Posted by: daengrusle | November 7, 2009

Doa Para Bedebah

Tuhan, di balik namaMu aku berlindung, dari serapah jutaan hambaMu yang murka
agar kutukan tak lantas menjadi doa, dan bebanku tak terlalu berat di neraka nanti

Tuhan, padamu aku mengharap, segerakan mereka terbenam dalam samudera lupa
agar aku bisa terbebas hari ini, biar besok lebaran bisa saling maaf-maaf-an lagi
dan aku leluasa berucap mantap: mulai dari nol lagi ya? Asik

Tuhan, mohon ampun kan aku yang sesekali bersumpah atasMu
karena saat itu aku kejepit jutaan caci-maki
aku mesti sedikit ngeles, sumpah tak pernah terima uang
tapi kalau check dan harta lain sih, oke dong

Tuhan, aku tahu Kau Maha Pandai, makanya aku coba meniru
kubilang tak terima duit 10Milyar, tapi lebih dari itu sih iya
tapi aku jujur kan, Tuhan..

Tuhan, karuniailah kebesaran hati buat para wakil rakyat,
agar senantiasa kuping mereka kebal menerima keluhan, tapi bebal menerima sogokan

Tuhan, kalau Kau lihat airmataku, tentu itu refleksi kesedihanku
karena anak istriku menjadi terkurung, musabab aku jadi pesohor para bedebah
buatlah mereka jera mengikuti langkah laknatku

Aku akan bertobat Tuhan, tapi nanti setelah usia di bibir senja
dan tak ada lagi yang bisa aku tipu

Tuhan, sebelum aku bertobat,
kumohon abadikan sifat pelupa bagi rakyat negeri bedebah ini. Amin.

Posted by: daengrusle | November 6, 2009

Hari Ini Kita Halal Ber-Sumpah Serapah!

Hari-hari belakangan ini kita ibarat disuguhi drama tragis mengerikan. Sinetron Indonesia yang isinya caci maki yang terkesan lebay kalah jauh sama reality show Kampret Anggodo dan konco-konconya. Kampret Anggodo yang bebas ngomong semaunya dalam sebuah acara di stasiun TV secara live bukan cuman membangkitkan amarah angkara murka, tapi juga sifat muak teramat sangat. Benar kata Adhie M Massardi dalam puisinya, negeri ini negeri yang dimpimpin kaum bedebah, dikelilingi oleh para begundal yang mencabik-cabik rasa hormat dan harkat martabat bangsa sebagai masyarakat religius, tepo seliro dan bertanggung-jawab.

Meski Chandra – Bibit sudah ditangguhkan penahanannya, tapi bangsat Anggodo itu masih berkeliaran dengan bebas tanpa ditahan, berkebalikan dengan perlakuan Polisi terhadap ikon baru masyarakat Inodesia, pahlawan anti korupsi Bibit-Chandra. Sementara dua penjabat yang gaji, fasilitas sampai celana dalamnya dibiayai oleh rakyat lewat pajak; Susno Duadji dan Abdul Hakim Ritonga, masih saja merasa tak bersalah dan tidak punya kemaluan, sampai mesti presiden SBY sendiri memerintahkan Kapolri dan Jakgung untuk menon-aktifkan kedua penjahat hukum itu. Itupun SBY butuh trigger sebelum tergerak untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya itu; issue mundurnya Prof Hikmahanto, Anies Baswedan, dan Prof Komaruddin Hidayat.

Hari-hari belakangan ini, kita seperti halal untuk bersumpah serapah. Semua makian dan cacian layak kita sematkan kepada semua oknum pejabat dan cukong yang sudah mencederai kepercayaan masyarakat atas azas keadilan yang harus ditegakkan. Alih-alih aparat hukum ini menegakkan keadilan dengan melindungi kerja kerasa para pemberantas korupsi, ini malah memenjarakan mereka dengan tuduhan mengada-ada. Di sisi yang berseberangan mereka malah melindungi dan menganak-emaskan cukong bangsat dan bandar narkoba, yang mungkin sering kali menyuapi aparat itu dengan gemerlapnya kenikmatan duniawi. Seakan hidup hanya di dunia saja.

Hari ini kita halal bersumpah serapah. Seperti sumpah serapah Tuhan untuk para penjahat legendaris seumpama Muawiyah, Yazid, Abu Jahal, Abu Lahab, Firaun dan Namrudz.

Orang-orang seperti dua bangsat bersaudara Anggodo dan Anggoro, Susno Duadji, AH Ritonga, Ong Yuliana, OC Kaligis, dan beberapa nama lainnya layak masuk Hall of Fame di kotak serapah sejarah kita. Laknat dan kutukan layak kita sematkan ke dada mereka!

Pajak dan retribusi yang saban bulan kita gelontorkan dengan ikhlas atau terpaksa dengan semena-menanya mereka rayakan untuk sebuah persekongkolan jahat. Hitunglah pajak yang dipotong dari jerih payah kita semua, dari hasil keringat dan puter otak kita demi menghidupi keluarga, dibelanjakan untuk sebuah permainan kotor nan memuakkan. Besaran pajak itu mungkin jauh lebih besar dari total pengeluaran untuk membeli susu dan makanan bayi kita, atau juga jauh diatas UMP buruh kecil di pinggiran kota.

Ada lagi anak-anak muda polisi macam Evan Brimob yang menulis status di facebooknya dengan arogan: polisi tak butuh masyarakat, tapi masyarakat butuh polisi. Ini kebobrokan institusional, dan menunjukkan betapa memuncaknya sebuah kemaksiatan melingkupi insitusi penegak hukum. Sebenarnya layak kita kasihani, betapa polisi muda macam Evan ini otaknya sudah dipenuhi embrio kemunafikan dan arogansi…jadi jangan heran kalau atasan mereka juga tidak kalah arogannya.

Kunyuk Anggoro Anggodo, Susno, Ritonga, Kaligis, Bonaran Situmeang, dan semua yang terlibat, semua buaya anjing buduk bedebah jiancuk tailaso!!!

!!!!

Posted by: daengrusle | November 3, 2009

Kisah Buaya di Istana Langit

Tengah malam di istana Tuhan, berlokasi di langit mahapuncak.
Malaikat penjaga gerbang mengamati penanda waktu di log-book nya, Senin, 2 November 2009, pukul 01.00 dini hari waktu langit.

Kidung pujian mengisi seluruh ruang dengar. Para malaikat penyanyi hikmat melantunkan pujian. Lantunan kidung pujian yang sayup-sayup syahdu dinyanyikan ribuan malaikat itu tiba-tiba runyam oleh ketukan bertalu-talu di gerbang istana. Suara gemuruh membahana memecahkan kesyahduan. Gerbang besar yang terbuat dari kayu mahoni berwarna emas itu berderak-derak gelisah. Malaikat penjaga gerbang mencatat, ada kurang lebih 500,000 ketukan yang bunyinya berbeda, namun terharmonisasi dalam irama yang sama. Juga, tak terbilang bisikan lirih yang menyelinap melalui angin yang berhembus. Semuanya seperti berdesakan hendak menyampaikan sesuatu. Seperti orkestra simfoni di sebuah teater, melantunkan kidung yang lain. Lebih lirih dan gelisah.

Tuhan, yang tak pernah tidur meski di malam yang paling lelap sekalipun, terkesiap dalam kewibawaanNya. “Malaikat, ada apa gerangan di gerbang istana-Ku? Doa apa kiranya yang hambaKu ingin sampaikan di tengah malam ini? seru Tuhan dalam keanggunan. Cahaya maha gemerlap memenuhi istana ketika Tuhan menyampaikan titahNya.

“Tuhanku yang Maha Tahu, tidaklah kami lebih mengetahui selain apa yang Engkau ketahui” malaikat penjaga tawadhu menjawab titah. “Di pintu gerbang, ada jutaan hambaMu yang gelisah hendak menyampaikan hajat, semuanya berasal dari negeri yang sama. Negeri hutan yang Kau berkati dengan kekayaan alam yang melimpah ruah.”

“Hajat apa gerangan hai Malaikat” tanya Tuhan kemudian.

Malaikat segera membuka lagi log-book nya, disitu tertera jutaan short message di kolom inbox. Juga status-status berseliweran di kolom status-feed. Isinya seragam, meski disampaikan dengan lantunan kalimat yang berbeda-beda; “Tuhan, bantu para cicak dari penistaan gerombolan buaya-kadal mutan!

“Baginda Tuhan, menurut pesan singkat dan sambungan langsung doa yang terkirim dari negeri hutan gemah ripah loh jinawi tapi masih miskin nestapa ini, mereka mohon agar paduka Tuhan sudi menyelamatkan para Cicak dari penistaan yang dilakukan oleh persekongkolan jahat buaya-kadal! jawab malaikat dengan santun.

Sesungguhnya malaikat ini bingung, baru beberapa waktu silam negeri hutan yang semestinya makmur ini dilipat-lipat bak kue lapis dengan gempa dahsyat. Para mujahadah berjumlah ribuan yang menjadi korban amarah bumi ini belum lagi selesai menjalani proses registrasi. Lantas, bencana apa lagi yang menimpa negeri ini.

Tuhan masygul, seperti membaca kebingungan malaikat penjaga.

“Panggilkan segera si Buaya dan Kadal sekaligus! titah Tuhan kemudian, tegas, lugas dan terpercaya.

“Duli, paduka! Satu lagi paduka, apakah Raja Singa penguasa hutan perlu juga dihadirkan di majelis ini?

“Singa? Hmmm….” jawab Tuhan menanggapi malaikat. “Memang belakangan Aku sering mendengar kabar kurang sedap tentang si Raja Singa ini. Dia ini katanya makin senang bersolek dan menghabiskan sebagian besar waktunya di salon kecantikan sahaja. Sementara urusan sehari-hari hambaKu diserahkannya kepada konco-konco nya. Mending kalau kompeten”. “Well, anyway, panggilkan juga si Singa kalau begitu. Aku juga hendak mendengarkan apa saja yang sudah dilakukan oleh si Singa yang Aku amanahkan menjadi khalifah untuk kedua kalinya di hutan yang seharusnya makmur sentausa damai tentram itu! Read More…

Posted by: daengrusle | October 15, 2009

::selarik bentang tak berukur::

orang-orang riuh ketika penanda-penanda itu senyap
seumpama rimbun pohon yang terpangkas,
atau genta yang tak lagi berdentang
yang tertinggal adalah lambai tangan yang makin menjauh
dan bibir-bibir tersenyum menyisakan cerita untuk dikenang
tak ada lagi warna dan gambar yang sama,
nama-nama yang sama, di jarak pandang yang sama,
tak nampak lagi

penanda itu kini dua kata yang asing; “kami” dan “mereka”
meski tak ada jarak, kita seakan terpisah jauh

itu cerita berbulan silam,
ketika ramai berita tak-teringinkan itu melindap kita dalam cemas
membawa angin tanya melibas siapa dan apa saja
dan mendudukkan kita di tempat dimana kini kita berada
kita benar terpisah oleh sesuatu,
tapi kita juga kemudian menjadi sangat dekat
oleh sesuatu yang lain

sesuatu yang dekat,
selarik bentang yang tak berukur
diam menyusup mencari celah di labirin yang kosong, di hati kita
seumpama gambar yang berkelebatan tak terbendung
atau kidung yang sahut menyahut
mencari jejak yang dulu miliknya,
kita menyebutnya; kenangan

kenangan,
tiba-tiba membuat kita kembali menapak
mencari asal tempat dulu mengikat simpul yang konon abadi
dan kita coba memastikan itu benar adanya
menjejakkan semuanya surut ke asal kita kembali,
bukan untuk menegaskan keterpisahan itu
atau menggali penanda yang asing itu,
tapi mengikat simpul yang lebih kuat, mesti kuat

bahwa kita sebenarnya awalnya satu belaka, akhirnya pun satu.
::: kita, tanpa ada kami, atau mereka.

Posted by: daengrusle | October 10, 2009

Mama Lauren: Kekaguman di Kotak Kaca

Tak ada yang membuka bendala kekaguman saya lebar-lebar pekan ini selain seorang Mama Lauren. Sampai saya mesti mengungkapkan rasa kagum itu kepada teman-teman sekantor, dan beberapa kali mengutip quote dari sang Mama. Tiga malam lalu saya menyaksikan salah satu iklannya di televisi, ketika dengan tenangnya sang pesohor dalam hal ramal-meramal itu menyatakan bahwa ia mengetahui akan ada kejadian-kejadian tertentu di tahun mendatang.

Kasyaf! Saya tiba-tiba teringat kata itu. Dan serta merta sibuk membuka simpul-simpul memori yang ada dalam kepala. Seingat saya, seorang kasyaf adalah seorang yang tercerahkan. Padanya Allah Yang Maha Pandai menitipkan beberapa pengetahuan khusus yang sifatnya sangat selektif, berupa petunjuk-petunjuk di masa depan. Seorang yang kasyaf biasanya bisa melihat sedikit dari masa depan. Nabi Yusuf as, Nabi Nuh as, dan Nabi Muhammad SAWW adalah beberapa diantara sekian manusia terpilih yang punya kemampuan itu. Beberapa orang saleh yang dikeramatkan sebagai wali juga banyak dikabarkan orang punya kemampuan itu. Nubuwat mereka bukan isapan jempol belaka, karena bersumber dari Sang Pemilik Waktu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi dari masa nol hingga masa akhir.

Mama Lauren, atau bolehlah saya ubah sedikit panggilannya menjadi lebih keren: Ummu Lauren, kiranya tergolong manusia khusus. Pengetahuannya tentang masa depan bisa memasukkan dirinya kepada segolongan kecil manusia yang kasyaf. Penerawangannya tentang masa depan tentu akan banyak membantu manusia lainnya untuk memilih takdirnya. Apalagi akhir-akhir ini Indonesia banyak tertimpa bencana gempa atau kasus-kasus terorisme. Dengan bantuan ‘pengetahuan’ Ummu Lauren ini, tentu masalah pemerintah bisa banyak teratasi, bahkan sebelum terjadi.

Kalau Ummu Lauren bisa meramal gempa akan terjadi di daerah tertentu pada waktu tertentu, maka pemerintah bisa meminimalisasi korban dengan segera mengevakuasi penduduk daerah itu. Atau kalau benak sang peramal melihat ada aksi terorisme bakal terjadi di hotel mewah, maka dengan segera Densus-88 bisa dikerahkan untuk mencegah sang teroris meledakkan hotel tersebut. Korban nyawa dan reputasi Indonesia tentu bisa diselamatkan. Ah, betapa mulia-nya peran seorang Ummu Lauren bagi masyarakat ini. Read More…

Posted by: daengrusle | December 9, 2008

Maryamah Karpov: Sekali ini Roman Picisan?

maryamahkarpov.jpgAkankah Novel ini kembali inspiratif?
Andrea Hirata kembali lagi, setelah lama ditunggu dan mendahulukan edisi englishnya dirilis, novel ke-empat dari tetralogi Laskar Pelangi yang bertajuk “Maryamah Karpov – Mimpi-mimpi Lintang” akhirnya dihidangkan ke khalayak pembaca melalui peluncuran awal 28 November 2008. Mereka yang sudah dari awal – mungkin sejak pertamakali novel ini dipopulerkan oleh Andy F Noya lewat tayangan talkshow kondangnya bertajuk Kick Andy – menggemari novel menggugah ini, atau yang mulai menggemari sejak filemnya tayang di seluruh Indonesia tentu sudah tak sabar melahap serial pamungkas setebal 518 halaman yang kabarnya dilunaskan Andrea Hirata hanya dalam sebulan saja. Setelah sempat membuat penggemarnya kelimpungan menanyakan tanggal terbitnya novel ke-empat ini, sambil menikmati film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana yang kemudian menjadi box office kedua setelah Ayat-ayat Cinta, akankah novel akhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menjadi klimaks dari tiga novel sebelumnya; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor?

Para pembacanya tentu telah menyiapkan diri untuk kembali tergugah-bahkan kalau perlu terisak isak oleh sebuah memoar pengalaman hidup yang bisa dibilang sangat miskin fasilitas namun kemudian menyeruak menjadi sebuah pencapaian luar biasa. Tiga novel sebelumnya sungguh dipenuhi dengan cerita yang inspiratif dan mengundang kekaguman bagaimana seorang atau beberapa orang yang jauh dari deteksi kuadran keberhasilan namun kemudian diceritakan ternyata mampu mengorbit dengan sukses di salah satu koordinat cita-cita. Novel-novel sebelumnya memang meyakinkan pembacanya, bahwa bercita-cita tentu tak pantas dibilang bermuluk-muluk ria karena semuanya bisa tercapai adanya. Si tokoh Ikal yang menjejak sekolah formalnya di sebuah SD Muhammadiyah Gentong Belitong yang lebih pantas menjadi kandang kambing, akhirnya mampu melindapkan dirinya di bangku kuliah Universitas Sorbonne, bahkan sampai menjejak alam Siberia di Rusia hingga Kenya di Afrika Utara. Diantara mungkin ratusan juta penduduk Indonesia, baik yang miskin maupun yang kaya, hanya berbilang jari saja yang punya langkah kaki sejauh Ikal ini. Selain menebar virus inspiratif dari mimpi yang maujud, novel ini sejatinya juga membakar cemburu para petualang yang hanya mampu mendaki sebatas impian saja.

Maryamah Karpov yang menjadi main title novel ini diambil dari nama Mak Cik Maryamah, pemilik Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi yang sebelumnya pernah menjadi tokoh di salah satu bab di novel kedua Andrea: Sang Pemimpi nya. Mak Cik Maryamah adalah penggemar catur yang nge-fans pada Anatoly Karpov, jawara catur asal Rusia. Pada setiap pelanggannya ia selalu merekomendasikan langkah pembuka Karpov sehingga, sebagaimana kebiasaan orang Belitong menyematkan nama kedua si pemilik nama dengan nama lain yang secara historis dan antropologis punya keterkaitan erat dengan si pemilik nama, maka diimbuhi lah nama Mak Cik Maryamah dengan nama Karpov – sang pecatur pujaannya itu. Perempuan muda yang lihai memainkan biola yang menjadi cover novel ke-empat nya ini kemungkinan adalah Nurmi, anak gadis Mak Cik Maryamah Karpov. Nurmi, kemudian menjadi guru biola Ikal dalam novel ini, ketika Ikal sedang penat-penatnya membangun perahu seorang diri. Perahu ini kemudian dinamakan Mimpi-Mimpi Lintang, dan menjadi sub-title dari novel ini. Perahu yang tingkat kesulitannya teramat tinggi dan mengundang decak kagum sang maestro pembuat perahu orang-orang bersarung (Bugis?) Mapangi, adalah titian utama dalam alur cerita di novel ini, yang padamulanya juga hanyalah sebuah mimpi yang musykil. Namun, bukan Andrea Hirata kalau tak mampu menyulap mimpi menjadi barang laku. Kisah percintaan dengan A Ling yang sebenarnya bisa dianggap sebagai musabab dibangunnya perahu asteroid bertubuh langsing ini, dan mungkin juga menjadi inspirasi novel ini keseluruhan muncul dalam tiga bab terakhir, mungkin muncul sebagai kesimpulan yang romantis.

….Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan (A Ling) inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedidi hidupku. Di dalam kedua mata (A Ling) itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudera, mengarungi padang, dan melawan angintelah mencapai tujuannya (hal 498).

Read More…

Posted by: daengrusle | December 5, 2008

Me, a Father!

mahdi.JPG

By time being, i just realized that it has been years now my Mahdi and Maipa grew up under my eyes. Grew up together as well as me as their parents, trying to be the better one for them. There were so many amazing moments captured in my mind while seeing their began to walk, touch and reach, and especially the words. Many unpredictable and suprisefull words speak out from their small lips and always make me smile, even laugh but evenmore trying to learn anything from it. Make me so thankful to the God who has given me a time and chance to be their beloved parents.

 

maipa.JPG

I always try to make their eyes as my eyes, seeing and thinking through the world by the way they think and see. Never prejudice them by and as what we did, as old man with complicated and even absurd standard. They are growing with their own world, and obviously a world with a totally different with what we had. Especially on how to manage and explore the new environment those appears time by time. We can led them by introducing what we did, but surely it will only became no more just a reference for them. They have their own world!

 

A thing that make me so happy being a human is when they happily recognize me as one of the best thing in the world, me a father!

bertiga-cinta.jpg

Posted by: daengrusle | December 2, 2008

Ole-ole dari Parongpong Lembang

Diantara jeda acara AwayDay2008 kantor – 28-29 Nopember 2008, sempet jepret sana jepret sini. Lokasi: Kawasan Parongpong, Villa Air dan sekitarnya, Lembang Bandung.

dibalik-siraman-mentari.JPG

dibalik siraman cahaya mentari pagi, foto by Amrullah

bandung-nun-jauh.JPG

foto: bandung nun jauh di balik bukit yang terhalang rimbunan villa mahal

terhalang-villa.JPG

Foto: Vila rupawan nan mahal, teganya dikau menghalangi gunung jelita di belakangmu?

Read More…

Posted by: daengrusle | December 1, 2008

Sesuatu yang berwujud sepah, tidak usah dijilat lagi!

logo-pks.jpg

Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.

 

Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.

soeharto.jpg

Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.

Read More…

Posted by: daengrusle | November 25, 2008

PestaBlogger2008: Garing sih …..

22112008109.jpg

Pesta Blogger 2008

kemaren adalah ‘pesta’ pertama yang saya ikuti. Pesta tahun lalu saya gak bisa hadir berhubung keterbatasan geografis (dan finansial), karena waktu itu masih menetap di Balikpapan. Nah, tahun ini saya punya kesempatan dan waktu untuk menghadiri pesta ke-dua ini yang dilaksanakan di Auditorium BPPT Sudirman.

 

Setelah janjian dan saling nunggu dgn rekan2 dari Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri di Sarinah Thamrin, n sempat nyarap dulu di salah satu fast food sono. Kami kemudian japruts (baca; jalan kaki) menuju BPPT; Rara, pak RT, Anto, Teeza, Chaliq, Fadhlan(?), pak Khalid Mustafa, adeknya pak Khalid, Irwinday. Bapak Kepala Genk: Hasanuddint rupanya sudah berada di TKP, dan estimasi kami meleset, kami yang lebih telat.

Tiba di TKP, rupanya sudah ramai orang2 pada antri untuk ngedaftar. Di pintu nya sudah banyak blogger2 yang nampang, foto2, atau nyebar quesioner buat doorprize.Saya gak perlu daftar lagi, soale termasuk perwakilan dari AngingMammiri yang kebetulan dapat green card lima blogger untuk jadi wakil resmi. Di pintu masuk ketemu blogger2 terkenal; Enda Nasution, Budi Putra, dan Daeng Battala. Di situ juga kemudian bergabung Bapak Kepala Genk, Hasanuddin yang ikhlas menunggu dan membagikan goddie bag gretongan kami, ada juga Mamie dan temennya, ada Daeng Marowa, Daeng Sukri, Daeng Ngitung. Sempat anak-anak AM-ers ini bernarsis ria dengan para seleblog he2.

with-enda-dan-arul.JPG

mamie, saya, enda, amriltg, eko, arul

Di pintu masuk saya juga sempet ketemu Andrian, yang tempo hari menyelenggarakan IBC2007 (Inspired Blog Competition), kebetulan beberapa tulisan saya lolos di ajang itu. Rencananya kumpulan postingan yang katanya menginspirasi itu akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan kebetulan tulisan saya yang bertajuk “Menulislah dan Anda Abadi” ditaruh sebagai halaman pembuka, pengantar buku itu. Nah, saya sempat menanyakan status penerbitan buku itu yang dijawab Ardian bahwa buku nya terkendala soal penerbit. Belum ada penerbit yang cocok untuk dijadikan kendaraan. Saya bilang, bukannya sekarang banyak tuh penerbit yang gampang menerbitkan buku semacam Grasindo dan lainnya, sebagaimana yang AM lakukan sebelumnya, Apalagi jenis buku nya lumayan bagus: Inspired Blog! Tapi anyway, saya sempet diberikan e-book atau draft buku tersebut. Bangganya!Setelah merasa capai di pintu masuk, kami kemudian memutuskan masuk saja ke hall nya. Anak-anak AM-ers memilih untuk menempati balkon yang memang tidak begitu penuh. Sorak-sorai temen2 AM-er kelihatannya paling gemuruh, manakala MC (Panji) atau ketua panitia Ndorokakung menyebut komunitas AM atau ketika mengundang wakil AM menjadi panelis diskusi: Daeng Battala. Ha2, dasar udik…hehe, udik tapi keren boss…

 

22112008110.jpg

Sebenarnya jalannya acara awal di hall terkesan garing, kurang greget dan membosankan. Banyak peserta yang kemudian tidak begitu fokus mengarahkan perhatiannya ke panggung yang notabene diisi oleh orang2 yang berkompeten di bidangnya. Tapi karena flow dan diskusi dikemas kurang menarik ya jadinya bikin peserta terkesan bosen. Tapi ada juga acara yang cukup meriah dan menarik atensi semua peserta pesta, yakni penganugerahan penghargaan komunitas. Most Promising (atau Promoting?) Community jatuh ke Bali Blogger Community yang waktu itu perwakilannya hanya tiga orang. Di bidang lain ada penganugerahan Blogging for Society Award yang jatuh ke Komunitas Blogger Yogya: Cah Andong. Hadiahnya berupa uang pembinaan 10 juta rupiah dari Oxfam, piagam, seperangkat komputer dari HP.

Read More…

Older Posts »

Categories