Tengah malam di istana Tuhan, berlokasi di langit mahapuncak.
Malaikat penjaga gerbang mengamati penanda waktu di log-book nya, Senin, 2 November 2009, pukul 01.00 dini hari waktu langit.
Kidung pujian mengisi seluruh ruang dengar. Para malaikat penyanyi hikmat melantunkan pujian. Lantunan kidung pujian yang sayup-sayup syahdu dinyanyikan ribuan malaikat itu tiba-tiba runyam oleh ketukan bertalu-talu di gerbang istana. Suara gemuruh membahana memecahkan kesyahduan. Gerbang besar yang terbuat dari kayu mahoni berwarna emas itu berderak-derak gelisah. Malaikat penjaga gerbang mencatat, ada kurang lebih 500,000 ketukan yang bunyinya berbeda, namun terharmonisasi dalam irama yang sama. Juga, tak terbilang bisikan lirih yang menyelinap melalui angin yang berhembus. Semuanya seperti berdesakan hendak menyampaikan sesuatu. Seperti orkestra simfoni di sebuah teater, melantunkan kidung yang lain. Lebih lirih dan gelisah.
Tuhan, yang tak pernah tidur meski di malam yang paling lelap sekalipun, terkesiap dalam kewibawaanNya. “Malaikat, ada apa gerangan di gerbang istana-Ku? Doa apa kiranya yang hambaKu ingin sampaikan di tengah malam ini? seru Tuhan dalam keanggunan. Cahaya maha gemerlap memenuhi istana ketika Tuhan menyampaikan titahNya.
“Tuhanku yang Maha Tahu, tidaklah kami lebih mengetahui selain apa yang Engkau ketahui” malaikat penjaga tawadhu menjawab titah. “Di pintu gerbang, ada jutaan hambaMu yang gelisah hendak menyampaikan hajat, semuanya berasal dari negeri yang sama. Negeri hutan yang Kau berkati dengan kekayaan alam yang melimpah ruah.”
“Hajat apa gerangan hai Malaikat” tanya Tuhan kemudian.
Malaikat segera membuka lagi log-book nya, disitu tertera jutaan short message di kolom inbox. Juga status-status berseliweran di kolom status-feed. Isinya seragam, meski disampaikan dengan lantunan kalimat yang berbeda-beda; “Tuhan, bantu para cicak dari penistaan gerombolan buaya-kadal mutan!
“Baginda Tuhan, menurut pesan singkat dan sambungan langsung doa yang terkirim dari negeri hutan gemah ripah loh jinawi tapi masih miskin nestapa ini, mereka mohon agar paduka Tuhan sudi menyelamatkan para Cicak dari penistaan yang dilakukan oleh persekongkolan jahat buaya-kadal! jawab malaikat dengan santun.
Sesungguhnya malaikat ini bingung, baru beberapa waktu silam negeri hutan yang semestinya makmur ini dilipat-lipat bak kue lapis dengan gempa dahsyat. Para mujahadah berjumlah ribuan yang menjadi korban amarah bumi ini belum lagi selesai menjalani proses registrasi. Lantas, bencana apa lagi yang menimpa negeri ini.
Tuhan masygul, seperti membaca kebingungan malaikat penjaga.
“Panggilkan segera si Buaya dan Kadal sekaligus! titah Tuhan kemudian, tegas, lugas dan terpercaya.
“Duli, paduka! Satu lagi paduka, apakah Raja Singa penguasa hutan perlu juga dihadirkan di majelis ini?
“Singa? Hmmm….” jawab Tuhan menanggapi malaikat. “Memang belakangan Aku sering mendengar kabar kurang sedap tentang si Raja Singa ini. Dia ini katanya makin senang bersolek dan menghabiskan sebagian besar waktunya di salon kecantikan sahaja. Sementara urusan sehari-hari hambaKu diserahkannya kepada konco-konco nya. Mending kalau kompeten”. “Well, anyway, panggilkan juga si Singa kalau begitu. Aku juga hendak mendengarkan apa saja yang sudah dilakukan oleh si Singa yang Aku amanahkan menjadi khalifah untuk kedua kalinya di hutan yang seharusnya makmur sentausa damai tentram itu! Read More…