Ole-ole dari Parongpong Lembang
Diantara jeda acara AwayDay2008 kantor – 28-29 Nopember 2008, sempet jepret sana jepret sini. Lokasi: Kawasan Parongpong, Villa Air dan sekitarnya, Lembang Bandung.
dibalik siraman cahaya mentari pagi, foto by Amrullah
foto: bandung nun jauh di balik bukit yang terhalang rimbunan villa mahal
Foto: Vila rupawan nan mahal, teganya dikau menghalangi gunung jelita di belakangmu?
PestaBlogger2008: Garing sih …..
kemaren adalah ‘pesta’ pertama yang saya ikuti. Pesta tahun lalu saya gak bisa hadir berhubung keterbatasan geografis (dan finansial), karena waktu itu masih menetap di Balikpapan. Nah, tahun ini saya punya kesempatan dan waktu untuk menghadiri pesta ke-dua ini yang dilaksanakan di Auditorium BPPT Sudirman.
Setelah janjian dan saling nunggu dgn rekan2 dari Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri di Sarinah Thamrin, n sempat nyarap dulu di salah satu fast food sono. Kami kemudian japruts (baca; jalan kaki) menuju BPPT; Rara, pak RT, Anto, Teeza, Chaliq, Fadhlan(?), pak Khalid Mustafa, adeknya pak Khalid, Irwinday. Bapak Kepala Genk: Hasanuddint rupanya sudah berada di TKP, dan estimasi kami meleset, kami yang lebih telat.
Tiba di TKP, rupanya sudah ramai orang2 pada antri untuk ngedaftar. Di pintu nya sudah banyak blogger2 yang nampang, foto2, atau nyebar quesioner buat doorprize.Saya gak perlu daftar lagi, soale termasuk perwakilan dari AngingMammiri yang kebetulan dapat green card lima blogger untuk jadi wakil resmi. Di pintu masuk ketemu blogger2 terkenal; Enda Nasution, Budi Putra, dan Daeng Battala. Di situ juga kemudian bergabung Bapak Kepala Genk, Hasanuddin yang ikhlas menunggu dan membagikan goddie bag gretongan kami, ada juga Mamie dan temennya, ada Daeng Marowa, Daeng Sukri, Daeng Ngitung. Sempat anak-anak AM-ers ini bernarsis ria dengan para seleblog he2.
mamie, saya, enda, amriltg, eko, arul
Di pintu masuk saya juga sempet ketemu Andrian, yang tempo hari menyelenggarakan IBC2007 (Inspired Blog Competition), kebetulan beberapa tulisan saya lolos di ajang itu. Rencananya kumpulan postingan yang katanya menginspirasi itu akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan kebetulan tulisan saya yang bertajuk “Menulislah dan Anda Abadi” ditaruh sebagai halaman pembuka, pengantar buku itu. Nah, saya sempat menanyakan status penerbitan buku itu yang dijawab Ardian bahwa buku nya terkendala soal penerbit. Belum ada penerbit yang cocok untuk dijadikan kendaraan. Saya bilang, bukannya sekarang banyak tuh penerbit yang gampang menerbitkan buku semacam Grasindo dan lainnya, sebagaimana yang AM lakukan sebelumnya, Apalagi jenis buku nya lumayan bagus: Inspired Blog! Tapi anyway, saya sempet diberikan e-book atau draft buku tersebut. Bangganya!Setelah merasa capai di pintu masuk, kami kemudian memutuskan masuk saja ke hall nya. Anak-anak AM-ers memilih untuk menempati balkon yang memang tidak begitu penuh. Sorak-sorai temen2 AM-er kelihatannya paling gemuruh, manakala MC (Panji) atau ketua panitia Ndorokakung menyebut komunitas AM atau ketika mengundang wakil AM menjadi panelis diskusi: Daeng Battala. Ha2, dasar udik…hehe, udik tapi keren boss…
Sebenarnya jalannya acara awal di hall terkesan garing, kurang greget dan membosankan. Banyak peserta yang kemudian tidak begitu fokus mengarahkan perhatiannya ke panggung yang notabene diisi oleh orang2 yang berkompeten di bidangnya. Tapi karena flow dan diskusi dikemas kurang menarik ya jadinya bikin peserta terkesan bosen. Tapi ada juga acara yang cukup meriah dan menarik atensi semua peserta pesta, yakni penganugerahan penghargaan komunitas. Most Promising (atau Promoting?) Community jatuh ke Bali Blogger Community yang waktu itu perwakilannya hanya tiga orang. Di bidang lain ada penganugerahan Blogging for Society Award yang jatuh ke Komunitas Blogger Yogya: Cah Andong. Hadiahnya berupa uang pembinaan 10 juta rupiah dari Oxfam, piagam, seperangkat komputer dari HP.
Telagawarna: Tea-walking Menembus Kabut
Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer di Selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.
Rimbunan bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.
Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.
Makassar: A Bird View
Senang rasanya bisa menyaksikan Makassar dari atas langit, meski itu meminjam mata kamera seorang rekan – Iwan Sandeq yang mengizinkan saya memuatnya di blog ini. Nah, nikmatilah.
Jadi rindu pulang ke Makassar!
sampai nanti kawan, ketika mana gelegar rindu memuncak rawan
dan meliuk mesra laksana sungai menawan perawan
padamu nanti kususuri semua jejak embun di cendawan
seperti rindu sangat seorang kawan
Ole-ole dari Makassar: Bassang Tak Sampai
Prolog: Ole-ole, bukan oleh-oleh, adalah segala sesuatu yang dihadiahkan kepada rekan, keluarga atau siapa saja dari seseorang yang baru saja bepergian. Ole-ole dari Makassar yang lazim dibawa adalah: Minyak Tawon, Juice Markisa, Kacang Disko, Replika Rumah Tongkonan, Otak-otak, Sarung Sutra, Songkok Bone, Dange, Roti Maros, Coto, Konro…halah….!
Apa ole-ole nya dari Makassar? Saya sendiri bingung ketika di’tagih’ beberapa kenalan di Balikpapan. Bingung karena pertama, memang saya tidak bawa ole-ole yang biasanya orang suguhkan sepulang bepergian. Kedua, karena memang saya tidak punya (dan tidak mau punya) kebiasaan membawa ole-ole itu. Selain mungkin karena saya rada pelit, juga sebagian besar karena saya kikuk dalam urusan ole-ole ini. Kikuk menentukan apa yang pantas untuk dibawa. Kalau beli sesuatu, takutnya kurang atau berlebih. Berlebih kan mubazir. Terkadang juga pernah saya mencoba menjadi teman yang baik, membelikan ole-ole. Tapi rupanya respon mereka biasa-biasa saja, kadang malah tidak menyentuh yang saya bawa. Nah, dari pada kikuk – juga karena memang saya pelit – saya ambil saja jalan mudahnya. Tidak bawa ole-ole. Simpel tapi pasang muka tembok, ha3!
Tapi tundulu, kawan. Ini Rusle, bung. Tak elok rasanya kalau ada perjalanan yang tidak diabadikan dalam tulisan. Nah, sebagai pengganti ole-ole (sebenarnya hanya justifikasi kepelitan saja), maka tulisan inilah yang menjadi ole-ole ku dari Makassar.
Jalan Tol: Menyedihkan
Ungkapan ketus dan sinis pertama yang saya lontarkan ke Makassar ini adalah Jalan Tolnya yang saat ini sedang diperpanjang, perlebar, perkeras, permak, perbodden, perdomes, persetan deh!
“Masya Allah. Sudah macet berat, jalan rusak poranda, debu seperti halimun gunung, panas melelehkan keringat, eh disuruh bayar pula! Kenyamanan apa yang mereka berikan sampai kita harus membayar?
Jalan tol (tanpa jalur alternative) di Makassar ini sebenarnya pendek sahaja. Tidak heran kalau bayarnya pun murah sahaja, Rp 1,500 (kalo ndak salah). Tapi perjalanan melintasi jalan tol dari pertigaan Sudiang-Mandai ini betul-betul seperti neraka.
Dan biarlah saya merasa tak ikhlas membayar tol nya itu.
Poster Para Pembual
Nah, inilah kesinisan saya yang kedua. Sejak memasuki jalan tol yang menyedihkan itu, saya disuguhi banyak bualan berbentuk sampah poster. Seperti biasa, para tim sukses para pembual ini rupanya tidak begitu cakap melakukan house keeping di kota sendiri. Ribuan poster para kandidat calon walikota yang belum resmi benar bisa bertarung dalam pilwalkot Makassar ini memenuhi nyaris di semua riang public dengan kondisi awut-awutan. Masing-masing seperti berlomba membualkan diri, hanya mereka yang mampu menaikkan harkat Makassar (dari titik apa). Ada yang merasa pe-de mengaku sukses membangun Makassar di jabatan sekarang (padahal masih fresh kita ingat Daeng Basse yang mati kelaparan di kota ini), ada juga yang menyuarakan antitesisnya: Tidak Akan Membiarkan Rakyat Makassar Miskin dan Kelaparan! Ada yang memasang senyum di sana sini dengan yakinnya (padahal kata temanku dia punya seabrek kasus menunggu di pengadilan). Ada juga yang dengan sangat narsis mengumandangkan: Dia Datang Membawa Perubahan. Ada yang juga dengan congkaknya mengaku sebagai New Solution for Makassar. Ambe’ mua mi ces!
Tak kurang dari sepuluh pembual yang menjajakan dagangannya di Makassar saat ini. Tentu saja nanti akan mengerucut sekiranya sudah ada koalisi yang tetap untuk mengusung calon dan wakilnya nanti. Tapi yang jelas, kota Makassar yang kotor itu makin kotor dengan sampah bualan.
Kopdar Komunitas Angingmammiri
Kali ini bukan sinism yang saya angkat. Tapi semangat komunitas di komunitas blogger Angingmammiri. Saya sempat mengikuti satu kopdar dari tiga kopdar yang diadakan rekan-rekan AM. Alhamdulillah bisa ketemu mereka, bisa bincang-bincang langsung. Kopdar kali ini saya membawa si kecil Mahdi yang serta merta menjadi pusat perhatian mereka.
Suasana kopdarnya sendiri bisa dibaca di blog beberapa rekan berikut.
100 Hari Kesedihan
Tidak hendak mengkopi paste judul novel Marquez. Tapi memang ini lah yang saya rasakan saat ini. 100 hari kesedihan mengenang kakanda yang ‘pindah’ duluan. Terkadang, hati masih tidak percaya akan kepergiannya, nyaris saban malam saya selalu terkenang beliau dan selalu menyelipkan doa semoga bisa bertemu di alam mimpi. Walaupun nanti juga akan ketemu suatu hari, saat saya juga ikutan pindah.
Acara 100 hari kematian kakanda saya ini diperingati dengan sederhana saja. Keluarga mengundang tetangga di Pannampu untuk mengaji bersama, dan alhamdulillah malam itu tamat juga al-Qur’an. Semoga pahala membaca al-Qur’an ini bisa tertransfer juga ke pundit-pundi amal kakanda saya, Rusdiana. Amin!
Reuni Kawan Smansa; Dua Pentas
Pentas Satu. Kesedihan. Saya menyempatkan bertemu dengan rekan Dedy, Yayu, Ical, dalam suasana sedih. Mammi, orang tua mereka, yang hingga sekarang teramat akrab dengan kami, terbaring lemah di ICU Akademis karena kepayahan jantung. Kondisinya lumayan memprihatinkan, nafas dan jantungnya lemah nian. Apalagi ditengarai ada massa (tumor?) di paru-paru beliau. Saya pikir bukan doa kesembuhan lagi yang dibutuhkan beliau, tapi sudah pada taraf keikhlasan dan ketabahan untuk melewatkan saat-saat genting ini. Melihat beliau terbaring lemah di ICU dengan ventilator yang menancap di mulut nya itu membuat saya trauma. Ini mengingatkan saya pada kakanda saya yang sempat mengalami hal yang sama di Bogor tempo hari sebelum berpulang. Semoga yang terbaik diberikan kepada beliau, amin.
Pentas Dua. Kebahagiaan. Saya ber-reuni lagi dengan teman-teman di Manunggal. Kebetulan rekan saya Onte melepaskan masa bujangannya disana. Senangnya bisa bertemu teman-teman lagi. Hebatnya ada Ali Mukhtar Ngabalin – anggota DPR yg acapkali rebut selama siding itu – hadir memberi petuah pernikahan. Pak Ngabalin memang adalah ipar dari Onte. Juga ada pak Walikota Makassar si Aco menyempatkan hadir malam itu.
Yang sempat membuat saya takjub saat itu adalah gedung Manunggal itu rupanya kecil sahaja. Padahal, waktu saya dulu beberapa kali kesana, entah karena ikut lomba lukis anak-anak, entah juga waktu ikutan perpisahan SMP, gedung Manunggal itu terkesan sangat megah dan luas banget. Kok saat kemaren saya kesana lagi, kelihatannya kecil saja. Ah, mungkin karena badan saya yang membesar, he3.
Palopo. Kota Keluhan
Sebenarnya tak elok hati ini ini hendak berkunjung ke Palopo. Kota yang selama ini mendatangkan banyak keluhan. Hamper semua keluarga saya yang jadi pedagang di kota ini mengeluh tak habis-habisnya. Dagangan mereka tak begitu laris. Saya piker ini kan resiko berdagang, tapi kalo terus-terusan terjadi ya ada baiknya mereka hijrah mencari kota lain yang lebih menjanjikan.
Di kota ini, kota asal mamanya Mahdi, saya habiskan semalam saja. Saya sempatkan menziarahi kuburan paman sekaligus ayah mertua saya Haji Bandu, ipar sekaligus sepupu saya Anto sambil berpesan untuk membuatkan pusara yang layak, dan juga bibi saya Indo Sati. Saya sempatkan juga berkunjung ke paman yang sedang sakit, Haji Tiro. Stroke yang menghempasnya tahun lalu itu betul-betul meruntuhkan hidupnya. Seakan-akan beliau sudah finish sebelum berakhir pertandingan. Dari wajahnya hanya ada keputus asaan. Sayang sekali.
Bassang: Hasrat Tak Sampai
Sampai hari ke-sepuluh saya di Makassat. Tak sekalipun saya berhasil mendapati makanan favorit ini. Ah!
Tiga Catatan Sebelum Lupa: Perjalanan
Perjalanan: Refreshing Kepenatan. Bepergian atau istilah kerennya traveling adalah aktifitas menyenangkan yang bisa merenggangkan kekolotan, atau kejumudan diri karena sudah terlalu lama terpaku di tempat berdiri. Sesekali bepergian akan membuka wawasan, bukan saja mata yang terhibur dengan hal-hal baru, tapi juga isi kepala menjadi lebih banyak dan dengan demikian hati pun makin mendi lebar, merekah dan memaklumi keberagaman alam manusia. Orang kolot umumnya jarang atau bahkan tidak pernah bepergian (minimal virtual traveling – lewat browsing internet), dan ini yang membahayakan. Bahaya karena kebijaksanaan seseorang berbanding lurus dengan intensitas persentuhan fisik dan akali mereka dengan dunia luar. Makin jarang mereka bersentuhan dengan dunia luar, maka makin jumud lah pikirannya. Kejumudan pemikiran bukan saja mengerikan buat masyrakat yang heterogen, tapi juga bisa mematikan dinamika sejarah! Busyet.
Temasek: First Abroad. Sebelum 14 Februari 2008, saya masih menganggap diri saya orang udik. Persoalannya sederhana saja. Banyak diantara teman-teman saya, juga kakak saya, sudah pada punya passport dan tentu saja cap imigrasi manca negara itu menjadi souvenir abadi di buku kecil mereka. Bahkan om, tante, sepupu dan ayah ibu saya pun sudah pernah menjejak kaki di luar Indonesia, ber-format ibadah suci. Saya, dengan umur yang sudah kepala tiga, belum sekalipun men’cicipi’ yang namanya bepergian ke luar negeri. He2. Perjalanan terjauh saya hanya sampai ke Bukittinggi saja.
Kopdar Megaloman-ers di Daeng Mamink
MEGALOMAN DI TIM
Kamis, 13 Maret 2008. Jakarta dibekap dingin sehabis dimandikan gerimis sore. Selepas menunaikan tugas kantor berguru soal system integrasi, saya meninggalkan Sari Pan Pacific menuju Taman Ismail Marzuki. Ada janji ketemuan ama temen2 blogger Angingmammiri; Rara, Soeltra, Nawir Gani. Di TIM, dua jam menikmati toko buku Afrizal Malna; buku sastra Indonesia klasik, dari Mohammad Yamin hingga Ayip Rosidi, dari Motinggo Busye hingga NH Dini, terselip juga buku kak Hasymi Ibrahim; antologi esainya – Anatomi Sang Kursi. Luar biasa!
Tapi yang kemudian dikemas kedalam tas adalah buku2 berharga jeblok dari Kompas-Gramedia. Enam buku murah meriah seharga 5ribu – 10ribu yang dipapar di etalase khusus discount itu lebih menarik hati; murah tapi (sepertinya) karya bermutu. Dari novel Ismet Fanany hingga kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana. Juga ada Yanusa Nugroho, Rahmat Cahyono, dan kumpulan sanjak cerpenis Gus tf. Busyet. Gak tega rasanya membeli buku berbandrol pengarang dan penerbit jaminan mutu itu dengan duit ketengan. But tetap aja seneng, soale sebagai penikmat buku yang lebih tepat disebut kolektor (bukan pembaca, apalagi bookaholic), saya masih tergolong price-sensitif book-reader. He2, malu2in ya.
Selepas dua jam itu, kami kemudian membelah gerimis dan macet menuju Daeng Mamink, di bilangan Casablanca. “Na-tax saja!” usulku kepada Rara dan Nawir-Gani. Soale, agak repot naek angkutan berkali2 sampai kesana. Toh, ongkosnya pun juga so-so aja. Soeltra gak ikut, mesti ngejemput Ocha yang lagi bingung di Senen. Dalam hati sebenarnya agak nyesel kenapa mesti janji di TIM, toh temen2 bisa aja langsung ke Daeng Mamink juga, ngirit waktu dan effort. Tapi ini juga asik, he2. soale dapet buku bandrol murah itu. Gerimis turun malu-malu. Macet di Pasar Rumput. Polisi cepek, preman modal sabun dan lap, pengasong, berkerumun laksana lalat main hujan-hujanan. Ada maki dari mulut sopir taxi; ah buat saya gak pantas berkoar kotor selagi ada customer! Tapi kemudian lancar selepas Pasaraya Manggarai.
foto: de-bat, nawirgani, bisot, soeltra, ocha, rara, munawir (without me)
foto: formasi lengkap; with me, Farhan dan DM – kepotong dikit he2!
MEGALOMAN DI CASABLANCA
Gak sampai 10 menit, kemudian tiba di Daeng Mamink, Casablanca. Kak ATG aka daengbattala sudah menunggu; setengah piring nasi goreng sudah dilahapnya dengan antusias, namun kemudian jeda menunggu pesanan kami datang. Soeltra belum juga datang; bahkan bertemu Ocha pun belum, begitu katanya dari curi denger obrolan via phonenya Rara. Sekitar setengah jam kami berempat ngobrol; muncul Bisot. Ndak nyangka tampilannya cool; jaket kulit dan jaim. Dewasa ki tawwa pembawaannya. Padahal sa sempat mikir kalo dia itu sepantaran mahasiswa lah. Rupanya doi dah lama jadi pegawai Bea Cukai; malah ternyata katanya seangkatan dengan Yayu, teman SMAku. Kemudian berturut-turut muncullah Munawir, juga Soeltra dan Ocha. Selepas itu datang lagi Daeng Marowa beserta Farhan dan dua orang kerabatnya. Terakhir, muncul pak RT. (more…)


leave a comment