…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pindah Blog

Posted in Abu Dhabi, Blogging, komunitas by daengrusle on May 22, 2011

Yah, sekali lagi terinspirasi dari Opa Brad yang (kembali) ngeblog dengan domain sendirinya, saya coba juga beralih kembali ke blog berdomain bayar sendiri. Sebelumnya, nun di tahun 2007-2009 saya masih memaintain blog dengan domain sendiri: http://www.daengrusle.com . Namun berhubung satu dan lain hal, saya tak mampu mempertahankan kelangsungan hidup blog tersebut. Dan akhirnya kembali ke blog domain gratisan: http://www.daengrusle.wordpress.com.

Domain daengrusle.com itu sendiri saya peroleh dengan gratis sebenarnya, hasil memenangkan lomba postingan dan lomba foto di blogfam tahun 2007 silam. Namun, keterbatasan kemampuan teknis menyebabkan saya frustasi dan tak bisa meneruskannya.

Nah, dengan racun yang ditularkan oleh Opa Brad, akhirnya saya menghubungi kembali http://www.qwords.com tempat dulu saya memperoleh domain dan hosting berbayar tersebut berharap saya bisa mendapatkan kembali domain daengrusle.com. Tapi harapan saya rupanya tak bisa terkabulkan, domain itu sudah dimiliki orang lain. Heran ya, apa nama saya cukup komersil untuk didagangkan…he2. Demikian juga dengan hosting/isi postingan yang lalu2 sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Tak mengapa sih. 

Anyway, solusi lainnya saya tempuh adalah dengan membeli domain baru yang saat ini sudah saya pakai.

http://www.daengrusle.net

Dengan bantuan teknis dan limpahan hostingan unlimited dari Prof Mustamar, sahabat terkasih yang ringan tangan di komunitas blogger AngingMammiri, maka Alhamdulillah saya dapat nge-blog lagi. Juga, sekiranya tak ada Ipul Daeng Gassing, ketua komunitas blogger AM yang sempat menyentil saya dalam postingannya, tentu saya blum sempat berpikir untuk memulai lagi aktifitas nge-blog ini. Thanks to you, man!

Bulan Mei ini, saya rekor lagi memposting 6 postingan! Rekor terbaik dalam dua tahun terakhir..he3

Nahnu

Posted in feature, My Self-writing by daengrusle on May 19, 2011

Saya memandang hidupnya sebagai sebuah ironi. Tapi hati kecil saya berdoa semoga anggapan saya salah se-keliru-kelirunya.

 

Nahnu, adalah satu diantara beberapa teman awal saya ketika sama-sama menginjak kampus Ganesha di Bandung. Kesan pertama melihat wajahnya, terutama matanya, bahwa anak ini cerdas dan curious akan segala hal. Dia berasal dari sebuah desa di Jawa Tengah atau Jawa Timur, saya lupa tepatnya dimana. Mungkin dia anak yang paling cerdas di sana, dan berhasil menembus persaingan ketat masuk ITB. Peringkat UMPTNnya sepertinya bagus, masih lebih bagus dibanding saya yang sudah masuk di zona degradasi karena nilai saya mendekati limit bawah.

 

Yang membuat saya, dan kami teman-teman di teknik Sipil ITB kala itu tercengang adalah cerita tentang perjuangannya masuk ITB. Bermodal kecerdasan saja tidak cukup, perlu dukungan financial yang memadai. Apalagi dia berstatus perantau di Bandung, butuh biaya kost, makan, transport dan semacamnya.  Dia bercerita, untuk mendapatkan dana buat memenuhi persyaratan pendaftaran masuk ITB yang saat itu tahun 1995 sekitar Rp 1jutaan, orang tuanya yang petani terpaksa menjual asset produksinya: sawah.

 

Saya lupa, apakah dia juga bercerita bagaimana kegiatan usaha ayah-ibu setelah sawah itu terjual, ataukah mereka masih punya sawah ladang lain. Entahlah, tapi cerita berikutnya bisa meraba apa yang terjadi pada kehidupan keluarganya di desa.

 

Setiap bertemu di kampus, saya selalu menunggu cerita baru darinya. Sebenarnya ini menjadi semacam refleksi diri buat saya untuk selalu bersyukur dengan keadaan kala itu. Nahnu, menjadi sosok mirror dalam keterbatasan saya, bahwa saya sungguh jauh lebih beruntung karenanya tak guna menggelontorkan banyak keluhan di hidup yang seharusnya indah selayak menjalani masa mahasiswa di kota Paris Van Java itu.

 

Ke kampus, pakaiannya agak kumal dan lusuh. Buku-bukunya yang kusam a la kadarnya juga menjadi penanda hidupnya yang sulit. Rambutnya sering dibiarkan tak tersisir dan agak kecoklatan. Kelihatannya sisa dari tidur yang sulit semalam. Bandung saat itu sedang dingin-dinginnya dan dia menghabiskan malam dengan menumpang di Masjid Salman depan kampus ITB. Tak bisa saya bayangkan dengan keadaan terbuka seperti itu dia bisa tidur dengan nyenyak. Saya saja sempat sakit beberapa hari karena didera dingin kala pertama menginjak Bandung.

 

Kwartal pertama 1995 kelihatannya bisa dilewati dengan perjuangan sulit. Nahnu hidup berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu asrama ke asrama mahasiswa yang lain. Satu hal yang membuat dia tidak betah adalah ketika merasa dirinya dilecehkan. Jamak dimaklumi saat itu, untuk menjadi penghuni asrama mahasiswa, ada banyak lika-liku orientasi yang wajib dilewati. Terkadang orientasi yang diterapkan oleh mahasiswa senior sungguh terasa menghina kemanusiaan kita. Dari tugas-tugas a la cleaning service, sampai bentakan atau hinaan verbal mungkin bisa saja diterima sebagai new comer.

 

Dan kawan saya Nahnu seperti bergeming dengan semua pelecehan itu. Tidak ada dalam kamusnya pendewasaan dengan cara melecehkan, meski pada saat yang sama dia malah berhasil melewati OS Himpunan Mahasiswa yang tidak kalah kerasnya. Di saat OS Himpunan, oleh mahasiswa senior (swasta), dia didaulat menjadi Presiden Republik Mampus. Yakni group peserta yang Mampus atau yang tidak bisa mengikuti kegiatan OS secara normal karena terganggu kesehatannya. Saya kurang ingat apa sakitnya saat itu, tapi yang saya ingat saya juga masuk di ‘kabinet’nya karena saat itu saya baru saja sembuh dari penyakit Tipes.

 

Nahnu tak bisa hidup dengan semua keterbatasan, saya yakin diam-diam dia menghimpun rencana untuk mengentaskan dirinya dari semua yang membuatnya sulit. Selepas semester awal, dia sedikit demi sedikit mulai menemukan jalannya. Jalan yang mudah bagi seorang mahasiswa ITB: mengajar privat anak sekolah untuk mata pelajaran Ma-Fi-Ki (matematika, fisika, kimia). Kerja sambilan mengajar ini sangat umum dijalani mahasiswa ITB. Saat itu, rata2 upah mengajar sekitar Rp 12ribu/jam atau Rp 100ribu per bulan. Kadang-kadang lebih, tergantung negosiasi dan kondisi keuangan keluarga si anak privat.

 

Kerjaan mengajar ini sebenarnya gampang, karena aktifitas utama hanya mengerjakan PR atau soal-soal yang diajukan si anak privat. Tidak perlu mendalami ilmu pedagogi atau psikologi pendidikan. Cukup meluangkan waktu untuk mengasah ulang kemampuan dasar berhitung dan sedikit teori fisika/kimia yang sungguh sederhana. Jam mengajar bisa disesuaikan untuk tidak bentrok dengan waktu kuliah. Terkadang mengajar dilakukan malam/sore hari, atau saat weekend. Lumayan duit yang terkumpul bahkan dari satu anak privat bisa menutupi uang makan sebulan. Apalagi kalau anak privatnya gadis SMA yang cakep, tentu nambah lagi keuntungan psikologis lepas dari beban tugas kuliah yang ribet dengan pemandangan yang menyejukkan. He3.

 

Tapi Nahnu kelihatannya melampaui batas. Ia bukannya mencocokkan jadwal mengajar dengan lowongnya jam kuliah. Tapi ia lebih rela mengorbankan jam kuliah untuk mengajar di beberapa anak privat. Konsekuensinya, dia menjadi lebih sering tidak masuk kuliah. Alasannya, sibuk mengajar privat. Dia hanya masuk kuliah kala jam mengajarnya lowong. Saya dan teman-teman prihatin dan mencoba ‘mengarah’kan acap kali bertemu Nahnu di saat-saat yang jarang. Tapi sepertinya dia cuek saja. Mungkin buat dia kuliah di ITB tidaklah sesulit yang kami jalani.

 

Hidupnya sepertinya sudah agak longgar karena mengajar ini. Dia sudah bisa menyewa kamar kos di bilangan Cisitu, tidak perlu lagi menumpang ke teman atau menjajaki asrama yang penuh ‘cobaan’ itu. Saya bahkan pernah bertemua dia sedang bersama adiknya di pinggir jalan. Rupanya ia memfasilitasi adiknya untuk berlibur di Bandung. Dan juga memberikan orientasi agar bisa ‘kuliah’ di ITB juga seperti dirinya.

 

Dan akhirnya, ketika kuliah kami menginjak tahun ke-3, tahun ke-4, Nahnu seperti hilang di telan bumi. Kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi meski kami yakin dia masih berseliweran di Bandung dengan rutinitas mengajarnya. Hingga suatu saat ada teman yang ‘menemukan’ dia sedang berjualan dompet dan tas di emperan masjid Salman.

 

Kabarnya, dia tak lagi mengajar karena sudah menikah dengan salah satu anak didik privatnya. Karena menikah ini, ia mungkin butuh usaha lain yang lebih produktif untuk membiayai keluarga barunya. Kuliahnya, sudah berantakan tak terurus karena absen selama hamper 2-3 tahun. Kami masih sempat mencoba membujuknya untuk kembali ke bangku kuliah, tapi ia sepertinya gamang untuk bisa masuk ke lintasan. Dia menyerah dan memilih berdamai dengan hidup barunya.

 

Beberapa tahun selepas wisuda, saya dan teman2 masih sering menyempatkan bertemu dengan Nahnu di lapak jualannya di emperan depan mesjid Salman ITB. Saya kemudian membayangkan bagaimana raut wajah kedua orang tuanya, yang ikhlas menjual sawah untuk membiayai kuliah Nahnu di ITB, salah satu kampus terbaik di negeri ini, reservoir kelas menengah masa depan Indonesia.

 

AbuDhabi, 19 Mei 2011

-kala mengenang kawan itu-

Luar biasa! Putra Putri Asal Indonesia Menjuarai Olimpiade Robot Dunia tingkat Timur Tengah

Posted in Abu Dhabi, Local News by daengrusle on May 12, 2011

Ket Foto: Putra-putri Indonesia yang menjuarai World Robotic Olympiad (WRO), Arabia Region (Middle East and North Africa) 04Mei2011 dari ki-ka:

Sita Ilmidani Taribi, Adinda Naura Salsabila, Suta Ilmidani Taribi (Sumber: laman Facebook) 

Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh putra-putri asal Indonesia di Abu Dhabi dalam Kompetisi Rancang Robot di Olimpiade Robot Internasional (WRO) Arabia yang meliputi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Kompetisi yang diselenggarakan pada tanggal 4 Mei 2011 itu diikuti oleh 1500 siswa dari negara-negara Uni Emirate Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman and Mesir.

 

Satu team dari sekolah Jubilee International School Abu Dhabi, UEA diwakili oleh putra-putri asal Indoneisa yang terdiri dari Sita Ilmidani Taribi(11thn), Suta Ilmidani Taribi (11thn) dan Adinda Naura Salsabila (10thn) berhasil merebut Juara Pertama di tingkat Elementary/Primary (Sekolah Dasar). Sita dan Suta adalah anak kembar dari Muhammad Tamin, sedang Adinda putri dari Rudi Cahyono, keduanya adalah engineer asal Indonesia yang bekerja di industri perminyakan Abu Dhabi, Uni Emirate Arab.

WRO Arabia 2011 yang diselenggarakan oleh Abu Dhabi Education Council (ADEC) tersebut mempertandingkan tiga kategori– Regular, Open dan Football category — yang diikuti oleh tiga kelompok umur: Elementary (SD), Junior High (SMP) dan High School (SMA).

 

Para pelajar asal Indonesia tersebut berhasil merebut juara pertama pada jenis Kategori Umum (Regular), dengan merancang dan memprogram sebuah robot dalam jangka waktu tertentu. Robot rancangan mereka tersebut akan melakukan serangkaian tugas yang ditentukan panitia yakni harus melalui labirin dalam waktu sesingkat mungkin, atau naik dan turun tangga di permukaan yang tidak rata.

 

Menurut Kepala Badan Pendidikan Abu Dhabi (ADEC), Dr Mugheer Al Khaili, yang dikutip oleh Gulfnews.com, pemenang kompetisi WRO Arabia 2011 akan diikutkan dalam kompetisi sejenis tingkat internasional yang akan diselenggarakan pada bulan November 2011 di Abu Dhabi juga.

 

Kita berharap semoga putra-putri asal Indonesia ini bisa meneruskan prestasinya dan memenangkan kompetisi sejenis di tingkat internasional nanti di bulan November 2011, Insya Allah

Zam-zam: Kronik Kecele

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on May 10, 2011

Pre-note: Maaf, judul di atas bukan bermaksud mengurangi derajat kesucian dzat dari air zam-zam, karena kronik kecele ini berlaku pada peristiwa yang menjadi latarnya.

 

Terkadang, niat baik tak mesti beroleh timpalan yang diharapkan. No matter how holy you are or your act, we cannot control the outcome. Tapi tentu menyesalinya bukan cara yang bijak pula, malah mungkin akan jadi semacam introspeksi diri mengenai apa yang perlu diperbaiki dan menjadikan pelajaran berharga untuk tidak terlalu berharap sebagaimana yang diidamkan.

 

Semenjak bulan Januari 2011, sejak mula menginjak kaki di Abu Dhabi ini saya memaksakan diri untuk belajar bahasa Arab. Kebetulan di salah satu sister-company perusahaan saya ada kursus Arabic for Non Arabic Speakers dengan harga terjangkau. Jadilah saya ikut menjadi salah satu pesertanya hingga menjejak di level-Two.

 

Kelas saya level-Two sekarang ini lumayan beragam nationality-nya. Tiga dari Indonesia, empat dari Philipina, dua Malaysia, dua dari UK, satu dari Nigeria, dan dua dari India. Yang menarik adalah bahwa kelas ini kemudian didominasi oleh Asia Tenggara, sekitar setengah jumlah pesertanya dari kawasan ini. Pengajarnya berasal dari Palestina, seorang bapak yang baik dan sabar, terkadang lucu juga.

 

Anyway, selepas umrah dua pekan lalu saya membawa pulang beberapa jerigen kecil ukuran botol aqua sedang. Sebahagian saya konsumsi sendiri di rumah, sebahagian lain saya share ke yang lain termasuk ke pak Ustad pengajar bahasa Arab ini. Maksud hati saya bawa ke kelas biar beliau men-share ke yang lain tapi rupanya saking senangnya dengan air zam-zam beliau rupanya mengkonsumsi sendirian air tersebut. No problem, kata saya dalam hati, nanti akan saya bawakan lagi yang lain.

 

Nah, kemarin saat kelas arab saya bawa lagi satu jerigen. Maksud saya hendak berbagi ke dua Filipina Muslim teman kelas saya, karena so far kami sudah berkawan cukup karib selama ini. Keduanya, bernama Muhammad dan Abdul Syukur, cukup aktif di kelas terutama yang bernama Muhammad itu. (Btw, di negeri ini sungguh sangat banyaaaaaaak orang yang bernama Muhammad, he3). Nah, ketika kelas arab sudah usai, saya niatkan memberikan air zam-zam tersebut ke dua kawan saya itu.

 

Saya berharap mereka akan menerima dengan senang hati, tentu saja karena air zam-zam yang suci dan terkenal ini agak sulit didapatkan. Apalagi sebelum2nya mereka kelihatan antusias ketika membincangkan soalan ke-Islam-an. Namun tak dinyana, ketika saya menyerahkan jerigen kecil berisi air suci tersebut, mereka dengan santainya berkata, “hmm, thank you but you can give to our ukhti there”. Dan terpana campur bingung karena sudah kadung, saya berikan akhirnya air zam-zam itu ke teman kelas perempuan yang juga dari Filipina itu.  

 

Buat saya, menolak permintaan sebenarnya agak kurang sopan, apalagi dari seseorang yang dianggap sudah karib. Juga kalau memberikan pemberian seseorang ke orang lain seperti semacam tidak mengindahkan niat baik dari si pemberi. Apalagi di depan mata si pemberi. Tapi anyway, mungkin memang beda bangsa beda adat beda laku. Tidak bisa kita berharap bahwa kita akan mendapatkan respon yang sesuai keinginan. Dan saya kecele karena tidak menduga sama-sekali respon seperti yang saya dapatkan.

 

Anyway, sebenarnya ini soalan kecil nan sepele saja. Tapi entah kenapa saya merasa perlu menuliskannya sebagai kronik pribadi, dan menjadi pembelajaran berharga dalam berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Juga buat saya agar selalu legowo dalam segala outcome dari apapun yang saya lakukan. Again, No matter how holy you are or your act, we cannot control the outcome. The outcome is beyond our control.

Sekolah Mahdi di Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on May 5, 2011

Sekolah Mahdi

 

Sejak awal April 2011 lalu, Mahdi sudah mulai bersekolah. Nama sekolahnya Jubilee International School, konon sekolah arab/lokal yang disulap jadi sekolah international. Sekolah ini, menurut salah satu sopir taxi yang pernah saya tumpangi, dulunya bernama Sekolah Jabar Ibn al Hayyan yang khusus mendidik anak-anak local. Baru beberapa tahun belakangan mereka membuka kelas internasional dengan kurikulum berbasis Amerika (sigh).

 

Letak sekolahnya di daerah Madinat Zayed, tengah kota AbuDhabi. Posisinya berada di belakang Madinat Zayed Mall, tapi kalau ngomong ke sopir taxi nya bilangnya di belakang Shoe Mart. Di dekat Jubilee ada juga sekolah lain, tapi kelihatannya sekolah Arab: Madrasah Abdullah bin Ouyainah .

 

Di kalangan masyarakat Indonesia di Abu Dhabi, sekolah Jubilee ini cukup popular. Ada puluhan anak Indonesia yang sekolah di sana. Dan kelihatannya, anak-anak Indonesia disana well-accepted. Pada saat registrasi, Vice Principal nya, Madam Solafa akan sumringah kalau dia tahu kita dari Indonesia. Dia sepertinya hapal nama anak2 Indonesia yang sekolah di situ. Ada juga banyak anak-anak Malaysia yang bersekolah disini. Kelihatannya memang sekolah ini favorit untuk anak2 Asia Tenggara.

 

Sebetulnya Mahdi baru akan terdaftar secara ‘resmi’ di bulan September 2011 nanti, di kelas Grade-1. Namun mengingat terlalu lama waktu ‘nganggur’nya, pihak sekolah membolehkan Mahdi untuk mengikuti kelas KG 2 (Kinder Garden 2). Kebetulan ada salah satu siswa dari Malaysia yang berhenti karena orang tuanya mudik ke Malaysia, jadilah Mahdi diijinkan untuk menggantikan kursinya.

 

Ketika didaftarkan ke sekolah ini, Mahdi dan Maipa – yang juga ikut mendaftar utk kelas KG 1 bulan September 2011 nanti, harus menjalani test wawancara langsung dengan Madam Solafa. Wawancara nya hanya ditanya nama, ditanya gambar dan angka, tapi semuanya dalam bahasa Inggris. Meski sudah diajarin di rumah, Mahdi dan Maipa seperti mengkerut di depan Madam Solafa. Mereka diam dan kelihatan takut, tapi lucu sekali ekspresinya.

 

Awal masuk sekolah, Mahdi masih resisten. Alasannya, dia gak punya teman disitu. Belum lagi ada barrier bahasa yang mungkin membuat dia sungkan. Perlu effort berlebih untuk membangunkan, memandikan dan memakaikan seragam untuk Mahdi. Tapi belakangan sudah lumayan tidak resisten lagi, mungkin karena dia sudah punya kawan sesama Indonesia di kelasnya. (berarti selama 2 pekan bersekolah disitu, dia tidak tahu kalau ada juga anak Indonesia disitu. Baru setelah ikut pengajian di KBRI dia ketemu ‘temen kelasnya’ yang rupanya anak Indonesia bernama Raska, anak pak Ahmad ketua IA –ITB UAE).

 

Kelihatannya sekolah tempat Mahdi belajar cukup bagus, meski bukan yang terbaik di Abu Dhabi. Tapi satu yang membuat nyaman adalah antusiasnya pihak sekolah menerima kami. Guru2nya yang sebahagian orang Philipina juga kelihatannya baik-baik saja. Tapi satu yang membuat saya juga agak heran, hamper tiap hari Mahdi diberi Homework banyak sekali, mulai dari pelajaran menulis, membaca, berhitung sampai bahasa arab.

 

Anyway, sudah 3 hari Mahdi tidak masuk sekolah. Sejak senin kemarin dia kena cacar air dan mesti beristirahat paling tidak 10 hari. Mahdi kelihatan senang dengan ‘libur’ ini…hehehe.

 

Get well soon, son!

Dan Obama, eh Osama Tewas. Semoga Semua Omong Kosong ini Berakhir Sudah

Posted in My Self-writing, percikrenungan by daengrusle on May 3, 2011

Tewasnya Osama, yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah AS kemarin bertepatan dengan Hardiknas di Indonesia, disambut ‘meriah dan suka cita’ di negeri-negeri ‘musuh’ AlQaeda. Satu persatu selepas Obama memberikan pidato ‘pelepasan’ atas musuh nomor wahid Amerika itu, para pemimpin negara2 lain juga memberikan sambutannya, termasuk presiden kita SBY yang menjadikan USA sebagai tanah-air nomor 2 nya. Semuanya terlihat bahagia, tapi juga di saat bersamaan terkesiap waspada. Tidak akan ada reaksi tanpa aksi. Mereka berpikir mengenai serangan ‘balasan’ alQaeda atas tewasnya pemimpin mereka. Tapi itu cerita lain, biarkan saja.

Lucunya dua nama yang mirip itu, Obama dan Osama, yang mengumumkan dan yang diumumkan tewasnya, mengundang banyak kerikuhan dan juga keteledoran dalam memberitakan, dan anda akan banyak mendapatinya di tulisan ini. Jadi maklumi saja dan make up your mind.

Di Indonesia, sepertinya karena euphoria yang berlebihan ditambah karena pengen selalu ‘terdepan mengaburkan’ eh maap, terdepan mengabarkan, sebuah stasiun TV berita milik boss Lapindo buru-buru menyiarkan langsung pidato Obama dengan tag line “USA pastikan Obama Tewas”..he3. Dan buru-buru juga saya menyampaikan rasa duka mendalam atas ‘tewasnya’ Obama ini. Keteledoran lucu ini sangat sayang untuk dilewatkan. Foto ‘keteledoran’ seper sekian detik itu kemudian beredar kemana-mana, dan tidak mampu ditutupi dengan ralat yang muncul kemudian.

  (more…)

Percakapan Dengan Diana

Posted in percikrenungan, poem, puisi by daengrusle on May 1, 2011

Kita hanyalah sekumpulan perantau yang mengais remah di titian masa, tanpa sadar kita tahu muncul di satu ruas dan menghilang di ruas lain.

Menjejak pada titian, kita tahu ia teramat rapuh, dan padanya kita tak sanggup menaruh harapan, tapi menggantung rasa percaya bahwa ia membawa kita menuju sesuatu

Kita bergelut dengan kehidupan, juga kematian, dan menimbangnya seakan dua hal yang bermusuhan, meski keduanya adalah keniscayaan, kita akan melarung jiwa pada keduanya.

Hidup hanyalah cermin dari kematian, bahwa saat ruas di titian sudah tak lagi dijejaki, kita akan menjalani titian yang lain, sama dan sebangun.

Yang membedakan hanyalah bahwa kehendak menjadi absurd, karena di titian lain kita hanya akan menatap timbangan.

Yang jelas dan tegas, dan tak remang adalah bahwa kita sedang meniti sesuatu, perjalanan yang awalnya kita tahu darimana dan akhirnya kita tahu akan kemana.
 

Ketika bersenandung menemu remah di titian, ada yang berisik dan menggigil mengingat kematian seakan-akan ia adalah petaka yang menghadang di akhir jalan

Bukan sobat, kemarian justru kawan terbaik yang kita miliki. Padanya kita berharap bahwa hidup perlu dibebaskan, hidup hanyalah kumpulan keterbatasan, sedang kematian adalah kumpulan pembebasan

Bukankah tak elok merasakan birahi menggeliat hanya sebentar, atau rasa sedap yang raib ketika pahit datang. Kematian menegasi semuanya, karena ia tak kenal dengan rasa dan omong kosongnya
 

Banyak yang khawatir bahwa hidup yang indah musnah ketika titian berakhir dijejak, banyak yang bahagia ketika semua kesulitan terputus saat tubuh lantas melunglai kaku

Ketahuilah, petaka datang hanya pada yang tak siap. Maka bersiaplah, apapun yang akan datang di titian berikutnya.

Tidak usah khawatir, jiwa kita berada di tangan yang sangat Rahman dan Rahim. Lantas, kenapa bermuram durja, sementara kita pasti akan kembali ke pemilik sejati.

Mengenang Chairil Anwar: Sekali Berarti Sudah itu Mati

Posted in Nasional, percikrenungan, puisi, Review by daengrusle on April 27, 2011

28 April 1949, ia mati di usia muda, 26 tahun karena sakit paru-paru. Jasadnya dibenamkan di Karet, tempat yang disebutnya sebagai “daerahku y.a.d” (y.a.d adalah singkatan dari yang akan datang).

 

Sajak pertama yang membuatku mengenalnya pertama kali adalah sajak “Diponegoro”, salah satu sajak pernyataan Chairil Anwar diantara sajak terkenal lainnya “Aku” atau “Karawang-Bekasi”. Sajak Diponegoro, yang saya bacakan di bangku SMP sebagai salah satu tugas pelajaran Bahasa Indonesia, lantang menyatakan kekaguman kepada sosok Diponegoro. Yang paling teringat, dan kemudian menjadi semacam idiom dalam kehidupan kita adalah “pedang di kiri, keris di kanan”…

 

Kesan pertama saya terhadap sosok ini adalah bahwa ia adalah seorang pemberontak, paling tidak ia memberontak terhadap pakem puisi yang mendayu-dayu tentang cinta, religious dan hal yang mungkin dianggap absurd lainnya. Mungkin saja karena kebetulan ia beranjak di masa perjuangan revolusi kemerdekaan, sehingga darah pejuang mengalir deras di setiap bait sajaknya. “Sekali berarti sudah itu mati”.

 

Meski mungkin hanya sedikit rekam jejaknya ikut dalam perang fisik, namun sajak-sajak perjuangannya seperti yang paling terkenal “Antara Karawang-Bekasi”. Sajak ini menginspirasi, bukan saja mengguncang dada kejuangan kita, tapi rasa solidaritas untuk mengenang yang telah mati.

“Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa..”

 

Namun belakangan, ketika menemu sajak-sajak lainnya, saya kemudian sering terkagum dengan kelihaiannya memainkan harmonika kata-kata yang kadang getas tapi bernuansa misteri, misalnya: “Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin/Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang”. Apa yang dia benahi, dan siapa yang dia nanti? Apakah yang dia maksud adalah sosok Hapsah, istrinya?

 

Dalam benak saya, sajak-sajak Chairil adalah sajak-sajak bergelora. Ia pandai memainkan gelombang, juga pandai menghempaskan riak perasaan. Sajaknya bisa mebangkitkan batam terendam, hingga kemudian muncul dan berubah jadi semangat, meski sekali berarti sudah itu mati.

 

Ia layak dikenang, sajaknya layak dibaca. Dan kita, layak memekikkan gema suara nya sampai ke generasi mendatang. Kita sudah lama terbenam dalam ketidakpedulian, dan mungkin Chairil Anwar seolah tak henti membangunkan kita. Bahwa hari depan yang lebih baik, lebih tulus dan lebih percaya diri masih bisa diraih.

 

“Berilah kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”.

Perjalanan Menyiram Dahaga – Baitullah

Posted in Abu Dhabi, agama, cerita, jalan-jalan, percikrenungan by daengrusle on April 25, 2011

Tidak ada suasana paling mengharukan selain ketika pertamakali memandang langsung Baitullah. Sekian tahun menghadap sang Khalik dengan posisi badan mengarah ke Baitullah tentu menjadi alasan logis mengapa kemudian suasana haru itu muncul. Belum lagi, dan tentu paling utama, titik spiritual kita yang tergugah karena demikian sacral nan mulianya tempat ini dimana kita bisa membayangkan nabi-nabi dan waliyullah pernah berada di tempat terbaik ini. Dan kita berada di jejak yang sama.

Bukan soal berapa kali kelipatan kuantitatif pahala yang diperoleh ketika beribadah mendekat ke pusat kiblat ini, tapi lebih dari itu, sesuatu yang mungkin tak terbahasakan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Sama tak terbahasakannya ketika seseorang yang mencari sekian lama sesuatu miliknya yg berharga yang hilang, kemudian menemu ‘sesuatu’ itu tepat di depan matanya. Ungkapan terbaik adalah ungkapan dalam keriuhan hati yang bahagia tertuju langsung ke sang Pemilik, bukan dengan ucapan-ucapan atau kata-kata yang sungguh terbatas.

(more…)

Dari Buku ATLAS dan Saya Ada Di Sini

Posted in Abu Dhabi, cerita, percikrenungan by daengrusle on April 13, 2011

Biasanya ada banyak hal yang menginspirasi orang-orang untuk beranjak menuju keadaan lain yang diinginkan. Terkadang inspirasi dicomot dari kisah sukses orang lain, keinginan melepas dari kesulitan diri sendiri, dari filem, buku, dan lain-lain. Semuanya akan bermuara ke satu hal: cita-cita.

Dari sebuah obrolan di milis blogger Angingmammiri, Opa Brad melempar postingan berjudul “Buku Yang Mengubah Hidup Anda? Dia bercerita tentang buku yang dia baca dan kemudian mengubah jalan pikirannya. Teman-teman lain juga merangkai cerita yang sama mengenai buku-buku yang membuat mereka tergugah untuk beranjak ke keadaan hidup yang lebih baik, setidaknya ‘lebih baik’ menurut perspektif masing-masing.

Tentang buku yang menggugah itu, satu hal yang kemudian terlintas di kepala saya, mozaik kenangan di Makassar tahun 1986. Ketika itu saya masih kelas 4 SD, dan baru saja memenangkan juara 1 Lomba menggambar sketsa yang diadakan oleh Harian Pedoman Rakyat. Saya masih ingat persis detail gambar sketsa pensil saya tentang suasana pasar Pannampu, tempat saya tinggal ketika itu, memenangi lomba dari sekitar 100-an peserta. Hadiahnya cukup banyak, dari hadiah uang Rp 100ribu dan beasiswa sebesar Rp 25,000 per bulan – nilai yang lumayan besar saat itu dengan harga BBM hanya Rp 250, seperangkat alat music organ untuk SD saya, plus voucher buku senilai Rp 25,000 juga.

  (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.