aku lupa kalau pagi ini bermula tanpa puisi
:: untuk “n”
aku lupa kalau pagi ini bermula tanpa puisi
ketika kulihat belantas menguning meski lepas dimandikan pagi
pokok cemara seperti enggan pucuknya disapa embun
burung-burung bisu menyambut lambai mentari yang rabun
aku lupa kalau hari ini semua orang ramai mengumpul ingatan,
terkenang-kenang pada semua kepingan waktu
membuat bingkai pada kenangan yang disukainya
dan orang-orang mulai membekukan masa
aku lupa membungkus doa ketika kulewati jejeran pusara
yang seketika riuh oleh para penziarah
kudengar nama-nama didengungkan samar
aku yang khawatir namaku disebut, menggegas langkah menjauh
aku berlari menuju hutan yang tak lebat,
mendapati pinus yang meranggas
ranting-ranting yang mengering, seolah tak berbusana
di bawahnya, seekor rusa mengais rerumputan kuning
ditengah hutan ada perigi berwarna buram
airnya tenang berwajah pias, riak-riak gelisah dimainkan angin yang muram
aku tak melihat ada ikan yg bermain di permukaan
kecuali sepasang katak yang saling berpandangan
parit hitam di bawah bukit, menjadi pita yang merangkai semua sepi
menghanyutkan tangis pinus dan ikan-ikan
dan rapal rindu para penziarah
pada nama-nama yang didengungkan samar
bisakah aku membeli sepi mu
dengan sebuah pelukan?
::bonto biraeng, suatu pagi::
Bonto Biraeng, suatu pagi
ketika wangi rumput menebar aroma basah dan tersapu harum kuntum kamboja
segenggam debu dari tanah yang basah membawa sejumput cerita
maka bergemuruhlah bumi yang dihentak para tubarani butta mangkasarak,
tanah maradeka dimana angin utara nan terasing berlabuh menyambut lambai passapu
setiap kali pabbicara butta mengangkat telunjuk menyapu satu noktah di laut sejajar bandar Somba Opu
memekik satu wasiat ammannagappa yang membuat bergidik bangsa atas angin; mare liberum!
sebutlah Campa, Golconde, Pantai Marege dan Madagaskar, dan bandar-bandar yang jauhnya jutaan dayung
negeri yang kisahnya riuh terbawa layar dan kemudi para pengelana lautan
atau terserak diantara bualan pelaut tua mengantar lelap di balik selimut malam,
betapa dulu para pelaut mangkasarak sudah pernah menitip jejak di ranah asing itu,
di atas maccini sombala, mata pabbicaa butta melempar sauh lepas pandang ke langit
memanah bentang rentang tak berukur, mengira-ngira berapa ratus malam lagi ia kan bermandi cahaya
membusungkan dada-makassar yang membuat perahu-perahu hongi karam sebelum mencuri rempah maluku
ya, meriam anak-Makassar yang konon terbesar se-nusantara menanam jejak kengerian di kepala para penjajah
belasan tahun berselang, ketika butta pabbicara bersemayam sendu di tanah Bonto Biraeng
bandar yang padanya ia menanam hasrat merangkum dunia, tercabik oleh perang yang runyam
oleh sebuah persekongkolan rumit; ketamakan, dendam, dan amarah,
armada Belanda, Bone, Ternate, dan Buton mencabik-cabik negeri yang di salah satu ruangnya
mendekam teleskop raksasa bikinan Joan Blaeau, dan bola dunia tembaga dari Eropa, satu diantara tiga yang dimiliki dunia kala itu
setelah sekian ratus malam yang penuh cahaya, udara tak lagi beku, mencair dalam amis darah dan pekikan
maka menangislah rumput, ilalang dan beluntas di atas pusara bonto biraeng
menepikan butta pabbicara di penantian panjang, terkenang-kenang pada bandarnya
yang kini bergegas lari, diantara riuh muda-mudi ber-gadget,
tak ada pekik amannagappa lagi.
::selarik bentang tak berukur::
orang-orang riuh ketika penanda-penanda itu senyap
seumpama rimbun pohon yang terpangkas,
atau genta yang tak lagi berdentang
yang tertinggal adalah lambai tangan yang makin menjauh
dan bibir-bibir tersenyum menyisakan cerita untuk dikenang
tak ada lagi warna dan gambar yang sama,
nama-nama yang sama, di jarak pandang yang sama,
tak nampak lagi
penanda itu kini dua kata yang asing; “kami” dan “mereka”
meski tak ada jarak, kita seakan terpisah jauh
itu cerita berbulan silam,
ketika ramai berita tak-teringinkan itu melindap kita dalam cemas
membawa angin tanya melibas siapa dan apa saja
dan mendudukkan kita di tempat dimana kini kita berada
kita benar terpisah oleh sesuatu,
tapi kita juga kemudian menjadi sangat dekat
oleh sesuatu yang lain
sesuatu yang dekat,
selarik bentang yang tak berukur
diam menyusup mencari celah di labirin yang kosong, di hati kita
seumpama gambar yang berkelebatan tak terbendung
atau kidung yang sahut menyahut
mencari jejak yang dulu miliknya,
kita menyebutnya; kenangan
kenangan,
tiba-tiba membuat kita kembali menapak
mencari asal tempat dulu mengikat simpul yang konon abadi
dan kita coba memastikan itu benar adanya
menjejakkan semuanya surut ke asal kita kembali,
bukan untuk menegaskan keterpisahan itu
atau menggali penanda yang asing itu,
tapi mengikat simpul yang lebih kuat, mesti kuat
bahwa kita sebenarnya awalnya satu belaka, akhirnya pun satu.
::: kita, tanpa ada kami, atau mereka.
dalam waktu dekat, di sebuah peron
::gerbong riuh
saya, yang hanya berbekal mungkin, tersamar pada gundah selasar peron setasiun tua. cemas menerka gumam dari lintas kereta dan gerbong yang riuh itu.
::diatap nasib
di atas atap yang bertelingkup pada kabel listrik bertegangan, kujumpai wajah-wajah nanar menanti nasib. hendak sampaikah menjejak pulang, atau terpapar kematian yang bodoh. berselimut tangan, menekuk lutut, mereka mungkin sedang asyik membincangkan sinetron yang sedang tayang di kala primetime, tapi nasib juga sedang bergerak mendekat mengais petaka diantara jeda hidup atau mati, milik mereka. sedetik saja angin menggoyang badannya, atau tempias hujan iseng menyiramnya dari sekelebat pancaran listrik itu, maka nasib menjadi pantas dijejalkan.
::di gerbong sesak
mereka, yang megap mencari ruang selapang dua lubang hidung, terserak diantara pengab dan sesak, dan bau dari semua jenis peluh. dalam mana norma persentuhan sudah nihil adanya, ruang dan antara menjadi barang mahal, dan keluh kesah jadi niaga yang murah. tangan-tangan gelisah mencari dinding atau apa saja yang bisa disangkutkan, mencoba selamat dari lembam gerbong berderak. sejatinya semua menjadi mahfum, itu demokrasi dimana nasib kaya miskin tergencet oleh buta-ruang. sempit, bahasa umumnya.
::di pintu masuk
tak ada yang bisa diceritakan, selain bahwa pintu masuk menjadi semacam khayalan semua orang, di kereta yang sesak, dan rindu pulang ke rumah biar lega mendekap dan napas tak perlu memburu.
Foto: Crack Palinggi/Reuters
Membaca Aan, pelukis kata-kata

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya – dengan bermaksud ikut meniru – menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam – umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 – maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!
Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? – tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.
Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi – mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).
Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk – Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.
Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.
Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisi
Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.
Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.
[sanjak] Kepada siapa kemudian mereka berpaling?
di balik dinding kardus yang lapuk oleh basah dihempas hujan bergelontor-lontor, ia merapat badan menjentikkan jari mengukir lukisan dengan pensil tumpul, menggambar dirinya yang tirus dibekap hangat oleh tangan lembut yang dirindukannya. Ia ingat pernah guru ngaji di langgarnya bercerita indah, – hati sang suci ada bersama kaum seperti dirinya. lamat-lamat bibirnya yang kering tertarik melebar, mengukir senyum. syahdu. dibayangkannya sang suci tersenyum indah padanya. dan ia memeluk bayangan itu sehangat bantal empuk saat lelap dikelon emaknya, dulu. ah, betapa ia rindu padanya, pada sang suci, pada emak, pada ketulusan, pada semua impian. impian yang musykil saat ini.
dibawah atap daun rami yang menguning, lunglai dan tempias, sekali ditadahkan tangannya mengemis air yang lindas dari langit lepas, membayangkan cucuran suci seperti yang dulu dinikmati sesahabat me-wudhu-kan wajah dan tangannya. matanya mengatup mesra seperti sedang kasmaran dengan bayangannya sendiri. dari selembar buletin yang dikaisnya dari sampah langgar, ia pernah membaca; sang suci akan memberi syafaat buat umat yang membenamkan cinta untuknya, menunggunya dengan setia hingga perjumpaan indah di al-kautsar, telaga berisi madu dan susu. setiap saat dibisikkannya shalawat, setiap saat sejak itu. ia sering bermimpi telaga al-kautsar seindah gambar danau bening dari kalender usang yang ditempelkan didinding kardus gubuknya. semua hijau segar, ada lima angsa yang bermain, dan tiga burung bangau putih beterbangan riang di langitnya, menepis awan yang turun menyapa mesra. disana, mungkin, ia akan minum segarnya air telaga beraroma madu dan susu bersama sang suci. indah sekali. matanya tertangkup selama ia menikmati terbuai khayalan.
pulang tepat waktu
gerbang-gerbang itu laksana selempang pada bahu mu
disanding malas seperti putri ayu merindu tepukan
aku dipaksa menatapnya, dan [merasa] dirayu tuk menggodamu
tapi aku hendak pulang tepat waktu
disana
ada gerbang cantik menunggu riang
cengkareng, 11.11wib
rindu pusara
jika aku kembali padamu, pada kesekian kali
duduk menjamah remah tanahbasah oleh airmataku sendiri
sungguh aku tak maksud membuatmu hanyut dari hati
mengumpamakanmu hanya terbujur dibalik pusara ini
aku hanya hendak mengenangkan tubuhmu
melihat sendiri tanah yang menyelimuti ketenanganmu kini
bahwa ketiadaanmu bukanlah mimpi ku, sendiri
agar kuyakin memindahkan namamu ke dalam doaku, sungguh
balikpapan, 24feb08

2 comments