Perjalanan Menyiram Dahaga – Baitullah
Tidak ada suasana paling mengharukan selain ketika pertamakali memandang langsung Baitullah. Sekian tahun menghadap sang Khalik dengan posisi badan mengarah ke Baitullah tentu menjadi alasan logis mengapa kemudian suasana haru itu muncul. Belum lagi, dan tentu paling utama, titik spiritual kita yang tergugah karena demikian sacral nan mulianya tempat ini dimana kita bisa membayangkan nabi-nabi dan waliyullah pernah berada di tempat terbaik ini. Dan kita berada di jejak yang sama.
Bukan soal berapa kali kelipatan kuantitatif pahala yang diperoleh ketika beribadah mendekat ke pusat kiblat ini, tapi lebih dari itu, sesuatu yang mungkin tak terbahasakan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Sama tak terbahasakannya ketika seseorang yang mencari sekian lama sesuatu miliknya yg berharga yang hilang, kemudian menemu ‘sesuatu’ itu tepat di depan matanya. Ungkapan terbaik adalah ungkapan dalam keriuhan hati yang bahagia tertuju langsung ke sang Pemilik, bukan dengan ucapan-ucapan atau kata-kata yang sungguh terbatas.
Pesan ‘Religius’ Berantai Tsunami: Menggarami Luka Menganga
…memberi vonis pendosa kepada para korban bencana alam tentu suatu hal yang teramat berlebihan. Logika sederhana kita mengatakan bahwa tak semua korban itu adalah pelaku dosa besar yang harus diganjar dengan azab.
Acapkali bencana menimpa suatu daerah, seperti yang baru-baru ini terjadi di Jepang, maka para pengguna gadget akan dibanjiri pesan-pesan religious yang mengingatkan betapa hina dina diri kita yang tak mampu melawan kuasa semesta.
Beberapa akan terpekur dan kemudian ber-istigfar atau mensyukuri nikmat yang kini dirasakan, beberapa lagi mungkin akan abai dan merasa tak ada hubungannya. Semua punya pandangan dalam memaknai bencana, meski berbeda dalam penyikapan. (more…)
UNREG [spasi] MAMA: Dari Ketiadaan Menuju Ketiadaan


Perencana atau istilah kerennya planner adalah profesi turunan dari peramal juga. Seorang perencana adalah perancang peta masa depan, dengan berbekal informasi-informasi pendukung baik yang sudah ada maupun yang dirancang sedemikian rupa untuk diadakan, untuk merekayasa masa depan agar sesuai dengan target capaian yang diinginkan.
Peramal juga berusaha memetakan masa depan, dengan ‘membaca’ penanda-penanda alam yang bermunculan di masa kini atau masa sebelumnya. Sebenarnya peramal hanya mencoba memformulasikan pengetahuan yang lazim dipakai binatang atau manusia ketika membaca alam. Bagi yang bisa membaca bagaimana reaksi hewan-hewan hutan yang lain dari biasanya, maka bisa diramalkan akan terjadi gempa atau bencana alam di kawasan yang berdekatan dengan hutan tersebut. Hal paling mudah adalah dengan melihat awan gelap berarak-arak yang disertai guntur menggedor angkasa berbarengan dengan kilat menyambar-nyambar, maka suatu kelaziman bahwa akan turun hujan yang bisa saja membawa bencana lain; angin ribut, banjir, atau longsor.
Tanda-tanda alam itu lebih banyak yang tersirat dibanding tersurat, lebih sering tersembunyi daripada kasat mata. Karenanya banyak orang gagal mengantisipasi musibah, bahkan ketika teknologi sedemikian canggihnya saat ini. Kemampuan membaca tanda-tanda yang tersembunyi itu konon tidak dimiliki oleh semua orang. Disamping memang karena bakat yang dibawa lahir, juga diperlukan latihan dan disiplin yang intens. Mama Lauren dan para ahli nujum ‘mungkin’ menjalani ritual yang ketat dalam mencapai pengetahuan membaca tanda-tanda alam ini.
Namun ada anomali yang membuat kita kadang meluruhkan rasa percaya pada ahli nujum ini, mereka terkadang tak mampu meramal nasib sendiri. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap premis kemampuan ahli nujum untuk memetakan masa depan. Mama Lauren, ahli nujum kesohor itu pernah terjebak banjir di rumahnya di bulan Januari 2009. Sementara tetangga-tetangganya yang bergerak cepat dgn mengungsi ke daerah aman bisa ‘membaca’ tanda-tanda banjir itu beberapa jam sebelumnya. Ki Joko Bodo mesti menjomblo terus meski sudah berupaya berpartisipasi dalam acara Takes Celebrity Out yang digeber salah satu stasiun televisi. Sementara banyak ‘pasien’nya mudah saja mendapat jodoh. Ki Gendeng Pamungkas pun demikian, alih-alih memenangkan masa depan, dia takluk dalam pilkada Bogor beberapa waktu lalu. Ustad Quraish Shihab mengajukan proposisi yang cukup telak untuk memvonis semua ahli nujum: peramal berbohong, walau kebetulan benar. Itu karena tidak semua masa depan yang dipetakannya terjadi. Bahkan lebih banyak salahnya, mungkin. (more…)
Agama, ringkasnya begini…
Sejatinya manusia dibekali embrio toleransi dalam ke-bhineka-an. Ketika sejak mula merintis sebuah komunitas, mereka meyakini sebuah keyakinan filosofis bahwa asal mereka hanya satu, meski kemudian berkecambah menjadi banyak ragam. Pun soal tradisi ritual dalam menyembah sang Satu, mereka punya kesepahaman bahwa cara boleh berbeda, tergantung tingkat penerimaan.
Kemudian muncullah konstruksi agama-agama formal yang coba ‘menata’ ulang kepercayaan itu, meluruskan yang agak serong, memperkuat yang sudah lurus. Hanya saja, agama formal itu secara tak terduga melahirkan kaum elit, yakni orang-orang yang mengaku punya tingkat kedekatan ‘lebih’ kepada kekuatan transenden dan dengan demikian menciptakan strata sosial dalam komunitasnya.
Maka muncullah otoritarianisme dalam ber-agama.
2012: Kiamat, Mama Lauren dan Kita

Ada persamaan kentara antara sejarahwan dan ahli nujum, keduanya membicarakan hal-hal yang tidak pernah dialaminya sendiri. Kalau sejarahwan memaparkan ‘temuan’nya dengan mengambil kutipan-kutipan terserak yang bersumber dari masa lalu, maka ahli nujum – beken dengan sebutan paranormal, menyendok ‘ramalan’ masa depan dari penerawangannya. Meski sejarahwan melandaskan analisisnya dari sebuah hasil studi yang ilmiah, namun ia tidak mampu menghadirkan gambaran utuh seperti apa masa lalu.
Mahfum kita pahami bahwa kutipan-kutipan sejarah adalah tetulisan atau kronik dari pihak pemenang, sebagai bagian dari propaganda atau justifikasi pembenaran mengapa para pemenang sejarah membunuhi lawan-lawannya. Para pecundang tentu saja tak sempat menuliskan sejarah dari perspektif mereka, karena keburu habis ditumpas jawara zamannya. Kecuali, beberapa tetulisan saja dan tergolong sedikit yang bisa diselamatkan pihak pecundang. Meski begitu, arus besar penulisan sejarah tetap didominasi oleh para pemenang, hingga seakan-akan itulah fakta sejarah.
Demikian juga halnya dengan ahli nujum. Meski keberadaannya sering diidentikkan dengan semua hal berbau klenik dan dengan demikian, menjadi musuh agama dan para ilmuwan, ramalan mereka masih mendominasi ruang pikir masyarakat. Meski dalam banyak hal, ilmuwan dan ahli agama juga gandrung soal apa yang akan terjadi di masa depan. Kalau ilmuwan menyebutnya sebagai prediksi, maka ahli agama -dengan bersandar pada penafsiran religiusnya – menyebutnya nubuwat. Sedang ahli nujum, penerawangannya betapapun kelihatan meyakinkan, menyandarkan pada hal-hal yang sangat subyektif. Suka tidak suka, dalam beberapa hal ahli nujum dan ahli agama bersaing merebut ‘iman’ orang per orang. Masyarakat yang kadar intelegensianya beragam, memiliki tingkat akseptibilitas yang juga berbeda.
(more…)
Hari Ini Kita Halal Ber-Sumpah Serapah!
Hari-hari belakangan ini kita ibarat disuguhi drama tragis mengerikan. Sinetron Indonesia yang isinya caci maki yang terkesan lebay kalah jauh sama reality show Si Cukong Anggodo dan konco-konconya. Si Cukong Anggodo yang bebas ngomong semaunya dalam sebuah acara di stasiun TV secara live bukan cuman membangkitkan amarah angkara murka, tapi juga sifat muak teramat sangat. Benar kata Adhie M Massardi dalam puisinya, negeri ini negeri yang dimpimpin kaum bedebah, dikelilingi oleh para begundal yang mencabik-cabik rasa hormat dan harkat martabat bangsa sebagai masyarakat religius, tepo seliro dan bertanggung-jawab.
Meski Chandra – Bibit sudah ditangguhkan penahanannya, tapi Anggodo itu masih berkeliaran dengan bebas tanpa ditahan, berkebalikan dengan perlakuan Polisi terhadap ikon baru masyarakat Inodesia, pahlawan anti korupsi Bibit-Chandra. Sementara dua penjabat yang gaji, fasilitas sampai celana dalamnya dibiayai oleh rakyat lewat pajak; Susno Duadji dan Abdul Hakim Ritonga, masih saja merasa tak bersalah dan tidak punya kemaluan, sampai mesti presiden SBY sendiri memerintahkan Kapolri dan Jakgung untuk menon-aktifkan kedua penjahat hukum itu. Itupun SBY butuh trigger sebelum tergerak untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya itu; issue mundurnya Prof Hikmahanto, Anies Baswedan, dan Prof Komaruddin Hidayat.
Hari-hari belakangan ini, kita seperti halal untuk bersumpah serapah. Semua makian dan cacian layak kita sematkan kepada semua oknum pejabat dan cukong yang sudah mencederai kepercayaan masyarakat atas azas keadilan yang harus ditegakkan. Alih-alih aparat hukum ini menegakkan keadilan dengan melindungi kerja kerasa para pemberantas korupsi, ini malah memenjarakan mereka dengan tuduhan mengada-ada. Di sisi yang berseberangan mereka malah melindungi dan menganak-emaskan cukong bangsat dan bandar narkoba, yang mungkin sering kali menyuapi aparat itu dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi. Seakan hidup hanya di dunia saja.
Hari ini kita halal bersumpah serapah. Seperti sumpah serapah Tuhan untuk para penjahat legendaris seumpama Yazid, Abu Jahal, Abu Lahab, Firaun dan Namrudz.
Beberapa nama yg terlibat layak masuk Hall of Fame di kotak kelam sejarah penegakan keadilan di negeri kita.
Pajak dan retribusi yang saban bulan kita gelontorkan dengan ikhlas atau terpaksa dengan semena-menanya mereka rayakan untuk sebuah persekongkolan jahat. Hitunglah pajak yang dipotong dari jerih payah kita semua, dari hasil keringat dan puter otak kita demi menghidupi keluarga, dibelanjakan untuk sebuah permainan kotor nan memuakkan. Besaran pajak itu mungkin jauh lebih besar dari total pengeluaran untuk membeli susu dan makanan bayi kita, atau juga jauh diatas UMP buruh kecil di pinggiran kota.
Ada lagi anak-anak muda polisi macam Evan Brimob yang menulis status di facebooknya dengan arogan: polisi tak butuh masyarakat, tapi masyarakat butuh polisi. Ini kebobrokan institusional, dan menunjukkan betapa memuncaknya sebuah kemaksiatan melingkupi insitusi penegak hukum. Sebenarnya layak kita kasihani, betapa polisi muda macam Evan ini otaknya sudah dipenuhi embrio kemunafikan dan arogansi…jadi jangan heran kalau atasan mereka juga tidak kalah arogannya.
!!!!
Ramadhan: Hormati yang tak puasa
Jangan manja, kalau hendak menjadi manusia yang tangguh dan mandiri. Ibarat pelaut, yang terulung adalah yang lahir bukan dari laut yang tenang tanpa gelombang. Pelaut yang ulung lahir dari tempaan alam yang keras, dan tak dimanja oleh fasilitas.
Di masa berpuasa, Umat Islam di beberapa tempat seperti bertambah sensitifitasnya. Beberapa diantaranya meminta perlakuan istimewa, kalau tidak hendak dikatakan hendak diperhatikan kebutuhannya. Saat berpuasa, gerai-gerai makanan diminta untuk ditutup, musik hingar bingar dihentikan, berbagai tempat olahraga ketangkasan disuspend.
Warung makan di siang hari kenapa mesti ditutup? Bukankah ada juga umat lain yang tidak berpuasa dan dengan demikian mesti dipenuhi hajat hidupnya. Karyawan restoran dan warung itu juga sebahagian besar diantaranya adalah saudara kita sesame Muslim yang butuh nafkah untuk anak istrinya. Apakah pajangan makanan dan minuman di gerai-gerai makan itu bisa mengurangi pahala puasa kita, ataukah bisa membuat kekhusyu’an kita berpuasa berkurang? Saya yakin tidak. Hanya orang-orang yang lemah iman yang akan tergiur. Sedangkan puasa hanya diperuntukkan khusus bagi umat Islam yang berkategori beriman.
Sedangkan untuk klub malam, olahraga ketangkasan yang biasa buka di malam hari, sebaiknya tidak perlu dilarang total. Tapi hanya diperuntukkan bagi kegiatan yang mesum saja dan tidak perlu menunggu Ramadhan untuk diberangus.
So, mari kita membalik paradigma. Hormati orang yang tidak berpuasa! Dengan demikian pahala puasa Anda makin bertambah. Amin!
Puasa Asyura – Penyimpangan Historis?
Hari ini, 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh melakukan puasa Asyura (Asyura artinya tanggal 10 Muharram) Mereka ingin mencontoh Rasulullah saw. yang berpuasa pada hari itu. Saya kutipkan salah satu hadis tentang puasa Asyura dari Shahih Bukhari:
“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.”
Bukhari menyatakan -hadis ini sahih. Tetapi marilah kita teliti dengan ilmu hadis dan kritik historis. Segera kita menemukan beberapa hal yang janggal.
Pertama. Sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini adalah Abdullah ibnu ‘Abbas. Menurut para penulis biografinya, Ibnu ‘Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijri. jadi, ketika Nabi saw. tiba di Madinah, Ibnu ‘Abbas masih di Makkah dan belum menyelesaikan masa balita-nya.
Dari mana Ibnu ‘Abbas mengetahui peristiwa, itu? Mungkin dari sahabat Nabi yang lain, tetapi ia tidak menyebutkan siapa sahabat Nabi itu. Ia menyembunyikan sumber berita, sehingga seakan-akan ia menyaksikan sendiri peristiwa itu. Dalam ilmu hadis, perilaku seperti itu disebut tadlis (Pelakunya disebut mudallis) (more…)






11 comments