…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

MAHATMA – nama anakku yang akan lahir

Posted in keluarga, percikrenungan, puisi by daengrusle on July 31, 2010

Banyak orang menganggap kurang baik mempersiapkan nama untuk anak yang belum lahir. Kurang baiknya mungkin terkait agama, mitos atau klenik, atau hal lain yang agak irasional. Atau mungkin ada juga alasan rasionalnya, saya kurang paham.

Seorang kawan saya memerlukan waktu 40 hari setelah anaknya lahir untuk diberi nama. Katanya mengikuti sunnah. Padahal, bukankah beberapa nama nabi diberikan Tuhan jauh beratus tahun sebelum mereka lahir, semisal Yahya dan Muhammad. Wallahu ‘alam. Saya hanya membayangkan aneh, apa panggilan orang2 dewasa kepada anaknya yang baru lahir selama masa 40 hari tak bernama itu?

Tapi saya termasuk orang tua yang merasa wajib untuk mempersiapkan nama terbaik untuk anak-anak saya, jauh sebelum mereka lahir. Nama yang baik, tentu doa yang baik pula. Anak-anak saya bukan saja merupakan anak-anak biologis yang lahir dari darah daging saya, tapi lebih jauh dari itu, mereka adalah anak-anak ideologis saya. Tempat saya menitip ideologi, tempat saya menebar benih masa depan. Meski mereka akan meneruskan hidup dengan caranya sendiri, tapi saya berusaha menitip sebuah doa setidaknya pada nama yang saya berikan.

Nama anak pertama saya Mahdi Muthahhari Bandu Noertika, namanya tentu memuat doa yang sungguh keren menurut saya, juga puitis. Nama itu berima di dua nama depannya. Sungguh enak menyebutnya. Mahdi, imam ahlulbayt ke-12, manusia suci ke-14 keturunan Rasulullah SAW. Juga bermakna orang yang diberi petunjuk, hidayah. Muthahhari, adalah nama filosof dan pemikir Iran yang turut membangun pondasi revolusi Islam Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini qs. Kalau Rasulullah SAWW menyatakan bahwa pena ulama lebih tajam dari darah syuhada, maka Muthahhari menggabungkan keduanya. Beliau adalah ulama yang syahid oleh senjata yang dikokang musuh Islam: SAVAK – agen rahasia bentukan Syah Iran kala itu. Bandu adalah nama kakeknya dari garis istri saya yang wafat ketika Mahdi dikandung. Ia adalah representasi kesabaran dan kesalehan. Ketika beliau wafat, saya menazarkan namanya akan menghiasi nama anak saya nanti, agar kesabaran dan kesalehan beliau menurun ke cucunya.

Nama anak kedua saya adalah nama terindah buat seorang perempuan. Saya selalu membanggakan nama yang saya berikan untuknya. Maipa Deapati Noertika. Maipa Deapati sesungguhnya nama yang cukup dikenal oleh orang2 Bugis Makassar. Tercipta dari sebuah epik berlatar Makassar tempo dulu, “Datu Museng dan Maipa Deapati” karangan Verdy R Baso. Datu Museng adalah putra bangsawan dari Kerajan Gowa yang jatuh cinta kepada Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa. Kisahnya mirip dengan Romeo dan Juliet versi Shakespeare. Keduanya terpisah hanya oleh kematian. Tentu saja saya tak bermaksud mendoakan kisah cintanya nanti sedemikian. Tapi saya berharap semoga Maipa Deapati tumbuh menjadi perempuan cantik yang cerdas dan berani. Amin.

Beberapa hari ke depan, anak ke-3 saya insya Allah akan lahir. Menurut dokter, usia kandungan sudah 38 pekan, dan sudah menanti hari untuk dilahirkan. Air ketuban sudah keruh katanya, meski saya agak heran bagaimana si dokter tahu soal keruh tidaknya air ketuban. Dari USG tentu tak begitu detail mata bisa melihat tingkat kekeruhan ketubannya. Meski begitu, pesan yang sampai di kepala saya jelas, waktunya akan segera tiba. Namanya pun sudah saya siapkan, beberapa bulan yang lalu.

Nama yang saya siapkan untuk anak saya yang ke-3 ini, yang menurut hasil USG berkelamin laki-laki, adalah MAHATMA. Mendengar nama ini, mungkin orang segera mengaitkan dengan Mahatma Ghandi, tokoh anti kekerasan asal India. Meski mirip, tapi sesungguhnya bukan beliau yang mengilhami nama itu. Mahatma sejatinya berasal dari kata Atma, yakni jiwa dalam terminologi Hindu. Maka Mahatma bermakna maha jiwa. Maha jiwa adalah representasi kesempurnaan jiwa, yang dalam islam disebut sebagai Insan Kamil, Insan sempurna. Insan sempurna tentu memiliki jiwa yang sempurna, jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah).

Saya lagi mencari nama kedua (middle name) untuk anak saya ini. Meski di benak saya sudah ada kandidat namanya, dari nama seorang filosof terkemuka dari mazhab Isfahan abad ke-13M, tapi saya masih menimbang-nimbang nama lainnya.

Ada ide?

Tagged with:

Me, a Father!

Posted in keluarga by daengrusle on December 5, 2008

mahdi.JPG

By time being, i just realized that it has been years now my Mahdi and Maipa grew up under my eyes. Grew up together as well as me as their parents, trying to be the better one for them. There were so many amazing moments captured in my mind while seeing their began to walk, touch and reach, and especially the words. Many unpredictable and suprisefull words speak out from their small lips and always make me smile, even laugh but evenmore trying to learn anything from it. Make me so thankful to the God who has given me a time and chance to be their beloved parents.

 

maipa.JPG

I always try to make their eyes as my eyes, seeing and thinking through the world by the way they think and see. Never prejudice them by and as what we did, as old man with complicated and even absurd standard. They are growing with their own world, and obviously a world with a totally different with what we had. Especially on how to manage and explore the new environment those appears time by time. We can led them by introducing what we did, but surely it will only became no more just a reference for them. They have their own world!

 

A thing that make me so happy being a human is when they happily recognize me as one of the best thing in the world, me a father!

bertiga-cinta.jpg

Catatan singkat di ulang tahun pernikahan kita yang ke-4

Posted in keluarga, percikrenungan by daengrusle on November 18, 2008


foto-rusle-irma.jpg

 

 

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja. Aku sibuk memoles batu gunung di pondasi rumah kita, dirimu mengayak pasir kerikil dan dicampurkan dengan semen beton. Aku sedang menganyam tulangan pengikat pada balok yang dibentang pada pondasi, dirimu mengayunkan satu dua sekop beton curah pada lantai persegi. Kita sungguh sangat sibuknya. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan indah disana.

Rumah yang sedang kita bangun tentu masih jauh dari sempurna. Hari ini baru pondasi saja, itupun masih aku harus selesaikan disana sini. Dirimu masih belum selesai mengguyur beton curah ke seluruh muka rumah. Dan kita masih terus asik bekerja. Belum ada dinding, pintu, tangga, apalagi atap. Baru setinggi mata kaki saja. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan ceria disana.

Di halaman yang tak begitu luas, baru tertanam dua pohon mangga. Pohon yang masih kecil, belum bisa menghasilkan buah. Mangga, buah itu, dirimu tahu sungguh aku selalu menginginkannya. Di kepala kita, ada gambar pohon nan rimbun dengan buahnya disana.

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja, juga bermain. Sesekali dirimu cemberut kala kugoda dengan terlalu, sekali lain aku yang merengut kala dirimu tak mau tertawa. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan bahagia disana.

Di kepala kita, ada gambar bangunan sempurna disana. Tapi entah kapan bangunan itu terwujud. Kita masih asik bekerja.

5 November, Apa Yang Akan Selalu Terkenang?

Posted in keluarga, Nasional, percikrenungan by daengrusle on November 4, 2008


small_obama_image.jpg

 

 

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.

Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.

Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.

(more…)

Tunggangan baru: user-friendly

Posted in keluarga, narsis by daengrusle on November 4, 2008

rush.jpgSudah lebih dari sebulan ini saya punya tunggangan baru, Alhamdulilah. Berbekal mecahin celengan yang dikumpulin pas di Balikpapan, ditambah seiprit pesangon dari tempat kerja lama, plus segepok pinjaman lunak dari brother, saya akhirnya bisa memiliki tunggangan ini. Kenapa milih jenis tunggangan ini? Simpel aja, nama tunggangannya mirip dengan nama depan saya: Rus. Cuman ditambahin satu huruf saja (h) dan jadinya seperti memanggil nama saya dengan mendesah…he3.

Belinya di Auto2000 Cibinong, juga alasannya karena dekat dari rumah plus sudah ada ‘koneksi’ yang terjalin sebelumnya, selain karena salesnya yang cuakep itu (ini sebenarnya alasan utama). Service after sales? Hmm, ada. Tiap 1000km, 10,000km, dan kelipatannya.

Tunggangan ini model transmisinya user-friendly. Tangan kiri dan kaki kiri gak begitu perlu digunakan, secara pedal kopling nya gak ada dan stik transmisinya sederhana saja. So, sangat user-friendly, senafas dengan tujuan saya yang gak mau disusahin. Maklum type nya sendiri katanya Automatic Transmission. Rush S A/T. Mahdi pun sangat menyenangi tunggangan ini, yang selalu ia sebut sebagai “mobil Mahdi”.

So far, tunggangan ini baru saya geber untuk jurusan Bumi Sentosa – Bojonggede – Gunung Putri – Bogor saja atawa hanya jarak dekat. Selebihnya, kalau ke kantor di Tanjung Barat Simatupang Jakarta, saya masih memanfaatkan jasa kawan yang lebih expert, demi alasan keamanan (alias paranoid ama traffic Jakarta). Mudah2an seiring berjalannya waktu, saya bisa menungganginya sendiri. Amin.

Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum

Posted in keluarga, Nasional, percikrenungan by daengrusle on November 2, 2008

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

(more…)

Hati Rombeng

Posted in keluarga, percikrenungan by daengrusle on October 21, 2008

haru.JPG

Seberapa kuat tangan kita melakukan perubahan – ke arah yang lebih baik, meski sekecil hempasan riak ombak di samudera lepas? Jawabnya standard: sekuat usaha Anda mengubah ide baik menjadi gerak laku. Transformasi ini sebenarnya mudah sahaja, hanya dibutuhkan momentum di awal. Momentum ini adalah semisal hidayah dari Tuhan. Tuhan mungkin sudah membisikkan banyak hal baik dan penting, namun bisikan ini hanya akan menjadi energi yang statis sekiranya tidak ada loncatan spirit dari manusia untuk memulainya.

Selepas makan siang yang lahap dengan paru goreng dan sebotol teh dingin segar di sebuah warung Padang depan Masjid belakang kantor, mata saya kembali tertumbuk pada sesosok perempuan paruh baya berwajah dekil, berbusana rombeng dan oleng, menenteng belas kasihan dalam sebuah kantong keresek hitam. Ia menengadahkan mulut kantongan itu kepada siapapun yang berlalu di hadapan mereka. Dari mulutnya yang hitam dan kering, tak lupa diselipkan senyum tersisa yang seperti dipaksakan, lirih ucapan baku yang dilagukannya setiap saat “Den, bagi rezeki nya Den“.

Di lengan perempuan yang dibalut sehelai kain sarung berwarna pudar kusam, menggelayut diam bayi hitam yang terpapar terik siang. Jika tak sedang asik menetek pada botol berisi air, sesekali bayi hitam ini menatap tegun tepat ke wajah perempuan yang mungkin ibunya itu. Tak jauh dari keduanya, asik bermain dua bocah kecil di pelataran mesjid. Keasikan mereka seakan menyiratkan pesan dunia lain yang bukan bagian dari fragmen miris yang diputar stripping saban hari di mesjid itu. Dua bocah itu, bersama sang bayi hitam mungkin tak sadar bahwa nasib mereka sedang bergulat dengan isi kantong keresek hitam yang ditengadahkan sang perempuan.

Semenjak saya pindah di kantor baru ini, sejak awal ramadhan kemaren, perempuan ini bersama ketiga anaknya selalu rajin berdiri di depan pintu pagar mesjid. Sesekali ia ditemani perempuan lain yang tak kalah rombengnya, juga lengkap dengan ‘pengikut’ yang jumlahnya sama, tiga anak kecil; satu di pelukan, dua dilepas bermain di pelataran mesjid. Secara tak sengaja, saya pernah menjumpai perempuan ini di stasiun Tanjung Barat, bersama-sama menunggu KRL menuju selatan Jakarta.

Saya tak sempat mengikuti hingga perempuan itu turun dari kereta, tapi hati saya berbisik masygul, perempuan ini menjejak langkah yang cukup jauh demi untuk mengemis. Bahkan, menurut pandangan ekonomi, perempuan ini menjalankan fungsi positioning dan segmentasi yang cukup baik. Dia mangkal di lokasi yang cukup menjanjikan bagi ‘produk’ jualannya. Mesjid tempat dia ber’jual’an adalah gerbang terluar dua perusahaan multinasional; Big-Four Oil World Producer dan World Leading Manufacturer in Food Industry, yang memanfaatkan gerbang itu untuk tetirah makan siang, sholat atau sekedar pulang ke kontrakan. Tentunya penghasilan karyawan2 itu lebih dari cukup untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan mulia, apatah lagi mesjid yang berdiri adem di sisinya tentu selalu mengingatkan untuk berlomba-lomba menenggak ibadah dunia untuk bekal pahala akherat kelak.

Mata saya mungkin tak awas, tapi setidaknya saya tak pernah melihat ada yang lalu lalang, singgah barang sejenak untuk mengisi kantongan rombeng itu. Meski saya sering mencuri duga isi kantongan itu, saya kira isinya hanya recehan pemberat saja, atau mungkin isinya selalu dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Jiwa pragmatis saya berusaha mengerti alasan mereka, para karyawan bergaji tinggi itu untuk melewatkan kesempatan mendulang pahala. Saban hari memberi berkah, memberi donasi kepada si perempuan sungguh bukan cara yang baik untuk membantu dia bangkit melawan ketakberdayaan ekonomi. Melihat postur si perempuan, dan daya tahannya berdiri dibawah terik selama lebih kurang tiga jam, dari sebelum duhur hingga ashar lewat, tentu menimbulkan rasa penasaran. Apakah tak sia-sia daya yang dianugerahkan Tuhan dengan tubuh sempurna itu dihabiskan hanya untuk menengadahkan tangan, merenggang waktu yang kiranya bisa lebih produktif dan mungkin menghasilkan lebih banyak?

Namun adakah yang lebih baik daripada memaki sebuah ketakberdayaan materi, yang mungkin berimbas kepada keterpurukan kreatifitas memanusiakan dirinya? Mungkin karyawan-karyawan itu sedang menjalankan ritual ‘mendidik’ si perempuan untuk mencari kail yang lain – yang lebih terhormat dibanding hanya sekantong keresek lusuh. Mengharap ikan tanpa kail, mungkin hanya bisa dipenuhi di pasar saja. Sedang pasar dipenuhi hukum yang jauh lebih rimba daripada masjid.

Ah, saya tak mampu berpikir serumit itu sekarang. Di benak saya hanya terngiang wajah kakanda saya – Rusdiana, yang padanya saya banyak berjanji untuk mengirimkannya banyak cahaya untuk alamnya kini.

dua puluh enam tahun silam – saya baru bisa baca di kelas 3 SD!

Posted in keluarga, percikrenungan by daengrusle on September 25, 2008

foto-jaman-sd-dulu.jpg
(foto saya thn 1987, dari kiri ; rusle, rusdin, rustam, diana, anto, emmang)

“Pak Amir sudah pensiun”, begitu jawab cucu saya, Iqbal-10tahun, – sesungguhnya saya merasa terlalu muda untuk menjadi kakek, – ketika saya iseng bertanya gmana keadaan sekolah nya, adakah yang telah berubah setelah berselang hampir 26 tahun saya tinggalkan? SD Negeri Inpres Pannampu 1 yang sekarang menjadi tempat si Iqbal menapak pendidikan dasar itu, pernah pula menjadi tempat saya ‘nongkrong’ selama enam tahun. sekolah itu sejatinya adalah sekolah yang amat sederhana, apalagi dibandingkan dengan sekolah tetangganya, SD Beroanging yang gedungnya bertingkat dan muridnya sombong-sombong.

Sekolah itu sederhana, bukan saja dari bangunannya yang hanya satu tingkat dengan fasilitas sederhana, tapi juga guru-guru nya teramat bersahaja. setiap tempat punya cerita nya, demikian juga dengan sekolah ini. Banyak cerita yang menghiasi masa kecil saya disana.

Saya menapak pertama kali bangku sekolah ini tiga bulan setelah masa sekolah dimulai, tepatnya di bulan Oktober 1982. Nomor induk atau stambuk saya, 8283023. 8283 menunjukkan tahun ajaran ketika memasuki sekolah; 1982/1983, dan 023 menunjukkan nomor urut daftar di kelas yang bersangkutan. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya mengenakan seragam yang tidak umum, seragam putih-putih.

Pak Amir, dengan badannya yang tegap pendek, rambut ikal dan senyum kebapakan, menyambut saya dengan antusias. Sambutan hangatnya tidak melepaskan beliau dari keheranan, “kenapa kamu baru masuk sekarang, setelah tiga bulan teman2mu bersekolah? saya jawab dengan tertunduk malu, “Bapak saya belum datang dari berjualan, saya belum punya seragam. Jadi malu kalau saya ke sekolah tidak pakai seragam”. Padahal saat saya masuk pun, sesungguhnya saya juga tak berseragam.

Yah, hari pertama yang mencemaskan. Saya lupa bagaimana detailnya, namun saya yakin saat itu saya dibanjiri perasaan cemas tak karuan takut disetrap atau diapakan karena bolos tiga bulan, plus kebingungan apa yang harus saya kerjakan di kelas dengan murid berjumlah lebih kurang 20-an itu. Di kelas itu, saya hanya mengenal tidak lebih dari lima murid, tetangga saya. Saya tinggal di suatu deretan perumahan yang kami namakan kompleks pasar Pannampu.

Kompleks kami dan SD Inpres Pannampu ini terhitung dekat, hanya diantarai oleh satu pom bensin dan satu jalan besar. Entah kenapa, semua anak-anak yang tinggal di kompleks memilih (atau didaftarkan oleh orang tua mereka) bersekolah di SD Inpres Pannampu, bukan di SD Beroanging yang megah. Persoalan pembayaran? saya kira tidak, karena kala itu pembayaran uang sekolah anak SD sudah gratis, yang beda mungkin uang BP3 dan Uang Pramuka. Gedung yang megah dan bertingkat sepertinya menjadi pelatuk resistensi tetangga-tetangga saya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD itu.

Saya ingat, Pak Amir saat itu sedang getol mengajar murid-muridnya membaca, tepatnya mengeja. Cara mengajarnya sungguh lucu. Dia melafalkan huruf demi huruf seperti tercekak. Misalnya mengeja huruf “b” dengan “eb”, atau huruf “r” dengan “rrrr”. Ah, sungguh menggelikan, dan terus terang buat saya cara beliau mengajar tidaklah membantu, malah menyusahkan.

Tapi kami semua menikmati pelajaran itu, dan hasilnya adalah bahwa saya baru bisa membaca ketika menginjak kelas 3 SD. Hahaha. Berbeda dengan anak murid sekarang yang masih duduk di Play Group sudah bisa membaca dengan lancar…

Loncat Lagi?

Posted in keluarga, percikrenungan by daengrusle on July 12, 2008

Dalam salah satu posting saya di blog terdahulu, ini dan ini, saya pernah berikrar untuk menghentikan kebiasaan profesional saya yang cukup buruk di mata sebahagian orang; kutu loncat. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi berpindah kota, bukanlah sesuatu yang gampang bahkan sangat merepotkan. Bukan hanya persoalan beratnya memindahkan satu keluarga, tapi juga mesti beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja yang baru. Belum lagi jikalau ternyata working culture di tempat baru tidak se’bagus’ yang diharapkan. Apalagi kalau rupanya kita berhadapan dengan team yang tidak sehangat yang diinginkan. Bukan soal untuk belajar assignment baru buat saya, tapi berhadapan dengan dinamika sosial yang membuat saya terkadang was-was. Tidak satu dua kali saya berhadapan dengan ‘acceptance’ yang tidak acceptable. So, mesti siap dengan pemikiran Expect the Unexpect, terutama untuk hal-hal non teknis. Ini resiko terbesar yang harus saya hadapi.

Kenapa mesti pindah lagi? Alasannya sebahagian besar justru sangat teknis. Alasan detail tentu tak etis disebutkan, tapi sekedar berbagi substansi nya saya kira tidak berdosa. Saya butuh penyegaran, dan mungkin, saya merasa ‘gagal’ di tempat sekarang. Penyegaran, atau lebih tepatnya mengembalikan saya kembali ke birahi profesional yang selama ini saya kejar. Yang mana saya merasa gagal mendapatkannya di tempat sekarang. Bukan tidak berusaha untuk bersyukur dan nerimo atas apapun suratan karir saya, tapi umur dan potensi saya mungkin tersia-sia hanya untuk menandaskannya di sesuatu bernama ‘nasib’. Jadi kepindahan ini karena kecewa, sikap negatif? Saya akui sebahagian besar mungkin iya, tapi saya berusaha berpikir positif. Banyak rentetan konsekuensi yang nanti akan saya jalani selepas kepindahan ini. Konsekuensi2 ini justru membuat saya menjadi bergairah kembali. Tidak apa kalau ada unsecurity prospect di depan, tapi bukankah semua hal di dunia ini juga unsecure kalau kita tidak berusaha memaintainnya dengan baik. So, no pain no gain.

Di tempat baru, saya mungkin akan mendapatkan assignment yang cukup menantang. Resiko besar terbentang di depan, tapi challenge untuk memperkuat sendi profesionalisme juga tertancap di depan sana. Portofolio proyek saya akan bertambah tentunya. Tinggal bagaimana saya memaintain dengan baik, untuk kemudian menjadi amunisi yang diperhitungan di medang pertempuran berikutnya. Proyek yang nantinya saya akan terlibat adalah proyek pengembangan lapangan yang sudah eksis. Semoga banyak ilmu yang bisa saya serap, selain fulus yang lumayan lah untuk menambah pundi-pundi tabungan masa depan buat Mahdi dan Maipa. Selain itu dinamika ibu kota mungkin akan membuat saya mengikuti pusaran ketatnya arus persaingan disana. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa semoga menjadi pelaut yang ulung di tengah samudera ibu kota yang menggelora.

Apakah tempat yang saya tuju nanti adalah pelabuhan terakhir? Hmm, saya meragukan itu, walaupun merasa ada kemungkinan ke arah sana. Tapi saya tetap berhasrat untuk menjadi nahkoda di sebuah kapal kecil, tempat dimana saya bisa mengarahkan kemudi dengan kreatif dan berani, atau melempar sauh di mana saya bisa menjaga kapal dengan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di antara gelombang yang sedahsyat apapun.

Satu hal yang paling membahagiakan buat saya pribadi, kepindahan ini akan mendekatkan saya ke kakanda tercinta. Saya bayangkan di setiap akhir pekan, akan selalu menyempatkan diri mengunjungi nya. Dan bercerita banyak hal seperti dulu. Amin.

Doakan saya.

In Memoriam: Mammi Hj Ramlah

Posted in keluarga by daengrusle on July 2, 2008

Ketika manusia berpindah ke alam baka, ke tempat mana semua kebaikannya akan bersemayam? Kitab suci mengajarkan kita bahwa ia akan ditulis abadi dalam Kitab Kebaikan, Lauh Mahfudz. Namun orang-orang bijak zaman dahulu mengajarkan hal yang lebih praktis dan menurut saya sangat romantis; ia bersemayam dengan nyamannya di sebuah bilik di hati manusia lainnya dalam bentuk yang indah dan sulit tergeser kecuali oleh penyakit alzheimer: kenangan.

Kenangan, mengabadikan semua kronik hidup manusia di kepala manusia lainnya. Ketika ia meninggal, maka sesungguhnya jiwanya, dalam bentuk yang lain, hidup terus dalam kenangan manusia lainnya sampai kemudian beberapa generasi setelahnya. Beberapa manusia mencoba mengabadikan ‘kenangan’ ini dengan menorehkannya dalam bentuk tertulis, hingga kemudian menjadi abadi sepanjang sejarah manusia sampai kemudian musnah bersama sejarah itu sendiri.

Saya sesungguhnya tak pernah siap memindahkan orang-orang yang dekat dengan saya, terutama jenis yang teramat saya cintai, ke dalam kotak ‘kenangan’ di kepala saya. Karena kenangan ini hanya bisa kita panggil dalam bentuk yang imajiner, dengan membayang-bayangi sosoknya yang hidup dalam perenungan. Sungguh meski indah, namun tak begitu terasa terutama bagi kita yang terbiasa bersentuhan fisik.

Mammie, yang hingga pusaranya tegak berdiri diatas makamnya tak pernah sekalipun saya mengenal panggilan lain atau nama aslinya, adalah salah satu sosok orang tua yang sangat membekas dalam kehidupan saya, terutama saat masih SMA. Suara beratnya lebih sering terdengar sebagai suara seorang yang cemas yang tak menginginkan hal lain selain kebaikan buat anak-anaknya, juga buat kami yang sudah merasa sebagai anak-anak kandungnya sendiri. Hidupnya yang sepenuhnya dihabiskan sebagai seorang guru tentu secara formal sudah membentuk laku nya yang digariskan pada sesuatu yang semua orang mungkin akan iri melihatnya; teladan dan cermin sempurna kesabaran. Ia adalah pusaran yang menarik semua energi yang membiak tak terarah yang kemudian luluh masuk ke dalam inti hidup itu sendiri; seperti apa anda hendak menjadi? Setiap memandangnya, atau acap kali bertegur sapa dengannya, maka saya hanya bisa cemas merenungi diri sendiri. Kesalahan apa lagi yang harus saya entaskan hari ini. Begitulah saya melihat Mammie setiap saat. Penuh kecemasan, karena diri yang tak pernah mampu menjadi cermin sempurna.

Rumah keluarga nya di Tinumbu, berhadap-hadapan dengan sebuah Panti Asuhan, seperti menjadi rumah kami juga. Keakraban saya dan teman-teman dengan keluarga ini terjalin akrab saat masih sama-sama belajar di SMA Negeri 1 Makassar, saat Dedy Babhe dan Yayu menjadi bagian yang mengisi masa remaja kami dan kemudian menjadi sebuah monumen sejarah dalam kronik hidup kami setelahnya. Mammie sudah mengakrabi kami sedemikian rupa hingga terasa bahwa tak ada beda antara kami dan anak-anak kandungnya sendiri. Suara baritonnya terdengar khas dan bersahabat saat menyapa kami yang kadang tak pernah malu menyambangi rumah itu hingga larut malam; makan, ribut, belajar, tidur hingga bermain domino atau yoker tanpa terbebani oleh rasa bersalah. Mungkin di rumah itu tidak mengenal istilah sungkan, hingga kemudian semua keluarga Mammie menjadi keluarga kami sendiri, dari Tante Siah hingga Uddin dan Om Juna’. Sari dan Budi Ciu menjadi saudara kami juga. Bahkan hingga kemudian ketika kami kembali dipertemukan di Jakarta. Rumah kontrakan Dedy Babhe di Pisangan, yang setiap saat ramai dikunjungi oleh Mammi, Pappi, dan seluruh kerabat kembali menjadi tempat kami berkumpul. Apalagi sebahagian dari kami tak punya keluarga di ibu kota ini, dan mereka menjadi keluarga terdekat yang kami miliki. Setiap kami dikabari bahwa Mammi dan Pappi datang berkunjung dari Makassar, tak elok rasanya tak menampakkan muka di hadapan mereka, dan kemudian dengan hangat mencium punggung tangannya. Saya, Alfian, Daus, Fajri, Onte, Culli, One, Faskan dan semua teman-teman yang pernah ‘terlunta’ di Jakarta tentu memiliki sebuah ‘kotak rindu’ khusus untuk Mammie, dan karenanya, kami membuatkannya surga kenangan di kepala kami masing-masing. Hingga kemudian kami akan membukanya tepat di hadapan Mammi saat perjumpaan kelak di alam yang sama. Insya Allah.

Di pertengahan Mei 2008, setelah hampir lima tahun tak bersua, saya kembali bertemu Mammi dalam kondisi yang sungguh tidak saya harapkan. Di sebuah ruang ICU di Rumah Sakit Akademis Makassar. Hati saya berat untuk menatap tubuh Mammie yang terbaring lemah, seakan bayangan sedih kakak saya yang baru saja berpulang kembali muncul. Saya dan teman-teman; Faskan, Langgau, Upphy, yang kebetulan berkumpul sepulang dari pesta pernikahan Onte, hanya berusaha berdoa dan mencoba menanamkan rasa ikhlas kepada saudara saya Babhe, Irzal dan Yayu. Ikhlas bukanlah sebuah tanda menyerah kepada nasib, namun sejatinya adalah tanda bahwa kita percaya kepada Yang Maha Memiliki, bahwa apapun yang terbaik bagi bagiNya tentu terbaik pula untuk hambaNya. Hampir tiga minggu di ruang ICU, saat pagi di hari Sabtu penghujung Mei 2008 , saat baru semalam saya tiba dari Balikpapan, kabar duka itu kemudian tiba dalam sebuah pesan singkat. Mammi telah ‘berangkat’ ke alam yang dijanjikan. Dan kami tak kuasa menahan pendar haru yang keluar dari kotak rindu kami untuk Mammi. Kematian adalah janji yang pasti, dan kami seperti tertagih olehnya. Tertagih akan kecemasan, bahwa kami tak akan pernah lagi menemukan kehangatan dibalik suara beratnya, selain menjadikannya kenangan yang akan kami bawa kelak, hingga perjumpaan kembali dengannya.

Selamat jalan Mammie, mohon maaf atas semua salah kami dulu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.