another chronical of daengrusle

Hari Ini Kita Halal Ber-Sumpah Serapah!

Posted in Nasional, agama, percikrenungan by daengrusle on November 6, 2009

Hari-hari belakangan ini kita ibarat disuguhi drama tragis mengerikan. Sinetron Indonesia yang isinya caci maki yang terkesan lebay kalah jauh sama reality show Kampret Anggodo dan konco-konconya. Kampret Anggodo yang bebas ngomong semaunya dalam sebuah acara di stasiun TV secara live bukan cuman membangkitkan amarah angkara murka, tapi juga sifat muak teramat sangat. Benar kata Adhie M Massardi dalam puisinya, negeri ini negeri yang dimpimpin kaum bedebah, dikelilingi oleh para begundal yang mencabik-cabik rasa hormat dan harkat martabat bangsa sebagai masyarakat religius, tepo seliro dan bertanggung-jawab.

Meski Chandra – Bibit sudah ditangguhkan penahanannya, tapi bangsat Anggodo itu masih berkeliaran dengan bebas tanpa ditahan, berkebalikan dengan perlakuan Polisi terhadap ikon baru masyarakat Inodesia, pahlawan anti korupsi Bibit-Chandra. Sementara dua penjabat yang gaji, fasilitas sampai celana dalamnya dibiayai oleh rakyat lewat pajak; Susno Duadji dan Abdul Hakim Ritonga, masih saja merasa tak bersalah dan tidak punya kemaluan, sampai mesti presiden SBY sendiri memerintahkan Kapolri dan Jakgung untuk menon-aktifkan kedua penjahat hukum itu. Itupun SBY butuh trigger sebelum tergerak untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya itu; issue mundurnya Prof Hikmahanto, Anies Baswedan, dan Prof Komaruddin Hidayat.

Hari-hari belakangan ini, kita seperti halal untuk bersumpah serapah. Semua makian dan cacian layak kita sematkan kepada semua oknum pejabat dan cukong yang sudah mencederai kepercayaan masyarakat atas azas keadilan yang harus ditegakkan. Alih-alih aparat hukum ini menegakkan keadilan dengan melindungi kerja kerasa para pemberantas korupsi, ini malah memenjarakan mereka dengan tuduhan mengada-ada. Di sisi yang berseberangan mereka malah melindungi dan menganak-emaskan cukong bangsat dan bandar narkoba, yang mungkin sering kali menyuapi aparat itu dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi. Seakan hidup hanya di dunia saja.

Hari ini kita halal bersumpah serapah. Seperti sumpah serapah Tuhan untuk para penjahat legendaris seumpama Muawiyah, Yazid, Abu Jahal, Abu Lahab, Firaun dan Namrudz.

Orang-orang seperti dua bangsat bersaudara Anggodo dan Anggoro, Susno Duadji, AH Ritonga, Ong Yuliana, OC Kaligis, dan beberapa nama lainnya layak masuk Hall of Fame di kotak serapah sejarah kita. Laknat dan kutukan layak kita sematkan ke dada mereka!

Pajak dan retribusi yang saban bulan kita gelontorkan dengan ikhlas atau terpaksa dengan semena-menanya mereka rayakan untuk sebuah persekongkolan jahat. Hitunglah pajak yang dipotong dari jerih payah kita semua, dari hasil keringat dan puter otak kita demi menghidupi keluarga, dibelanjakan untuk sebuah permainan kotor nan memuakkan. Besaran pajak itu mungkin jauh lebih besar dari total pengeluaran untuk membeli susu dan makanan bayi kita, atau juga jauh diatas UMP buruh kecil di pinggiran kota.

Ada lagi anak-anak muda polisi macam Evan Brimob yang menulis status di facebooknya dengan arogan: polisi tak butuh masyarakat, tapi masyarakat butuh polisi. Ini kebobrokan institusional, dan menunjukkan betapa memuncaknya sebuah kemaksiatan melingkupi insitusi penegak hukum. Sebenarnya layak kita kasihani, betapa polisi muda macam Evan ini otaknya sudah dipenuhi embrio kemunafikan dan arogansi…jadi jangan heran kalau atasan mereka juga tidak kalah arogannya.

Kunyuk Anggoro Anggodo, Susno, Ritonga, Kaligis, Bonaran Situmeang, dan semua yang terlibat, semua buaya anjing buduk bedebah jiancuk tailaso!!!

!!!!

Tagged with: , ,

Sesuatu yang berwujud sepah, tidak usah dijilat lagi!

Posted in Nasional, percikrenungan by daengrusle on December 1, 2008

logo-pks.jpg

Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.

 

Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.

soeharto.jpg

Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.

(more…)

PestaBlogger2008: Garing sih …..

Posted in Nasional, jalan-jalan by daengrusle on November 25, 2008

22112008109.jpg

Pesta Blogger 2008

kemaren adalah ‘pesta’ pertama yang saya ikuti. Pesta tahun lalu saya gak bisa hadir berhubung keterbatasan geografis (dan finansial), karena waktu itu masih menetap di Balikpapan. Nah, tahun ini saya punya kesempatan dan waktu untuk menghadiri pesta ke-dua ini yang dilaksanakan di Auditorium BPPT Sudirman.

 

Setelah janjian dan saling nunggu dgn rekan2 dari Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri di Sarinah Thamrin, n sempat nyarap dulu di salah satu fast food sono. Kami kemudian japruts (baca; jalan kaki) menuju BPPT; Rara, pak RT, Anto, Teeza, Chaliq, Fadhlan(?), pak Khalid Mustafa, adeknya pak Khalid, Irwinday. Bapak Kepala Genk: Hasanuddint rupanya sudah berada di TKP, dan estimasi kami meleset, kami yang lebih telat.

Tiba di TKP, rupanya sudah ramai orang2 pada antri untuk ngedaftar. Di pintu nya sudah banyak blogger2 yang nampang, foto2, atau nyebar quesioner buat doorprize.Saya gak perlu daftar lagi, soale termasuk perwakilan dari AngingMammiri yang kebetulan dapat green card lima blogger untuk jadi wakil resmi. Di pintu masuk ketemu blogger2 terkenal; Enda Nasution, Budi Putra, dan Daeng Battala. Di situ juga kemudian bergabung Bapak Kepala Genk, Hasanuddin yang ikhlas menunggu dan membagikan goddie bag gretongan kami, ada juga Mamie dan temennya, ada Daeng Marowa, Daeng Sukri, Daeng Ngitung. Sempat anak-anak AM-ers ini bernarsis ria dengan para seleblog he2.

with-enda-dan-arul.JPG

mamie, saya, enda, amriltg, eko, arul

Di pintu masuk saya juga sempet ketemu Andrian, yang tempo hari menyelenggarakan IBC2007 (Inspired Blog Competition), kebetulan beberapa tulisan saya lolos di ajang itu. Rencananya kumpulan postingan yang katanya menginspirasi itu akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan kebetulan tulisan saya yang bertajuk “Menulislah dan Anda Abadi” ditaruh sebagai halaman pembuka, pengantar buku itu. Nah, saya sempat menanyakan status penerbitan buku itu yang dijawab Ardian bahwa buku nya terkendala soal penerbit. Belum ada penerbit yang cocok untuk dijadikan kendaraan. Saya bilang, bukannya sekarang banyak tuh penerbit yang gampang menerbitkan buku semacam Grasindo dan lainnya, sebagaimana yang AM lakukan sebelumnya, Apalagi jenis buku nya lumayan bagus: Inspired Blog! Tapi anyway, saya sempet diberikan e-book atau draft buku tersebut. Bangganya!Setelah merasa capai di pintu masuk, kami kemudian memutuskan masuk saja ke hall nya. Anak-anak AM-ers memilih untuk menempati balkon yang memang tidak begitu penuh. Sorak-sorai temen2 AM-er kelihatannya paling gemuruh, manakala MC (Panji) atau ketua panitia Ndorokakung menyebut komunitas AM atau ketika mengundang wakil AM menjadi panelis diskusi: Daeng Battala. Ha2, dasar udik…hehe, udik tapi keren boss…

 

22112008110.jpg

Sebenarnya jalannya acara awal di hall terkesan garing, kurang greget dan membosankan. Banyak peserta yang kemudian tidak begitu fokus mengarahkan perhatiannya ke panggung yang notabene diisi oleh orang2 yang berkompeten di bidangnya. Tapi karena flow dan diskusi dikemas kurang menarik ya jadinya bikin peserta terkesan bosen. Tapi ada juga acara yang cukup meriah dan menarik atensi semua peserta pesta, yakni penganugerahan penghargaan komunitas. Most Promising (atau Promoting?) Community jatuh ke Bali Blogger Community yang waktu itu perwakilannya hanya tiga orang. Di bidang lain ada penganugerahan Blogging for Society Award yang jatuh ke Komunitas Blogger Yogya: Cah Andong. Hadiahnya berupa uang pembinaan 10 juta rupiah dari Oxfam, piagam, seperangkat komputer dari HP.

(more…)

Eksekusi Bomber Bali: Selebriti Baru

Posted in Nasional by daengrusle on November 7, 2008


amrozidalam.jpg

 

 

Tak bosan-bosannya media menyiarkan jalannya proses pelaksanaan eksekusi mati tiga pengebom pertama Bali; Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ruang tontonan, ruang baca, dan ruang dengar kita nyaris tidak pernah melewatkan satu jam pun tanpa berita ini. Tiga bomber Bali ini tiba-tiba menjadi makin populer selama dua minggu terakhir, mengimbangi berita kampanye dan pemilihan presiden USA yang baru lalu. Bahkan menenggelamkan berita pilkada di sejumlah daerah.

Hebohnya, banyak pihak ikut-ikutan menambah suasana dengan menghadirkan ragam polemik di seputar eksekusi ini; soal cara eksekusi, soal wasiat, soal Peninjauan Kembali, sampai soal website yang menyerukan pembunuhan SBY.Semua orang seperti kelimpungan dengan soal eksekusi ini, siaran langsung dari beberapa lokasi ikut membetot perhatian kita seakan2 begitu pentingnya persoalan ini; Cilacap, Nusakambangan, Serang, Kuta Bali, hingga ke kediaman keluarga Amrozi dan Mukhlas di Tenggulun Solukoro, Lamongan, Jawa Timur. Prosesi pemakaman juga sudah disiapkan sedemikan rupa, termasuk prosedur evakuasi kenazah hingga lokasi pemakaman. Keluarga terpidana asal Serang, Imam Samudra sudah jauh-jauh hari menyiapkan tempat jenazah disholatkan. Masjid Al-Manar, yang berjarak 500 meter dari rumah keluarga Imam Smaudra, tempat dulu Imam Samudera kecil menimba ilmu mengaji, akan menjadi tempat jenazah di sholatkan.

Yang terjadi kemudian muncul ketidaknyamanan publik akan peristiwa ini. Keluarga Amrozi dan Mukhlas di Lamongan menjadi sangat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang hendak meliput suasana di kediaman keluarga terpidana bersaudara ini pra dan paska eksekusi. Pantai Kuta di Bali menjadi lebih sepi dari biasanya karena dikhawatirkan ada efek balasan dari para pengikut bomber itu sekiranya eksekusi dilaksanakan, apalagi sudah beredar surat wasiat ketiganya yang salah satu isinya menyerukan pembunuhan terhadap beberapa pejabat RI termasuk presiden SBY, JK, Menhukam, Jaksa Agung dsb. Yang lebih aneh, jalur komunikasi seluler di Nusakambangan di non-aktifkan secara total sejak hari ini. Nusakambangan pun terisolir dari dunia luar. Petugas bahkan melakukan razia ekstra yakni mengamankan semua telepon seluler di pulau tersebut.

Suka tidak suka, ruang publik sudah terkooptasi oleh berita ini. Tridente pembom Bali ini kini menjadi komoditas berita laiknya selebritas di infotainment. Kita, kini terpaksa ikutan menunggu kapan eksekusi itu dilaksanakan, dan malah kalau hal buruk terjadi, mungkin masih akan disuguhi berita hangat lain paska eksekusi ini yang mudah-mudahan tidak terjadi, efek pembalasan dari kroni Amrozi cs.

Ah, saya sih tidak merasa begitu penting untuk diganggu oleh berita ini. Saya ikut menikmati sambil berdoa semoga mereka diterima dengan baik oleh Sang Maha Pemilik Jiwa, entah meninggalnya karena eksekusi, atau meninggal melalui proses alamiah sebagaimana keluarga mereka inginkan. Kita lihat saja nanti!

Foto di copy paste dari detik.com

5 November, Apa Yang Akan Selalu Terkenang?

Posted in Nasional, keluarga, percikrenungan by daengrusle on November 4, 2008


small_obama_image.jpg

 

 

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.

Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.

Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.

(more…)

Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum

Posted in Nasional, keluarga, percikrenungan by daengrusle on November 2, 2008

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

(more…)

Pantaskah Pilkada Mengorbankan Hari Sekolah?

Posted in Nasional, percikrenungan by daengrusle on October 28, 2008

anak-sekolah.jpgIrul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya – dua pelajaran kegemarannya sejak SD, disandingkan di hari sabtu itu. Tapi agenda politik kota Bogor merumahkan dirinya hari itu, bersama ratusan ribu siswa di kota Bogor; 152 Taman Kanak-Kanak, 285 Sekolah Dasar, 112 Sekolah Menengah Pertama, 52 Sekolah Menengah Atas, dan 62 Sekolah Menengah Kejuruan serempak meliburkan aktifitas pendidikannya demi pesta demokrasi ini. Sejatinya, ia dan teman-teman sekolahnya tak turut secara langsung dalam keramaian ini, namun dengan alasan kepraktisan dan ketertiban pemerintah kota berketetapan untuk menghapuskan enam jam pelajaran sekolah demi kesuksesan pemilihan langsung pertama ini.

Pemilihan walikota itu kemudian memang dianggap sukses, tidak ada kerusuhan, juga hal-hal lain yang memaksa aparat keamanan mengeluarkan pentungannya. Ketegangan hanya terjadi di bilik perhitungan suara, itupun hanya tergambar di kening pendukung calon yang resah suaranya jeblok. Merujuk hasil hitung cepat beberapa lembaga survei independen, kota Buitenzorg ini bakal diperintah lagi oleh incumbent walikota Bogor dengan keunggulan mutlak diatas 60 persen. Artinya, lebih dari setengah pemilih di Kota Bogor menyatakan keinginannya untuk dipimpin oleh sang Walikota untuk kedua kalinya, menyisihkan empat pasang kandidat lain yang punya hasrat politik yang sama. Satu hari kemenangan itu dirayakan meriah oleh sang calon terpilih dan para pendukungnya, namun satu hari itu juga menghilangkan kesempatan Irul dan teman-temannya untuk meraup ilmu yang sejatinya tidak murah itu.

Irul, dirumahnya yang tenang di Cibinong, tentu ingin mengisi hari lowongnya itu dengan bermain-main di luar rumah bersama teman sebayanya. Namun seperti pemerintah, ia juga khawatir kalau hari itu bakal rusuh. Dari pemberitaan yang disaksikannya di televisi, pilkada pertama ini cukup riuh dengan aksi para pendukung kandidat yang bertarung dan berpotensi menghasilkan konflik horizontal. Pilihan terbaik hari itu adalah dengan menjejak mata di ranah maya, browsing dan chatting dengan teman-temannya. Sempat pula dia menengok blognya yang lama tidak terupdate. Blog itu sejatinya hanya digunakan untuk meng-upload tugas-tugas sekolahnya. Ingin juga rasanya dia mencari tulisan atau berita yang bisa menukar keinginannya belajar matematika dan prakarya, atau paling tidak mencari postingan yang sejalan dengan aspirasinya, mengapa hari pemilihan harus dilaksanakan di hari yang semestinya dia bersekolah?

(more…)

Blogger, Pendidik dan Pewarta Warga!

Posted in Nasional, narsis, percikrenungan by daengrusle on October 28, 2008

rusle-motret.JPGBlogger, sejatinya adalah pewarta warga. Mereka, yang berasal dari beragam latar demografis, hadir menyuarakan interest pribadi melalui ranah internet. Di Indonesia saja, tahun ini ada sekitar 600 ribu blog. Diproyeksikan tahun depan angka ini mencapai jutaan. Melalui blog, masyarakat bisa disuapi jutaan informasi yang umumnya luput dari perhatian media mainstream. Mulai dari soal remeh lirik lagu, curhatan, keluhan soal layanan publik sampai analisis krisis finansial global bisa dinikmati masyarakat umum secara murah. Secara tidak langsung, blogger juga berpartisipasi mendorong pemahaman masyarakat melalui penyediaan informasi beragam.

Kota Bogor, yang berpenduduk 800ribu jiwa tentu menjadi obyek asupan informasi yang potensial. Blogger, yang umumnya masih tergolong pemuda, bisa berperan aktif dalam dua dimensi yang saling menguatkan. Pertama, Blogger bisa menjadi penyedia informasi bagi warga terutama dalam rangka penyampaian perspektif warga sendiri. Perspektif ini tentu menyumbangkan kerekatan bagi sesama warga yang berpikiran sama. Komunitas yang kuat tentu dengan tingkat toleransi yang tinggi, bisa menjadi kekuatan sosial yang mampu melakukan perubahan. Perkumpulan blogger di Indonesia kini bertumbuh, dan sering berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pendidikan (edu-social), misalnya pelatihan IT, sekolah rakyat, aksi sumbang sosial dan sebagainya. Komunitas ini juga berpotensi menunjukkan kreatifitasnya menciptakan peluang bisnis, dengan menyediakan ruang iklan di blog mereka (adsense), atau membukukan blog secara komersial.

Fungsi kedua, Blogger bisa berlaku sebagai alat kontrol langsung dari dan oleh masyarakat terhadap kondisi sekitar, termasuk kebijakan pemerintah. Tanpa perlu demonstratif, Blogger bisa menyuarakan aspirasinya secara elegan dan praktis. Mungkin masih lekat dalam ingatan kita di akhir Januari 2007 pemerintah Malaysia memprotes postingan blogger Indonesia yang kecewa atas layanan pariwisata negeri jiran itu. Juga, ketika Myanmar dilanda demonstrasi massal yang berujung kepada kerusuhan, akhir 2007 lalu.

(more…)

Pilkada Makassar: Kubungkus Janjimu di Pasar Pannampu

Posted in Nasional, percikrenungan by daengrusle on October 27, 2008

copy-of-1-pasar-pannampu.JPG

note: Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul.

Bapak saya, Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk mengaso bersama anak-anaknya di ruang tetirah di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di Bogor untuk berlibur dari akitiftas hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu depan, 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari ‘mattoddo’ itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

“Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal” cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, “Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan”. Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, “Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga”.

(more…)

Blog: Antitesis Media Mainstream

Posted in Nasional, percikrenungan by daengrusle on September 9, 2008

Menurut saya, Blog adalah antitesis media mainstream.

mahdi-botak.JPGBlog adalah bentuk perlawanan terbuka atas penguasaan sumbat informasi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh media mainstream yang komersial; koran, majalah, televisi. Blog mampu menciptakan, tepatnya membuka sumbat hajat hidup orang banyak dengan menyuarakan perspektif baru yang membumi ke khalayak. Tanpa ada proses editing dan proses penyaringan, blog menjadi media merdeka yang bebas sepenuhnya, bahkan dari pihak regulator! Ibarat negara, blog adalah kawasan bebas tanpa aturan. Yang menjadi aturan yang berlaku adalah etika umum yang dilandaskan kepada kepentingan banyak.

Sejak jaman baheula, kita dijejali oleh media pustaka dengan informasi yang berlandaskan pengetahuan yang dibumbui interpretasi subyektif penulisnya. Tidak jarang kita digiring untuk mempercayai sesuatu berita yang fakta dan latar belakangnya bisa berbeda 90 derajat. Parahnya adalah penjejalan dan penggiringan ini kemudian membentuk pola pikir dan cara pandang kita sejak di bangku sekolahan sampai kemudian menjadi inheren dalam kehidupan kita dan kemudian diwariskan pula ke anak-cucu. Media seperti ini lebih banyak bersikap bak guru sekolahan jaman Orde Baru; menyuap tanpa merasa penting untuk ditanggapi, menggurui tanpa merasa wajib untuk melakukan riset kebenaran, mengajar tanpa boleh didebat. Yang terjadi kemudian hanyalah komunikasi satu arah antara si pemberi informasi dan penerima informasi.

Media massa yang dianggap sebagai lokomotif kebebasan bersuara juga berperilaku sama. Mereka, yang kemudian menganggap diri sebagai mainstream informasi Indonesia, hanya menampilkan berita yang ’sejalan’ dengan idealisme mereka, atau kasarnya yang bisa membuat dapur redaksi mereka tetap mengepul, wartawan bisa digaji, dan tiras tidak anjlok. Intinya, mereka menyediakan informasi kepada khalayak sudah dengan ‘pesanan’ tertentu . Maka dipenuhilah ruang baca kita dengan informasi yang nyaris seragam, beritanya ibarat lawakan badut yang hambar disuarakan oleh hampir semua media, tidak ada yang kreatif, aneh dan nyata. Tidak jarang dalam beberapa pemberitaan tendensius si ‘pemesan’ teramat kentara dan kita, pembaca tidak punya pilihan lain untuk berbicara ‘beda’ kecuali dalam satu rubrik sempit bernama Surat Pembaca, itupun mesti melalui filter redaksi yang sangat ketat. Surat yang isinya cukup mengganggu dan membahayakan masa depan media sudah pasti tidak akan termuat.

Perspektif warga, perspektif pembaca. Ini yang sulit ditemukan dalam media mainstream saat itu. Seakan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungnya. Pelaku media hanya mengenal dua pihak yang boleh disuarakan dalam lembaran beritanya; sumber berita yang berasal dari kalangan istana atau gedung, suara redaksi yang tak jarang hanya membenarkan si sumber berita. Kalaupun ada, suara warga hanya mengisi kolom tertentu yang tak begitu menarik perhatian, tidak eye catching menurut insan komunikasi. Opini dari para aktivis yang bisa dianggap mewakili kepentingan khalayak seringkali hanya mampir di meja Redaksi kemudian masuk kotak sampah.

Nah, dimana ruang warga bersuara ‘beda’ dan magnitudenya besar hingga bisa terbaca oleh seluruh warga dunia? Jawab nya singkat, padat dan jelas: Blog.

Apakah blog hanya sekedar trend sesaat? Maaf, blog adalah trend yang bermatra keabadian. Seandainya teknologi internet sudah ada sejak jaman filosof Yunani hidup, maka kita akan bisa membaca blog-blog dari Socrates, Aristoteles, Plato, Democritus, hingga Pramoedya Ananta Toer. Karena menulis, yang menjadi cikal bakal munculnya blog, adalah kegiatan kemanusiaan yang terus menerus. Bahkan seandainya memungkinkan, Tuhan bisa saja menurunkan kitab suciNya kepada para rasul di dunia dalam bentuk online untuk menjangkau para pengikut di belahan dunia nan jauh dan maha luas. Blog adalah manifestasi dari proses sejarah kemanusiaan, karenanya ia akan terus hadir dan hidup sepanjang usia kemanusiaan itu!

Blogger Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara dramatis sudah saatnya memantapkan diri menjadi pilar utama pengawal kejujuran dan keadilan masyarakat Indonesia. Lewat suara yang jernih tanpa tendensi dan vibrasi kepentingan kapital tertentu, blogger Indonesia bisa menyuarakan nurani kejujuran, Insya Allah.