…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

sekali lagi tentang (hampir) rusuh Makassar

Posted in Renungan by daengrusle on May 15, 2006

Satu. Sebenarnya kerusuhan rasialis anti-Cina di Indonesia sudah sering terjadi, pada tahun 1964 pernah terjadi kerusuhan serupa di Bandung (tepatnya di kampus ITB), yang dimulai dari persoalan yang sangat sepele (kata Amien Rais; peanuts!) yakni persoalan rebutan bangku depan di kelas kuliahan di Teknik Sipil ITB antara mahasiswa pribumi dan mahasiswa keturunan. Namun kemudian, rupanya bentrok ini dimanfaatkan oleh para Spin Doctor untuk meletupkan kerusuhan anti-Cina. Linknya bisa dilihat di milis kuya sipil ITB di sini. Rusuh anti-China di Makassar juga pernah terjadi sejak tahun 1960-an sampai yang terakhir bulan September 1997 . Baca hasil reportase Tomi Leebang di sini.

Dua. Ada pendapat, lebih tepatnya dianggap dugaan bahwa keberhasilan pemuka masyarakat Makassar meredam kerusuhan (beritanya di sini) dikarenakan pemuka masyarakat Keturunan Tiong hoa di Makassar 'menyuap' pemuka masyarakat Makassar dengan uang sehingga mereka mau dan sudi turun menghimbau masyaraka untuk tidak terpancing berbuat rusuh. Pendapat ini dilontarkan oleh seorang rekan pelajar dari Singapore dengan nada tendensius dan kelihatan emosional. Hal ini mungkin terlontar mengingat, dia adalah juga salah seorang saksi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Saya menganggap bahwa hal ini tendensius mengingat beberapa fakta yang kontradiktif dan tidak sejalan dengan berita-berita yang termuat di beberapa media massa. Keluarga korban, pelajar dan mahasiswa Sinjai (IPMS), pemuka masyarakat, ulama, pendeta, polisi, bahkan Wapres turun menghimbau untuk tidak larut dalam amuk massa. Siapakah yang bisa membayar dan menyuap mereka semua untuk melakukan gerakan nurani menghimbau kepedulian dan kesadaran masyarakat? Kelihatannya bukan saatnya lagi kita kemudian menuduhkan hal-hal yang irasional untuk niat baik yang dicoba ditumbuhbangkitkan oleh masyarakat kita yang toleran (we should find 'again' our lost famous personality, right?). Kalau semua niat baik, kemudian kita generalisir dengan asumsi yang tendensius, maka kemana lagi niat dan semangat kebersamaan yang akan kita bangun kalau kita selalu menilainya dari sudut pandang yang negatif?

Sa sendiri ndak merasa perlu melihat hubungan rusuh ini dengan duit, karena bagi saya itu terlalu dangkal (shallow), lebih baik kita memfokuskan diri kepada hubungannya dengan proses asimilasi warga keturunan yang masih belum berhasil di makassar. hal ini mungkin karena kurang disadari oleh pemerintah kota Makassar mengingat ini merupakan masalah yang sangat sensitif bagi warga Makassar. memang kemudian ujung2nya adalah kembali ke masalah ekonomi semata, tapi bukan persoalan berapa besar warga keturunan mau menyuap pemerintah sebagaimana di’tuduh’kan oleh banyak pihak, tetapi seberapa adil pembagian porsi usaha kepada masyarakat pribumi.
buat masyarakat yang berlatar belakang keluarga pedagang – seperti saya ini – hal ini sangat terasa dimana jalur distribusi barang dikuasai oleh ‘mereka’. bukan karena pedagang pribumi tidak mampu secara finansial, tapi ada semacam kartel atau jalur yang diproteksi oleh rekan-rekan pedagang keturunan sehingga menyulitkan buat pedagang pribumi untuk turut bermain sebagai distributor sehingga akhirnya hanya bisa menjadi pedagang eceran biasa. belum lagi perlakuan lembaga keuangan dan birokrat yang secara stereotip menganggap warga keturunan memiliki komitmen finansial yang kuat sehingga mudah mengambil kredit miliaran rupiah dibandingkan pengusaha lokal yang dicap suka ngemplang kredit ).
anyway, terlepas dari itu semua mari kita tetap berprasangka baik atas proses pendewasaan bangsa ini….

Tiga. Ternyata si Wandi, pemuda keji pembunuh dan pemicu (hampir) rusuh Makassar itu tidak gila alias waras atawa normal menurut hasil pemeriksaan Tim Psikolog (berita Fajar baca di sini) . Jadi, kesimpulan dari tim doketer/psikolog, Wandi membunuh pembantunya dilakukan dengan kesadaran penuh. Naudzubillahi min dzalik!. Orang ini mungkin perlu di hukum mati sebagaimana dikehendaki oleh keluarga Hasniati – sang korban, namun menurut saya, hukuman ini belum pantas buat dia, ada baiknya di penjara saja seumur hidup, supaya bayang-bayang kematian korban akibat perbuatan kejinya terus menerus menghantui hari-harinya. Itu lebih setimpal. Orang feodal yang gak punya sisi kemanusiaan dan menghilangkan kemanusiaan manusia marjinal yang 'kebetulan' dibayar olehnya atas pekerjaan halal itu tidak pantas di'manusia'kan. SHIT!

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Richard said, on May 15, 2006 at 3:15 pm

    Saudara Ruslailang yang saya kasihi. Saya tidak bermaksud tendensius apa-apa. Saya ngobrol sama teman saya yang orang Makassar dan dia bercerita begitu katanya. Mungkin saja itu terjadi mengingat di Indonesia selalu seperti itu kalau uang banyak bicara. Ya seperti kata anda ternyata si wandi gak waras, mungkin saja keluarganya si wandi pake uang menyogok kepolisian supaya bikin statement kalo si wandi gila.
    Dan sungguh saya ingin perdamaian yang sesungguhnya antara semua suku di Indonesia ๐Ÿ™‚ Anyway serem juga posting anda dengan mencantumkan nama saya langsung.

    Well, saya akui saya suka emosional dan impulsif. Anda juga emosional kan pas denger si wandi gak gila dengan mengusulkan kalo si wandi dibuat menderita aja sekalian. Hehe. Dan saya berusaha memperbaiki keburukan saya yang satu ini. Anyway saya ada hobi berargumen ala Socrates, saya rasa in the future kita bisa saling bertukar pandangan secara kritis. Salam. Boleh email saya secara langsung, tapi saya jarang buka email kalo di Jakarta.

  2. ruslee said, on May 15, 2006 at 11:53 pm

    rekan richard, sebenarnya yang mempopulerkan ‘nama’ anda itu tempo interaktif (blog anda terpilih sebagai blog of the weekend karena memuat kronologis kerusuhan mei 98 secara detail), so saya cuman ikut2an aja mencantumkan nama anda…
    but mungkin emang gak wise..OK, ntar aku hapus namanya yah.. (thanks udah mengingatkan…)
    hanya saja mungkin dgn ini saya mengajak Anda untuk menampilkan sisi Indonesia yang teduh dan toleran, so gak usah ada lagi tulisan yang provokatif dan tendensius, OK?
    pesan Ini juga berlaku buat saya, kok ๐Ÿ™‚
    peace!

  3. Andi Noer BM said, on May 16, 2006 at 4:59 pm

    Sekeder koment sedikit mas ruslee’,.. ternyata qt rajin ngeblog juga ya. bagus itu.. Tentang kerusuhan, itu “lumrah” saja terjadi. Khususnya didaerah Makassar yang kita cintai bersama. Mengapa masih terjadi? Yah mungkin faktor yang saya rasakan sendiri adalah kecemburuan-kecemburuan yang ditimbulkan akibat ketidak merataan pengasilan alias UANG (mungkin benar juga kali ya tulisan dari pak Richard tentang kekuasaan uang (lagi-lagi pake uang-diam-diam saya baca blognya juga, cuman saya belum tau bagaimana bikin URL nya biar kalo diklik langsung bisa ter FWD, bisa diajari ces?). Etnis Cina identik dengan kaum yang banyak “duit” (walaupun tidak semua orang Cina kaya) dan orang pribumi hanya bisa jadi “pembantu rumah tangga”.

    Sentimen anti Cina waktu masih sekolah di SMANSA sangat terasa. Saya juga tidak tau kenapa. Apalagi kelas ku dulu 1-11 banyak keturunan Cina-nya, maka selalu muncul perasaan tidak tenang dikelas, karena sedikit-sedikit diserbu kelas 3. sebagai Senior disekolah, yang datang dengan satu misi, berjualan secara paksa, dan kebayakan yang korban adalah teman kelas yang keturunan itu.

    Kasus ini saya rasa adalah suatu upaya pembuktian identitas aja. Kita tidak punya duit, tapi kita punya pa’bambangan na tolo. hehehe..ehhe
    intinya sih kita krisis identitas saja. Pengen di akui sebagi tolo (baca: bos didaerah sendiri).

    Any coment?

  4. ruslee said, on May 17, 2006 at 12:34 am

    alhamdulillah, blessing in disguise karena di kantor lagi ‘kurang’ kerjaan makanya daripada ngelamun jorok mending berkreasi di unia virtual ๐Ÿ™‚ lagian sa baru sebulan ini kenal blog itupun karena baca artikel tentang senior ku di ITB yang jadi raja blogger indonesia ‘bang enda’.
    tentang rusuh makassar, sebenarnya ini tulisan kedua tentang ini, kalo qta baca lagi ke bawah ada artikel awal yang juga menceritakan tentang ini dan sedikit sentilan mengenai kebiasaan kita dulu di SMANSA Makasar.
    Sa sendiri ndak merasa perlu melihat hubungan rusuh ini dengan duit, karena bagi saya itu terlalu dangkal (shallow), lebih baik kita memfokuskan diri kepada hubungannya dengan proses asimilasi warga keturunan yang masih belum berhasil di makassar. hal ini mungkin karena kurang disadari oleh pemerintah kota Makassar mengingat ini merupakan masalah yang sangat sensitif bagi warga Makassar. memang kemudian ujung2nya adalah kembali ke masalah ekonomi semata, tapi bukan persoalan berapa besar warga keturunan mau menyuap pemerintah sebagaimana di’tuduh’kan oleh banyak pihak, tetapi seberapa adil pembagian porsi usaha kepada masyarakat pribumi.
    buat masyarakat yang berlatar belakang keluarga pedagang – seperti saya ini – hal ini sangat terasa dimana jalur distribusi barang dikuasai oleh ‘mereka’. bukan karena pedagang pribumi tidak mampu secara finansial, tapi ada semacam kartel atau jalur yang diproteksi oleh rekan-rekan pedagang keturunan sehingga menyulitkan buat pedagang pribumi untuk turut bermain sebagai distributor sehingga akhirnya hanya bisa menjadi pedagang eceran biasa. belum lagi perlakuan lembaga keuangan dan birokrat yang secara stereotip menganggap warga keturunan memiliki komitmen finansial yang kuat sehingga mudah mengambil kredit miliaran rupiah dibandingkan pengusaha lokal yang dicap suka ngemplang kredit ๐Ÿ™‚
    anyway, terlepas dari itu semua mari kita tetap berprasangka baik atas proses pendewasaan bangsa ini….

  5. Teja Wahyudi said, on July 15, 2006 at 5:13 am

    Hi..mas Ruslee, hanya komentar saja atas tulisan anda yg menarik ini. Jujur saja, saya banyak bergaul disemua kalangan baik pri maupun cina2.
    Banyak persepsi kita salah tentang cina2 di NKRI yg begitu beragam baik suku dan strata ekonomynya.
    Sebegitu “BENCI”nyakah kita kepada cina2 ini?
    Kalau ada cina (oknum) yg membunuh, memperkosa atau berbuat yg negatif terhadap pribumi..jadi GEGER deh (rusuh atau gimane gitu).
    Sedangkan kalau kita mau jujur, setiap manusia dibumi ini pasti ada yg : baik, jahat dan abu2.
    Tdk terkecuali juga dgn cina2 ini diseluruh NKRI.
    Mengenai “dagang” dsbnya, ini semua gara2 rezim ORBA yg sangat diskriminasi, membatasi mereka disegala bidang selain :DAGANG!. Jadilah cina2 di NKRI semua NO CHOICES jadi pedagang (95%).
    Dari temen2 cina2, kalau ditanya mau jadi apa rata2 ingin jadi pedagang.
    Rezim ORBA ini hebatnya: pelihara konglomerat2 ini jadi SAPI PERAHAN!. Makanya ada pendapat dari kawan2 kita, cina2 hanya main “DUIT”, padahal mereka itu di PERAS ( baik halus maupun kasar). Ada diantara mereka bilang: bosen jadi pedagang…( diperas, makan ati, pusing sola pajak, rusuh dsbnya), pengen mereka kerja dikantor/jadi pegawai negeri dsbnya.
    Padahal kenyataannya, tdk semua cina2 ini kaya atau jadi pedagang.
    Pengalaman saya pribadi, digang2 jkt…wah banyak cina2 miskin papah. di Tanggerang…cina2 benteng (kulit coklat) miskin2 dan kebanyakan hidup jadi buruh dan tani. Di Singkawang…banyak amoy2 yg jadi WTS akibat tekanan ekonomy. Banyak lagi kalau kita mau SURVEY dgn HATI TERBUKA.
    Saat Reformasi, mahasiswa cina2 ada yg jadi Pahlawan reformasi, tapi mengapa masih cina2 dijadikan sasaran ketika rusuh mei 98 yg meluluh lantakan cina2 dikota2 besar (dibakar, dibunuh , diperkosa dsbnya).? Kalau kita punya “hati sanubari yg sehat” dan ” beriman”….cina2 diperlakukan sangat BIADAB!
    Lupa kita akan, jasa2 mereka ikut membangun NKRI…dr sumpah pemuda, sampai panitia persiapa kemerdekaan, perundingan meja bundar, ikut membantu NKRI melawan Belanda …banyak lagi (setelah baca sejarah2 cina2 di NKRI, baik dr TEMPO maupun media lainnya).
    Mereka2 sendiri (pedagang kecil dan menengah) tdk suka dgn cina2 konglomerat yg penuh KKN.
    Karena waktu rusuh, cina2 kecil dan menengah ini yg kena GETAHNYA!.
    Ada yg bilang: cina2 ini hanya mau bergaul dgn suku2nya. Itu wajar saja, human being behaviour yg lebih kerasan dgn sukunya.Tapi generasi muda cina2 ini, saya liat sudah bergaul dikampus2/kantor2. Kitapun begitu bukan lebih kerasan dgn suku2 sekampung/sebahasa? Jujur saja, apakah kita juga kerasan atau akrab dgn suku2 di IRIAN ? Apakah kita mendengar dan tau penderitaan mereka disana?
    Dari tulisan2 saudara2 kita….sebaiknya apa yg harus dilakukan utk MEMBANGUN NKRI yg faktanya banyak suku2 dan budayaini.
    Apakah karena cemburu kita jadi BUTA dan mudah rusuh dsbnya?
    Lalu akan selalu begitukah…kedewasaan kita hanya karena pandangan yg shallow itu?
    Dari pengalaman Teja diperantauan (amrik), memang harus di akui etnis cina ini ….lebih excell disegala bidang. Apakah ini karena di DNA mereka atau hard work?
    Dari survey, rata2 cina2 di amrik lulusan Universitas dan berpenghasilan tinggi menyamai bule2. Bahkan di-UC berkley saja, mereka mendominasi di hard science dan paling banyak diterima.
    Interestingnya, mereka tdk semua hobbi dagang ( seperti di NKRI), tapi mereka ada disegala lapisan masarakat (polisi, buruh, pejabat, science dsbnya).
    Balik ke ASIA, Hongkon, Taiwan, Macau, SIngapore, Malaysia (35% cina)….rata2 ekonomy mereka lebih maju dan develop. Mengapa?
    Mengapa kita tdk bisa begitu memperlakukan cina2 sebagai salah satu anak bangsa dgn segala kelebihan dan kekurangannya…layaknya anak2 bangsa lainnya.
    Kalau memang sebegitu BENCInya kepada cina2 di NKRI ini…mengapa tdk kita …kirim mereka ke pulau kosong (ratusan pulau di NKRI yg tdk berpenghuni)? Karena mau dikirim kemana lagi? semua mereka sudah jadi WNI.
    Kalau Malaysia bisa memutuskan hubungan federasi dgn SINGAPORE yg majoritas cina2 itu kepulau gersang “SIngapore”. Mengapa kita tdk bisa?
    Yg jadi masalah, apakah kita bisa hidup/survive TANPA cina2 ini di NKRI? nah ini…tolong dipikirkan?
    Kadang saya pikir, apakah enak sih..jadi cina2 ini di NKRI? Yg taunya dagang….kalau keributan dikit…tinggal tunggu waktunya RUSUH, di PERAS dan diPERMAK!.
    AMIT2….deh.

    kata orang2 bijak: “The truth will set us FREE”
    Salam

    Peace


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: