pelaku gorok
    agar gak ada kejadian serupa di negri ini. sebelum di gorok maunya di siksa dulu. seperti kemaluan nya suruh di makan anjing rabies,lalu bakar 15 menit siram cuka,saos cabe, dan siap tuk digorok sampai putus .dah mati cincang kasi makan buaya,hiu,harimau.dan jgn lupa sumanto kan seru
    itu balasan di dunia blum lg neraka

  20. fadli ibrahim said, on April 24, 2007 at 1:50 pm

    saya setuju dg saudara fiona.dalang kerusuhan mei adalah mereka yg di sebut kan nya dan dalang pembunuhan aktivis ham munir jg saya yakin mereka jg terlibat.agar kerahasiaan mereka tertutub .dan saudara malaikat maut saya setuju kalau otak pelaku di gorok seperti ogrish

  21. alief said, on April 30, 2007 at 12:18 pm

    sampai sekarang pun saya masih antara percaya dan tidak percaya dalam menanggapi hal ini…

    tapi percaya ataupun tidak, bagi saya pemerkosaan adalah hal yang buruk, apalagi massal.

    tapi lebih buruk lagi jika membuat propaganda tentang pemerkosaan, dan disebarkan secara massal.

  22. indonesiaku said, on May 12, 2007 at 12:49 am

    Allah sudah menghukum negara kita ….dari berbagai kerusuhan, bencana alam n kecelakaan darat, alaut n udara ….. mesti tobat masal ….

  23. Pemerintah indonesia tidak perduli said, on May 13, 2007 at 6:11 pm

    Pemerintah indonesia gak peduli ama bangsa Indonesia, terutama yg keturunan Tionghoa. Kenyataan sudah jelas di depan mata, bukti sudah menggunung, tapi selalu berusaha ditutup-tutupi. lihat ini, bagian kesimpulan TIM GABUNGAN PENCARI FAKTA : http://semanggipeduli.com/tgpf/bab6.html -> kekerasan seksual bener2 terjadi, dunia mengakui, cuman bangsa indonesia yg kotor hatinya aja gak mau ngakuin kejahatannya sendiri, gajah di mata gak keliatan, udah biasa)

    Liat aja indonesia sekarang, bencana bertubi-tubi, hukuman dari semua kejahatan yang parah yg dilakukan ama elite & bangsa Indonesia. gak bangga sama sekali jadi bangsa Indonesia. Berusaha mencari kesempatan utk jadi warga negara lain, hidup kita cuman pendek, negara Indonesia perlu ratusan tahun, utk merubah otak bangsanya yang udah bobrok, perlu ganti generasi beberapa kali. Jangan sia-siain hidup kamu di Indonesia!

  24. suhandy said, on May 17, 2007 at 4:57 pm

    dr dulu negaranya cuma mainan… kanan kiri koar tapi ga jelas semua.

  25. Someone said, on May 18, 2007 at 7:37 pm

    comment untuk masli arman
    coba sodara ato adik perempuan ato anak lu yang di perkosa?
    emank enakkk………….
    Dasar Bajingan lu…..
    mudah2an lu kena baru lu tau rasanyaaaaaaa
    Fuck Youuuuuuuuuuu

  26. Rahmad said, on May 20, 2007 at 4:05 am

    (”kita menyakiti saudara sendiri,memperkosa,membunuh tapi ingat karma juga ada .TKI indonesia jg mengalami hal yg serupa, baik perlakuan sesama negara islam sekalipun sprti arab saudi,malaysia.dll ingat coy ALLAH maha adil (jumlah tki jauh lebih bnyak di perkosa dibunuh dan dia niyaya,walau pelakunya darai negara islam sekalipun) aku malu jd bangsa ini gak ada kedilan.makanya bencan silih berganti,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, indonesia kelak jd legenda lo

  27. zoel loebiz said, on May 21, 2007 at 7:24 am

    Ada apa sih? Eh…. salah forum…. wakakakakaka

  28. Thio Bue Kie said, on May 22, 2007 at 9:38 am

    Agama Islam, Kristen, Buddha, Tuhan kita sama dengan sebutan yang berbeda (Allah, Tuhan Yesus, Sanghyang Adi Buddha).
    Orang Arab, Indonesia, Cina, kita adalah manusia dengan sebutan ras yang berbeda.
    Apakah hanya dikarenakan perbedaan diatas kita saling membantai, saling menghujat ?
    Akan sangat berbahagia lah orang yang berhasil mengadu domba kita.

    Segala sesuatu akan ada balasannya..
    Semua agama mengajarkan demikian, kan?
    Menanam yang baik akan menuai yang baik dan sebaliknya..
    Saya percaya sekali akan hal itu.

    Indonesia sekarang dilanda bencana mungkin juga merupakan panen yang memang sudah waktunya di tuai..

    Saya hanya bisa berdoa semoga yang melakukan kejahatan tersebut menerima akibat dari perbuatannya berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu sampai jutaan kali lipatnya..amin.

  29. Alvin Tjen ce sen said, on May 26, 2007 at 3:45 am

    mm..saya Alvin..saya sendiri keturunan cina..namun karena saya tinggal di surabaya..saya fasih berbahasa jawa..saya malah tak bisa berbahasa cina..memang benar comment dari mbak herlina diatas..kami dari kecil pun takut mengakui diri sebagai cina..apalagi tampang saya benar2 oriental…

    Saya lahir di Indonesia..bahasa yg pertama saya pelajari dari ibu adalah bahasa Indonesia..saya tumbuh besar seperti sekarang dengan makan makanan Indonesia..saya adalah orang Indonesia walaupun saya suku cina..

    Pengalaman saya,smp sekarang saya punya teman,dia selalu berkata bahwa cina adalah penipu,brengsek,pelit,tak tahu diri,dsb..di depan saya pun dia juga berkata demikian,dan dia juga membuat lelucon2 yang menjatuhkan harga diri kami..dia sesekali pernah ngomel,karena dia mendengar 2 org keturunan sedang berbicara dgn bahasa mandarin..dia berkata hanya cina2 pluit yg ngomong kaya gini..’hahaha’,saya hanya bisa tertawa kecil..dalam hati saya sedikit sedih..

    Org jawa berbahasa jawa..org batak berbahasa batak..org sunda berbahasa sunda..mereka menguasai bahasa karena mereka memiliki adat dan budaya yang mereka pegang teguh..layaknya kami..Org jawa,sunda,batak,dll mereka memegang budaya,namun mereka tetap org Indonesia!..sama seperti kami..jangan pisahkan kami dari Indonesia..kami cinta Indonesia..banyak dari kami pun tak bisa berbahasa mandarin..apalagi sejak jaman orba dimana etnis cina sangat ditekan…(rata2 kakek nenek saya yang kelahiran sebelum thn 1965 bisa berbahasa mandarin…tapi untuk jaman sekarang sangat jarang)..

    Saya lahir secara tak sadar di dunia ini..saya tak bisa memilih mau lahir dengan suku apa dan tinggal di negara mana..kami hanya bisa membuka mata saat lahir dan melihat indonesia..kami tumbuh dan besar di Indonesia…

    Dulu setelah kasus 1998..sumpah,saya sangat takut bertemu dengan org2 pribumi..saya takut karena saya cina..saya pun selalu memakai topi agar mata saya setidaknya tertutup sewaktu naik bis kota..karena pernah sesekali saya dipanggil om atau koko dan dipalak preman2 bis..NAMUN!di jakarta sendiri,,saya sekolah di sekolah swasta di jakarta selatan yang saling bercampur dari bermacam2 suku.kami bergaul dan bercanda..dulunya yg saya sgt sensitif ketika dikatain ‘cina’,lama2 terbiasa karena mereka itu bercanda,sama seperti mereka ngatain teman saya ‘batak lu’..hahaha..mereka menerima kami dan memandang kami seolah2 kami ‘bukan cina’,mereka memandang kami sebagai ‘teman’ yg selalu bersama..

    Saya sekarang ini punya banyak sekali teman2 pribumi..mereka BAIK BAIK..Mereka suka menolong dan toleran..janganlah kita memandang mereka sebagai orang yg selalu rasialis kepada kita..mereka banyak yg baik dan mau menolong kita di kala kesusahan..seperti ayah saya yang pernah bangkit dan mendapat penghasilan karena bantuan org2 madura..jasa2 mereka tentu tak pernah kami lupakan..

    Apapun tampang kita..apapun bahasa kita..dan apapun adanya kita..jangan lupa..kita lahir di bumi yang sama..kita sama2 manusia..dan kita org Indonesia!..

    Bagi2 kaum pribumi..sya hanyalah seorg pemuda yg baru menginjak umur 20..namun di umur saya yg sekian,saya dengan sepenuh hati turut berduka dan meminta maaf atas segala perilaku kasar atau hal2 yang tidak berkenan yg dilakukan etnis cina kepada kalian..(misal:penyiksaan pembantu,cukong2,illegal logging,dll..)…janganlah benci kami..walaupun banyak dari kami yg bertindak kejahatan..setiap manusia pasti pernah bertindak kejahatan..janganlah benci kami seluruhnya karenaa sebagian dari kami berbuat kejahatan..

  30. Tjen ce sen said, on May 26, 2007 at 3:50 am

    mm..saya Indonesia saya Alvin…nama Jawa saya adalah Djatioetomo…saya sendiri keturunan cina..namun karena saya tinggal di surabaya..saya fasih berbahasa jawa..saya malah tak bisa berbahasa cina..memang benar comment dari mbak herlina diatas..kami dari kecil pun takut mengakui diri sebagai cina..apalagi tampang saya benar2 oriental…

    Saya lahir di Indonesia..bahasa yg pertama saya pelajari dari ibu adalah bahasa Indonesia..saya tumbuh besar seperti sekarang dengan makan makanan Indonesia..saya adalah orang Indonesia walaupun saya suku cina..

    Pengalaman saya,smp sekarang saya punya teman,dia selalu berkata bahwa cina adalah penipu,brengsek,pelit,tak tahu diri,dsb..di depan saya pun dia juga berkata demikian,dan dia juga membuat lelucon2 yang menjatuhkan harga diri kami..dia sesekali pernah ngomel,karena dia mendengar 2 org keturunan sedang berbicara dgn bahasa mandarin..dia berkata hanya cina2 pluit yg ngomong kaya gini..’hahaha’,saya hanya bisa tertawa kecil..dalam hati saya sedikit sedih..

    Org jawa berbahasa jawa..org batak berbahasa batak..org sunda berbahasa sunda..mereka menguasai bahasa karena mereka memiliki adat dan budaya yang mereka pegang teguh..layaknya kami..Org jawa,sunda,batak,dll mereka memegang budaya,namun mereka tetap org Indonesia!..sama seperti kami..jangan pisahkan kami dari Indonesia..kami cinta Indonesia..banyak dari kami pun tak bisa berbahasa mandarin..apalagi sejak jaman orba dimana etnis cina sangat ditekan…(rata2 kakek nenek saya yang kelahiran sebelum thn 1965 bisa berbahasa mandarin…tapi untuk jaman sekarang sangat jarang)..

    Saya lahir secara tak sadar di dunia ini..saya tak bisa memilih mau lahir dengan suku apa dan tinggal di negara mana..kami hanya bisa membuka mata saat lahir dan melihat indonesia..kami tumbuh dan besar di Indonesia…

    Dulu setelah kasus 1998..sumpah,saya sangat takut bertemu dengan org2 pribumi..saya takut karena saya cina..saya pun selalu memakai topi agar mata saya setidaknya tertutup sewaktu naik bis kota..karena pernah sesekali saya dipanggil om atau koko dan dipalak preman2 bis..NAMUN!di jakarta sendiri,,saya sekolah di sekolah swasta di jakarta selatan yang saling bercampur dari bermacam2 suku.kami bergaul dan bercanda..dulunya yg saya sgt sensitif ketika dikatain ‘cina’,lama2 terbiasa karena mereka itu bercanda,sama seperti mereka ngatain teman saya ‘batak lu’..hahaha..mereka menerima kami dan memandang kami seolah2 kami ‘bukan cina’,mereka memandang kami sebagai ‘teman’ yg selalu bersama..

    Saya sekarang ini punya banyak sekali teman2 pribumi..mereka BAIK BAIK..Mereka suka menolong dan toleran..janganlah kita memandang mereka sebagai orang yg selalu rasialis kepada kita..mereka banyak yg baik dan mau menolong kita di kala kesusahan..seperti ayah saya yang pernah bangkit dan mendapat penghasilan karena bantuan org2 madura..jasa2 mereka tentu tak pernah kami lupakan..

    Apapun tampang kita..apapun bahasa kita..dan apapun adanya kita..jangan lupa..kita lahir di bumi yang sama..kita sama2 manusia..dan kita org Indonesia!..

    Bagi2 kaum pribumi..sya hanyalah seorg pemuda yg baru menginjak umur 20..namun di umur saya yg sekian,saya dengan sepenuh hati turut berduka dan meminta maaf atas segala perilaku kasar atau hal2 yang tidak berkenan yg dilakukan etnis cina kepada kalian..(misal:penyiksaan pembantu,cukong2,illegal logging,dll..)…janganlah benci kami..walaupun banyak dari kami yg bertindak kejahatan..setiap manusia pasti pernah bertindak kejahatan..janganlah benci kami seluruhnya karenaa sebagian dari kami berbuat kejahatan..Janganlah ‘kapok’ untuk memaafkan kami hahaha..

    Bagi saudara2 yg membaca blog ini…semoga kita sesama org Indonesia semakin erat dan mengulurkan tangan untuk sesama tak peduli latar belakang dan ‘siapa’kah kita..kami pun akan selalu belajar dari kesalahan..kami sadar..’dimana bumi dipijak disitu langit dijinjing”..

  31. Pemerintah indonesia tidak perduli said, on June 10, 2007 at 4:21 pm

    Alvin, temen kamu yg baik2 itu memang bener (bener ada), tapi kamu liat bangsa Indonesia mayoritas masih di bawah garis kemiskinan. Teman2 kamu itu pasti bukan yg hidup di bawah / di garis kemiskinan. Orang2 indonesia yg terprovokasi (yg membakar, menjarah, memperkosa) BUKAN orang2 seperti teman kamu. Tapi harus disadari, jumlah orang yg di / di bawah garis kemiskinan adalah MAYORITAS bangsa Indonesia. Mayoritas orang inilah yg harus dikhawatirkan. Kamu liat aja realitas sehari-hari kamu. Ini sebenernya bom waktu yg akan meledak suatu saat lagi. Kerusuhan di Indonesia bukan Mei 1998 saja, SEJARAH SELALU BERULANG. kenapa sejarah selalu berulang? ini karena pikiran bangsa Indonesia yg sudah terlanjur bobrok. Perlu beberapa generasi utk merubah jiwa & pikiran mereka yg sudah bobrok. be careful (see the reality).

  32. Read this pls said, on June 10, 2007 at 4:47 pm

    http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/13/persona/3528776.htm

    Why Indonesia always use violence in solving their problems?

  33. Perkosaan Mei 1998 explained in WIKIPEDIA? WOW! said, on June 10, 2007 at 4:50 pm

    http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Kerusuhan_Mei_1998

  34. anak_nakal said, on June 20, 2007 at 2:15 am

    KLO KISAH PERKOSAAN ITU BISA TERULANG DAN ITU TERORGANISASI
    GW PENGEN DAFTAR JADI PELAKU PERMERKOSA
    AJSJAJSDHUASDHUASHUDHUASHDUAHSUDAS
    DANCUCK !!!!

    SEGOBLOK-GOBLOKNYA ORANG LEBIH GOBLOK LAGI ORANG YANG SEMPAT MEMBACA TULISAN INI, APALAGI SAMPAI MENGELURKAN SUARA !!!!

    GAK JELAS !!!!
    ITU SEMUA OTAKNYA SIAPA ????
    (yang pada saat itu dipaksa mundur dari jabatannya)
    hehehheheh

  35. anak_nakal said, on June 20, 2007 at 2:18 am

    BERTOBATLAHH
    BERTOBATLAH
    BERTOBATLAH

    Indinesia Ku
    Indonesiaku
    sampai kapan Harus Begini ……..
    sampai
    GW PRESIDENNYA KLE 😛

  36. anak_nakal said, on June 20, 2007 at 2:22 am

    p e m e r k o s a a n M a s s a l
    gak ada ~!~
    dan tak akan pernah berakhir
    klo kita masih mau mengungkitnya

    mari kita berpikir kedepannnnnnnnn
    melupakan kisah-kisah kemarin
    menatap kedepan dengan penuh harapan
    walau kadang harapan itu goyah

    berdirilah dengan Kokoh –kayak Tugu MOnas tuhh
    heuheuhuehe

  37. Ifool said, on June 20, 2007 at 10:49 am

    mungkin ini topik yang sudah hampir “basi”, soalnya sudah 2 bulan lebih lewatnya..

    tapi bolehji toh sy ikut komen..?.
    soal perkosaan, terlepas dari betul atau tidaknya kejadian itu, sy kira memang ada banyak “kepentingan” yang bermain di situ, dan parahnya lagi pemerintah kita tidak pernah serius memberikan klarifikasi ttg chaos di bln Mei 98, jadilah sejarah kelam itu tetap kelam, hitam tak terbaca…

    etnis minoritas Cina mmg selalu mengundang pro kontra yak..?, memang klo melihat sejarah, etnis Cina selalu dapat prioritas dari kaum penjajah, tapi ndak sedikit juga dr mereka yg ikut berjuang bersama pribumi. dan keadaan bangsa Indonesia yg lagi “kacau” dan timpang dari segi ekonomi jelas menyulut bara kecemburuan pada etnis cina yg biasanya dipukul rata sebagai etnis kaya..secara pribadi sy jg kadang2 ndak suka sm kaum Cina yang dr tampilannya keliatan sombong, angkuh dan tidak mau merapat ke pribumi, tapi untuk mereka yg mau “merendah” sy pasti membuka diri. intinya dalam hati sy selalu bersikap akan berbaik-baik untuk mereka yang juga baik, kalau mereka kebetulan “tidak berbaik-baik” pada saya, ya sy akan menutup diri…

  38. trixi said, on June 21, 2007 at 5:02 pm

    Cina, Arab, Inggris, Melayu, Jawa, Padang
    Semua itu ada dalam darah saya.
    Jadinya saya orang apa ya?
    Indonesia.
    Jelek2 gini masih negara kita

  39. Joe Billie said, on June 24, 2007 at 12:05 am

    Agama ad banyak, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, dll

    Semua agama itu mengajarkan KEDAMAIAN.
    Org pribumi tentu punya agama
    Org cina jg tentu punya agama

    Jadi, org pribumi dengan org cina yg beragama tentu akan hidup berdampingan dengan damai

    Perkosaan massal mungkin ad atau mungkin jg gak ad, siapa yg tau pasti???

    Jadi, yang melakukan pemerkosaan (yg sering disebut-sebut beragama Islam) adalah bukan Islam (karena Islam mengajarkan DAMAI)

    Dan, orang cina yang melebih-lebihkan cerita mungkin yg sentimen ama org Islam

    Saya beragama Kristen, bersikap netral, tidak membenarkan maupun menyalahkan satu pihak, tapi jadikan peristiwa ini suatu pelajaran berharga dan mahal sekali

    dan ingat, org beragama adalah org yang cinta DAMAI, lalu, kalau kita adalah org beragama, kenapa kita saling gontok-gontokkan????????

    Tanya Kenapa??????????????????

    SALAM DAMAI…………………………………..
    P E A C E O N I N D O N E S I A

  40. GAM said, on July 13, 2007 at 1:06 pm

    saya sendiri aja benci degan keadilan di indonesia ,seperti nya mereka menyembunyikan pelaku otak kerusuhan mei yg lalu ,semoga tuhan membalas kan yg setimpal ama ank cucu mereka (pelaku) ACEH MERDEKA (indonesia legenda)

  41. GAM said, on July 13, 2007 at 1:06 pm

    saya sendiri aja benci degan keadilan di indonesia ,seperti nya mereka menyembunyikan pelaku otak kerusuhan mei yg lalu ,semoga tuhan membalas kan yg setimpal ama ank cucu mereka (pelaku) ACEH MERDEKA (indonesia tinggal legenda)

  42. GAM said, on July 13, 2007 at 1:19 pm

    alham dullilah kejadian mei gak pernah terjadi di bumi aceh.beda dengan daerah mu

  43. who??? said, on August 16, 2007 at 11:07 am

    Intinya aja deh…

    gak mungkin gak ada asap kalo ga ada api…
    jadi gak mungkin ada tuduhan kalo gak ada perbuatan..

    kalo emang kagak…brartice yg diprkosa itu rada ga waras…
    apa ga malu dy alo orang tau dia dah ga perawan…

    jgn berpiki dari sisi masing”, tapi berpikir dari sisi si korban…

    jadi bagi yang masi ngerasa itu cm bohong, pikir lagi deh…

    semua hal itu mungkin aja… apalgi kejadian wktu itu..jangan kan tv yang mahal, sendok dan garpu aja bisa dijarah…

    bukan kah itu menakutkan banget??

    n sampe kapan kita mau berpikir kalo itu berita cuma bohong belaka…kalo memang sekarang belum bisa dibuktikan…

    biar yang diatas yang menghakimi..!!!!!

  44. Ardhan said, on August 19, 2007 at 6:43 am

    Peristiwa kerusuhan Mei ’98 secara kronologis disiarkan secara live oleh media. Sebuah stasiun radio di Jalan Gajah Mada misalnya secara detail memonitor pergerrakan massa dan insiden pembakaran di Jakarta Barat dan Glodok/Kota. Mengapa tidak ada satupun yang melaporkan adanya penganiayaan seksual, bahkan kasus penganiayaan biasapun tak satupun yang tertangkap lensa kamera atau mata reporter.
    Kalau mau berbicara keadilan, harus bicara fakta. Bukti yang disodorkan Sandhyawan dkk. sudah terbukti banyak yang palsu, so gak valid lagi mendasarkan kebenaraan semata-mata dari omongan mereka.
    Fakta dan logika. Itu yang penting.


Comments are closed.

%d bloggers like this: