…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Dia sedang menulis puisi di pangkuanNya

Posted in sahabat by daengrusle on February 7, 2010

Kejadian ini kira-kira terjadi di penghujung tahun 1992, di sebuah ruang kelas yang riuh di Makassar. Kami bercakap biasa seperti lazimnya anak-anak remaja. Hanya yang membedakan adalah bahwa kami tak saling memandang. Tidak ada eye-contact. Saya duduk membelakanginya, satu bangku persis di depannya, menghadap papan tulis seakan-akan berbicara padanya. Dia merespon bicara saya seakan-akan berbicara pada bagian belakang kepala saya. Obrolan yang singkat, namun suasananya agak tegang. Juga cemas.

“Akhi, beberapa guru menegur kita soal keluar kelas saat azan dzuhur” katanya cemas. Saya tahu, dia menyoroti perilaku teman-teman yang lagi marak saat itu, termasuk dia.

”Begitulah ukhti, ajaran agama kita mewajibkan kita meninggalkan urusan dunia ketika panggilan sholat sampai ke telinga kita” jawabku mantap.

”Akhi, tapi bukankah kurang sopan kita semua bergegas keluar justru ketika guru kelas sedang berdiri di muka kelas memberikan pelajaran?”

”Ukhti, tidak ada yang lebih penting daripada panggilan Allah!”

”Akhi, kalau demikian ajaran agama kita. Lantas untuk apa Allah memberi jeda waktu antara sholat yang satu dengan yang lainnya. Bukankah ada waktu antara Dzuhur dan Ashar untuk memberi kesempatan yang belum melaksanakan kewajibannya?

Saya tersentak oleh argumennya. Betul juga, ujar saya dalam hati.

Meski merasa kata-katanya menohok cara beragama saya, tapi tak lantas membuat saya menyerah. Bebal.

”Ukhti, saya tetap akan keluar kelas untuk shalat tepat waktu!”

Demikianlah, selepas obrolan singkat itu kami kemudian mencoba memaknai ulang semua hal. Kami masih muda, remaja, dan antusias, terutama pada sistem yang paling ideal yang disuapkan oleh orang tua kami. Antusiasme kami memperoleh saluran yang ngelotok. Kepala kami kemudian dicekoki oleh sistem nilai ideal bernama agama.

Halaqah atau kelompok kajian yang kami ikuti terkadang tidak memberi kami banyak pilihan, tapi menyuguhi banyak ancaman. Di mata kami saat itu, agama adalah sistem nilai yang ketat yang seakan hanya punya empat hal: halal haram dan surga neraka. Agama bukan soal bagaimana menikmati hidup, tapi bagaimana menghindari sumur-sumur dosa. Agama tidak memberi toleransi bagi satu detik hidup yang terbuang sia-sia, karena kesia-sia-an adalah dosa.

Kami tidak banyak memberi ruang untuk kebajikan lainnya, apalagi yang tidak punya dasar nash. Dalil akal, meski diakui tapi tak mesti dituruti, bahkan sebaiknya dihindari. Akal manusia selalu ada batasnya, meski tak pernah ada yang memberitahu sampai dimana batasnya. Akal manusia bahkan terbukti banyak menyimpang. Karenanya patut dicurigai. Meski dasar kecurigaan itu juga bersumber dari syak wasangka yang diolah oleh akal.

Tidak banyak kawan seiring yang berhasil mengatasi antusiasme yang ditunggangi oleh sistem nilai yang super-ketat itu. Beberapa kawan masih bisa melakukan filtrasi atas semua suapan yang meluap ke ruang pikirnya. Satu demi satu kawan seiring bergabung untuk sekedar menahan laju doktrin yang seakan tak terkendali. Kami kemudian membentuk kumpulan pendebat yang tangguh tapi tetap dalam gravitasi religius. Meski tak penting untuk merasa menang, tapi kami mempertahankan perkawanan hingga berpuluh tahun kemudian.

(more…)

Tagged with: ,

Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum

Posted in feature, My Self-writing, sahabat by daengrusle on November 3, 2008

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.