…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

aburizal bakrie: media membesar2kan soal banjir?

Posted in Renungan by daengrusle on February 7, 2007

jakarta

saya yang tinggal jauh dari Jakarta, menonton TV dan membaca Koran yang memberitakan bencana banjir ini sulit percaya kalau memang bencana ini “hanya” dibesar-besarkan oleh Media, apalagi kalau mencoba percaya bahwa pengungsi masih banyak yang tersenyum….
memang sikap legowo dan ikhlas menghadapi bencana merupakan sikap yang positif, tapi menafikkan penderitaan itu sendiri mungkin sesuatu yang berlebihan….

mungkin memang menjaDi kewajiban pemerintah untuk menenangkan masyarakat, sebesar apapun bencaNA yang menimpa mereka, tapi sekali lagi, menafikkan ‘penderitaan’ itu malah menunjukkan sikap ‘acuh tak acuh’ dan sejalan dengan pernyataan pak gubernur kalo ini “hanyalah’ fenomena alam biasa yang tak mungkin bisa dihindari…

nauzubillah, banjir tiap tahun dengan puncaknya setiap 5 tahun ini dianggap force majeure? kalau menjadi rutinitas tahunan ini bukan lagi bencana, tapi ketidakmampuan antisipasi.

saya yakin, pemerintah kota yang lain di dunia juga mengalami hal serupa. Kita sejak SD diajarkan bahwa negeri Belanda adalah negeri dengan sistem drainase dan tata air kota yang baik, sehingga selama RIBUAN tahun tidak pernah terendam air walaupun kenyataannya bahwa elevasi daratannya lebih rendah dari tinggi air permukaan laut….

memang saatnya tidak lagi mengharapkan pihak lain untuk menyelamatkan diri sendiri. masyarakat seperti pengemis saja, hanya diperhatikan ketika kesusahan, sementara masalah utama yang menjadi laten setiap saat tidak dicoba untuk dientaskan….

Aburizal Bakrie: Media Membesar-besarkan soal Banjir
 06/02/2007 18:59
Menko Kesra Aburizal Bakrie menyalahkan media massa karena telah membesar-besarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya. Sebab, menurut Aburizal, pada kenyataannya banyak pengungsi yang masih tersenyum.

Liputan6.com, Jakarta: Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie menyalahkan media massa yang telah membesar-besarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya. Sebab pada kenyataannya, jelas Aburizal, banyak pengungsi banjir yang masih dapat tersenyum. “Kalau kita lihat para korban itu masih ketawa. Jangan sampai dikondisikan seolah-olah dunia mau kiamat seperti yang televisi Anda (SCTV) katakan demikian,” kata Aburizal di Jakarta, Selasa (6/2).

Menko Kesra tampaknya tidak melihat fakta bahwa banjir telah membuat sebagian warga Ibu Kota dan sekitarnya menderita. Bahkan, seperti diberitakan banyak media, setidaknya lebih dari 30 orang tewas dalam musibah yang menerjang Jakarta dan wilayah sekitarnya. Andai saja pemerintah sigap menangani bencana banjir, tentu saja korban dan penderitaan rakyat bisa dikurangi atau bahkan bisa dihindari [baca: Ribuan Warga Jakarta Masih Mengungsi].

Sementara itu, sejumlah elemen mahasiswa berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur DKI Jakarta. Mereka menuntut Gubernur Sutiyoso meminta maaf kepada warga atas ketidakbecusannya menangani banjir. Demonstran juga menilai pemerintah pusat tak sigap menolong warga korban banjir.

Banjir yang melanda Ibu Kota, Bogor, Depok, Bekasi, Jawa Barat, dan Tangerang, Banten, telah menelan puluhan korban jiwa. Bahwa ribuan warga kehilangan harta serta rumah mereka. Sedangkan puluhan ribu lainnya masih harus mengungsi karena rumah mereka masih terendam air.(BOG/Inka Prawirasasra dan Wisnumurti

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. @ef said, on February 8, 2007 at 11:29 am

    Benar-benar sungguh sangat disayangkan.
    Saya teringat masa-masa tinggal di negeri antah berantah. Berhubungan dengan flu burung, unggas mati saja sudah ribut minta ampun. Di sini, rumah terendam, aktifitas macet total, yang mengungsi ratusan ribu, yang meninggal lebih 50an jiwa, pemerintahnya masih bisa tersenyum mengeluarkan kata-kata pembelaan. Bedanya antara “layani masyarakat” dengan “masyarakat layani”.:)

  2. paccarita said, on February 9, 2007 at 3:46 am

    Angingmammiri mengadakanlomba entry blog di BulanFebruari ini. info lengkap lihat di http://angingmammiri.org

  3. In-aRt said, on February 11, 2007 at 3:08 pm

    Bagaimana mo liat fakta, klo dia hidup di pemukiman elite yang bebas banjir..

  4. Arif Kurniawan said, on February 15, 2007 at 5:32 am

    Om Ical (Aburizal bakri) udah parah rabunnya. Perusahaannya yang menggelontorkan ribuan liter lumpur ke pemukiman warga… dia cuman plarak-plirik.
    Eh sekarang, banjir yang membuat warga pamer paha (plus kehilangan rumah) malah nggak dilirik sama sekali.

    Aduh Om Ical nampaknya harus lebih tebal emakai kacamata.

  5. Ahmad Dzikir said, on February 17, 2007 at 8:01 am

    Hmmm… nimbrung ah….
    loh kang tuh ical mah masih paman saya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: