Mengenang Chairil Anwar: Sekali Berarti Sudah itu Mati
28 April 1949, ia mati di usia muda, 26 tahun karena sakit paru-paru. Jasadnya dibenamkan di Karet, tempat yang disebutnya sebagai “daerahku y.a.d” (y.a.d adalah singkatan dari yang akan datang).
Sajak pertama yang membuatku mengenalnya pertama kali adalah sajak “Diponegoro”, salah satu sajak pernyataan Chairil Anwar diantara sajak terkenal lainnya “Aku” atau “Karawang-Bekasi”. Sajak Diponegoro, yang saya bacakan di bangku SMP sebagai salah satu tugas pelajaran Bahasa Indonesia, lantang menyatakan kekaguman kepada sosok Diponegoro. Yang paling teringat, dan kemudian menjadi semacam idiom dalam kehidupan kita adalah “pedang di kiri, keris di kanan”…
Kesan pertama saya terhadap sosok ini adalah bahwa ia adalah seorang pemberontak, paling tidak ia memberontak terhadap pakem puisi yang mendayu-dayu tentang cinta, religious dan hal yang mungkin dianggap absurd lainnya. Mungkin saja karena kebetulan ia beranjak di masa perjuangan revolusi kemerdekaan, sehingga darah pejuang mengalir deras di setiap bait sajaknya. “Sekali berarti sudah itu mati”.
Meski mungkin hanya sedikit rekam jejaknya ikut dalam perang fisik, namun sajak-sajak perjuangannya seperti yang paling terkenal “Antara Karawang-Bekasi”. Sajak ini menginspirasi, bukan saja mengguncang dada kejuangan kita, tapi rasa solidaritas untuk mengenang yang telah mati.
“Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa..”
Namun belakangan, ketika menemu sajak-sajak lainnya, saya kemudian sering terkagum dengan kelihaiannya memainkan harmonika kata-kata yang kadang getas tapi bernuansa misteri, misalnya: “Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin/Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang”. Apa yang dia benahi, dan siapa yang dia nanti? Apakah yang dia maksud adalah sosok Hapsah, istrinya?
Dalam benak saya, sajak-sajak Chairil adalah sajak-sajak bergelora. Ia pandai memainkan gelombang, juga pandai menghempaskan riak perasaan. Sajaknya bisa mebangkitkan batam terendam, hingga kemudian muncul dan berubah jadi semangat, meski sekali berarti sudah itu mati.
Ia layak dikenang, sajaknya layak dibaca. Dan kita, layak memekikkan gema suara nya sampai ke generasi mendatang. Kita sudah lama terbenam dalam ketidakpedulian, dan mungkin Chairil Anwar seolah tak henti membangunkan kita. Bahwa hari depan yang lebih baik, lebih tulus dan lebih percaya diri masih bisa diraih.
“Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”.
Pesan ‘Religius’ Berantai Tsunami: Menggarami Luka Menganga
…memberi vonis pendosa kepada para korban bencana alam tentu suatu hal yang teramat berlebihan. Logika sederhana kita mengatakan bahwa tak semua korban itu adalah pelaku dosa besar yang harus diganjar dengan azab.
Acapkali bencana menimpa suatu daerah, seperti yang baru-baru ini terjadi di Jepang, maka para pengguna gadget akan dibanjiri pesan-pesan religious yang mengingatkan betapa hina dina diri kita yang tak mampu melawan kuasa semesta.
Beberapa akan terpekur dan kemudian ber-istigfar atau mensyukuri nikmat yang kini dirasakan, beberapa lagi mungkin akan abai dan merasa tak ada hubungannya. Semua punya pandangan dalam memaknai bencana, meski berbeda dalam penyikapan. (more…)
Celana Dalam itu bernama Supersemar
Tulisan ini terinspirasi dari status facebook dua kawan saya hari ini, membuat saya mencoba menjalin dua hal yang sepertinya menarik untuk disimak. Celana Dalam dan Supersemar.
Celana dalam adalah proposisi eksistensial kita yang sangat personal. Meski kita mengakui dan memerlukan (secara mutlak) keberadaannya, namun tak banyak yang berani membicarakannya. Tabu dan malu melekat erat dengan benda satu ini, meski banyak lelaki (atau perempuan?) sangat menggemari pemandangan benda ini terutama kalau secara sensasional melekat pada pemakainya
.
Siapa yang hendak memulai perbincangan mengenai apa warna celana dalam yang sedang dipakai di dalam sebuah obrolan santai ataupun serius? Tak ada, kecuali anda hendak di-labeli saru, atau lale atau mangure’ (makassar/bugis: saru). Terkadang juga, mungkin karena yang letaknya menyembunyi dari pandangan umum (siapa yang suka mempertontonkan benda ini kecuali di pantai atau kolam renang?), maka kita tidak mempersoalkan warna ataupun bentuknya, belel longgar atau sudah sobek sana sini. Celana dalam adalah wajib hukumnya untuk dikenakan, tapi terkadang makruh bahkan haram untuk diperbincangkan.
UNREG [spasi] MAMA: Dari Ketiadaan Menuju Ketiadaan


Perencana atau istilah kerennya planner adalah profesi turunan dari peramal juga. Seorang perencana adalah perancang peta masa depan, dengan berbekal informasi-informasi pendukung baik yang sudah ada maupun yang dirancang sedemikian rupa untuk diadakan, untuk merekayasa masa depan agar sesuai dengan target capaian yang diinginkan.
Peramal juga berusaha memetakan masa depan, dengan ‘membaca’ penanda-penanda alam yang bermunculan di masa kini atau masa sebelumnya. Sebenarnya peramal hanya mencoba memformulasikan pengetahuan yang lazim dipakai binatang atau manusia ketika membaca alam. Bagi yang bisa membaca bagaimana reaksi hewan-hewan hutan yang lain dari biasanya, maka bisa diramalkan akan terjadi gempa atau bencana alam di kawasan yang berdekatan dengan hutan tersebut. Hal paling mudah adalah dengan melihat awan gelap berarak-arak yang disertai guntur menggedor angkasa berbarengan dengan kilat menyambar-nyambar, maka suatu kelaziman bahwa akan turun hujan yang bisa saja membawa bencana lain; angin ribut, banjir, atau longsor.
Tanda-tanda alam itu lebih banyak yang tersirat dibanding tersurat, lebih sering tersembunyi daripada kasat mata. Karenanya banyak orang gagal mengantisipasi musibah, bahkan ketika teknologi sedemikian canggihnya saat ini. Kemampuan membaca tanda-tanda yang tersembunyi itu konon tidak dimiliki oleh semua orang. Disamping memang karena bakat yang dibawa lahir, juga diperlukan latihan dan disiplin yang intens. Mama Lauren dan para ahli nujum ‘mungkin’ menjalani ritual yang ketat dalam mencapai pengetahuan membaca tanda-tanda alam ini.
Namun ada anomali yang membuat kita kadang meluruhkan rasa percaya pada ahli nujum ini, mereka terkadang tak mampu meramal nasib sendiri. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap premis kemampuan ahli nujum untuk memetakan masa depan. Mama Lauren, ahli nujum kesohor itu pernah terjebak banjir di rumahnya di bulan Januari 2009. Sementara tetangga-tetangganya yang bergerak cepat dgn mengungsi ke daerah aman bisa ‘membaca’ tanda-tanda banjir itu beberapa jam sebelumnya. Ki Joko Bodo mesti menjomblo terus meski sudah berupaya berpartisipasi dalam acara Takes Celebrity Out yang digeber salah satu stasiun televisi. Sementara banyak ‘pasien’nya mudah saja mendapat jodoh. Ki Gendeng Pamungkas pun demikian, alih-alih memenangkan masa depan, dia takluk dalam pilkada Bogor beberapa waktu lalu. Ustad Quraish Shihab mengajukan proposisi yang cukup telak untuk memvonis semua ahli nujum: peramal berbohong, walau kebetulan benar. Itu karena tidak semua masa depan yang dipetakannya terjadi. Bahkan lebih banyak salahnya, mungkin. (more…)
Mendukung Susno Duaji? Maaf Saya Tidak Lupa!
Anda Facebooker Pendukung Susno Duadji?
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa
(Widji Tukul, 1997, Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)
Semalam, ketika menyaksikan breaking news ulasan penangkapan Susno Duadji di bandara yang ramai disiarkan oleh dua saluran berita tanah air, saya agak bersorak dalam hati. Ini babak baru perang bintang di tubuh institusi kepolisian. Tak peduli siapa pemenangnya, yang jelas kita – rakyat biasa yang selama ini terhijabi oleh berita-berita pencitraan dari pemerintah, mendapat tontonan yang lebih sedikit berkualitas dan rada seru daripada infotainment soal pengakuan selingkuh KD yang berurai airmata. Seperti menyaksikan filem action, kita disuguhi detik-detik ketegangan yang terjadi antara Jenderal Susno dan Propam berpangkat pamen di bandara, diselingi oleh adegan aparat katro yang menghalang-halangi wartawan MetroTV mengambil gambar (Salut utk MetroTV, dan jempol ke bawah utk aparat katro itu). Seru, sampai seorang teman di group BBM menyorakkan “demonstrasi” seperti laiknya di jaman reformasi 98. Hore!
Breaking news soal ditangkapnya Susno (wartawan Elshinta mengklarifikasi dengan sebutan penjemputan paksa), membuat saya sigap meng-update status di facebook “wah, bakal ada gerakan 1jt facebooker tuntut pembebasan Susno Duaji nih”…dan ternyata, ketika pagi harinya saya mendengarkan siaran berita di TV dan radio Elshinta, group facebooker itu sudah terbentuk, meski dengan sedikit variasi judul “Sejuta Dukungan Untuk Susno Duadji Mereformasi Polri”. Satu undangan juga masuk ke inbox-ku untuk jadi group member nya. Halah!
Ya, siapa yang masih ingat, Komjen Susno Duadji ini lah yang memicu prahara perseteruan KPK vs Polri, dengan statemen terkenalnya saat wawancara dengan Majalah Tempo yang dimuat di edisi Juli 2009: “Cicak Kok Mau Melawan Buaya” dengan konteks KPK yang menyadap telepon Susno Duadji. Drama ini kemudian berlanjut hingga penangkapan komisioner KPK Bibit dan Chandra yang memicu ‘gerakan maya’ sejuta facebooker menuntut pembebasannya. Ketika gerakan maya ini kemudian diupayakan untuk menjadi aksi nyata di Bundaran HI sekitar awal November 2009, jumlah jutaan pendukung itu hanya terwakili oleh ribuan orang. Kini, seperti kata Ahmad Albar dan Nike Ardilla, dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berganti. Susno Duadji sedang didukung oleh para facebooker yang sebelumnya justru menghantarkan hujatan karena kasus Bibit Chandra.
Lakon sekarang yang dijalani Susno Duadji yang seakan-akan sedang ber-jihad melawan kebobrokan di tubuh aparat hukum Indonesia memang membuka mata kita semua. Kasus Gayus Tambunan, Andi Kosasih hingga yang terakhir Bahasjim dan kemungkinan akan tumbang lagi beberapa petinggi lainnya memang membuat kita terperangah betapa kasat matanya pengkhianatan aparat atas amanah yang diberikan. Kita yang saban hari saban bulan dan saban tahun ‘dipaksa’ membayar upeti kepada pemerintah melalui pajak, rertibusi dan pungutan resmi lainnya, ternyata disuguhi tontonan memuakkan betapa upeti-upeti yang mungkin jauh lebih bermanfaat untuk membeli susu untuk balita, dikangkangi secara brutal oleh aparat-aparat itu.
Oleh ‘nyanyian’ Susno, sebahagian menjadi tersadar, sebahagian lagi terhenyak dan ketakutan. Yang ketakutan tentu para pejabat yang sebentar lagi ngantri untuk dijadikan ‘pesakitan’ karena sangkut pautnya dengan makelar kasus. Dan kita lihat, Polri ikut jengah karena dua jendralnya yang disebut-sebut Susno ikut terlibat ternyata memang ‘kemungkinan’ menjadi tersangka karena sudah disidik di meja reserse. Susno memang sedang memainkan bola liar yang kita tak tahu akan memantul kemana, sambil berharap-harap cemas semoga dia bisa menyelesaikan permainannya dengan sempurna, tanpa diganjal hingga cedera atau kena kartu merah dari wasit. Who knows, yang jelas kita berharap semuanya bisa terungkap.
Tapi saya tetap tidak lupa, dan masih menjaga sikap skeptis terhadap Susno atau siapapun itu. Pengkhianatan pemerintah selama ini menyuburkan sikap skeptis dan kritis atas apapun yang keluar dari dalam perut mereka. Jangan-jangan ini semua bermuara kepada satu hal: kekuasaan. Dan roda kekuasaan itu berjeruji. Padanya banyak rasa keadilan dibiarkan berkarat. Seperti puisi Widji Tukul: aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa. Saya kemudian mengupdate status di facebook: “Saya Tidak Lupa, Susno dulu yang meremehkan KPK dengan sebutan Cicak. Maaf saya tidak akan ikut jadi fasn Susno, tp berharap semua kebobrokan ini terungkap!
Maaf, saya tidak lupa!
Sadar nggak sih SEA Games lagi berlangsung?

Pada nyadar gak sih, saat ini sedang berlangsung pesta olahraga se Asia Tenggara atawa South East Asian Games – lebih kondang dengan SEA Games XXV di Vientianne Laos?
Dulu, di jaman saya masih sekolah di Makassar, sekitar tahun 1980-1990-an saya rajin menyimak TVRI yang menyiarkan secara langsung pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara ini berlangsung. Siaran langsung maupun siaran tunda mendominasi sepanjang hari di TVRI, juga di beberapa TV swasta belakangan. Setiap selepas Dunia Dalam Berita TVRI yang kalau di Makassar jam tayangnya tepat jam 10.00WITA, maka akan ada laporan khusus bertajuk Dari Gelanggang ke Gelanggang -khusus SEA Games. Di ujung program acara itu akan ada informasi mengenai susunan perolehan medali emas.
Pembaca berita TVRI kala itu (Max Sopacua – skrg anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Luther Kalasuat, Yan Parta Wijaya, Inke Maris) dengan senyum sumringahnya selalu menghantarkan berita gembira atas keberhasilan atlet-atlet Indonesia mempecundangi atlet kontingen negara asing di berbagai event olahraga.
Kedigdayaan pahlawan olahraga Indonesia diatas atlet negara lain menjadi semacam tradisi membanggakan buat kita, sekaligus memupuk ke-jumawa-an atas superioritas bangsa kita. Saingan terberat kita hanya Thailand, sementara Malaysia dan Singapura ada dua level di bawah kita. Berikutnya ada Philipina Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja apalagi Brunei Darussalam masuk dalam tim anak bawang yang kalau main sepakbola bisa membuat kesebelasan Indonesia kekenyangan GOL! (more…)
Hari Ini Kita Halal Ber-Sumpah Serapah!
Hari-hari belakangan ini kita ibarat disuguhi drama tragis mengerikan. Sinetron Indonesia yang isinya caci maki yang terkesan lebay kalah jauh sama reality show Si Cukong Anggodo dan konco-konconya. Si Cukong Anggodo yang bebas ngomong semaunya dalam sebuah acara di stasiun TV secara live bukan cuman membangkitkan amarah angkara murka, tapi juga sifat muak teramat sangat. Benar kata Adhie M Massardi dalam puisinya, negeri ini negeri yang dimpimpin kaum bedebah, dikelilingi oleh para begundal yang mencabik-cabik rasa hormat dan harkat martabat bangsa sebagai masyarakat religius, tepo seliro dan bertanggung-jawab.
Meski Chandra – Bibit sudah ditangguhkan penahanannya, tapi Anggodo itu masih berkeliaran dengan bebas tanpa ditahan, berkebalikan dengan perlakuan Polisi terhadap ikon baru masyarakat Inodesia, pahlawan anti korupsi Bibit-Chandra. Sementara dua penjabat yang gaji, fasilitas sampai celana dalamnya dibiayai oleh rakyat lewat pajak; Susno Duadji dan Abdul Hakim Ritonga, masih saja merasa tak bersalah dan tidak punya kemaluan, sampai mesti presiden SBY sendiri memerintahkan Kapolri dan Jakgung untuk menon-aktifkan kedua penjahat hukum itu. Itupun SBY butuh trigger sebelum tergerak untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya itu; issue mundurnya Prof Hikmahanto, Anies Baswedan, dan Prof Komaruddin Hidayat.
Hari-hari belakangan ini, kita seperti halal untuk bersumpah serapah. Semua makian dan cacian layak kita sematkan kepada semua oknum pejabat dan cukong yang sudah mencederai kepercayaan masyarakat atas azas keadilan yang harus ditegakkan. Alih-alih aparat hukum ini menegakkan keadilan dengan melindungi kerja kerasa para pemberantas korupsi, ini malah memenjarakan mereka dengan tuduhan mengada-ada. Di sisi yang berseberangan mereka malah melindungi dan menganak-emaskan cukong bangsat dan bandar narkoba, yang mungkin sering kali menyuapi aparat itu dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi. Seakan hidup hanya di dunia saja.
Hari ini kita halal bersumpah serapah. Seperti sumpah serapah Tuhan untuk para penjahat legendaris seumpama Yazid, Abu Jahal, Abu Lahab, Firaun dan Namrudz.
Beberapa nama yg terlibat layak masuk Hall of Fame di kotak kelam sejarah penegakan keadilan di negeri kita.
Pajak dan retribusi yang saban bulan kita gelontorkan dengan ikhlas atau terpaksa dengan semena-menanya mereka rayakan untuk sebuah persekongkolan jahat. Hitunglah pajak yang dipotong dari jerih payah kita semua, dari hasil keringat dan puter otak kita demi menghidupi keluarga, dibelanjakan untuk sebuah permainan kotor nan memuakkan. Besaran pajak itu mungkin jauh lebih besar dari total pengeluaran untuk membeli susu dan makanan bayi kita, atau juga jauh diatas UMP buruh kecil di pinggiran kota.
Ada lagi anak-anak muda polisi macam Evan Brimob yang menulis status di facebooknya dengan arogan: polisi tak butuh masyarakat, tapi masyarakat butuh polisi. Ini kebobrokan institusional, dan menunjukkan betapa memuncaknya sebuah kemaksiatan melingkupi insitusi penegak hukum. Sebenarnya layak kita kasihani, betapa polisi muda macam Evan ini otaknya sudah dipenuhi embrio kemunafikan dan arogansi…jadi jangan heran kalau atasan mereka juga tidak kalah arogannya.
!!!!
Sesuatu yang berwujud sepah, tidak usah dijilat lagi!
Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.
Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.
Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.
PestaBlogger2008: Garing sih …..
kemaren adalah ‘pesta’ pertama yang saya ikuti. Pesta tahun lalu saya gak bisa hadir berhubung keterbatasan geografis (dan finansial), karena waktu itu masih menetap di Balikpapan. Nah, tahun ini saya punya kesempatan dan waktu untuk menghadiri pesta ke-dua ini yang dilaksanakan di Auditorium BPPT Sudirman.
Setelah janjian dan saling nunggu dgn rekan2 dari Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri di Sarinah Thamrin, n sempat nyarap dulu di salah satu fast food sono. Kami kemudian japruts (baca; jalan kaki) menuju BPPT; Rara, pak RT, Anto, Teeza, Chaliq, Fadhlan(?), pak Khalid Mustafa, adeknya pak Khalid, Irwinday. Bapak Kepala Genk: Hasanuddint rupanya sudah berada di TKP, dan estimasi kami meleset, kami yang lebih telat.
Tiba di TKP, rupanya sudah ramai orang2 pada antri untuk ngedaftar. Di pintu nya sudah banyak blogger2 yang nampang, foto2, atau nyebar quesioner buat doorprize.Saya gak perlu daftar lagi, soale termasuk perwakilan dari AngingMammiri yang kebetulan dapat green card lima blogger untuk jadi wakil resmi. Di pintu masuk ketemu blogger2 terkenal; Enda Nasution, Budi Putra, dan Daeng Battala. Di situ juga kemudian bergabung Bapak Kepala Genk, Hasanuddin yang ikhlas menunggu dan membagikan goddie bag gretongan kami, ada juga Mamie dan temennya, ada Daeng Marowa, Daeng Sukri, Daeng Ngitung. Sempat anak-anak AM-ers ini bernarsis ria dengan para seleblog he2.
mamie, saya, enda, amriltg, eko, arul
Di pintu masuk saya juga sempet ketemu Andrian, yang tempo hari menyelenggarakan IBC2007 (Inspired Blog Competition), kebetulan beberapa tulisan saya lolos di ajang itu. Rencananya kumpulan postingan yang katanya menginspirasi itu akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan kebetulan tulisan saya yang bertajuk “Menulislah dan Anda Abadi” ditaruh sebagai halaman pembuka, pengantar buku itu. Nah, saya sempat menanyakan status penerbitan buku itu yang dijawab Ardian bahwa buku nya terkendala soal penerbit. Belum ada penerbit yang cocok untuk dijadikan kendaraan. Saya bilang, bukannya sekarang banyak tuh penerbit yang gampang menerbitkan buku semacam Grasindo dan lainnya, sebagaimana yang AM lakukan sebelumnya, Apalagi jenis buku nya lumayan bagus: Inspired Blog! Tapi anyway, saya sempet diberikan e-book atau draft buku tersebut. Bangganya!Setelah merasa capai di pintu masuk, kami kemudian memutuskan masuk saja ke hall nya. Anak-anak AM-ers memilih untuk menempati balkon yang memang tidak begitu penuh. Sorak-sorai temen2 AM-er kelihatannya paling gemuruh, manakala MC (Panji) atau ketua panitia Ndorokakung menyebut komunitas AM atau ketika mengundang wakil AM menjadi panelis diskusi: Daeng Battala. Ha2, dasar udik…hehe, udik tapi keren boss…
Sebenarnya jalannya acara awal di hall terkesan garing, kurang greget dan membosankan. Banyak peserta yang kemudian tidak begitu fokus mengarahkan perhatiannya ke panggung yang notabene diisi oleh orang2 yang berkompeten di bidangnya. Tapi karena flow dan diskusi dikemas kurang menarik ya jadinya bikin peserta terkesan bosen. Tapi ada juga acara yang cukup meriah dan menarik atensi semua peserta pesta, yakni penganugerahan penghargaan komunitas. Most Promising (atau Promoting?) Community jatuh ke Bali Blogger Community yang waktu itu perwakilannya hanya tiga orang. Di bidang lain ada penganugerahan Blogging for Society Award yang jatuh ke Komunitas Blogger Yogya: Cah Andong. Hadiahnya berupa uang pembinaan 10 juta rupiah dari Oxfam, piagam, seperangkat komputer dari HP.
Eksekusi Bomber Bali: Selebriti Baru

Tak bosan-bosannya media menyiarkan jalannya proses pelaksanaan eksekusi mati tiga pengebom pertama Bali; Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ruang tontonan, ruang baca, dan ruang dengar kita nyaris tidak pernah melewatkan satu jam pun tanpa berita ini. Tiga bomber Bali ini tiba-tiba menjadi makin populer selama dua minggu terakhir, mengimbangi berita kampanye dan pemilihan presiden USA yang baru lalu. Bahkan menenggelamkan berita pilkada di sejumlah daerah.
Hebohnya, banyak pihak ikut-ikutan menambah suasana dengan menghadirkan ragam polemik di seputar eksekusi ini; soal cara eksekusi, soal wasiat, soal Peninjauan Kembali, sampai soal website yang menyerukan pembunuhan SBY.Semua orang seperti kelimpungan dengan soal eksekusi ini, siaran langsung dari beberapa lokasi ikut membetot perhatian kita seakan2 begitu pentingnya persoalan ini; Cilacap, Nusakambangan, Serang, Kuta Bali, hingga ke kediaman keluarga Amrozi dan Mukhlas di Tenggulun Solukoro, Lamongan, Jawa Timur. Prosesi pemakaman juga sudah disiapkan sedemikan rupa, termasuk prosedur evakuasi kenazah hingga lokasi pemakaman. Keluarga terpidana asal Serang, Imam Samudra sudah jauh-jauh hari menyiapkan tempat jenazah disholatkan. Masjid Al-Manar, yang berjarak 500 meter dari rumah keluarga Imam Smaudra, tempat dulu Imam Samudera kecil menimba ilmu mengaji, akan menjadi tempat jenazah di sholatkan.
Yang terjadi kemudian muncul ketidaknyamanan publik akan peristiwa ini. Keluarga Amrozi dan Mukhlas di Lamongan menjadi sangat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang hendak meliput suasana di kediaman keluarga terpidana bersaudara ini pra dan paska eksekusi. Pantai Kuta di Bali menjadi lebih sepi dari biasanya karena dikhawatirkan ada efek balasan dari para pengikut bomber itu sekiranya eksekusi dilaksanakan, apalagi sudah beredar surat wasiat ketiganya yang salah satu isinya menyerukan pembunuhan terhadap beberapa pejabat RI termasuk presiden SBY, JK, Menhukam, Jaksa Agung dsb. Yang lebih aneh, jalur komunikasi seluler di Nusakambangan di non-aktifkan secara total sejak hari ini. Nusakambangan pun terisolir dari dunia luar. Petugas bahkan melakukan razia ekstra yakni mengamankan semua telepon seluler di pulau tersebut.
Suka tidak suka, ruang publik sudah terkooptasi oleh berita ini. Tridente pembom Bali ini kini menjadi komoditas berita laiknya selebritas di infotainment. Kita, kini terpaksa ikutan menunggu kapan eksekusi itu dilaksanakan, dan malah kalau hal buruk terjadi, mungkin masih akan disuguhi berita hangat lain paska eksekusi ini yang mudah-mudahan tidak terjadi, efek pembalasan dari kroni Amrozi cs.
Ah, saya sih tidak merasa begitu penting untuk diganggu oleh berita ini. Saya ikut menikmati sambil berdoa semoga mereka diterima dengan baik oleh Sang Maha Pemilik Jiwa, entah meninggalnya karena eksekusi, atau meninggal melalui proses alamiah sebagaimana keluarga mereka inginkan. Kita lihat saja nanti!
Foto di copy paste dari detik.com









6 comments