…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

belajar memperbaiki

Posted in Renungan by daengrusle on January 5, 2007

setiap orang pasti akan menjadi tua, tapi tidak semua nya akan menjadi dewasa. kedewasaan berada pada bingkai kematangan hidup, yang implikasinya adalah bagaimana menilai dan memandang sesuatu dengan cara yang lebih baik. lebih bijak. apa tolak ukurnya?

beberapa orang selalu menyatakan bahwa hanya ada dua; proses dan hasil.
bagi yang melihat kematangan dari segi proses, mereka akan memandang bagaimana kita menjalankan proses itu dengan langkah-langkah yang lebih baik, memperbaiki proses, menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang sekitar. mereka percaya, proses yang benar dan bijak akan menghasilkan seusatu yang maksimal, bahkan bisa melebihi ekspektasi. bagi yang melihat kematangan dari segi hasil tentunya hanya melihat bagaimana posisi relatif seseorang terhadap ekspektasi pribadi dan lingkungannya, apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. ketika ia berhasil menjadi seseorang yang bisa menjadi panutan dalam keluarga dan masyarakat nya, maka berhasillah dia. apalagi kalau rupanya apa yang dikerjakannya menjadi sesuatu yang berguna buat masyarakat. maka tak perlu dia mengeluarkan banyak duit untuk menaikkan citra (apalagi buat pemilu), masyarakat yang akan menilai sendiri, bahkan menjaga citra tersebut.

ini yang menurut saya kurang dimiliki oleh para pejabat-pejabat kita, umumnya mereka hanya peduli terhadap konstituennya pada saat kampanye pemilu, dengan membuat cara-cara instan untuk menaikkan citra; membagikan kesenangan sesaat. dan sayangnya, masyarakat kita walau tak seluruhnya mabuk akan kesenangan sesaat itu; duit, hiburan, janji-janji. dan pada akhirnya yang kemudian muncul hanyalah kontradiksi, kontroversi, paradoks. yang satu tidak puas akan kekuasaannya, tidak mampu memfungsikan kekuasaannya, di sisi lain, mereka yang mengharap telah menaruh harapan untuk memperbaiki nasib malah tak terurus.

saya yakin, semua orang Indonesia baik adanya, tidak ada yang jahat dan lancang mulut, sebagaimana selalu ditampilkan di sinetron-sinetron indonesia (yang sayangnya, sudah mutunya jelek, jiplakan pula…bahkan pemenang FFI 2006, menurut berita melakukan penjiplakan music theme). sudah banyak juga ulasan bagaimana memperbaiki nasib bangsa yang tak lepas dari bencana dan korupsi. bahkan ada yang mengusulkan pemerintahnya di cuci-hama kan, karena katanya alam yang tidak menerima nya.

buat saya sendiri, pokok penting yang harus dibangun oleh bangsa ini adalah idealisme, atau kepribadian. kepribadian yang mandiri, tidak mengapa kalau kepribadian itu juga jiplakan dari bangsa lain. misalnya bangsa iran, korea, jepang, kuba, eropa dan lain-lain. selama itu tujuan nya baik dan diolah untuk kebaikan bersama, mengapa tidak. yang takut untuk berubah sebaiknya dipinggir saja, tidak usah ikut arus perubahan. tidak perlu revolusi fisik, karena korbannya bakal banyak, mending revolusi kepribadian saja, sebagaimana yang sudah ditempuh oleh bangsa China. tanpa menanggalkan komunisme/sosialisme, mereka bisa bersaing secara ekonomi dengan bangsa eropa. bahkan kalau kita berniat belajar dari pendiri negara, Soekarno telah sejak awal meneriakkan trisakti: berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, berkepribadian kebangsaan dan kebudayaan.

rakyat, mari berpikir “out of the box”, keluar dari frame keyakinan kita. kakak saya yang dokter menyebut ini “waham”. so, mari membunuh ke’waham’an kita, mencoba berpikir bebas dan merdeka. yang kita pegang adalah kepribadian kita yang mandiri. kalau pemerintah tidak mampu lagi berpikir dan bertindak memperbaiki bangsa, mari kita yang membantu. minimal tidak menjadi beban pemerintah. rakyat Thailand pada saat krisis berbondong-bondong menukarkan uang Dollar mereka dengan mata uang Baht. mereka yakin yang bisa menolong bangsa Thai adalah rakyat mereka sendiri “Thai save Baht”. mereka gak peduli bantuan IMF, World Bank.

mari belajar memperbaiki sesuatu.
menurut Aa Gym, mulai dari 3M; mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga.

wallahu ‘alam bish showab.

Advertisements

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. mamie said, on January 5, 2007 at 12:15 pm

    Belajar Memperbaiki… mamie suka judulnya.
    Biasanya sih perlu penyadaran dulu mengenai kekurangan kita masing2 untuk bisa belajar memperbaiki. Sepertinya harus banyak tafakkur yah daeng… mamie setuju, insha Allah kita diberi ‘penerangan’ buat menyadari kekurangan kita masing2 untuk mencapai hal yang lebih baik.

  2. deen said, on January 5, 2007 at 7:19 pm

    “out of the box” , alias keluar dari zona nyaman kita sendiri.. sejak kuliah se mulai menerapkan hal itu, walo tkadang terlena dgn zona tertentu dlm waktu yg pjg, kita sbg manusia emg harus sadari bahwa hidup emg terus berubah, dan perubahan juga harus disikapi dgn berubah(tentu ke arah positif).. 🙂

  3. yati said, on January 6, 2007 at 11:34 pm

    pejabat kita mah….yang penting nongol di tipi :d

    hmm…belajar memperbaiki…yuuk!!!

  4. Mesin Absensi Sidik Jari said, on November 29, 2013 at 3:17 pm

    Terima kasih telah berbagi artikel yg menarik. Tetap semangat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: