…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

ndak lulus kok protes?

Posted in Renungan by daengrusle on June 26, 2006

Beberapa hari belakangan di TV nasional kita disuguhi berita tentang ‘beberapa’ siswa SMA yang gak lulus Ujian Nasional ditemenin orang tua nya , pada protes merasa hak asasinya sebagai pelajar ditelantarkan pemerintah. Sebenarnya jumlah kelulusan secara nasional meningkat dari tahun kemaren, meski standar kelulusan dinaikkan juga. Namun masih ada saja siswa yang tidak lulus Ujian Nasional ini, bahkan di beberapa sekolah ada yang tingkat kelulusannya 0%.

Nah, yang gak lulus ini pada protes dan mengecam kebijakan pemerintah mengenai Ujian Nasional ini, karena menurut mereka hasil kerja keras mereka selama 3 tahun belajar itu disia-siakan hanya karena ujian 2 hari. Bahkan diantara yang gak lulus katanya sudah ada yang diterima lewat jalur PMDK di perguruan tinggi ternama di Indonesia semisal IPB dan UI. Ada juga yang mengaku sudah diterima di perguruan tinggi luar negeri. Namun karena mereka ‘hanya’ tidak lulus Ujian Nasional SMU, maka status mahasiswa mereka pun akan otomatis gugur. Diantara mereka juga mengaku bahwa mereka termasuk siswa-siswa yang pandai di sekolahnya, namun entah mengapa kok nggak lulus yah?

Standardisasi suatu sistem nggak selamanya akan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan semua orang. Hanya yang siap saja yang akan lolos dari sistem ini, dan yang nggak siap, dengan alasan apapun, seharusnya menerima konsekuensi dari ketidak siapan tersebut, TIDAK LULUS. Kalau memang nilai ujiannya dibawah standar nasional 4,50 yah memang seharusnya tidak lulus dong, jangan malah kemudian pemerintah, dalam hal ini DEPDIKNAS dituding gak becus dan bobrok. Kalau memang dari awal tidak setuju dengan Ujian Nasional, yah nggak usah ikut. Masa’ dianggap menyia-nyia kan 3tahun sekolah hanya karena 2 hari. Justru dari dua hari itulah, kerja keras selama 3 tahun belajar itu diproyeksikan apakah memang secara kualitas mereka itu ‘mumpuni’ untuk menjadi mahasiswa.

Kalau kita kemudian mengambil proyeksi yang lain, misalnya UMPTN atau SPMB yang juga ujiannya cuman 2 hari. Apakah kalau siswa yang tidak lulus UMPTN atau SPMB ini akan protes ke perguruan tinggi yang bersangkutan karena mereka tidak lulus? dengan alasan menyia-nyiakan hasil belajar mereka selama 3 tahun?

Kalau ukuran 3 tahun belajar ini dipakai, please consider dengan siswa-siswa yang berhasil lulus. Toh lebih banyak yang lulus kan? So, bangsa ini perlu belajar untuk legowo menerima hasil yang dicapai. Kalau suatu saat kita gagal, pahami lah bahwa itu adalah refleksi dari usaha kita, jangan sampai menyalahkan orang lain kecuali unsur kezaliman sangat kental didalamnya. Percayalah bahwa, seperti kata pepatah, kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Masih ada tahun depan kan?

Advertisements

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wulan said, on June 27, 2006 at 1:57 am

    Seharusnya juga pemerintah memperhatikan dampak psikologis siswa yg tidak lulus, jadi jangan aneh jika terjadi kasus bunuh diri, pembakaran sekolah, sungguh UN tidak relevan.
    murid menginginkan kelulusan, guru dan kepala sekolah tidak ingin dipandang skolahnya tidak bermutu dengan jalan jockey UN, murid diajarkan korupsi dan manipulasi… kasian generasi kita.. tp, alhamdulillah… adikku lulus 🙂

    ** senangnya kasih komen.. soalnya lagi buat makalah tentang UN nih… hihihihi..

  2. ruslee said, on June 27, 2006 at 2:29 am

    bener juga sih…tp itu hanya masalah teknis, pemerintah perlu memikirkan tindakan antisipasi untuk hal ini. semisal pengarahan psikologis sebelum UN or try out UN.

  3. Avante said, on June 29, 2006 at 1:09 am

    Masalah dampak psikologis justru semestinya orang tua yang menangani masalah ini… jangan terlalu banyak menuntut kepada anak bila diluar kemampuannya atau bila ortu sendiri “tidak pernah ada” untuk sang anak.

    Yang membuat saya miris justru mereka yang tidak lulus dan tidak kuat untuk membiayai biaya pendidikan, bagi mereka yang seperti ini terkadang mempunyai kemampuan yang sama dengan mereka yang lulus hanya saja kualitas pendidikan yang didapatkan sang anak mentok oleh biaya pendidikan yang mahal.

    Oh ya mas rusli, saya mohon maaf ya kalo di forum BF menyebut mbak… pikiran saya termanipulasi oleh nickname sampeyan yang dipikiran saya melintas gender perempuan ^^ (maaf bgt nih)

    Sudah semestinya pemerintah menangani masalah siswa2 miskin yang gak lulus ini, karena kecil kemungkinan mereka akan mengulang kembali setahun hanya untuk lulus kalau pada akhirnya mereka sudah disuruh meladang atau menikah oleh orang tuanya.

  4. Eric said, on July 3, 2006 at 1:32 am

    Gw setuju ama loe, Eng… Skrg coba bayangin aja dech… siswa yg pd protes itu kan ngakunya pada berprestasi, trus udah dapet PMDK, dll… nah se-stress2nya, se-bad mood2nya, se-sial2nya seorang siswa berprestasi, masa ya iya sih matematika sampai dapet

  5. Sartono said, on July 4, 2006 at 11:03 pm

    Gw sangat setuju dengan lu, memang cara belajar mereka yang gak lulus patut dipertanyakan. Itu baru 3 tahun, padahal kuliah itu waktunya lebih lama, tapi ujiannya cuma sehari dan sendirian lagi. Mereka yang gak lulus tapi katanya sudah diterima PMDK di salah satu PTN harusnya jangan merasa pintar dan sudah mendapat jaminan kuliah. Mereka yang merasa pintar tapi matematika kok dapat kurang dari 4.50. Padahal aku dulu jarang mendapat ranking 5 besar tapi nilai rata-2 matemaikaku tidak ada kurang dari 7, malahan hampir 8. Saya juga setuju kalo tidak diadakan ujian ulang dan kejar paket c, harusnya mereka mengulang 1 atau 2 tahun lagi.

  6. sumodirjo said, on June 14, 2008 at 3:06 pm

    komen di postingan dua tahun lalu tapi gpp.

    Benar kalau yang tidak lulus harus legowo, tapi ya itu tadi pemerintah tidak memperhitungkan dampak psikologis dll. pertanyaanya dari tahun 2003 sampai sekarang :

    1. Apakah ada peningkatan kualitas pendidikan dengan menggunakan sistem lulus yang lebih ketat? menurut saya sama saja sami mawon, gak beda, apalagi dengan KBK. fuhhh saya lebih setuju dari SD sampai SMU itu saatnya main sambil belajar dan belajar sambil bermain, tapi pastikan dasar matematika dan bahasa mereka kuat. sehingga ketika diperguruan tinggi bisa benar-benar berkembang, menggunakan otak untuk berpikir tentang ide bukan hanya menghafal dan menelan berbagai macam hal.

    2. Pernahkah sistem ujian nasional diaudit, baik dari penyajian maupun dari infrastruktur yang ada. berapa persen peluang kesalahan koreksi misalnya.

    3. Pernahkah dilakukan kajian cost benefit antara ujian ketat dengan manfaat dan biaya yang ditimbulkan?

    Entahlah, rasanya depdiknas perlu direformasi total:D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: