Perjalanan Menyiram Dahaga – Baitullah
Tidak ada suasana paling mengharukan selain ketika pertamakali memandang langsung Baitullah. Sekian tahun menghadap sang Khalik dengan posisi badan mengarah ke Baitullah tentu menjadi alasan logis mengapa kemudian suasana haru itu muncul. Belum lagi, dan tentu paling utama, titik spiritual kita yang tergugah karena demikian sacral nan mulianya tempat ini dimana kita bisa membayangkan nabi-nabi dan waliyullah pernah berada di tempat terbaik ini. Dan kita berada di jejak yang sama.
Bukan soal berapa kali kelipatan kuantitatif pahala yang diperoleh ketika beribadah mendekat ke pusat kiblat ini, tapi lebih dari itu, sesuatu yang mungkin tak terbahasakan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Sama tak terbahasakannya ketika seseorang yang mencari sekian lama sesuatu miliknya yg berharga yang hilang, kemudian menemu ‘sesuatu’ itu tepat di depan matanya. Ungkapan terbaik adalah ungkapan dalam keriuhan hati yang bahagia tertuju langsung ke sang Pemilik, bukan dengan ucapan-ucapan atau kata-kata yang sungguh terbatas.
Dari Buku ATLAS dan Saya Ada Di Sini
Biasanya ada banyak hal yang menginspirasi orang-orang untuk beranjak menuju keadaan lain yang diinginkan. Terkadang inspirasi dicomot dari kisah sukses orang lain, keinginan melepas dari kesulitan diri sendiri, dari filem, buku, dan lain-lain. Semuanya akan bermuara ke satu hal: cita-cita.
Dari sebuah obrolan di milis blogger Angingmammiri, Opa Brad melempar postingan berjudul “Buku Yang Mengubah Hidup Anda? Dia bercerita tentang buku yang dia baca dan kemudian mengubah jalan pikirannya. Teman-teman lain juga merangkai cerita yang sama mengenai buku-buku yang membuat mereka tergugah untuk beranjak ke keadaan hidup yang lebih baik, setidaknya ‘lebih baik’ menurut perspektif masing-masing.
Tentang buku yang menggugah itu, satu hal yang kemudian terlintas di kepala saya, mozaik kenangan di Makassar tahun 1986. Ketika itu saya masih kelas 4 SD, dan baru saja memenangkan juara 1 Lomba menggambar sketsa yang diadakan oleh Harian Pedoman Rakyat. Saya masih ingat persis detail gambar sketsa pensil saya tentang suasana pasar Pannampu, tempat saya tinggal ketika itu, memenangi lomba dari sekitar 100-an peserta. Hadiahnya cukup banyak, dari hadiah uang Rp 100ribu dan beasiswa sebesar Rp 25,000 per bulan – nilai yang lumayan besar saat itu dengan harga BBM hanya Rp 250, seperangkat alat music organ untuk SD saya, plus voucher buku senilai Rp 25,000 juga.
Renungan Bonte’
Ahad siang, 11.50am
Melirik sambal terasi dengan tomat yang dicobe’ (gerus), saya melebarkan selera ke satu titik bayang di kepala saya.
“Ada bonte’?. Bonte’ adalah padanan kata timun, ketimun atau mentimun dalam bahasa bugis dan makassar.
“Gak ada” jawabnya meneruskan makan.
“Tadi di penjual sayur, ada (jual) gak?”
“Ada” dengan jawaban sekenanya.
“Kenapa tidak beli?”
Dia diam saja.
“Kalau bisa beli bonte’. Harganya gak seberapa”.
Dia tahu kesukaan saya, dan saya sering mengingatkan soal bonte’ ini. Bonte’ ini nikmat dihidangkan dalam keadaan segar, dengan kandungan air yang tinggi seumpama melon atau semangka. Bonte’ disajikan dalam bentuk irisan kecil membelah penamangnya yang berbentuk lingkaran, dihidangkan dalam piring kecil bersama sambal tomat yang diberi terasi. Lebih nikmat lagi kalau sambal tomat dan terasi itu ditumis terlebih dahulu.
Lauk apapun yang terhidang di meja makan, dan saya tentu lebih memilih ikan dibanding ayam atau daging, akan jauh lebih nikmat dengan bonte’ dan sambal sebagai pelengkapnya. Terkadang benak saya malah melebih-lebihkan statusnya dengan mengumpamakan ia sebagai aktor utama penggugah selera di meja makan, sementara yang lainnya hanya figuran. Saya rela berlama-lama, sambil menambah porsi makan, sekiranya ia hadir di menu makan saya. Apalagi sekiranya ditemani ikan carede goreng yang renyah.
Bonte’ punya nama populer di kalangan biologis: Cucumis sativus L. dan termasuk dalam suku labu-labuan atau Cucurbitaceae. Bentuknya seperti torpedo, memanjang dengan penampang melintang berbentuk lingkaran. Meski sebetulnya berbentuk buah-buahan, tapi dia lebih dikenal dalam kelompok sayuran. Sejatinya buah bonte berwarna hijau tua, namun kemudian terdominasi oleh warna putih berbentuk larik-larik. Bonte’ yang segar dan nikmat biasanya berkulit warna putih hingga di bagian bawahnya dengan sedikit hijau di kepalanya.
Bonte ini termasuk sayuran yang digemari. Selain menyegarkan sebagai teman lalapan atau sambal, harganya juga murah. Cukup dengan uang Rp 500, bisa membawa tiga buah dengan ukuran 10-15cm. Kalau nasibnya sedang beruntung, bonte’ naik kelas menjadi “teman” para gadis yang hendak menjadikan potongannya untuk melembabkan wajah, atau penutup mata ketika rehat kala perawatan wajah atau facial.
*****
Bonte’ juga punya mitos di kalangan penikmatnya, yang akan saya ceritakan belakangan. Buah ini sesungguhnya mudah ditemukan di kebun atau ladang liar. Dahulu, saya sering memetiknya di bekas-bekas penumpukan sampah di belakang rumah. Tanaman merambat ini mudah beradaptasi dengan lingkungan manapun. Tidak perlu perawatan yang telaten, ia berbuah kapan saja dimana saja. Sering saya membawa pulang beberapa buah bonte’ hasil berburu di tempat bermain di bukit bekas sampah yang tentunya subur dijejali kompos. (more…)
kudus

Kudus
:: kepada pemilik embun
malam ini menandai sejuta larik senyum yang tumpah membekap semesta.
kekudusannya meninggalkan jejak basah di setiap helai dedaunan
dan ranting-ranting pepohonan, juga semak-semak.
suara air memercik diantara keheningan yang ditiupkan oleh dingin malam
selebihnya, hanya ada bulan
yang menghitung jejak gelap yang tak mampu disingkapnya.
satu satu embun dipilin seumpama adonan kue
angin yang tak awas, ditangkap oleh dingin
kemudian dipintalnya menjadi titik-titik yang basah, namun lekat
ia tak terjerembab, namun diselamatkan
pada daun, ranting, atau bebatang yang hendak dimandikan pagi
menjadi mata-mata di remang malam
semua yang terpejam, membuka,
atau sekedar beringsut diantara keduanya
adalah saksi-saksi yang kelak menyanyikan kidung penyempurna
tak peduli apa warnamu kini
di sana kelak, pewarna tak ada gunanya
yang memantulkan cahaya adalah sesuatu di dadamu
ketika kau sadar darahmu mengalir pelan
benakmu menuntunnya menggapai pintu-pintu
maka sesuatu di dadamu itu membukanya
ketika itu kau akan mendengar suara sesejuk embun malam ini
sabdanya “selamat, damai lah selalu..”
semua warna : Amin! (more…)
Kisah Buaya di Istana Langit
Tengah malam di istana Tuhan, berlokasi di langit mahapuncak.
Malaikat penjaga gerbang mengamati penanda waktu di log-book nya, Senin, 2 November 2009, pukul 01.00 dini hari waktu langit.
Kidung pujian mengisi seluruh ruang dengar. Para malaikat penyanyi hikmat melantunkan pujian. Lantunan kidung pujian yang sayup-sayup syahdu dinyanyikan ribuan malaikat itu tiba-tiba runyam oleh ketukan bertalu-talu di gerbang istana. Suara gemuruh membahana memecahkan kesyahduan. Gerbang besar yang terbuat dari kayu mahoni berwarna emas itu berderak-derak gelisah. Malaikat penjaga gerbang mencatat, ada kurang lebih 500,000 ketukan yang bunyinya berbeda, namun terharmonisasi dalam irama yang sama. Juga, tak terbilang bisikan lirih yang menyelinap melalui angin yang berhembus. Semuanya seperti berdesakan hendak menyampaikan sesuatu. Seperti orkestra simfoni di sebuah teater, melantunkan kidung yang lain. Lebih lirih dan gelisah.
Tuhan, yang tak pernah tidur meski di malam yang paling lelap sekalipun, terkesiap dalam kewibawaanNya. “Malaikat, ada apa gerangan di gerbang istana-Ku? Doa apa kiranya yang hambaKu ingin sampaikan di tengah malam ini? seru Tuhan dalam keanggunan. Cahaya maha gemerlap memenuhi istana ketika Tuhan menyampaikan titahNya.
“Tuhanku yang Maha Tahu, tidaklah kami lebih mengetahui selain apa yang Engkau ketahui” malaikat penjaga tawadhu menjawab titah. “Di pintu gerbang, ada jutaan hambaMu yang gelisah hendak menyampaikan hajat, semuanya berasal dari negeri yang sama. Negeri hutan yang Kau berkati dengan kekayaan alam yang melimpah ruah.”
“Hajat apa gerangan hai Malaikat” tanya Tuhan kemudian.
Malaikat segera membuka lagi log-book nya, disitu tertera jutaan short message di kolom inbox. Juga status-status berseliweran di kolom status-feed. Isinya seragam, meski disampaikan dengan lantunan kalimat yang berbeda-beda; “Tuhan, bantu para cicak dari penistaan gerombolan buaya-kadal mutan!
“Baginda Tuhan, menurut pesan singkat dan sambungan langsung doa yang terkirim dari negeri hutan gemah ripah loh jinawi tapi masih miskin nestapa ini, mereka mohon agar paduka Tuhan sudi menyelamatkan para Cicak dari penistaan yang dilakukan oleh persekongkolan jahat buaya-kadal! jawab malaikat dengan santun.
Sesungguhnya malaikat ini bingung, baru beberapa waktu silam negeri hutan yang semestinya makmur ini dilipat-lipat bak kue lapis dengan gempa dahsyat. Para mujahadah berjumlah ribuan yang menjadi korban amarah bumi ini belum lagi selesai menjalani proses registrasi. Lantas, bencana apa lagi yang menimpa negeri ini.
Tuhan masygul, seperti membaca kebingungan malaikat penjaga.
“Panggilkan segera si Buaya dan Kadal sekaligus! titah Tuhan kemudian, tegas, lugas dan terpercaya.
“Duli, paduka! Satu lagi paduka, apakah Raja Singa penguasa hutan perlu juga dihadirkan di majelis ini?
“Singa? Hmmm….” jawab Tuhan menanggapi malaikat. “Memang belakangan Aku sering mendengar kabar kurang sedap tentang si Raja Singa ini. Dia ini katanya makin senang bersolek dan menghabiskan sebagian besar waktunya di salon kecantikan sahaja. Sementara urusan sehari-hari hambaKu diserahkannya kepada konco-konco nya. Mending kalau kompeten”. “Well, anyway, panggilkan juga si Singa kalau begitu. Aku juga hendak mendengarkan apa saja yang sudah dilakukan oleh si Singa yang Aku amanahkan menjadi khalifah untuk kedua kalinya di hutan yang seharusnya makmur sentausa damai tentram itu! (more…)






11 comments