2012: Kiamat, Mama Lauren dan Kita

Ada persamaan kentara antara sejarahwan dan ahli nujum, keduanya membicarakan hal-hal yang tidak pernah dialaminya sendiri. Kalau sejarahwan memaparkan ‘temuan’nya dengan mengambil kutipan-kutipan terserak yang bersumber dari masa lalu, maka ahli nujum – beken dengan sebutan paranormal, menyendok ‘ramalan’ masa depan dari penerawangannya. Meski sejarahwan melandaskan analisisnya dari sebuah hasil studi yang ilmiah, namun ia tidak mampu menghadirkan gambaran utuh seperti apa masa lalu.
Mahfum kita pahami bahwa kutipan-kutipan sejarah adalah tetulisan atau kronik dari pihak pemenang, sebagai bagian dari propaganda atau justifikasi pembenaran mengapa para pemenang sejarah membunuhi lawan-lawannya. Para pecundang tentu saja tak sempat menuliskan sejarah dari perspektif mereka, karena keburu habis ditumpas jawara zamannya. Kecuali, beberapa tetulisan saja dan tergolong sedikit yang bisa diselamatkan pihak pecundang. Meski begitu, arus besar penulisan sejarah tetap didominasi oleh para pemenang, hingga seakan-akan itulah fakta sejarah.
Demikian juga halnya dengan ahli nujum. Meski keberadaannya sering diidentikkan dengan semua hal berbau klenik dan dengan demikian, menjadi musuh agama dan para ilmuwan, ramalan mereka masih mendominasi ruang pikir masyarakat. Meski dalam banyak hal, ilmuwan dan ahli agama juga gandrung soal apa yang akan terjadi di masa depan. Kalau ilmuwan menyebutnya sebagai prediksi, maka ahli agama -dengan bersandar pada penafsiran religiusnya – menyebutnya nubuwat. Sedang ahli nujum, penerawangannya betapapun kelihatan meyakinkan, menyandarkan pada hal-hal yang sangat subyektif. Suka tidak suka, dalam beberapa hal ahli nujum dan ahli agama bersaing merebut ‘iman’ orang per orang. Masyarakat yang kadar intelegensianya beragam, memiliki tingkat akseptibilitas yang juga berbeda.
(more…)
Doa Para Bedebah
Tuhan, di balik namaMu aku berlindung, dari serapah jutaan hambaMu yang murka
agar kutukan tak lantas menjadi doa, dan bebanku tak terlalu berat di neraka nanti
Tuhan, padamu aku mengharap, segerakan mereka terbenam dalam samudera lupa
agar aku bisa terbebas hari ini, biar besok lebaran bisa saling maaf-maaf-an lagi
dan aku leluasa berucap mantap: mulai dari nol lagi ya? Asik
Tuhan, mohon ampun kan aku yang sesekali bersumpah atasMu
karena saat itu aku kejepit jutaan caci-maki
aku mesti sedikit ngeles, sumpah tak pernah terima uang
tapi kalau check dan harta lain sih, oke dong
Tuhan, aku tahu Kau Maha Pandai, makanya aku coba meniru
kubilang tak terima duit 10Milyar, tapi lebih dari itu sih iya
tapi aku jujur kan, Tuhan..
Tuhan, karuniailah kebesaran hati buat para wakil rakyat,
agar senantiasa kuping mereka kebal menerima keluhan, tapi bebal menerima sogokan
Tuhan, kalau Kau lihat airmataku, tentu itu refleksi kesedihanku
karena anak istriku menjadi terkurung, musabab aku jadi pesohor para bedebah
buatlah mereka jera mengikuti langkah laknatku
Aku akan bertobat Tuhan, tapi nanti setelah usia di bibir senja
dan tak ada lagi yang bisa aku tipu
Tuhan, sebelum aku bertobat,
kumohon abadikan sifat pelupa bagi rakyat negeri bedebah ini. Amin.
Hari Ini Kita Halal Ber-Sumpah Serapah!
Hari-hari belakangan ini kita ibarat disuguhi drama tragis mengerikan. Sinetron Indonesia yang isinya caci maki yang terkesan lebay kalah jauh sama reality show Kampret Anggodo dan konco-konconya. Kampret Anggodo yang bebas ngomong semaunya dalam sebuah acara di stasiun TV secara live bukan cuman membangkitkan amarah angkara murka, tapi juga sifat muak teramat sangat. Benar kata Adhie M Massardi dalam puisinya, negeri ini negeri yang dimpimpin kaum bedebah, dikelilingi oleh para begundal yang mencabik-cabik rasa hormat dan harkat martabat bangsa sebagai masyarakat religius, tepo seliro dan bertanggung-jawab.
Meski Chandra – Bibit sudah ditangguhkan penahanannya, tapi bangsat Anggodo itu masih berkeliaran dengan bebas tanpa ditahan, berkebalikan dengan perlakuan Polisi terhadap ikon baru masyarakat Inodesia, pahlawan anti korupsi Bibit-Chandra. Sementara dua penjabat yang gaji, fasilitas sampai celana dalamnya dibiayai oleh rakyat lewat pajak; Susno Duadji dan Abdul Hakim Ritonga, masih saja merasa tak bersalah dan tidak punya kemaluan, sampai mesti presiden SBY sendiri memerintahkan Kapolri dan Jakgung untuk menon-aktifkan kedua penjahat hukum itu. Itupun SBY butuh trigger sebelum tergerak untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya itu; issue mundurnya Prof Hikmahanto, Anies Baswedan, dan Prof Komaruddin Hidayat.
Hari-hari belakangan ini, kita seperti halal untuk bersumpah serapah. Semua makian dan cacian layak kita sematkan kepada semua oknum pejabat dan cukong yang sudah mencederai kepercayaan masyarakat atas azas keadilan yang harus ditegakkan. Alih-alih aparat hukum ini menegakkan keadilan dengan melindungi kerja kerasa para pemberantas korupsi, ini malah memenjarakan mereka dengan tuduhan mengada-ada. Di sisi yang berseberangan mereka malah melindungi dan menganak-emaskan cukong bangsat dan bandar narkoba, yang mungkin sering kali menyuapi aparat itu dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi. Seakan hidup hanya di dunia saja.
Hari ini kita halal bersumpah serapah. Seperti sumpah serapah Tuhan untuk para penjahat legendaris seumpama Muawiyah, Yazid, Abu Jahal, Abu Lahab, Firaun dan Namrudz.
Orang-orang seperti dua bangsat bersaudara Anggodo dan Anggoro, Susno Duadji, AH Ritonga, Ong Yuliana, OC Kaligis, dan beberapa nama lainnya layak masuk Hall of Fame di kotak serapah sejarah kita. Laknat dan kutukan layak kita sematkan ke dada mereka!
Pajak dan retribusi yang saban bulan kita gelontorkan dengan ikhlas atau terpaksa dengan semena-menanya mereka rayakan untuk sebuah persekongkolan jahat. Hitunglah pajak yang dipotong dari jerih payah kita semua, dari hasil keringat dan puter otak kita demi menghidupi keluarga, dibelanjakan untuk sebuah permainan kotor nan memuakkan. Besaran pajak itu mungkin jauh lebih besar dari total pengeluaran untuk membeli susu dan makanan bayi kita, atau juga jauh diatas UMP buruh kecil di pinggiran kota.
Ada lagi anak-anak muda polisi macam Evan Brimob yang menulis status di facebooknya dengan arogan: polisi tak butuh masyarakat, tapi masyarakat butuh polisi. Ini kebobrokan institusional, dan menunjukkan betapa memuncaknya sebuah kemaksiatan melingkupi insitusi penegak hukum. Sebenarnya layak kita kasihani, betapa polisi muda macam Evan ini otaknya sudah dipenuhi embrio kemunafikan dan arogansi…jadi jangan heran kalau atasan mereka juga tidak kalah arogannya.
Kunyuk Anggoro Anggodo, Susno, Ritonga, Kaligis, Bonaran Situmeang, dan semua yang terlibat, semua buaya anjing buduk bedebah jiancuk tailaso!!!
!!!!
Mama Lauren: Kekaguman di Kotak Kaca
Tak ada yang membuka bendala kekaguman saya lebar-lebar pekan ini selain seorang Mama Lauren. Sampai saya mesti mengungkapkan rasa kagum itu kepada teman-teman sekantor, dan beberapa kali mengutip quote dari sang Mama. Tiga malam lalu saya menyaksikan salah satu iklannya di televisi, ketika dengan tenangnya sang pesohor dalam hal ramal-meramal itu menyatakan bahwa ia mengetahui akan ada kejadian-kejadian tertentu di tahun mendatang.
Kasyaf! Saya tiba-tiba teringat kata itu. Dan serta merta sibuk membuka simpul-simpul memori yang ada dalam kepala. Seingat saya, seorang kasyaf adalah seorang yang tercerahkan. Padanya Allah Yang Maha Pandai menitipkan beberapa pengetahuan khusus yang sifatnya sangat selektif, berupa petunjuk-petunjuk di masa depan. Seorang yang kasyaf biasanya bisa melihat sedikit dari masa depan. Nabi Yusuf as, Nabi Nuh as, dan Nabi Muhammad SAWW adalah beberapa diantara sekian manusia terpilih yang punya kemampuan itu. Beberapa orang saleh yang dikeramatkan sebagai wali juga banyak dikabarkan orang punya kemampuan itu. Nubuwat mereka bukan isapan jempol belaka, karena bersumber dari Sang Pemilik Waktu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi dari masa nol hingga masa akhir.
Mama Lauren, atau bolehlah saya ubah sedikit panggilannya menjadi lebih keren: Ummu Lauren, kiranya tergolong manusia khusus. Pengetahuannya tentang masa depan bisa memasukkan dirinya kepada segolongan kecil manusia yang kasyaf. Penerawangannya tentang masa depan tentu akan banyak membantu manusia lainnya untuk memilih takdirnya. Apalagi akhir-akhir ini Indonesia banyak tertimpa bencana gempa atau kasus-kasus terorisme. Dengan bantuan ‘pengetahuan’ Ummu Lauren ini, tentu masalah pemerintah bisa banyak teratasi, bahkan sebelum terjadi.
Kalau Ummu Lauren bisa meramal gempa akan terjadi di daerah tertentu pada waktu tertentu, maka pemerintah bisa meminimalisasi korban dengan segera mengevakuasi penduduk daerah itu. Atau kalau benak sang peramal melihat ada aksi terorisme bakal terjadi di hotel mewah, maka dengan segera Densus-88 bisa dikerahkan untuk mencegah sang teroris meledakkan hotel tersebut. Korban nyawa dan reputasi Indonesia tentu bisa diselamatkan. Ah, betapa mulia-nya peran seorang Ummu Lauren bagi masyarakat ini. (more…)
Maryamah Karpov: Sekali ini Roman Picisan?
Akankah Novel ini kembali inspiratif?
Andrea Hirata kembali lagi, setelah lama ditunggu dan mendahulukan edisi englishnya dirilis, novel ke-empat dari tetralogi Laskar Pelangi yang bertajuk “Maryamah Karpov – Mimpi-mimpi Lintang” akhirnya dihidangkan ke khalayak pembaca melalui peluncuran awal 28 November 2008. Mereka yang sudah dari awal – mungkin sejak pertamakali novel ini dipopulerkan oleh Andy F Noya lewat tayangan talkshow kondangnya bertajuk Kick Andy – menggemari novel menggugah ini, atau yang mulai menggemari sejak filemnya tayang di seluruh Indonesia tentu sudah tak sabar melahap serial pamungkas setebal 518 halaman yang kabarnya dilunaskan Andrea Hirata hanya dalam sebulan saja. Setelah sempat membuat penggemarnya kelimpungan menanyakan tanggal terbitnya novel ke-empat ini, sambil menikmati film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana yang kemudian menjadi box office kedua setelah Ayat-ayat Cinta, akankah novel akhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menjadi klimaks dari tiga novel sebelumnya; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor?
Para pembacanya tentu telah menyiapkan diri untuk kembali tergugah-bahkan kalau perlu terisak isak oleh sebuah memoar pengalaman hidup yang bisa dibilang sangat miskin fasilitas namun kemudian menyeruak menjadi sebuah pencapaian luar biasa. Tiga novel sebelumnya sungguh dipenuhi dengan cerita yang inspiratif dan mengundang kekaguman bagaimana seorang atau beberapa orang yang jauh dari deteksi kuadran keberhasilan namun kemudian diceritakan ternyata mampu mengorbit dengan sukses di salah satu koordinat cita-cita. Novel-novel sebelumnya memang meyakinkan pembacanya, bahwa bercita-cita tentu tak pantas dibilang bermuluk-muluk ria karena semuanya bisa tercapai adanya. Si tokoh Ikal yang menjejak sekolah formalnya di sebuah SD Muhammadiyah Gentong Belitong yang lebih pantas menjadi kandang kambing, akhirnya mampu melindapkan dirinya di bangku kuliah Universitas Sorbonne, bahkan sampai menjejak alam Siberia di Rusia hingga Kenya di Afrika Utara. Diantara mungkin ratusan juta penduduk Indonesia, baik yang miskin maupun yang kaya, hanya berbilang jari saja yang punya langkah kaki sejauh Ikal ini. Selain menebar virus inspiratif dari mimpi yang maujud, novel ini sejatinya juga membakar cemburu para petualang yang hanya mampu mendaki sebatas impian saja.
Maryamah Karpov yang menjadi main title novel ini diambil dari nama Mak Cik Maryamah, pemilik Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi yang sebelumnya pernah menjadi tokoh di salah satu bab di novel kedua Andrea: Sang Pemimpi nya. Mak Cik Maryamah adalah penggemar catur yang nge-fans pada Anatoly Karpov, jawara catur asal Rusia. Pada setiap pelanggannya ia selalu merekomendasikan langkah pembuka Karpov sehingga, sebagaimana kebiasaan orang Belitong menyematkan nama kedua si pemilik nama dengan nama lain yang secara historis dan antropologis punya keterkaitan erat dengan si pemilik nama, maka diimbuhi lah nama Mak Cik Maryamah dengan nama Karpov – sang pecatur pujaannya itu. Perempuan muda yang lihai memainkan biola yang menjadi cover novel ke-empat nya ini kemungkinan adalah Nurmi, anak gadis Mak Cik Maryamah Karpov. Nurmi, kemudian menjadi guru biola Ikal dalam novel ini, ketika Ikal sedang penat-penatnya membangun perahu seorang diri. Perahu ini kemudian dinamakan Mimpi-Mimpi Lintang, dan menjadi sub-title dari novel ini. Perahu yang tingkat kesulitannya teramat tinggi dan mengundang decak kagum sang maestro pembuat perahu orang-orang bersarung (Bugis?) Mapangi, adalah titian utama dalam alur cerita di novel ini, yang padamulanya juga hanyalah sebuah mimpi yang musykil. Namun, bukan Andrea Hirata kalau tak mampu menyulap mimpi menjadi barang laku. Kisah percintaan dengan A Ling yang sebenarnya bisa dianggap sebagai musabab dibangunnya perahu asteroid bertubuh langsing ini, dan mungkin juga menjadi inspirasi novel ini keseluruhan muncul dalam tiga bab terakhir, mungkin muncul sebagai kesimpulan yang romantis.
….Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan (A Ling) inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedidi hidupku. Di dalam kedua mata (A Ling) itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudera, mengarungi padang, dan melawan angintelah mencapai tujuannya (hal 498).
Sesuatu yang berwujud sepah, tidak usah dijilat lagi!
Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.
Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.
Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.
Catatan singkat di ulang tahun pernikahan kita yang ke-4

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja. Aku sibuk memoles batu gunung di pondasi rumah kita, dirimu mengayak pasir kerikil dan dicampurkan dengan semen beton. Aku sedang menganyam tulangan pengikat pada balok yang dibentang pada pondasi, dirimu mengayunkan satu dua sekop beton curah pada lantai persegi. Kita sungguh sangat sibuknya. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan indah disana.
Rumah yang sedang kita bangun tentu masih jauh dari sempurna. Hari ini baru pondasi saja, itupun masih aku harus selesaikan disana sini. Dirimu masih belum selesai mengguyur beton curah ke seluruh muka rumah. Dan kita masih terus asik bekerja. Belum ada dinding, pintu, tangga, apalagi atap. Baru setinggi mata kaki saja. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan ceria disana.
Di halaman yang tak begitu luas, baru tertanam dua pohon mangga. Pohon yang masih kecil, belum bisa menghasilkan buah. Mangga, buah itu, dirimu tahu sungguh aku selalu menginginkannya. Di kepala kita, ada gambar pohon nan rimbun dengan buahnya disana.
Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja, juga bermain. Sesekali dirimu cemberut kala kugoda dengan terlalu, sekali lain aku yang merengut kala dirimu tak mau tertawa. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan bahagia disana.
Di kepala kita, ada gambar bangunan sempurna disana. Tapi entah kapan bangunan itu terwujud. Kita masih asik bekerja.
5 November, Apa Yang Akan Selalu Terkenang?

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.
Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.
Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.
Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum
Setiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.
Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.
Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.
Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.
Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!
Pantaskah Pilkada Mengorbankan Hari Sekolah?
Irul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya – dua pelajaran kegemarannya sejak SD, disandingkan di hari sabtu itu. Tapi agenda politik kota Bogor merumahkan dirinya hari itu, bersama ratusan ribu siswa di kota Bogor; 152 Taman Kanak-Kanak, 285 Sekolah Dasar, 112 Sekolah Menengah Pertama, 52 Sekolah Menengah Atas, dan 62 Sekolah Menengah Kejuruan serempak meliburkan aktifitas pendidikannya demi pesta demokrasi ini. Sejatinya, ia dan teman-teman sekolahnya tak turut secara langsung dalam keramaian ini, namun dengan alasan kepraktisan dan ketertiban pemerintah kota berketetapan untuk menghapuskan enam jam pelajaran sekolah demi kesuksesan pemilihan langsung pertama ini.
Pemilihan walikota itu kemudian memang dianggap sukses, tidak ada kerusuhan, juga hal-hal lain yang memaksa aparat keamanan mengeluarkan pentungannya. Ketegangan hanya terjadi di bilik perhitungan suara, itupun hanya tergambar di kening pendukung calon yang resah suaranya jeblok. Merujuk hasil hitung cepat beberapa lembaga survei independen, kota Buitenzorg ini bakal diperintah lagi oleh incumbent walikota Bogor dengan keunggulan mutlak diatas 60 persen. Artinya, lebih dari setengah pemilih di Kota Bogor menyatakan keinginannya untuk dipimpin oleh sang Walikota untuk kedua kalinya, menyisihkan empat pasang kandidat lain yang punya hasrat politik yang sama. Satu hari kemenangan itu dirayakan meriah oleh sang calon terpilih dan para pendukungnya, namun satu hari itu juga menghilangkan kesempatan Irul dan teman-temannya untuk meraup ilmu yang sejatinya tidak murah itu.
Irul, dirumahnya yang tenang di Cibinong, tentu ingin mengisi hari lowongnya itu dengan bermain-main di luar rumah bersama teman sebayanya. Namun seperti pemerintah, ia juga khawatir kalau hari itu bakal rusuh. Dari pemberitaan yang disaksikannya di televisi, pilkada pertama ini cukup riuh dengan aksi para pendukung kandidat yang bertarung dan berpotensi menghasilkan konflik horizontal. Pilihan terbaik hari itu adalah dengan menjejak mata di ranah maya, browsing dan chatting dengan teman-temannya. Sempat pula dia menengok blognya yang lama tidak terupdate. Blog itu sejatinya hanya digunakan untuk meng-upload tugas-tugas sekolahnya. Ingin juga rasanya dia mencari tulisan atau berita yang bisa menukar keinginannya belajar matematika dan prakarya, atau paling tidak mencari postingan yang sejalan dengan aspirasinya, mengapa hari pemilihan harus dilaksanakan di hari yang semestinya dia bersekolah?


leave a comment