…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

surat cinta untuk makassar

Posted in Random by daengrusle on September 29, 2006

puisi ini ditulis oleh kakanda Hendra Gunawan S Thaif
sedang gambar Mahdi diatas, tentunya saya yang buat tanpa keterlibatan sang penyair :p

SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR
masih belum tidur, sayang?
ketika aku berjalan kaki
di sepanjang jalan ahmad yani
yang telah dibongkar trotoarnya
matamu yang nyalang menyorot-nyorot
bagai lampu menara penjara
sementara di wajahmu semut-semut besi berapi
merayap dan menderum mengepulkan asap dan debu

manisku, siapa namanya si walikota
yang telah berani menggunduli habis
pohon-pohon asam dan akasia di kedua bahumu?
keisengan atau kebodohankah yang telah meringankan tangannya?
siapa namanya si pengusaha
yang dengan bebal meruntuhkan rumah dan gedung belandamu,
menggantinya dengan mal dan gudang
dan bahkan ingin mendirikan asrama di lapanganmu?

aku pergi tidak begitu lama
dan ketika kembali aku terperangah
melihat engkau begitu jauh berubah
ular-ular aspal melilit tubuhmu
mal dan markas orang bersenjata
tumbuh memenuhi dadamu
sementara anak-anakmu
memaparkan pusar mereka
dan memamerkan belahan bokong
bercintaan di pojok angkutan kota

dan betapa mencekam,
ketika mendadak disekelilingku
bermunculan pasar dan plasa
timbul dari lubuk bumi
bagaikan para siluman raksasa
nongol membelah perut ibunya
lalu tumbuh sebagai raksasa tambun
dengan perut buncit dan punggung membungkuk
yang bangun terhuyung-huyung
sembari meraung minta makan
dan para liliput mengalir
datang dari setiap sudut-sudut kota
memasuki mulut mereka yang menganga lebar
dan menebarkan bau aneh

aih, aih, aih, sedihnya sayang,
keningmu berkerut merut
dan matamu keruh berkabut
jadi engkau juga harus ikut menjual diri
demi dolar dan rupiah
demi catatan prestasi pejabat
menggaet dana investasi
demi komisi dan promosi
demi masa jabatan kedua kali
sementara aku justru merasa
lebih aman dan nyaman
dengan kesederhanaanmu yang dulu?

lihatlah, aku berjalan kaki di ahmad yani
dengan perasaan takut serta asing
setelah daeng-daeng becak
yang dahulu mangkal di sini
sembari minum jerigen ballo dan main domino
telah digusur pergi
jalananmu ini bukan untukku lagi
percintaan kita telah jadi mimpi
sejak trotoarmu dicungkil pepohonanmu dicukur
jalan-jalan lama diperlebar dan jalan-jalan baru dibuka
sementara pejalan kaki dibiarkan
dicincang tajamnya panas mentari
dilumuri debu dan polutan
diintai sambaran maut dari semut-semut besi berapi
yang melaju angkuh dan perkasa

masih belum tidur, sayang?
berapa butir penenang yang mesti kau tenggak lagi
sebelum cemas dan gegasmu dapat reda dalam alun tidur
tatapanmu kian jauh dan tak acuh
seperti papan-papan iklan
yang megah tinggi tak tersentuh
mengangkangi si gila yang tersedu-sedu
duduk mencangkung dibawahnya
kau mungkin bahkan tak peduli
bahwa aku telah kembali
dan kehilangan kamu

aku menangis,
manisku

2002

REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya

Mei 2005

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Goio said, on September 29, 2006 at 9:22 pm

    Daeng, aku baru dua kali ke Makassar… January 2003 dan Maret 2006… aku gak tau juga sih Makassar jaman baheula seperti apa… dah berubah banyak ya, Daeng? … mungkin mirip2 dengan perubahan yang terjadi pada Bandung ya? .. sedih sebenernya .. tapi ya itu pisau bermata dua kali ya? .. bikin sedih kita, tapi menguntungkan buat masyarakat sekitar *perekonomiannya berkembang 😀 …

  2. Ayu said, on January 6, 2008 at 8:20 pm

    Daeng…
    meskipun saya tidak lahir di Makassar dan tidak pernah tumbuh di Makassar, meskipun Makassar hanyalah tempat ayah saya dilahirkan….saya sempat terkaget-kaget waktu Juli lalu saya ke sana setelah sembilan tahun lamanya, Mall di mana-mana, sepupu2 saya menjadi begitu konsumtif, naik becak pun tak senyaman dulu, dan yang terakhir rumah tua kakek saya di Jalan Ratulangi digantikan dengan salah satu hotel (yang jika tidak dijual pun makin terhimpit oleh geliat kota). Bersyukur saya masih bisa menikmati sunset Losari yang selalu indah dengan semburat senjanya, angin malam dan hangatnya “mie titi” di kawasan Pecinan Makassar yang mungkin lambat laun kios2 itu akan punah juga…semoga tidak karena saya mencintai Makassar sebagai kota tua


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: